
Hari baru pukul 09.15, tapi panas Matahari sudah terasa di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. Ribuan orang, diperkirakan 70.000 umat, terutama anak-anak muda, sudah sejak pagi berada di lapangan yang sarat sejarah itu. Sejarah Gereja Katolik. Sejarah Kekatolikan. Bendera berbagai negara, dikibar-kibarkan di berbagai tempat. Beragam spanduk dan poster dengan foto wajah Acutis, dibentangkan. Terdengar pula lantunan lagu, beragam bahasa.
Minggu 7 September 2025, adalah hari istimewa. Paus Leo XIV memimpin Misa Kanonisasi–proses Gereja mengesahkan seseorang sebagai orang kudus: santo (laki-laki) atau santa (perempuan)–untuk Pier Giorgio Frassati (1901- 1925) dan Carlo Acutis (1991 – 2006).
Semakin siang, semakin panas. Ketika Misa Kanonisasi dimulai, pukul 10.00, Matahari yang menggantung di langit biru, semakin leluasa menumpahkan panasnya. Tapi, ribuan umat, peziarah Tahun Yubelium yang ikut misa dan sebagian besar berdiri, tak bergeser dari tempatnya. Bagi umat, hari itu hari berkah.
Sebenarnya, menurut rencana, Carlo Acutis dikanonisasi tanggal 27 April 2025, saat Yubelium Kaum Muda. Tetapi, sepekan sebelum acara kanonisasi, pada 21 April 2025, Paus Fransiskus wafat. Acara ditunda. Dan, baru dilaksanakan hari Minggu, 7 September 2025. Ini menjadi kanonisasi pertama oleh Paus Leo XIV.
***

Kanonisasi terhadap Carlo Acutis, memunculkan pertanyaan: Masih adakah orang suci, orang kudus di zaman yang serba materialistis ini; zaman yang menekankan materialistic value orientation (MVO)? Zaman yang meninggalkan nilai-nilai kebajikan, nilai-nilai kemanusiaan, dan nilai-nilai moralitas.
Kata Hilga Dittmar dan Amy Isham (2022), MVO menggambarkan orientasi seseorang terhadap uang dan barang-barang materi. Orientasi ini umumnya didefinisikan sebagai “dukungan jangka panjang seseorang terhadap nilai-nilai, tujuan, dan keyakinan terkait yang berpusat pada pentingnya memperoleh uang dan harta benda yang menunjukkan status”.
Oleh karena itu, seseorang dengan MVO yang kuat berusaha memperoleh uang dan barang-barang materi untuk mencapai manfaat psikologis tertentu yang diharapkan, khususnya citra yang menarik, pengakuan, status, dan kebahagiaan yang lebih besar.
Orientasi nilai materialistis yang kuat sering dikaitkan dengan toleransi yang lebih tinggi terhadap korupsi. Karena orang memprioritaskan keuntungan materi pribadi. Ini yang dapat mendorong mereka untuk membenarkan atau terlibat dalam tindakan tidak etis seperti penyuapan untuk mencapai tujuan mereka.
Ilmuwan sosial Amerika, Ronald Inglehart, bahkan sejak 1977 sudah menggunakan istilah postmaterialism. Kata Maria Kravtsova, Aleksey Oshchepkov, dan Chritian Walzel (2017), orang-orang yang lebih menekankan nilai-nilai pascamaterialis cenderung lebih membenarkan korupsi. Mementingkan diri sendiri; yang penting “aku” bukan “kita”, atau “kami” bukan “kita”, atau “kami” bukan “mereka”.
Pergeseran dari nilai-nilai materialis ke pascamaterialis ini sesuai dengan hierarki kebutuhan Maslow (1954): ketika kebutuhan dasar akan rasa aman terpenuhi, orang cenderung memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi. Dasar lain dari pergeseran nilai ini, yang membuat proses ini relatif lambat, adalah pergantian generasi.
