
Setiap kali lewat Circus Maximus–lapangan atau stadion berbentuk oval yang dahulu digunakan untuk adu gladiator, pacuan kuda dan balapan kereta kuda–selalu ingat Nero. Padahal, bukan kaisar kelima Dinasti Julio-Claudian ini, yang membangun Circus Maximus. Dinasti Julio-Claudian sudah memiliki lima kaisar: pertama Augutus (pendiri dinasti), lalu Tiberius, Caligula, Claudius, dan terakhir Nero.
Menurut cerita, keberadaan stadion besar itu bisa dilacak hingga abad keenam sebelum Masehi. Adalah Raja Tarquinius Priscus yang ngawali pembangunan stadion itu. Stadion digunakan untuk menggelar “Ludi Romani“, permainan Romawi.
Meski yang membangun bukan Nero, tapi orang selalu ingat Nero atau dikaitkan dengan Nero. Sebab di zaman Nero (54 – 68), terjadi peristiwa besar yang tercatat sebagai sejarah Kota Roma, bahkan sejarah Kekaisaran Romawi. Yakni “Incendium Magnum Romae“, Kebakaran Besar Roma, 19 Juli 64 M.
Dikisahkan, api mulai berkobar pada malam hari, melalap kios-kios dan toko-toko serta bangunan sekitar Circus Maximus, yang merupakan kawasan rumah-rumah kumuh. Akhirnya, api membakar pagar kayu yang mengelilingi Circus Maximus dan tribun stadion berkapasitas 150.000 orang itu.
Setelah enam hari berkobar, api padam. Tapi, tiba-tiba menyala lagi selama tiga hari. Selama sembilan hari api ngamuk di wilayah itu dan sekitarnya, melalap apa saja yang ditemui, termasuk bangunan; 10 dari 14 distrik Roma hancur lebur. (Tacitus, Annals, XV.40; Suetonius, Life of Nero, XXXVIII.2).
***

Ada cerita yang mengkaitkan “The Great Fire of Rome” dengan Nero. Diceritakan, Nero lah yang memerintahkan pembakaran. Karena ia ingin membangun kota dan istana baru, Domus Aurea (Istana Emas). Apalagi, istananya, Domus Transitoria pun sebagian dilalap api.
Kecurigaan itu masuk akal. Sebab, Domus Aurea akan dibangun di bekas reruntuhan bangunan yang terbakar. Karena itu, pembangunan itu memicu kemarahah musuh-musuh politik Nero dan Senat.
Tapi, kata Publius Cornelius Tacitus (56 – 120), sejarawan Romawi yang menyaksikan kebakaran Roma, Nero punya alibi kuat. Saat kebakaran, Nero sedang tidak di Roma, tetapi baru liburan di villanya di Antium–sekarang Anzio–sebuah kota tepi pantai, sekitar 50 km selatan Roma.
Begitu mendapat laporan bahwa Roma terbakar, menurut catatan Tacitus, Nero segera kembali ke Roma. Bahkan diceritakan memimpin sendiri pemadaman api. Api menewaskan ratusan orang. Ribuan orang kehilangan rumah.
***

Tapi banyak tulisan yang mengisahkan bahwa ketika Roma terbakar, Nero malah bermain biola sambil melihat kebakaran. Cerita ini menurut “National Association of Fire Investigation (2016), tidak benar. Pada waktu itu, belum ada biola. Nero memang senang main kecapi. Bahkan sering menggubah lagu. Apalagi kata Tacitus, Nero di luar kota. Memang, Nero tidak suka arsitektur dan penataan kota saat itu, dan ingin merombaknya.
Walau bukti pendukung tudingan bahwa Nero telah memerintahkan untuk membakar, kurang kuat atau kalau merujuk catatan Tacitus bahkan tidak kuat, tetapi “Tak ada kutukan yang tak diteriakkan rakyat kepada Nero, meskipun mereka tak menyebut namanya” (Dio, Roman History, LXII.18.2-3).
Apalagi, Nero malah mencari kambing hitam: menuding orang-orang Kristen sebagai pembakar Roma. Tentang “politik kambing hitam” ini dicatat Tacitus. Agama baru yang pengikutnya semakin banyak itu, menurut Nero sebagaimana dicatat Tacitus, adalah kelompok orang pembuat onar dan ancaman bagi negara, bagi kekuasaannya.
Menurut Tacitus, atas perintah kaisar, umat Kristen ditangkap secara massal. Mereka dihukum salib, dilemparkan ke kandang binatang buas, atau dibakar hidup-hidup sebagai “obor manusia yang menerangi malam.” Santo Petrus disalib di zaman Nero; demikian pula Santo Paulus dipenggal kepalanya atas perintah Nero.
Kejahatan terbesar orang-orang Kristen adalah tidak menyembah kaisar, tapi menyembah Kristus. Ini mereka anggap sebagai kejahatan terbesar. Karena tindakannya itu, dalam 2 Tesalonika, Nero diidentifikasi sebagai “manusia durhaka” dan “anak kebinasaan.”
***

