
Di sebelah kiri saya, duduk Dubes Iran untuk Takhta Suci, Mohammad Hossein Mokhtari. Kami, memang selalu duduk bedampingan setiap menghadiri acara Misa Suci di Basilika Santo Petrus. Tempat duduk kami diurutkan berdasarkan saat penyerahan kredensial. Tidak pula didasarkan pada urutan abjad.
Jadi, duta besar negara besar, tidak selalu duduk di depan, tapi bisa duduk di belakang, karena penyerahan kredensial belakangan. Begitulah, seturut perjalanan waktu, pelan-pelan tempat duduk kami bergeser ke depan, sebab pasti ada duta besar yang duduk di depan, masa tugasnya berakhir dan penggantinya, akan duduk di belakang.
Sebagaimana biasanya, Minggu (29/7), saat mengikuti Misa Suci Santi Pietro e Paolo, Apostoli, pesta Rasul Santo Petrus dan Paulus yang dipimpin Paus Leo XIV, kami duduk berdampingan. Kami tidak bicara politik, tapi soal cuaca, suhu Roma yang begitu panas, soal rencana liburan musim panas, dan hal-hal biasa lainnya. Saya merasa, setiap kali bertemu, dia sangat antusias: tersenyum, mata berbinar, dan membuka tangannya lebar-lebar sebelum bersalaman.
Hossein Mokhtari pernah bercerita mempunyai banyak kawan di Indonesia. Lalu cerita makan durian, salak, mangga, dan rambutan. Kalau sudah bercerita tentang makan durian, sangat antusias… Saya juga bercerita pernah dua kali ke Iran, mengunjungi banyak tempat termasuk Tehran Grand Bazaar, Pasar Gede Teheran yang menjadi jujugan para wisatawan cari oleh-oleh, cinderamata.
Ia selalu senang, kalau saya cerita tentang tempat-tempat di Iran yang pernah saya kunjungi ketika masih aktif sebagai wartawan.
***
Tapi, hari Minggu itu, dia tidak banyak bertanya. Apa karena negerinya sedang berperang dengan Israel? Saya juga tidak banyak ngajak bicara. Karena misa segera mulai. Sambil duduk dalam diam, di sampingnya, saya bertanya dalam hati: mengapa Israel dan Iran harus berperang. Mungkin pertanyaan mengada-ada. Tapi, untuk apa berperang?
Israel dan Iran, tidak bertetangga, tidak berbagi perbatasan. Keduanya bukan dua negara yang sedang bersengketa rebutan pulau, misalnya. Mereka berjauhan: jarak antara Tel Aviv dan Teheran, sejauh 1.897 km, hampir dua kali panjang Pulau Jawa.
Ini beda dengan Ukraina dan Rusia, misalnya. Keduanya, bertetangga; berbagi garis perbatasan. Bahkan keduanya pernah dalam “satu rumah” Uni Soviet, 1922 – 1991. Dalam bahasa Presiden Rusia, “Rusia dan Ukraina adalah satu bangsa, satu kesatuan.” Tentu, ini oleh rakyat Ukraina dibaca sebagai usaha pembenaran invasinya. Walau memang ada hubungan sejarah keduanya.
India dan Pakistan, negara bertetangga yang berulang-kali perang. India dan Pakistan pernah bersatu sampai muncul akibat Indian Partition, Pemisahan India oleh Inggris pada tahun 1947. Pemisahan tersebut membentuk Pakistan yang mayoritas penduduknya Muslim dan India yang mayoritas penduduknya Hindu; dan menyisakan Kashmir yang menjadi rebutan kedua negara dan perang.
Menurut data yang dirilis pemerintah Iran, korban tewas perang 12 hari Israel, 935 orang. Dari jumlah sebanyak itu, 38 di antaranya adalah anak-anak dan 232 perempuan (abc.net.au)
***

Ingin saya, sambil berbisik bertanya, “Ambassador, mengapa Iran dan Israel berperang?” Saya membayangkan dia akan penuh semangat menjelaskan alasannya. Tentu dari sudut pandangnya, yang beda dengan sudut pandang Israel, kalau ditanya.
Andai saya tanya: Ambassador, bukankah dahulu Israel dan Iran, bersahabat? Menurut catatan sejarah dunia–sejarah yang benar–memang demikian. Kedua negara ini pada awal mula bersekutu.