Selain zaman pascamaterialistik juga zaman penuh dusta. Pertanyaanya sama: apakah di zaman penuh dusta ini dapat melahirkan orang suci? Orang mudah berkata dusta yang seorang kepada yang lain, berkata dengan bibir yang manis dan hati yang bercabang. Banyak orang menyebut diri baik hati. Tetapi, orang yang setia, siapakah menemukannya?
Apalagi, menemukan kesetiaan dalam dunia politik. Dalam dunia politik, yang setia adalah kepentingan. Ini adalah salah satu paradigma, pengertian politik. Dalam pengertian ini, politik dipahami hanya semata dalam aspek kekuasaan: penyelenggaraan kekuasaan, pemilihan, pertahanan, perebutan, penikmatan, pelestarian, status quo kekuasaan, menambah kekuasaan, dan sebagainya. Semuanya serba berkaitan dengan bagaimana memperoleh, memperbesar, dan mempertahankan kekuasaan.
***

Tetapi, kata Paus Fransiskus (2013): “Para Orang Suci bukanlah manusia super, mereka juga tidak dilahirkan sempurna. Mereka seperti kita, seperti kita masing-masing. Mereka adalah orang-orang yang, sebelum mencapai kemuliaan surga, menjalani kehidupan normal dengan suka dan duka, pergumulan dan harapan.”
Lalu, apa yang mengubah hidup mereka? Jawab Paus Fransiskus, ketika mereka mengenali kasih Tuhan, mereka mengikutinya dengan sepenuh hati tanpa syarat atau kemunafikan. Mereka menghabiskan hidup mereka melayani orang lain, mereka menanggung penderitaan dan kesulitan tanpa kebencian dan menanggapi kejahatan dengan kebaikan, menyebarkan sukacita dan kedamaian. Inilah kehidupan seorang Orang Suci.
Orang Suci adalah orang-orang yang karena cinta kepada Tuhan tidak menetapkan persyaratan bagi-Nya dalam hidup mereka; mereka bukan orang munafik; mereka menghabiskan hidup mereka untuk melayani orang lain. Mereka menderita banyak kesulitan tetapi tanpa kebencian. Para Orang Suci tidak pernah membenci.
Kasih berasal dari Tuhan, lalu dari siapakah kebencian datang? Kebencian tidak datang dari Tuhan tetapi dari iblis! Dan para Orang Suci menjauhkan diri dari iblis; para Orang Suci adalah pria dan wanita yang memiliki sukacita di hati mereka dan Mereka menyebarkannya kepada orang lain. Jangan pernah membenci, tetapi layani orang lain, mereka yang paling membutuhkan; berdoa dan hiduplah dalam sukacita. Inilah jalan kekudusan! Menjadi kudus bukanlah hak istimewa bagi segelintir orang, seolah-olah seseorang memiliki warisan yang besar; dalam Baptisan, kita semua memiliki warisan untuk dapat menjadi orang kudus. Kekudusan adalah panggilan bagi semua orang.
***

Dan, Carlo Acutis seorang remaja biasa: lahir di London, 1991 dan dibesarkan di Italia. Carlo Acutis seperti teman-teman sebayanya, tumbuh dengan internet—bermain gim video, membuat situs web. Hari-harinya adalah hari-hari internet.
Tetapi, yang membedakan dengan teman-teman sebayanya adalah remaja yang menderita leukemia ini menggunakan keterampilan komputernya untuk menyebarkan kesadaran akan iman Katolik, dengan membuat situs web yang mendokumentasikan mukjizat.
Maka, Carlo Acutis dijuluki “God’s Influencer.” Carlo dipandang sebagai pelopor upaya penginjilan gereja di dunia digital. Gereja memandangnya sebagai cara untuk terhubung dengan kaum muda. (The New York Times, 5 September 2025).
Vatikan menggambarkan Carlo sebagai “seorang jenius komputer,” seorang “remaja yang paham teknologi,” dan “seorang anak Web dan era digital.” Dan, Gereja Katolik merangkul identitas Carlo sebagai remaja biasa dan pengguna internet.
