Via della Conciliazione

Castel Sant’Angelo yang dikenal sebagai Museum Hadrian, di sebelah barat Sungai Tiber. Kastel ini dibangun antara tahun 134 dan 139 M (Foto: Trias Kuncahyono)

Sore itu, tidak hanya Lapangan Santo Petrus yang penuh orang, tetapi juga sepanjang Via della Conciliazione. Mereka muncul dari semua jalan ataupun gang di kiri-kanan Via della Conciliazione, setelah berlari-lari atau jalan cepat dari rumah, dari kantor, dari kafe, dari mana-mana tempat mereka berada untuk segera sampai Alun-alun Santo Petrus.

Semua orang tidak mau kehilangan momen penting, peristiwa bersejarah yang mungkin hanya sekali seumur hidup dialami. Adalah asap putih yang mengepul dari cerobong Kapel Sistina yang menjadi magnet mereka untuk datang ke Piazza San Pietro. Semua orang ingin tahu: Siapa pengganti Paus Fransiskus yang berpulang 17 hari sebelumnya, 21 April 2025.

Siapa paus baru itu? Apakah salah satu dari yang di hari-hari sebelumnya ditulis di berbagai media? disebut-sebut dalam setiap obrolan? yang foto wajahnya ditayangkan televisi? yang disebut-sebut sebagai papabili? Semua orang ingin tahu jawaban pertanyaan itu.

Alun-alun Santo Petrus yang panjangnya hampir 320 meter dan lebar 240 meter, tak mampu menampung demikian banyak orang yang ingin menjadi saksi sejarah, pada sore hari itu. Yang tidak bisa masuk Alun-alun Santo Petrus, harus puas berada di antara lain Via della Conciliazione.

***

Via della Conciliazione adalah sepotong jalan–saya katakan sepotong, karena panjangnya hanya 500 meter–yang menghubungkan Castel Sant’ Angelo, sebelah Barat Sungai Tiber hingga Piazza Pio XII. Piazza Pio XII atau Lapangan Pius XII adalah sebidang tanah berbentuk trapesium, tidak luas, yang memisahkan wilayah Italia dan Negara Kota Vatikan.

Begitu meninggalkan Lapangan Santo Petrus dan melintasi Piazza Pio XII, berarti masuk wilayah Italia. Demikian juga sebaliknya, setelah menyusuri Via della Conciliazione dan melintasi Piazza Pio XII, berarti masuk Negara Kota Vatikan.

Piazza Pio XII diapit gedung Istana Kongregasi, juga disebut Palaces of the Propylae. Gedung yang dibangun pada akhir tahun 1930-an ini, menjadi kantor departemen-departemen sangat penting di Kuria Roma. Misalnya, sebelah utara Piazza Pio XII ada kantor Dicastery for the Causes of Saints (dikasteri/semacam kementerian yang mengurusi proses kanonisasi orang-orang kudus), ada juga the Dicastery for Bishops (dikasteri yang menangani pengangkatan seorang uskup, uskup titular, dan juga administrator), dan the Dicastery for Divine Worship and the Discipline of the Sacraments (dikasteri urusan regulasi dan disiplin liturgi suci).

Gedung yang sebelah selatan Piazza Pio XII menjadi kantornya the Dicastery for the Clergy (dikasteri yang mengurusi para imam dan diakon), dan the Dicastery for Institutes of Consecrated Life and Societies of Apostolic Life (dikasteri yang mengawasi dan mendukung kehidupan religius dalam Gereja Katolik).

Karena Piazza Pio XII dan Lapangan Santo Petrus menyatu maka Piazza Pio XII juga sering disebut Lapangan Santo Petrus. Tapi, Piazza Pio XII inilah ujung Via della Conciliazione.

