Danau buatan di kawasan Esposizione Universale di Roma atau Eksposisi Dunia Roma (EUR), yang disebut Parco Centrale del Lago, Danau Tengah Kota. (Foto: Trias Kuncahyono)
Sepuluh tahun silam, di Roma, pada tanggal 24 Mei 2015, Paus Fransiskus menerbitkan Ensiklik Laodato Si’, Terpujilah Engkau — Tentang Kepedulian terhadap Rumah Bersama Kita. Ensiklik Laodato Si’ dipublikasikan secara luas pada 18 Juni 2015.
Kata ensiklik menurut etimologinya, berasal dari kata dalam bahasa Yunani: egkyklios, kyklos, yang berarti surat edaran. Maka ensiklik lalu diartikan sebagai surat edaran. Surat dari paus yang diedarkan kepada para uskup dan uskup agung (Catholic Encyclopedia)
Sementara Encyclopaedia Brittania menjelaskan, ensiklik adalah surat pastoral yang ditulis oleh Paus untuk seluruh Gereja Katolik Roma tentang masalah doktrin, moral, atau disiplin. Ensiklik biasanya ditujukan kepada para uskup, tetapi beberapa—terutama Pacem in terris (Latin: “Damai di Bumi”) oleh Yohanes XXIII pada tahun 1963—telah ditujukan juga kepada “seluruh Dunia Katolik” dan kepada “semua Orang yang Berkehendak Baik.”
Dari kata enkyklios itu lalu mulai digunakan kata `litterae encyclicae’ untuk menunjuk pada surat yang dikirimkan paus kepada para uskup. Tidak semua surat dari paus disebut ensiklik. Ada yang disebut apostilic exhortation (dokumen magisterial yang ditulis oleh paus. Pada dasarnya, nasihat apostolik adalah pesan pastoral yang disampaikan paus kepada umat Katolik untuk menyoroti poin-poin utama tentang suatu isu tertentu).
Ensiklik merupakan sebuah surat yang bersifat agung dan universal, biasanya teks resmi ditulis dalam bahasa Latin kemudian diterjemahkan ke pelbagai bahasa lain. Ensiklik dikirim kepada para patriark, uskup agung dan uskup di seluruh dunia, bahkan terbuka untuk seluruh umat Allah.
Isinya tidaklah pertama-tama untuk menyampaikan suatu dogma atau ajaran Gereja yang baru, tetapi terutama untuk lebih menggarisbawahi iman Gereja mengenai suatu tema yang aktual. Tujuannya adalah mengemukakan pokok-pokok penting dari ajaran Gereja, menganalisa suatu situasi atau keadaan khusus atau juga mengangkat seorang tokoh yang patut diteladani.
***

Kata Xuc Jiao Zhang (2016), Paus Fransiskus meladani sang poverello Fransiskus dari Asisi, yaitu dengan menghidupi dan menjiwai “spiritualitas kosmis yang mengalir dari citra Allsh Sang Rahmat” untuk peduli terhadap nasib papa dan keutuhan alam ciptaan. Paus menelisik cara hidup yang berorientasi pada keutuhan ciptaan–justice, peace, and integration of creation. Maka lahirlah Ensiklik Laodato Si’
Ensiklik Laodato Se’, ini luar biasa. Dengan gayanya yang khas dan ‘tanpa basa-basi’, Paus Fransiskus menyajikan analisis yang menyayat hati tentang berbagai situasi dramatis yang dihadapi dunia saat itu (ini) – mulai dari teror perubahan iklim, hingga hilangnya keanekaragaman hayati yang cepat di setiap habitat, hingga meningkatnya ketimpangan sumber daya yang terbatas, dengan latar belakang konsumsi berlebihan dan pemborosan, yang mengakibatkan banyak orang dianggap sebagai orang yang dapat dibuang (Charity and Justice, 2015)
Yang disampaikan Paus Fransiskus adalah gambaran yang mengerikan tentang dunia yang berada di ambang kehancuran sistemik. Maka, lewat Ensiklik Laodato Si’, Paus Fransiskus menyerukan agar kita semua mengubah gaya hidup demi Bumi dan keadilan sosial.
Gaya hidup merusak Bumi, merusak lingkungan yang dibungkus dengan mantra atas nama pembangunan, atas nama kebutuhan ekonomi ini terjadi ketika prioritas pertumbuhan ekonomi menyingkirkan perlindungan lingkungan.