Kata Maziar Motamedi (Aljazeera, 2023) Iran adalah negara berpenduduk mayoritas Muslim kedua yang mengakui Israel sebagai negara berdaulat menyusul Turki, setelah berdirinya Negara Israel pada Mei 1948. Ketika itu, Iran di bawah Shah Iran, Mohammad Reza Pahlavi, yang jatuh oleh Revolusi 1979, di bawah pimpinan Ayatollah Khomeini.
Shabnam von Hein (DW, 2025) juga mengatakan hal yang sama. Israel menganggap Iran sebagai sekutu melawan negara-negara Arab, ketika itu. Iran menyambut Israel yang didukung AS sebagai penyeimbang negara-negara Arab di kawasan itu.
Keduanya bekerja sama: Israel melatih para ahli pertanian Iran, menyediakan pengetahuan teknis, dan membantu membangun serta melatih angkatan bersenjata Iran. Shah Iran membayar Israel dengan minyak, karena ekonominya yang sedang berkembang membutuhkan bahan bakar.
Mereka berbagi intelijen, berdagang minyak, dan bahkan bekerja sama dalam proyek militer. Bahkan, sejarah dunia juga mencatat Iran adalah salah satu dari 11 anggota komite khusus PBB yang dibentuk pada tahun 1947 untuk merancang solusi bagi Palestina setelah kendali Inggris atas wilayah tersebut berakhir.
Iran adalah salah satu dari tiga negara yang memberikan suara menentang rencana pembagian Palestina oleh PBB, yang berpusat pada kekhawatiran bahwa rencana tersebut akan meningkatkan kekerasan di wilayah tersebut selama beberapa generasi mendatang.
“Iran, bersama India dan Yugoslavia, mengajukan rencana alternatif, solusi federatif yang bertujuan untuk menjaga Palestina sebagai satu negara dengan satu parlemen tetapi dibagi menjadi kanton Arab dan Yahudi,” kata sejarawan Universitas Oxford Eirik Kvindesland kepada Al Jazeera.
Itu adalah kompromi Iran untuk mencoba mempertahankan hubungan positif dengan negara-negara Barat yang pro-Zionis dan gerakan Zionis itu sendiri, dan juga dengan negara-negara tetangga Arab dan Muslimnya.
Hubungan tersebut dibangun atas pertimbangan praktis dan pragmatis. Kedua negara berbagi perhatian yang sama tentang kekuatan Arab di kawasan tersebut.
Bukankah ini berarti, Iran berjasa bagi Israel; Israel berutang budi pada Iran? Demikian juga sebaliknya, Iran menikmati jasa dari Israel?
***

Hubungan antara Yerusalem dan Teheran, sangat menarik: ada saat ketika keduanya terlibat dalam kerja sama politik, ekonomi, dan keamanan yang beragam, di antara bidang-bidang lainnya. Dan saat lain, sampai saat ini, kedua berusaha saling menghancurkan.
Begitulah, tidak ada kawan dan lawan abadi, yang ada kepentingan abadi. Bila kepentingan berbeda, maka berpisah jalan. Itulah adigium yang berlaku dalam dunia politik. Kata Marcus Tullius Cicero (106 – 43 SM), filsuf Romawi: Hostis aut amicus non est aeternum, commoda sua sunt in aeternum, lawan atau kawan itu tidak ada yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan.
Tapi beda lagi kata Paus Frasiskus dalam ensiklik “Fratelli Tutti“, Saudara Sekalian: Marilah kita bermimpi sebagai satu umat manusia, sebagai sesama pengembara yang memiliki raga manusiawi yang sama, sebagai anak-anak dari bumi yang sama yang menjadi tempat tinggal kita semua, masing-masing dengan kekayaan iman dan keyakinannya, masing-masing dengan suaranya sendiri, semuanya saudara dan saudari.
Ensiklik ini mengedepankan seruan untuk keluar dari segala bentuk eksklusivisme: dari tingkat individu sampai organisasi internasional. Semua manusia, saudari dan saudara, dipanggil untuk saling mengasihi, sebab kita memang diciptakan untuk saling mengasihi. Corak dasar kasih (caritas) ialah memberi yang baik kepada sesama.
Salah satu faktor yang memungkinkan keterbukaan universal ialah sistem politik. Politik dimaknai oleh Paus Fransiskus sebagai kesempatan istimewa melayani rakyat. Salah satu indikasi dari negara dengan sistem politik yang kuat ialah terjaminnya kesempatan kerja bagi warga, bukan hanya demi upah, tetapi sebagai media ungkapan diri manusia.
Paus Fransiskus berbicara tentang politik kasih: para pemimpin hendaknya memikirkan keberlanjutan hidup seluruh rakyat. Rakyat bukan suatu kategori abstrak, tetapi manusia sebagai pribadi.
