SERIGALA

St George (foto:pixabay.com)

Sambil berjalan di dalam gereja, Romo Rosa OSC menjelaskan secara singkat sejarah Gereja St George tempat ia berkarya. Gereja itu berdiri di wilayah yang di zaman kuno disebut Velabrum di lembah Bukit Palatine.

Kami datang ke Gereja St George untuk mendengarkan penjelasan tentang apa yang dibahas dalam sinode. Penjelasan diberikan oleh Ketua KWI Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC (Uskup Bandung) dan Uskup Pangkal Pinang Mgr Sunarko OFM.

Tempa kami bertemu, kaya akan cerita. Kata Uskup Hildebert dari Lavardin (1055-1133), “Roma quanta fuit, ipsa ruina docet“, reruntuhan Roma menunjukkan kehebatan masa lalunya. Misalnya, Pantheon, Mausoleum Hadrian,¬†Kuil Hadrian, Roman Forum, dan Colosseum.

Daerah tempat Gereja St George berada, Velabrum, dulu sekali daerah berawa-rawa. Menurut legenda di situlah ditemukan keranjang berisi bayi kembar yang kemudian bernama Romulus dan Remus

Legenda mengisahkan kedua bayi itu anak Rhea Silvia dan Mars. Tapi sejarawan Romawi kuno, Titus Livy (59/64 SM – 17 M) mencatat Rhea Silvia diperkosa seseorang, lalu mengandung dan melahirkan kedua bayi itu. Maka bayi itu lalu dibuang di semak-semak di tepi Sungai Tiber…seperti kisah Musa yang diletakkan di tepi sungai.

Di tempat itu bayi kembar ditemukan seekor serigala betina atau “lupa” lalu dibesarkan sepasang penggembala: Faustulus dan Acca Larentina. Entah mana yang benar legenda itu.

Yang pasti, sejarah menceritakan, di kawasan itulah kota Roma lama berdiri. Di era Republik kuno, di tempat tersebut banyak dibangun kuil dan rumah warga. Bahkan rumah para bangsawan. Kaisar Agustus lahir di daerah ini dan mendirikan pusat kekaisarannya di kawasan Bukit Palatine ini.

Sedangkan, Gereja St George tempat acara kami, dibangun pada abad ke-5. Tapi sebagian fasad batanya, 16 tiang besarnya berasal dari abad ke-7. Sebagian besar interiornya dibangun pada abad ke-9. Serambi dan fresco dibuat pada abad ke-13. Pendek kata, gereja yang indah dalam kesederhanaannya itu, kaya sejarah.

Kata Romo Rosa, pada tanggal 27 Juli 1993, kelompok mafia meledakkan bom mobil di luar serambi gereja. Serambi gereja, hancur; juga bagian-bagian lainnya rusak.

***

Patung serigala menyusui Romulus dan Remus (Foto: create.vista.com)

Kisah penemuan Romulus dan Remus oleh seekor serigala, mengingatkan pepatah Latin, yang begitu populer untuk menggambarkan ganasnya manusia (dalam segala hal), yakni “Homo homini lupus est“, manusia serigala bagi manusia lain. Bila demikian, manusia ditempeli sifat rakus seperti binatang; serigala.

Manusia memang bisa ganas dan rakus. Ganas untuk mewujudkan keinginannya, kemauannya, ambisinya, dan nafsunya. Keganasan manusia barangkali, pada titik tertentu, melebihi keganasan binatang; seperti lupus, serigala.

Filsuf Inggris-lah, Thomas Hobbes (1588-1679), yang memopulerkan tulisan Plautus (254-184 SM), seorang penulis cerita-cerita komedi Romawi itu. Kata Plautus, “lupus est homo homini, non homo, quom qualis sit non novit” terjemahan lurusnya, “manusia adalah serigala bagi manusia, bukan manusia, bukan manusia apabila tidak paham hakikatnya”; hakikat kemanusiannya.

Namun, cerita Romulus dan Remus, menggambarkan serigala betina yang tidak ganas. Tidak memakan kedua bayi merah yang diketemukan di rawa-rawa; tetapi justru menyelamatkannya, mengangkat dari kubangan lumpur rawa-rawa Velabrum, menyusuinya, memberikan kehangatan, dan memberikan kehidupan baru.

Bukankah dengan demikian, serigala itu bukan serigala ganas seperti pada umumnya? Karena itu, kata penyair Ceecilius (280-168 SM), bukan “homo homini lupus” tapi “homo homini deus est, si suum officium sciat,” manusia adalah dewa (yang memiliki sifat baik) bagi yang lain bila mengetahui kewajibannya (dan menjalankannya dengan sepenuh hati dan penuh tanggung jawab).

***

Foto: Istimewa

Tetapi, mengapa manusia yang ganas disebut serigala? Apakah serigala binatang terganas? Apakah keganasan manusia bisa menyamai atau bahkan melebihi serigala?

Entahlah. Tapi, ada nasihat bijak untuk menghadapi serigala yang ganas itu: “Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”

Sebenarnya, ular tidak digolongkan sebagai hewan cerdik. Tapi, seringkali justru digambarkan sebagai binatang yang licik. Sebab, biasanya menyergap mangsanya secara diam-diam ketika mangsanya tidak siap, cepat, dan pagutannya mematikan karena bisanya.

Merpati yang digunakan sebagai lambang perdamaian adalah dikenal sebagai binatang setia, termasuk setia pada pasangannya. Bila kita lepas dari tempat yang jauh dari rumah, akan pulang; kembali ke rumah di mana ia dipelihara, dirawat, diberi makan, dan diberi rumah.

Kesetiaan tidak pernah ada bila tanpa ketulusan. Orang yang setia dalam hidupnya pasti menunjukkan ketulusan hati dalam hidup dan karyanya pula. Kesetiaan dan ketulusan adalah cerminan moral yang baik.

Tapi kecerdikan saja akan membawa ke dalam bahaya karena terjerumus menghalalkan segala cara. Kalau sudah demikian, kecerdikan akan tergelincir menjadi kelicikan. Ketulusan saja akan menjadikan tak sanggup bersaing. Hati dan otak, sama pentingnya. Tidak salah satu, namun keduanya.

Meskipun, tidak jarang nasihat bijak digunakan untuk mencari pembenaran atas suatu tindakan, suatu perbuatan; suatu strategi perjuangan.

Maka kata filsuf Jerman Emanuel Kant (1724-1804), yang menggambarkan kaitan antara moralitas dan politik dengan simbol merpati dan ular, menasihati agar hati-hati dalam memilih memimpin.

Lebih dari satu jam, kami berada di Gereja St George. Ketika keluar gereja, cerita tentang St George (berasal dari Cappadocia, hidup pada abad ketiga) dan dikisahkan sebagai “Pembunuh Naga” adalah yang terbayang…bukan soal serigala, ular, dan merpati…tetapi naga…¬† ***

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
38
+1
16
Kredensial