Aktivitas manusia pun akan merusak Bumi, berdampak negatif bagi lingkungan, bagi manusia itu sendiri dan bagi makhluk hidup lainnya, kalau dilakukan secara serampangan. Hal semacam itu, banyak terjadi di sekitar kita, dalam segala macam bentuk dan motifnya.
Jejak destruksi ekologis terdapat di mana-mana. Dan ini, berdampak sosial dan ekonomi pada ketahanan hidup masyarakat. Ini bukan berarti bahwa pembangunan tidak perlu. Perlu! Pembangunan tetap perlu bahkan sangat perlu, tapi diletakkan pada keberlangsungan hidup alam, lingkungan, dan manusia yang hidupnya tergantung pada alam.
***

Sepuluh tahun silam, Paus Fransiskus menyebut krisis iklim adalah cerminan dari krisis moral dan spiritual manusia. Ia menyerukan pertobatan ekologis. Apa yang dikatakan Paus Fransiskus lewat ensikliknya itu, sekarang ini, masih berlaku. Seruannya pun terus bergema.
Yang sangat menarik, tidak seperti biasanya, ensiklik dikeluarkan untuk ditujukan bagi kalangan Katolik. Ensiklik Laodato Si’ ditujukan bagi “semua orang”, semua orang yang berkehendak baik.
Bahwa ensiklik ini ditujukan kepada semua orang, ditegaskan Paus Fransiskus secara jelas, “Dalam Ensiklik ini, saya ingin masuk ke dalam dialog dengan semua orang tentang rumah kita bersama” (Laodato Si 3).
Lalu, “Di sini saya ingin mengakui, memberi dorongan, dan berterima kasih kepada semua orang yang dalam pelbagai bidang kegiatannya yang sangat beraneka ragam, berjuang untuk menjamin perlindungan rumah yang kita diam bersama.” (Laodato Si 13)
Mengapa ditujukan bagi semua orang yang berkehendak baik? Sebab, “Bumi adalah rumah bersama.” Karena “rumah bersama”, maka haruslah dirawat bersama pula. Kata Paus Fransiskus, “lingkungan alam adalah harta kita bersama, warisan seluruh umat manusia, tanggung jawab semua orang” (Laodato Si 93).
***

Tetapi, lima pekan sebelum ulang tahun kesepuluh, Ensiklik Laodato Si’, 24 Mei 2025, Paus Fransiskus berpulang, pada 21 April 2025. Berpulangnya Paus Frasiskus apakah itu juga berarti bahwa Ensiklik Laodato Si’ berakhir juga pelaksanaannya atau dilupakan? Apakah “teriakan” Laodato Si’ tidak akan terdengar dan bergema lagi? Pasti tidak!
Sebab Laodato Si’ adalah ajaran Gereja untuk merawat Bumi yang merupakan tempat tinggal manusia. Bukan hanya Bumi yang harus dirawat tetapi Bumi dengan seluruh isinya, segala ciptaan. Ensiklik ini membantu setiap orang untuk memahami ketergantungan manusia dengan alam. Inilah sikap Gereja terhadap Bumi dan lingkungan alam, serta seluruh ciptaan.
Ensiklik Laodato Si’, mengajak (terlebih dahulu, menyadarkan) semua orang untuk “merawat rumah kita bersama?”, yakni Bumi dan seluruh ciptaannya. Lewat ensiklik itu, Paus Fransiskus memaparkan inti ajarannya tentang ekologi integral, prinsip-prinsipnya dan penerapan praktisnya.
Ekologi integral, kata Paus Fransiskus, mengakui keterkaitan dan saling ketergantungan antara manusia dan bumi, dan bagaimana nilai-nilai, pola pikir, dan tindakan manusia memengaruhi semua usaha manusia dan planet ini.
Paus Fransiskus menegaskan bahwa isu sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan bukanlah masalah yang terpisah, tetapi merupakan berbagai dimensi dari satu krisis yang menyeluruh. Flora dan fauna, langit dan laut, serta seluruh manusia bukanlah objek yang dapat digunakan dan dikendalikan, tetapi merupakan refleksi menakjubkan dari keilahian; semuanya adalah ciptaan Tuhan dan merupakan anugerah yang harus dilindungi, dicintai, dan dibagikan (Catholic News Service, 23 Mei 2025).
