
Di sebuah biara di Faicchio, kami bertemu mereka. Faicchio, sebuah desa yang terletak di Propinsi Benevento, wilayah Campania, Italia Selatan. Kompleks biara menghadap bukit hijau dan memunggungi pegunungan kapur yang wilayah kakinya hijau.
Satu hal yang menyenangkan ketika tiba di desa itu, hawanya sejuk. Faicchio, lebih sejuk dibanding Roma. Udaranya menyegarkan. Berdiri di depan biara, mata langsung menabrak bukit hijau. Di belakang biara, berdiri kokoh Pegunungan Matese.
Sepanjang jalan–selepas jalan tol, Roma – Napoli–kiri dan kanan hamparan ladang jagung yang sedang berbunga. Mendekati desa, terlihat banyak pohon zaitun yang berbaris rapi, juga anggur yang masih muda. Masuk Faicchio, rumah-rumah cantik di kiri-kanan jalan berhalaman luas, hamparan rumput; juga pokok-pokok anggur, ara, dan jeruk.
Desa berpenduduk 3.171 jiwa (per 31 Mei 2025) yang pada tahun 1943 menjadi medan pertempuran antara pasukan Jerman dan Sekutu (AS) ini, terletak 202 km selatan Roma atau 50 km timur-laut Napoli. Saat PD II, biara tempat tinggal Suster-suster Para Malaekat (Soure degli Angeli) Penyembah Tritunggal Mahakudus (Adoratrici della SS Trinita) itu, menjadi sasaran pemboman. Lima-belas suster biarawati, tewas.
Biara termasuk Gereja Santa Maria del Carmelo yang dibangun pada awal abad ke-18 oleh para biarawan Karmelit, rusak parah. Menurut cerita, para biarawan itu tinggal di biara tersebut hingga tahun 1805. Lalu, kompleks biara diserahkan kepada negara.
Selama bertahun-tahun, bangunan tersebut terbengkalai. Tidak dirawat. Di kemudian hari tempat tersebut dipilih oleh Suster Maria Serafina, pendiri Kongregasi Suster-Suster Para Malaekat, untuk menjadi rumah induk biaranya.
Di biara itulah, suatu sore, kami bertemu para Puteri dari Pulau Kei, juga dari Pulau Aru.
Di biara itu, Suster Loyola Djonler, salah seorang dari enam suster yang sore itu berkaul kekal, bercerita bahwa mereka berasal dari Maluku. “Sebagian besar dari Kei,” katanya. Ada sekitar 50 puteri Indonesia yang menjadi anggota Kongregasi Suster-suster Para Malaekat. Anggota lainnya dari Filipina dan sejumlah negara Afrika.
Kepulauan Kei, gugusan pulau-pulau di Laut Banda ini memiliki catatan penting tentang Kekatolikan di Indonesia. Menurut Sejarah Keuskupan Amboina kawasan ini baru disentuh para misionaris pada abad ke-19. Yakni ketika pada 1 Juli 1888, dua misionaris Jesuit, Romo Johannes Kusters, SJ dan Romo Johannes Booms, SJ tiba di Tual, Maluku Tenggara. Romo Kusters diizinkan berkarya di Desa Langgur yang tak jauh dari Tual.
Hal itu berbeda dengan kawasan Maluku Utara dan Tengah, yang sudah tersentuh tangan misi pada abad ke-16. Kawasan ini disinggahi tokoh besar misionaris dunia timur yang disebut “the Apostle of the Indies“, St Fransiskus Xaverius.
Menurut cerita, pada Agustus 1889, Romo Kusters membaptis seorang gadis kecil yang sakit parah bernama Sakbau (nama baptis Maria Sakbau). Setelah dibaptis, Maria Sakbau, sembuh. Hal ini membuat masyarakat Langgur percaya kepada Romo Kusters. Sejak itu, agama Katolik berkembang di Kepulauan Kei (Hidup Katolik.com)
Karya misi para Jesuit di Kepulauan Kei kemudian diserahkan ke para misionaris Misionaris Hati Kudus (MSC) pada akhir tahun 1890-an karena Jesuit kekurangan personel. Misi di Kai Kecil, khususnya di Langgur, berkembang menjadi pusat penting bagi Katolik di Indonesia timur pada tahun 1940. Secara historis, Langgur di Kai Kecil berfungsi sebagai pusat Katolik, sementara Tual adalah pusat Islam dan Elat di Kai Besar adalah pusat Protestan pada awal abad ke-20.