“Dunia digital dapat membuat Anda berisiko terserap diri, terisolasi, dan kesenangan kosong,” tulis Paus Fransiskus dalam “Christus Vivit“, suratnya tahun 2019 kepada kaum muda Katolik. “Tetapi jangan lupa bahwa ada anak muda di sana yang menunjukkan kreativitas dan bahkan kejeniusan.” Paus Fransiskus, menunjuk Carlo sebagai salah satu contoh. Paus Leo juga menyerukan warisan Carlo Acutis dalam homili pada Yubileum Orang Muda musim panas ini.
Dalam kisah hidupnya ditulis, tentu, Carlo bermain gim video, tetapi membatasi dirinya hanya satu jam seminggu—bukan perilaku anak-anak yang biasa. Ia menggunakan keterampilan komputernya bukan untuk nongkrong di ruang obrolan atau membuat situs web yang konyol, melainkan untuk membantu paroki setempat dan Vatikan dengan desain web.
Carlo begitu terpesona oleh mukjizat Ekaristi—kisah tentang roti yang diambil umat beriman saat Komuni berubah menjadi jaringan jantung manusia atau mulai berdarah—sehingga ia membuat pameran langsung dan situs web yang menyertainya tentang mukjizat-mukjizat tersebut.
Sebuah film tentang hidupnya menggambarkannya sebagai “mistikus remaja.” Ini istilah yang mengingatkan kembali pada tokoh-tokoh seperti Hildegard dari Bingen, seorang kepala biara abad ke-12 yang dikenal karena penglihatannya yang seperti trans.
Menurut ibunya, Antonia Salzano, bahkan sebelum didiagnosis leukemia, Carlo mengatakan ia tahu akan mati muda. Timothy P. O’Malley, seorang teolog di Universitas Notre Dame (2024), “Carlo aneh.” Dan menyadari hal itu, menurut O’Malley, adalah kunci untuk “membuka kesuciannya.”
***

Pada tanggal 1 Oktober 2006, ketika ia berusia 15 tahun, Carlo Acutis jatuh sakit: demam dan sakit tenggorokan. Meski sudah ditangani dokter, kondisinya makin memburuk. Pada tanggal 6 Oktober, Carlo menemukan darah dalam urinnya; keesokan harinya tidak memiliki kekuatan untuk bangun dari tempat tidur.
Orang tuanya membawanya ke rumah sakit. Dokter mengatakan, Carlo menderita leukemia. Selama beberapa hari berikutnya, kondisinya terus menurun. Pada tanggal 11 Oktober, ia menderita pendarahan otak dan jatuh koma. Beberapa jam kemudian, dokter menyatakannya mati otak. Keesokan harinya, pukul 6.45 pagi, jantungnya berhenti berdetak. Carlo meninggal dunia. Ia pulang ke rumah Bapa.
Dalam wawancara dengan shalomtiding.org (2022), Antonia Salzano bercerita, setelah kematiannya, Antonia menemukan video Carlo tentang dirinya di komputernya. Meskipun saat itu tidak tahu apa-apa tentang leukemia yang dideritanya, dalam video tersebut Carlo mengatakan bahwa ketika berat badannya turun menjadi tujuh puluh kilogram, ia akan meninggal.
Entah bagaimana, ia tahu. Namun, Carlo tersenyum dan menatap langit dengan tangan terangkat. Di rumah sakit, kegembiraan dan kedamaiannya menyembunyikan sebuah pencerahan yang mengerikan: “Ingat,” katanya kepada ibunya, “Aku tidak akan meninggalkan rumah sakit ini hidup-hidup, tetapi aku akan memberimu banyak tanda.”
Dan tanda-tanda telah Tuhan berikan—seorang wanita yang berdoa kepada Carlo di pemakamannya disembuhkan dari kanker payudara tanpa kemoterapi apa pun. Seorang wanita berusia 44 tahun yang belum pernah memiliki anak berdoa di pemakaman dan sebulan kemudian hamil.