Tak jaun berbeda, Paus Leo XIV pun demikian. Paus Leo XIV secara konsisten menekankan perdamaian sebagai tema utama kepausannya, menyerukan diakhirinya kekerasan dan mempromosikan dialog dan rekonsiliasi.
Kata Paus Leo XIV dialog dan perjumpaan harus diprioritaskan daripada perselisihan dan kekerasan. Paus juga menjunjung tinggi perlunya “komitmen untuk membangun dunia yang lebih aman, bebas dari ancaman nuklir,” yang “harus dikejar melalui perjumpaan yang penuh hormat dan dialog yang tulus, untuk membangun perdamaian abadi yang didasarkan pada keadilan, persaudaraan, dan kebaikan bersama.
“Perang tidak menyelesaikan masalah,” kata Paus. “Sebaliknya, perang memperbesar masalah dan menyebabkan luka yang dalam dalam sejarah masyarakat—luka yang membutuhkan waktu beberapa generasi untuk disembuhkan. Tidak ada kemenangan militer yang dapat menggantikan rasa sakit seorang ibu, ketakutan seorang anak, atau masa depan yang dicuri.”
***

Ketika satu setengah jam kemudian, misa selesai, kami bersalaman sambil tersenyum. “Sampai ketemu lagi di kesempatan lain,” kata Hossein Mokhtari yang selalu mengenakan sorban atau “dastar” dalam bahasa Persia dan berjubah coklat.
Sementara, saya memakai setelan teluk belanga dan berkopiah. Yang juga mengenakan teluk belanga dan berkopiah adalah dubes Malaysia. Pakaian kami berdua, mirip. Kami bersaudara. Saudara serumpun, se-ASEAN. Dan bukankah kata Ali bin Abi Thalib: Mereka yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan. Kata Santo Fransiskus: Fratelli Tutti…
Setiap kali bertemu Hossein Mokhtari di Basilika Santo Petrus atau acara resepsi diplomatik, saya selalu ingat keragaman penduduk Indonesia. Sebagai sebuah negara yang penduduknya majemuk, penghargaan terhadap mereka yang berbeda dan keinginan untuk tetap membangun relasi terhadap mereka yang berbeda iman adalah suatu keniscayaan, tapi yang kadang “diabaikan” ..
Bukankah, semestinya ukhuwah wathaniyyah, persaudaraan kebangsaan– persaudaraan antara sesama warga negara dalam suatu bangsa, tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras, atau golongan–harus selalu dipupuk, dipelihara, dan terus ditumbuh-kembangkan.***
Foto-foto lain:









Perang Iran – Israel telah memberikan kesempatan bagi saya untuk mempelajari banyak hal. Berbagai sumber YouTube menjelaskan sejarah pertemanan Iran – Israel di masa lalu, persis seperti yang dituliskan di artikel ini. Saya juga mempelajari bagaimana operasi Mossad, yang konon banyak di antaranya justru orang-orang Iran sendiri, telah memasuki jantung Iran – dengan hasil yang sangat mengejutkan. Saya juga mempelajari bagaimana Revolusi tahun 1979 berhasil mengusir Shah Iran, dan mengubah Iran menjadi Republik Islam. Saya juga mempelajari bagaimana rejim Republik Iran telah menekan kebebasan berpendapat, dan seruan pergantian rejim pemerintahan menjadi harapan banyak pihak, termasuk orang-orang Iran sendiri. Saya juga mempelajari bagaimana gurita kekuasaan Iran ditanamkan melalui kekuatan-kekuatan milisia Houthi (Yaman), Hezbollah (Lebanon), Shiah Irak, dan Hamas (Palestina).
Saya akui bahwa algoritma YouTube saya mengarahkan saya pada sumber-sumber pro-Israel. Dalam salah satu WAG yang beranggotakan para alumni Universitas Amerika Serikat, sering ada perdebatan sengit. Pro-kontra sangat ekstrim kadang muncul dan meruncing. Namun, saya berusaha untuk tetap berhati-hati: “Persoalan Israel dan keberadaannya di tanah yang sekarang menjadi negara Israel adalah persoalan yang berusia lebih dari 4000 tahun. Itu semua berawal dari Nabi Ibrahim, yang berputera Ishak dan Ismail. Keturunan dua putra itu lah yang akhirnya bermuara pada konflik tak terpecahkan sampai hari ini. Barangkali yang saya sampaikan terkesan simplistik. Tapi pesannya jelas: kita semua adalah penonton dari jauh. Soal kebenaran tidak pernah bisa didefinisikan secara sederhana, karena tergantung dari sisi mana. Apakah seseorang ada di jalur Ishak atau Ismail. Pertikaian di Timur Tengah akan tidak terlalu banyak berbeda sekalipun kita terlibat di dalam pertikaian sendiri. Yang paling kita pedulikan justru yang menjadi korban. Saya hanya bisa mendoakan mereka yang menjadi korban.”