Nero selalu dicap sebagai kaisar yang kejam (karena ibunya, Agrippina the Younger dan dua istrinya dibunuh). Padahal, Nero berhasil menjadi kaisar atas jasa ibunya. Ibunyalah yang meratakan jalan bagi Nero untuk duduk di kursi paling tinggi di Kekaisaran Roma. Ibunya menikah dengan pamannya, Kaisar Claudius, dan mendesaknya agar Nero jadi pewarisnya. Bahkan, diceritakan Agrippina meracuni Claudius.
Di awal-awal masa pemerintahan Nero, ibunya sangat berperan. Bahkan pengendali. Lama-lama Nero, nggak suka karena selalu dituntun ibunya. Maka, disingkirkanlah Agrippin, ibunya. Nero ingin bebas; bebas sebagai penguasa.
Nero disebut juga sebagai diktator: zaman Romawi, kekuasaan penguasa itu absolut. Maka, ia memanfaatkan absolusitas kekuasaan itu. Tapi juga disebut suka pesta-pora, hidup bermewah-mewah, dan hedon.
Bahkan kata Rob Collins (2024) seorang arkeolog dari Newcastle University, Nero memiliki kelainan seks. Sekalipun memiliki beberapa perempuan sebagai istri, juga memiliki “istri” lain. Yakni, Sporus, seorang pemuda cantik, bukan tampan.
Malah menurut sejarawan Romawi Suetonius, Sporus suka mengenakan pakaian perempuan. Sporus juga minta agar Nero menceraikan istri keduanya, Poppaea Sabrina. Nero memenuhi permintaan itu. Bahkan membunuhnya dengan cara ditendang, padahal sedang hamil. Istri pertamanya, Octavia yang juga putri Kaisar Claudius, dibunuh karena Nero ingin memperistri Poppaea Sabrina, yang akhirnya juga dibunuh (britishmuseum.org)
Maka Tacitus pun menyebut Nero “mencemari dirinya sendiri dengan setiap kesenangan yang sah atau melanggar hukum”. Tapi, bagi Nero hukum itu adalah Nero sendiri. Kata Raja Louis XIV dari Perancis, “L’État, c’est moi”, Saya adalah hukum. Negara adalah saya.
Simon Montefiore, seorang sejarawan dari Inggris, malah menyebut Nero sebagai pemain politik. Seluruh hidup Nero adalah pertunjukan pidato, pembacaan puisi, balap kereta perang dan pertunjukan teater. Itu semua untuk tujuan politik kekuasaan.
***

Akhir permainan Nero, tragis. Menjelang usia 30 tahun, perlawanan terhadap Nero semakin menguat di mana-mana. Tahun 68 M merupakan tahun yang mengejutkan bagi negara Romawi. Setelah bertahun-tahun mengalami salah urus, perilaku yang tidak menentu, dan kegilaan umum, pemberontakan pecah di Galia.
Dengan dukungan dari tentara, Senat mendeklarasikan Nero sebagai ‘musuh publik’, musuh bersama. Menurut hukum Roma, seorang musuh bersama dapat ditangkap, ditelanjangi, dan dipukuli hingga mati jika ditemukan. Ciut juga nyali Nero membayangkan ditangkap rakyatnya, dipukuli, ditelanjangi, dan mungkin dilempar ke Sungai Tiber. Karena itu, Nero memilih melarikan diri pada malam hari ke sebuah vila di pinggiran kota, daripada ditangkap.
Akhirnya mantan orang kuat itu memilih mengakhiri hidupnya. Ia bunuh diri dengan menggorok tenggorokannya sendiri. Menurut cerita, budak Nero yang telah dibebaskan, Epaphroditus, membantu kaisar itu untuk bunuh diri. Saat itu, Nero baru menyadari bahwa kekuasaan itu tidak selamanya berkuasa. Ia lupa bahwa kekuasaan itu rakus. Kekuasaan juga memabukkan. Kekuasaan juga menghilangkan akal sehat, kewarasan.
Maka, pemegang kekuasaan harus mampu mengendalikan kekuasaan. Tidak justru dibawa lari kekuasaan. Sebab, kekuasaan seperti halnya politik, semestinya adalah sarana untuk membangun kebaikan bersama; tidak untuk diri sendiri, kemegahan diri.
Nero melupakan itu. Ia hanyut dan ditelan kerakusan kekuasaan itu sendiri. ***
Sangat inspiratif tulisan Pandito Trias. Manusia yang disindir tidak akan terasa. Semua Nero-Nero yg ada di bumi ini harus direbus. Merdeka Bung. Horas
Sangat inspiratif tulisan Pandito Trias. Manusia yang disindir tidak akan terasa. Semua Nero-Nero yg ada di bumi ini harus direbus. Merdeka Bung. Horas.
Patut dibaca Nero modern. Selamat merayakan HUT ke-80 kemerdekaan RI. Salam ke kota abadi.
Sebaiknya para penguasa di Indonesia membaca tulisan ini.
Terima kasih mas Trias.
Matur nuwun Dab . . . Mencerahkan . . . Menambah pengetahuan . . . Kisah lama namun amat sangat layak dibaca pada masa kini . . . .
Kisah menarik tulisan Mas Trias ini semoga tidak lahir Nero Nero baru dijaman sekarang ini……..
Nero jaman kekinian barangkali ada di negeri ini, bukan saja di Pusat tetapi juga di daerah. Elite politik yang alergi kontrol & otoriter, dan seorang Kepala Daerah yang tidak membawa masyarakat menuju kesejateraan bahkan menaikan pajak setinggi langit dapat dibaca sebagai New Nero.
Matur nuwun, mas Trias, utk penggambaran sejarah berbungkus kekejaman luar biasa dan yg harus berakhir tragis ini …