PAUS LEO XIV: PERTANDA ZAMAN (3): DUNIA PENUH GEJOLAK

DUNIA PENUH GEJOLAK


Keputusan memilih nama Leo XIV, mengejutkan banyak kardinal-elektor. Mengapa Kardinal Robert Francis Prevost memilih nama Leo, bukan Yohanes atau Fransiskus seperti permintaan para kardinal saat General Congregation?

Kardinal Suharyo, dalam perbincangan di Biara Internasional Carmelitana, Roma, mengatakan bahwa ia pun bertanya-tanya seperti kardinal lainnya. Kami saling bertanya: Mengapa memilih nama Leo? Sesaat kemudian, Kardinal Suharyo, paham tentang pilihan nama itu. Apalagi, setelah paus terpilih menjelaskan mengapa memilih nama Leo. Dan, semua kardinal mendukungnya.

Paus kelahiran AS dan lama menjadi misionaris di Peru ini, lebih 20 tahun, menjelaskan pilihan namanya mengacu pada Paus Leo XIII yang “menjawab akibat sosial yang timbul karena revolusi industri besar pertama” dengan ensikliknya Rerum Novarum.

Kata Kardinal Suharyo, “Pilihan itu tepat dengan situasi zaman sekarang. Di zaman relativisme ini. Zaman post, post…” Paus Fransiskus pernah mengatakan, kita hidup di masa “relativisme merajalela yang merusak fondasi iman dan melucuti makna sejati dari gagasan kesetiaan Kristen.” Sebelumnya, Paus Benediktus bahkan menyebut, “kediktatoran relativisme” yang menjadi penyebab awal runtuhnya Gereja di Eropa.

Dalam bahasa lain, Magister Magnus (Pemimpin Tertinggi) the Equestrian Order of the Holy Sepulchre atau Ordo Makam Kudus atau Ksatria Makam Kudus (OESSH) Kardinal Fernando Filoni mengatakan, pilihan nama (Leo XIV) merefleksikan intensinya memimpin Gereja Katolik dengan “visi yang jelas” di tengah dunia yang penuh gejolak (EWTN News, 9/5).

Mengapa dikatakan tepat? Di tengah dunia yang tengah bergejolak ini, seperti bahtera di tengah ombak dan badai, dibutuhkan seorang nahkoda yang kuat dan bervisi jelas dalam membawa bahtera; dibutuhkan seorang gembala yang menunjukkan jalan yang harus dilalui, jalan kebenaran.

Dahulu, kata Kardinal Suharyo, Paus Leo XIII (bertakhta, 1810 – 1903) juga Leo Agung (sekitar tahun 400-461) atau Leo I dikenang karena kepemimpinannya yang kuat, jangkauannya ke dunia (diplomasi) yang luas, dan upayanya yang luar biasa dalam menciptakan perdamaian.

Visi Paus Leo XIV (sebagian) terungkap dari kalimat pertama  ketika tampil di balkon Basilika Santo Petrus, hari Kamis (8/5) petang. Ia mengatakan  “La pace sia con tutti voi”, Semoga damai menyertaimu. Tetapi, “damai” di sini tidak hanya damai karena tidak ada perang. Tidak demikian.

Dulu zaman  Romawi ada rumusan yang berbunyi, “Si vis pacem, para bellum“, jika ingin damai, bersiaplah berperang. Sekarang pun, masih demikian. Akibatnya, negara-negara berlomba-lomba menumpuk senjata, terjadi pacuan senjata dan perdamaian tidak tercipta.

Padahal semestinya, kata Kardinal Suharyo, “Si vis pacem, para iusticiam” (Latin) atau  “Se vuoi la pace, prepara la giustizia” (Italia), jika ingin damai, tegakkanlah keadilan. Itu yang belum terjadi.

Dalam iman Katolik dikatakan yang namanya “pax”, damai, akan terwujud kalau ada hubungan yang harmoni antar-sesama manusia, antara manusia dengan alam, hubungan yang baik dengan diri sendiri, dan antara manusia dengan Tuhan.

***

Paus Leo XIV berjumpa dengan awak media di Aula Paulus VI, hari Senin, 12 Mei 2025 (Foto: Hari Patriadi/KBRI Takhta Suci)

Kata Kardinal Suharyo, dalam pidato pertamanya di hadapan Dewan Kardinal (10/5), Paus Leo XIV  mengungkapkan inspirasi di balik nama yang dipilihnya. Nama tersebut, menurut Paus Leo XIV,  menggemakan komitmen abadi Gereja terhadap martabat manusia dan keadilan sosial.

Nama tersebut, tidak hanya berakar pada tradisi, tetapi juga nama yang memandang dengan tegas ke depan terhadap tantangan dunia yang berubah dengan cepat dan panggilan abadi untuk melindungi mereka yang paling rentan di dalamnya.

Sebab, “Paus Leo XIII, dengan Ensiklik Rerum Novarum yang bersejarah, membahas masalah sosial dalam konteks revolusi industri besar pertama.”

Dahulu, Paus Leo XIII menjawab tantangan dan persoalan zaman sebagai akibat negatif revolusi sosial dan revolusi budaya berpuncak pada Revolusi Industri di Eropa,  menerbitkan Ensiklik Rerum Novarum (Hal-hal Baru). Revolusi sosial di Perancis yang melahirkan Revolusi Perancis dengan trilogi semboyannya: liberte, egalite et fraternite.

Ketiga semboyan ini mendorong manusia untuk memperjuangkan persamaan hak atas dasar kesamaan martabat pribadi manusia. Di samping itu, Revolusi Perancis ini mendorong orang untuk membentuk sistem pemerintahan demokratis yang menghargai dan melindungi hak setiap individu, menghargai pluralitas, menumbuhkan sikap toleran, menegakkan keadilan, mempromosikan partisipasi aktif setiap manusia dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan bersama (Laurentius Tarpin, 2008).

Tetapi, revolusi sosial ini juga membawa ekses negatif, yakni individualisme ekstrem, imperialisme, totalitarianisme, fasisme, marginaliasi nilai-nilai spiritual, marginalisasi agama dan moral, hegemoni budaya dan sistem pemikiran tertentu atas nama universalitas.

Revolusi Industri menjadi cikal bakal kapitalisme modern yang kemudian akan memicu gerakan ekspansi kolonialisme dan imperialisme yang melahirkan penindasan, ekploitasi manusia dan sumber daya alam yang melahirkan kemiskinan dan keterbelakangan di negara-negara terjajah.

Yang paling memprihatinkan adalah kemakmuran di dunia kapitalis mengakibatkan penderitaan, kemiskinan dan ketergantungan di negara-negara Dunia III. Menanggapi semua itu, pimpinan Gereja Katolik, Paus Leo XIII menunjukkan asas-asas dan pedoman-pedoman dasar yang perlu untuk menyusun tata sosial yang adil berinspirasikan nilai-nilai Kristiani (Dokpen KWI). Dokumen itu menandai dimulainya doktrin sosial modern Gereja.

***

Para kardinal akan memulai konklaf di Kapel Sistina, Rabu, 7 Mei 2025 (Foto: Trias Kuncahyono/Vatican TV).

Saat ini, dunia sedang dilanda badai—diguncang oleh perang dan kekerasan, ketidakadilan, penindasan, pelanggaran hak-hak asasi manusia, perusakan lingkungan hidup, dan pengembangan kecerdasan buatan (AI), dan hilangnya martabat manusia.

Kalau dahulu, Rerum Novarum “sebatas sebagai jawaban” terhadap dampak negatif Revolusi Industri, sekarang untuk menghadapi zaman yang bahkan memunculkan sikap hidup “seolah-olah Tuhan tidak ada.” Maka, kata  Paus Leo XIV mengutip warisan Paus Fransiskus dan Paus Leo XIII,  Gereja ingin “merespons revolusi industri baru dan pengembangan kecerdasan buatan (AI)”, yang menyodorkan tantangan baru.

Kata  Paus Leo XIV, hal seperti itulah kondisi sekarang. Orang sering tergoda untuk menggantikan Tuhan, menganggap diri mereka sebagai tolok ukur segala sesuatu, mengendalikannya, menggunakan segala sesuatu sesuai keinginan mereka sendiri.

Maka, masa kepausan Paus Leo XIV berada dalam dunia yang tengah mengalami transformasi geopolitik, budaya, dan spiritual mendalam. Selain persoalan eksternal itu, ada persoalan internal yang harus dihadapi Paus baru, seperti diingatkan oleh Kardinal Giovanni Batistta Re, Dekan Collegium Kardinal dalam khotbahnya saat memimpin Misa Pembukaan Konklaf.

Kardinal Re mengingatkan tentang tugas “untuk menjaga kesatuan Gereja di jalan yang telah ditelusuri oleh Kristus kepada para Rasul.” Kesatuan Gereja ini “dikehendaki oleh Kristus.” Kesatuan yang kuat dan ditandai oleh “persekutuan yang mendalam dalam keberagaman, asalkan kesetiaan penuh kepada Injil dipertahankan.”

Kondisi zaman seperti itu yang menginspirasi Kardinal Robert Francis Provost memilih nama Leo (Leo XIV). Kata Kardinal Suharyo, meskipun tidak mengambil nama Yohanes atau Fransiskus, tetapi semangatnya sama: menjadi gembala. Leo Agung dikenal sebagai gembala yang baik, demikian juga Leo XIII.

Maka Paus Leo XIV mengatakan akan membangun “jembatan” dan menekankan persatuan seperti motto kepausannya yang mencerminkan tradisi Agustinian: In Illo uno unum, Dalam Dia, kita satu. (Vatican News, 10/5).

Kata Santo Agustinus (Paus Leo XIV adalah seorang Agustinian–anggota Ordo Santo Agustinus, yakni komunitas religius yang mengikuti aturan hidup Santo Agustinus, dari Hippo, Mesir, yang hidup antara 354 – 430), “Meskipun kita orang Kristen banyak, dalam Kristus kita adalah satu. Kita banyak dan kita adalah satu – karena kita bersatu dengan-Nya, dan jika Kepala kita ada di surga, para anggota akan mengikutinya.”

Perlu dipahami bahwa Gereja bukan sekadar lembaga manusia, tetapi Tubuh Kristus, yang dibimbing oleh Roh Kudus. Motto Paus Leo XIV di atas mencerminkan hal itu, In Illo Uno Unum, Dalam DIA kita bersatu. Karena itu, kata Kardinal Suharyo, atas bimbingan Roh Kudus, konklaf berlangsung lancar, mulus, cepat, dan penuh kebersatuan.

Meskipun pada pemungutan suara putaran keempat sempat kelebihan satu suara (134) dan di awal ketahuan ada dua telepon genggam yang lolos. Tetapi, semua ditanggapi dengan senyum dan tawa saja oleh para kardinal.

Maka, dengan motto tersebut di atas, Paus Leo XIV menekankan  “unity” dan “communion”  dalam Gereja. Ini mengingatkan kita akan “Bhinneka Tunggal Ika.”

***

Lukisan dinding “The Last Judgement” karya Michelangelo di Kapel Sistina (Foto: Trias Kuncahyono/Vatican TV)

Menatap masa depan, Paus Leo XIV menegaskan kembali jalan yang telah ditetapkan oleh Konsili Vatikan Kedua, jalan yang diperbarui dan ditafsirkan ulang di bawah Paus Fransiskus.

Ia menyoroti tema-tema utama dari Seruan Apostolik Paus Fransiskus Evangelii gaudium (Sukacita Injil) keutamaan Kristus, sinodalitas, sensus fidei (“perasaan” supernatural umat beriman), kesalehan populer, kepedulian terhadap orang miskin, dan keterlibatan yang berani dengan dunia.

“Ini adalah prinsip-prinsip Injil yang melaluinya wajah Bapa yang penuh belas kasih telah dinyatakan dan terus dinyatakan dalam Putra yang menjadi manusia,” kata Paus Leo.

Uskup Roma yang baru juga memberikan penghormatan kepada pendahulunya, mengingat kesederhanaan Paus Fransiskus, dedikasinya yang radikal terhadap pelayanan, dan kepulangannya yang damai ke Rumah Bapa.

Katanya, “Marilah kita menghargai warisan yang berharga ini dan melanjutkan perjalanan kita, didorong oleh harapan yang sama yang datang dari iman.”

Bapa Suci mengingatkan tentang kehadiran Kristus yang Bangkit yang tenang namun penuh kuasa – “bukan dalam gemuruh guntur dan gempa bumi,” tetapi dalam “bisikan angin sepoi-sepoi.” Dalam keheningan inilah, kita menjumpai Tuhan paling intim, dan perjumpaan inilah yang harus membimbing Gereja dalam misinya saat ini.

Paus adalah Bapa Gereja, tetapi otoritasnya menyimpang jika tidak melayani kehidupan, kebenaran, dan tatanan ilahi. Pemulihan tidak akan terjadi melalui kebaruan kepausan, tetapi melalui kesetiaan kepausan kepada Kristus, Kitab Suci, dan Tradisi. (SELESAI)

Foto-foto lain:

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
27
+1
21
Kredensial