Pesan dari artikel ini nampaknya seiring dengan keyakinan saya.
Terima kasih atas tulisan yang sangat bagus ini.
Eah sayang bgt gak sempat ngobrol lama dengan beliau ya. Usul mas, dicari waktunya untuk ketemuan lagi dan ajakan Bapa Paus Leo XIV untuk dialog dan mencari solusi untuk saudara-saudara para Dubes Tahta Suci bawa kepada para pemimpin negara mereka masing2. Semudah itukah? Berkah Dalem.
Dalam konflik Israel vs Iran
.. yg paling merisaukan saya adalah
…potensi perang dg senjata nuklir…akan sangat menghancurkan siapapun termasuk rakyat /bangsa yg cinta damai…. sekarang oni gencatan senjata yg sewaktu waktu bisa ambyaar..
Secara umum, diplomasi dan perang dianggap sebagai dua hal yang saling bertentangan dan bertolak belakang. Sebaliknya, sistem diplomatik saat ini didasarkan pada pandangan bahwa kepentingan negara dapat dikejar, ketertiban internasional dapat dipertahankan, dan perubahan dapat dilakukan melalui diplomasi dan perang sebagai dua sisi dari satu kenegaraan.
Terima kasih mas Trias untuk artikelnya yang menarik. Salam damai, Berkah Dalem.
Dalam perang tidak akan ada yang menang atau kalah, yang terjadi adalah kehancuran bersama, penderitaan seluruh warganya.
Menjadi konyol dan naif apabila perang terjadi hanya karena ingin pamer superioritas persenjataannya, super ego leadership yang infantile ataupun karena tamak, ingin menguasai sumber alamnya.
Wis pokokmen perang itu produk pemimpin yang bersumbu pendek otaknya.
Iran – Israel perang semakin menciptakan rasa kekawatiran penduduk bumi akan terjadinya PD ke 3 kalau negara-negara adidaya akan saling membela satu dengan yang lain, pamer rudal nuklir.
Monsegneur Dubes Trias please katakan NO untuk perang ! 🌐💒
Begitulah yang terjadi, Mgr…tujuane saling menghancurkan…memang hasile yo hancur2an…sudah banyak contohnya…Salam
Mas Trias, mat pagi waktu Ygy. Senang sekali membaca tulisan tentang Indonesia: Iran dan Israel. Amat menarik, gambaran tentang persahabatan Iran dan Israel sebelum beralih ke Republik Islam Iran. Betul sekali, ensiklik Fratellui Tutti selalu relevan dan urgen untuk digemakan.
Terimaka kasih banyak mas Trias, selamat berkarya.
Inggih, De…sakjane, yo bisa damai nggih, De…ya semoga…suwun
Matur nuwun, Mas Trias … Tdk terbayangkan seblmnya oleh saya, bhw Iran punya Dubes di Vatikan … Ternyata ada juga ya. Berarti ada pula umat Katolik di sana … Menarik sekali!!
Di pihak lain, beberapa kenalan org Eropa yg ada hubungan dengan Iran dan pernah juga ke sana menyimpulkan bahwa bangsa Iran adalah bangsa paling ramah di dunia. Teman ini pernah beberapa tahun tinggal di Indonesia juga.
Saat ini, salah seorang kakak saya sedang overland, keliling dunia dengan setir mobil sendiri, bersama istrinya. Sekarang sudah mulai masuk ke Eropa. Kakak saya punya pengalaman yang menegaskan tentang keramahan orang Iran, ketika mampir di sana. Dia beli bensin di SPBU, tapi ternyata harus pakai cash, tidak bisa dengan kartu. Saat minta tolong kepada supir truk yg sedang mengisi bensin juga, malah sang supir membayarkan bensin untuk kakak saya!!! Luar biasa sekali baiknya!
Semoga kebaikan orang2 Iran akan menjadi bagian yg mendamaikan konflik negara mereka dengan Israel. Kita semua tidak ada yang menyukai konflik!
Terima kasih banyak, Mas…Iya, ada dubes untuk Takhta Suci…sdh lama
Wah hebat, kakaknya….salam untuk beliau…ceritanya sangat menarik