Kata Celia Deane-Drummond, direktur Institut Penelitian Laudato Si di Campion Hall di Universitas Oxford Inggris, kepada Catholic News Service pada akhir April, Paus Fransiskus “membangun atas dasar ‘pembangunan manusia integral’ dari Benediktus XVI dan ‘ekologi manusia’ dari Yohanes Paulus II.”
***

Sepuluh tahun kemudian, tahun 2025 ini, Ensiklik Laodato Si’ mendapat “energi baru” untuk terus dilaksanakan, dari Paus Leo XIV. Sejak hari pertama masa kepausannya–bahkan sebelum menjadi paus–Kardinal Robert Francis Prevost sekarang Paus Leo XIV sangat peduli pada lingkungan hidup.
Paus Leo XIV mengambil posisi yang berani pada hari-hari pertamanya, khususnya mengenai perubahan iklim, energi bersih, dan keadilan lingkungan. Ia membangun fondasi moral dan teologis yang ditetapkan dalam Laudato Si’, ensiklik penting tahun 2015 yang menjadikan kepedulian terhadap ciptaan sebagai isu inti ajaran sosial Katolik (Forbes, 25 Mei 2025).
Khotbah pertama Paus Leo XIV, pada Misa Suci,18 Mei 2025 di Lapangan St. Petrus, sudah bicara soal lingkungan hidup. Kata Paus Leo XIV, “Pada zaman kita ini, kita masih melihat terlalu banyak perselisihan, terlalu banyak luka yang disebabkan oleh kebencian, kekerasan, prasangka, ketakutan akan perbedaan, dan paradigma ekonomi yang mengeksploitasi sumber daya bumi dan meminggirkan yang termiskin.”
Jejak digital Paus Leo XIV terkait dengan kepeduliannya pada lingkungan masih hangat. Cuitannya di X (dulu twitter) pada tahun 2015, menjelang pertemuan puncak iklim di Paris, sebagai buktinya. Uskup Prevost, pada saat itu, mencuit dengan huruf kapital “TANDA TANGANI PETISI IKLIM” dan menyertakan tautan ke petisi yang diselenggarakan oleh Gerakan Laudato Si’ (saat itu Gerakan Iklim Katolik Global) untuk mengumpulkan satu juta tanda tangan mendukung kesepakatan iklim global yang menjadi Perjanjian Paris (Catholic News Service, 9 Mei 2025).
Ia juga mengunggah foto sejumlah orang yang mengikuti pawai kepedulian pada perubahan iklim membawa banner bergambar Paus Fransiskus dan menulis di unggahan itu “El planeta nos necesita” — “Planet ini membutuhkan kita.”
Pada Juni 2017, akun Uskup Prevost me-retweet unggahan dari Gerakan Laudato Si‘ yang mendesak Presiden Donald Trump untuk membaca Laudato Si’ — salinannya diterima Trump dari Fransiskus — saat ia mempertimbangkan penarikan diri AS dari perjanjian Paris, yang akhirnya tetap ditinggalkan oleh AS.
Sikap tersebut terus teguh dipertahankan hingga kini menjadi paus. Maka saat misa dengan para kardinal di Kapel Sistina, hari Jumat (9/5), Paus Leo XIV mengatakan “dominasi manusia atas alam” tidak seharusnya bersifat “tirani,” tetapi lebih merupakan “hubungan timbal balik” dengan lingkungan.
Ini seperti kidung St. Fransiskus dari Asisi yang mengingatkan kita bahwa rumah kita bersama bagaikan seorang saudari yang dengannya kita berbagi hidup dan seorang ibu yang cantik yang membuka tangannya untuk memeluk kita.
“Segala puji bagi-Mu, Tuhanku, melalui Saudari kami, Ibu Pertiwi, yang menopang dan mengatur kami, dan yang menghasilkan berbagai buah dengan bunga dan herba berwarna-warni”.
***

Sampai di sini, sangat jelas bahwa sepuluh tahun setelah kelahirannya, Ensiklik Laodato Si’ tetap menjadi dasar bagi pendekatan dasar kepausan Paus Leo XIV terhadap pengelolaan lingkungan. Katanya, “Kita tidak dapat memisahkan perlakuan kita terhadap Bumi dari perlakuan kita terhadap orang miskin.”