Banyak pertobatan telah terjadi, tetapi mungkin mukjizat yang paling istimewa “adalah yang terjadi pada sang ibu,” kata Antonia. Bertahun-tahun setelah kelahiran Carlo, Antonia telah mencoba untuk mengandung anak-anak lain tetapi tidak berhasil. Setelah kematiannya, Carlo datang kepadanya dalam mimpi yang mengatakan bahwa ia akan menjadi seorang ibu lagi.
Pada usia 44 tahun, pada ulang tahun keempat kematiannya, ia melahirkan anak kembar—Francesca dan Michele. Seperti saudara laki-laki mereka, keduanya menghadiri Misa setiap hari dan berdoa Rosario, dan berharap suatu hari dapat membantu memajukan misi saudara mereka.
Ketika dokternya bertanya apakah ia kesakitan, Carlo menjawab bahwa “ada orang-orang yang jauh lebih menderita daripada saya. Saya mempersembahkan penderitaan saya untuk Tuhan, Paus (Benediktus XVI), dan Gereja.” Carlo meninggal hanya tiga hari setelah diagnosisnya.
Dalam kata-kata terakhirnya, Carlo menyatakan bahwa “Saya meninggal dengan bahagia karena saya tidak menghabiskan satu menit pun dalam hidup saya untuk hal-hal yang tidak disukai Tuhan.”
***

Di Gereja Santa Maria Maggiore, Asisi, jenazah Santo Acutis disemayamkan. Tubuh aslinya, terbungkus lilin, terbaring di dekatnya dalam peti mati berubin cerah dengan panel kaca di tengahnya. Ia berpakaian seperti anak seusianya, dengan kaos oblong, celana jin, jaket beritsleting, dan sepatu sneakers.
Panel batu di belakang peti mati menggambarkan adegan-adegan dari hidupnya dengan beberapa sentuhan simbolis. Pada salah satu panel, logo Facebook, Google, dan perusahaan internet lainnya mengapung di sekelilingnya. Carlo adalah orang suci pertama yang dimakamkan dengan perlengkapan bermerek.
Santo Carlo Acutis mendapatkan pengikut global di kalangan anak muda sebagai orang suci yang mudah dipahami. Dibandingkan dengan orang-orang kudus baru lainnya, Carlo Acutis memiliki tingkat ketenaran anumerta yang unik. Satu grup Facebook yang menghormatinya memiliki lebih dari 320.000 anggota. Lebih dari satu juta orang dilaporkan telah mengunjungi tempat pemakaman pemuda suci itu secara langsung tahun lalu.
Dalam satu video TikTok, seorang gadis memfilmkan dirinya menangis saat mengunjungi makamnya. Di video lain, dia menulis bahwa Carlo Acutis “mengubah hidupku selamanya.” Semoga, ribuan anak muda yang mengikuti Misa Kanonisasi secara langsung dan mengikuti lewat siaran televisi, tergerak hatinya akan oleh contoh hidup Santo Carlo Acustis dan mengikutinya…di zaman yang oleh pujangga besar Keraton Surakarta Hadiningrat, Raden Ngabei Ranggawarsita disebut Zaman Edan..***
Foto-foto lain Misa Kanonisasi:












Sangat mencerahkan dan berguna untuk memaknai alam. Hidup adalah berbagi kebaikan. Bergetar bibirku menyebut kebesaran Ilahi.
Bagus sekali dan lengkap tulisannya mas Dubes. Insya Allah tgl 30 Sept nanti kami rencanakan utk bisa berdoa di depan jenasah Santo Milenial ini juga.
Salam dan sukacita selalu.
Terima kasih Mas Trias.
Sangat menginspirasi, mas Dubes Trias. Warga Lingkunganku saya ajak membaca tulisan njenengan.
Mas Trias. Istimewa. Ternyata di tengah-tengah mentalitas MVO dan postmaterialisme tetap ada orang-orang kudus, bahkan seorang remaja Carlo Acutis. Ini betul-betul karya belas kasih Tuhan, Yang lebih pokok adalah dampaknya bagi pola hidup remaja di zaman sekarang. Semoga buahnya sampai ke Indonesia.
Matur nuwun, sugeng makarya