***

Para peziarah di Via della Conciliazione (Foto: Trias Kuncahyono)

Adalah Benitto Amilcare Andrea Mussolini (1883 – 1945), diktator fascist Italia lah yang punya ide membangun jalan sepanjang setengah kilometer itu, antara tahun 1936 hingga 1959. Via della Conciliazione, dibangun sebagai monumen yang menandai berakhirnya konflik, perseteruan antara pemerintah Italia dan Takhta Suci.

Perseteruan itu dimulai sejak pemerintah Italia pimpinan Raja Victor Emmanuel II (1820 – 1878) raja Sardinia menyatukan Italia. Inilah yang disebut gerakan Risorgimento atau penyatuan Italia. Gerakan politik dan sosial pada awal abad ke-19 ini berakhir pada tahun 1861 saat diproklamasikan Kerajaan Italia setelah menyatukan berbagai negara bagian–termasuk wilayah yang sebelumnya bagian dari Negara Kepausan di Italia tengah–di Semenanjung Italia dan pulau-pulau terpencilnya ke Kerajaan Sardinia (EBSCO Research Starters, 2023).

Tetapi, proses unifikasi terus dilanjutkan dengan menyasar Roma dengan Vatikannya. Roma berhasil direbut dan dijadikan ibukotanya. Sementara Vatikan, belum. Pada tahun 1870 (20 September) pasukan Emmanuel II menggempur Vatikan dan menjembol bentengnya dalam usaha menundukkan dan menggabungkan dengan seluruh Italia.

Paus yang bertahta saat itu, Paus Pius IX, dengan dukungan Perancis, menentang penyatuan itu. Tak mau menerima kedaulatan Italia. Dan, tetap menyatakan berdaulat atas Negara Takhta Suci yang “sepotong” dalam tembok Vatikan.

Paus Pius IX dan para penggantinya menyatakan dirinya sebagai “prisoner of Vatican.” Paus menganggap dirinya terkurung di Kota Vatikan, dan menolak untuk mengakui negara Italia. Saat itu, berakhirlah “temporal power”, kekuasaan duniawi Paus, karena tak ada lagi Negara Kepausan (Vatican News, 20 Januari 2024).

Sejak tahun 1870 itu, muncullah apa yang disebut “Quaestiones Romanae” atau Masalah Roma. Yakni perselisihan antara Gereja dan Italia, sebagai buntut penyatuan Italia. Gereja, Kepausan menolak perebutan dan penguasaan Roma serta Negara Kepausan oleh Italia, pada 20 September 1870. (The Collector, “The Roman Question: The Pope vs. The New Nation of Italy”, Januari 2025)

***

Warga Roma dan para peziarah yang ingin mengetahui hasil konklaf hari pertama, Rabu (7/5) sore, di Piazza Pio XII, ujung Via della Conciliazione (Foto: Trias)

Baru 59 tahun kemudian, “Quaestiones Romanae” bisa diselesaikan di zaman Benitto Mussolini menjabat sebagai perdana menteri Italia dan Paus Pius XI menduduki Takhta Petrus. Perseteruan diakhiri dengan ditandatanganinya Perjanjian Lateran, 11 Februari 1929 (Encyclopaedia Britannica, “Lateran Treaty”, Italia 1929).

Perjanjian itu ditandatangani PM Mussolini (mewakili Emmanuel III) dan Secretary of State Kardinal Pietro Gasparri, mewakili Paus Pius XI. Selain mengakhiri permusuhan, perjanjian ini juga menjadi “Ibu Kandung” lahirnya Negara Kota Vatikan, yang menjadi tempat untuk “meletakkan” kedaulatan Takhta Suci, yang sudah diakui secara internasional jauh waktu sebelumnya. Italia mengakui Negara Kota Vatikan merdeka berdaulat.

Perjanjian Lateran tahun 1929 terdiri dari tiga perjanjian terpisah: perjanjian yang menyatakan Negara Kota Vatikan sebagai wilayah paus yang netral dan tidak dapat diganggu gugat, yang menjamin kemerdekaan politiknya; konkordat mengenai hubungan Gereja-Negara di Italia; pembayaran kompensasi atas harta milik kepausan yang hilang (H. L, Rudy, Ministry, International Journal for Pastors, “The Roman Question An Investigation into the Claims or the Papacy”, 1939)

Untuk menandai selesainya “Quaestiones Romanae” dan ditandatanganinya Perjanjian Lateran, maka dibangunlah jalan yang diberi nama Via della Conciliazione, sebagai monumen perdamaian. Kata Conciliazione berarti Konsiliasi. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan konsiliasi sebagai usaha mempertemukan keinginan pihak yang berselisih untuk mencapai persetujuan dan menyelesaikan perselisihan itu.

Jalan tersebut diberi nama Conciliazione atas usulan Franco Franchi, seorang wartawan. Kata Franco Franchi nama Conciliazione dimaksudkan untuk mengenang perdamaian bersejarah antara Gereja dan Negara, Pakta Lateran (“Conciliation Street”, Roma segreta.it, 14 April 2013). Dan, dirancang oleh arsitek Marcello Piacentini (1881-1960) dan Attilio Spaccarelli (1890-1976).

Jadi bisa dikatakan, Via della Conciliazione adalah monumen perdamaian. Monumen perdamaian yang menghubungkan Castel Sant’ Angelo dengan Lapangan Santo Petrus. Kastel itu dibangun sekitar tahun 123 M (ada yang menulis antara 135 – 139 M) sebagai mausoleum Kaisar Hadrian (bertakhta, 117 – 138) dan keluarganya. Sejarah penggunaan kastel ini sangat menarik dari mausoleum menjadi museum.

Pada tahun 590, Paus Gregorius Agung, yang memimpin prosesi doa pertobatan untuk memohon berakhirnya wabah–ada catatan yang menjelaskan bahwa wabah ini adalah gabungan dari wabah pes, septikemia, dan pneumonia dengan jenis wabah pes yang paling umum. Bahkan, ketika itu ada yang mengatakan sebagai hukuman dari Tuhan–mendapat penglihatan tentang Malaikat Agung Michael berdiri tegak di atas kastel dengan pedang dalam sarungnya. Ini menandakan berakhirnya wabah.

Sejak itu bangunan berbentuk bulat diberi nama Castel Sant’Angelo. Lalu, dipasanglah patung Malaikat Agung Michael terbuat dari marmer di atas bangunan seperti yang dilihat oleh Paus Gregorius Agung.

***

Burung camar menunggui cerobong asap Kapel Sistina (Foto: Trias Kuncahyono)

Kalau sekarang, selama Tahun Yubileum, para peziarah berjalan sambil berdoa menuju Porta Santa di Basilika Santo Petrus, ini suatu usaha mendapatkan pengampunan dosa dan pembebasan, yang juga ditandai dengan rekonsiliasi dan pembaharuan diri. Tahun Yubileum adalah tahun perayaan, pertobatan, dan rekonsiliasi dengan Tuhan.

Rekonsiliasi membutuhkan tindakan nyata, tidak sebatas wacana, sebatas bicara atau niat baik. Niat baik saja, tidak cukup. Apalagi “niat baik” sebagai pembungkus kepentingan sempit. Maka, dibutuhkan langkah-langkah konkret, nyata, dan tindakan yang terukur untuk mencapai tujuan rekonsiliasi tersebut.

Tanpa tindakan nyata–hanya omong doang–rekonsiliasi hanya akan menjadi konsep yang ideal, yang indah. Tetapi, tidak akan terwujud dalam praktik.

Via della Conciliazione adalah jalan kerendahan hati, ketekunan, kejujuran, dan keikhlasan berkorban untuk orang lain.  ***

Foto-foto lain di Via della Conciliazione, Piazza Pio XII, dan Alun-alun St. Petrus:

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
25
+1
15
Kredensial