Kata Paus Leo XIV, “Mereka menderita bersama ketika kita memilih eksploitasi daripada tanggung jawab.”
Dengan mengatakan itu, Paus Leo XIV, berbicara tentang keharusan moral untuk menghubungkan kebijakan lingkungan dengan langkah-langkah anti-kemiskinan. Pendekatan holistik ini selaras erat dengan gerakan keadilan lingkungan global saat ini, yang memusatkan kebutuhan dan pengalaman masyarakat garis depan.
Dengan kata lain, Paus Leo XIV, menawarkan jembatan yang kuat antara tradisi iman dan advokasi lingkungan modern. Ini selaras dengan tekadnya untuk membangun “jembatan”, yang dalam ini menjembatani “tradisi iman dan advokasi lingkungan modern.”
Ini sesuai dengan pilihan nama, “Leo XIV” mengacu pada Leo XIII yang menerbitkan Ensiklik Rerum Novarum, Hal-hal Baru. Sekarang ini, “hal-hal baru” antara lain adalah menyelamatkan Bumi dari kerusakan, menyelamatkan lingkungan dari kehancuran; terus menyadarkan dan mengajak semua orang untuk melakukan semua ini.
Dan, St. Fransiskus dari Asisi pun akan melanjutkan kidungannya:
Laudato sii, o mio Signore,
per tutte le creature,
specialmente per messer Frate Sole,
il quale porta il giorno che ci illumina
ed esso è bello e raggiante con grande splendore:
di te, Altissimo, porta significazione.
….
Segala puji bagi-Mu, Tuhanku, untuk semua makhluk, khusus untuk Tuan Saudara Matahari, yang membawa hari yang mencerahkan kami dan indah serta bersinar dengan kemegahan yang luar biasa: Engkau, Yang Maha Tinggi.
Foto-foto lain:















Berharap Paus Leo melanjutkan mendorong umat melaksanakan ensiklik Laudato Si… merawat bumi…sembari menghadapi tantanga baru di zaman AI..
Merawat bumi merawat kehidupan kita sendiri. Terima kasih Mas Trias
Keinginan Paus Leo XIV untuk menyelamatkan bumi, harus kita dukung dan menjadi roh utk melanjutkan pesan mulia Sri Paus Leo XIV. Tks pencerahan Pandito Trias. Salam
Mengapa manusia tidak akrab dengan alam sekitarnya. Boleh jadi, itulah keserakahan dalam memandang lingkungan hidupnya.vterhsdsp sesama saja manusia bisa jahat, apalagi terhadap pepohonan rindang, Yanah yang kaya berbagai tambang, air yang jernih mengalir, dan seterusnya. Keserakahan karena memandang alam sekitar sebagai benda-benda mati dan akhirnya manusia berhadapan dengan sang hukum alam itu sendiri.
Tanggung jawab untuk Merawat Alam dan setiap CiptaanNya yang hidup dan tinggal di Bumi dalam terang Matahari, Bulan, dan Bintang untuk memberi kepastian dan jaminan kelangsungan hidup segala ciptaanNya sampai Akhir Zaman. Amin. Lanjutkan.
Trm kasih Dab, asupan pengetahuannya . . .
Kesadaran hidup dyadic antara manusia dan alam . . . Semoga diantara umat kita, tiada yang mengabaikan ajaran ini karena mengedepankan egoisme . . .
Semoga anjuran ini bisa menjadi sebuah gerakan yang gaungnya mengglobal 🙏
Kita tidak dapat memisahkan perlakuan kita terhadap Bumi dari perlakuan kita terhadap orang miskin. Mereka menderita bersama ketika kita memilih eksploitasi daripada tanggungjawab. (Paus Leo XIV).
Kutipan demikian semakin bermakna ketika saya membaca berita pertambangan di kawasan Raja Ampat. Terakhir ini, nuansa yang sama dengan 4 pulau beralih provinsi.
Bung Trias, terima kasih atas artikel yang inspiratif dan menggugat nurani. Bung Trias, Selamat Hari Ulang Tahun. Sehat, sukacita dan damai sejahtera bersama keluarga.