Dari sinilah puteri-puteri Kei mengenal panggilan hidup membiara. Maka mereka pun, antara lain, bergabung dengan Kongregasi Suster-Suster Para Malaekat Adoratrici della SS Trinita, yang tiga di antaranya sore itu berkaul kekal.
***

Dalam hidup membiara, kaul kekal–seperti yang dilakukan enam suster sore itu–merupakan tahapan yang sangat penting karena saat itu orang yang berkaul kekal mengikatkan diri kepada Tuhan secara abadi, untuk selama-lamanya. Hidup membiara bukanlah kontrak yang ditandai dengan penandatanganan selembar semacam memorandum of understanding.
Bukan! Hidup membiara adalah sebuah panggilan hidup bakti. Hidup bakti itu memerlukan komitmen yang mendalam terhadap doa dan kesetiaan terhadap sumpah, kaul yang diambil.
Ketika seseorang memutuskan untuk menjalani hidup sebagai seorang biarawan atau biarawati–menjalani panggilan hidup bakti– ia harus mengetahui bahwa dalam hidup membiara terdapat beberapa landasan yang harus ditaati. Tapi, kata Paus Fransiskus, panggilan hidup bakti tidak hanya tentang menjaga iman pribadi tetapi juga tentang berani menyampaikan Kabar Baik Kristus kepada dunia.
Maka ketika sore itu, kami mengikuti dan mendengarkan para suster mengucapkan kaul kekal–yang kesekian kalinya kami ikuti dan dengarkan–ada rasa kagum sekaligus bangga, dan terharu. Mereka meninggalkan kampung halamannya, nun jauh di sana, meninggalkan keluarganya, meninggalkan segala-galanya keduniawian dan menyerahkan dengan kehendak bebas seluruh hidup dan karya bagi Tuhan yang diimaninya.
“…di mia piena e libera volonta, faccio nelle tue mani, …in perpetua, voto di castisa, poverta e obbedienza…“, …dengan kehendak bebas dan penuh, kuserahkan ke dalam tanganmu,…dalam kaul kekal kesucian, kemiskinan, dan ketaatan…
Kata Paus Fransiskus dalam Kongres Hidup Bakti di Brasil (2024), kemiskinan bukanlah sebuah upaya besar namun lebih merupakan sebuah kebebasan yang jauh lebih besar, yang memberi kita kekayaan sejati kepada Tuhan dan orang lain. Dan, kesucian bukanlah kemandulan yang keras namun merupakan cara untuk mencintai tanpa memiliki. Hal ini menunjukkan bahwa ketaatan bukanlah disiplin melainkan kemenangan atas kedurhakaan kita.
Dengan mengikrarkan kaul kekal berarti mencairkan dan meleburkan diri dalam ketiga kaul, yang pertama Kaul Kesucian: hidup dalam keutuhan di dalam kristus dengan menjaga kemurnian hati dan pikiran kepada Tuhan. Kedua, Kaul Kemiskinan berarti berani melepaskan diri dari harta milik pribadi, menyerahkan semua kekayaan kepada komunitas dan kongregasi. Dan ketiga, Kaul ketaatan, berkomitmen untuk tunduk dan taat pada pimpinan Gereja, kongregasi dan pimpinan komunitas yang disertai sikap penyerahan diri dan kesiapan untuk melayani….secundo le Constituzioni delle Suore degli Angeli”, …. sesuai Konstitusi Suster-Suster Para Malaikat.
Lalu diakhiri dengan penyerahan diri dan mohon berkat kekuatan pada Tuhan, “Tu, mio Dio, che mi hai chiamata a serviti in questo Istituto, dammi grazia di perseverare ib esso,” Ya Allah, Engkau yang telah memanggilku untuk melayani di Institut ini, berikanlah aku rahmat untuk bertekun di dalamnya.
Panggilan, pada hakikatnya, adalah mengembalikan kepada Tuhan apa yang telah Dia berikan kepada kita; panggilan adalah membiarkan diri kita dikasihi oleh Tuhan dan dituntun ke mana pun Tuhan sendiri menghendaki.
***

Puteri-puteri Kei dan Aru petang itu, telah mengembalikan kepada Tuhan, apa yang telah mereka terima….Petang itu, kami tidak hanya saksi, tetapi juga menemani mereka berdiri di depan altar mengucapkan kaul kekalnya.
Esok harinya, kami ke Camigliano, untuk juga menghadiri kaul kekal seorang suster misionaris Santo Antonio Maria Claret, Suster Rojentina Claudina Da Crus dari Timor…Camigliano yang terpisah jarak dengan Roma sejauh 188 km sebelah selatan–40 km utara Napoli–adalah sebuah kota di Propinsi Caserta, tetangga Propinsi Benevento.***

Sungguh suatu wawasan baru yg menyentuh hati, nun jauh dari Indonesia para suster ini berkaul kekal kemiskinan, ketaatan dan kesucian..menjauhi dunia yg sedang dipenuhi kerakusan. Foto2nya sungguh indah, maturnuwun pak Dubes
1Yoh 2:7.
Kita meneladan Yesus yang walaupun dapat memilih masuk ke keluarga konglomerat di Yerusalem, Dia memilih keluarga miskin, buruh, makan upah di Nasaret.
Terima kasih mas Trias. Tulisan ini menguatkan saya.
Maaf. Seharusnya 1Yoh 2:6
Sangat menyentuh Mas….
Puji Tuhan karyaNya sungguh luar biasa : memanggil kita satu persatu dengan cara yang unik dan spesial
Mas Trias mat pagi waktu Yogya. Terima kasih banyak untuk tulisannya tentang Puteri RI – Puteri Kei. Saya dapat ikut menggambarkan keadaan para puteri Kei yang merantau jauh dan mengucapkan kaul kekal.
Saya pernah singgah beberapa saat singgal di Tual dekat Kei, ketika berangkat dan pulang TOK ke Tanimbar, tahun 1983-1985,
Tulisan yang menarik dan relate dengan hidup saya.
Luar biasa puteri puteri Kei sanggup meninggalkan kehidupan duniawi yang dipenuhi gemerlap dan hidup penuh kesucian, kemiskinan dan ketaatan.
Semoga iman kami yg hanya sebesar biji sesawi semakin kuat dan tumbuh dalam keluarga kami.
Tulisan dan analisis yang menggugah hati. Sangat menyenangkan dan mencerahkan apa yang tergandung dan tersirat dalam tulisan yang enak dibaca dan perlu. Pandito Triyas memang ahlinya dalam menulis dan menggugah kedamaian dalam hidup. Salam
P Trias, terima kasuh atas pencerahannya. Kagum kepada para suster dari konggregasi Suster Para Malaekat. Mereka telah menanggapi panggilan Tuhan melalui hidup membiara, suci, miskin, dan taat, ditengah dunia yang gegap gempita. Salam.
Terima kasih Dab . . . Asupan pengetahuan tentang kehidupan di tempat yg jauh namun dekat di hati . . . Semoga mereka yg mengucap kaul kekal selalu didampingi Allah di setiap langkah kehidupannya . . .
Matur nuwun dik Kelik, serasa mengikuti perjalanan ke Faicchio yg indah dan terharu mengikuti proses kaul kekal Suster2 Indonesia dari Kei dan Aru yg telah memenuhi panggilannya untuk berserah diri dalam kasih Tuhan. Proficiat buat Sr Loyola Djonler dan suster suster yg lain yg berkaul kekal … 🙏🏻🙏🏻
Matur nuwun, Mas Trias … Kisah yg indah tentang kaul kekal. Iman jua yg membawa para suster ini ke tempat yg jauh dari keluarga dan kampung halaman, tempat yg indah, seindah iman mereka.
Kami baru ke Samarinda bulan lalu, menghadiri misa perayaan 40 thn kaul kekal Sr. Natalia, SPM, kakak istriku. Selalu indah merayakan hati dan hidup yg diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan