BUKAN TEOLOG, BUKAN DIPLOMAT

Dalam suatu pertemuan di KBRI Takhta Suci, Kardinal Suharyo menceritakan tentang berbagai topik yang dibicarakan dalam General Congregation, Kongregasi Umum. Ini adalah pertemuan para kardinal–kardinal-elektor maupun bukan elektor, yang diselenggarakan sebelum konklaf di Aula Paulus VI, Vatikan.
Kongregasi Umum terakhir atau yang ke-12, berlangsung pada tanggal 6 Mei 2025, sehari sebelum konklaf dimulai, 7 Mei 2025. Pertemuan terakhir ini dihadiri oleh 173 kardinal, termasuk 130 kardinal-elektor yang salah seorang di antaranya adalah Ignatius Kardinal Suharyo.
Dalam pertemuan itu ada 26 intervensi dari para kardinal yang sebagian besar adalah para teolog dan filsuf kondang. Intervensi-intervensi tersebut, misalnya, fokus pada reformasi Paus Fransiskus yang perlu dilanjutkan: undang-undang tentang pelecehan seksual, isu ekonomi, Kuria Roma, sinodalitas, upaya untuk perdamaian, dan kepedulian terhadap ciptaan.
Tema persekutuan ditekankan sebagai panggilan bagi Paus baru untuk menjadi Pontifex, pembangun jembatan, gembala, guru kemanusiaan, dan wajah Gereja Samaria. Di masa perang, kekerasan, dan polarisasi yang mendalam sekarang ini, ada kebutuhan akan Paus yang penuh belas kasih, sinodalitas, dan harapan.
Yang dibutuhkan zaman sekarang adalah seorang paus yang menjadi gembala. Jadi, bukan seorang diplomat, bukan teolog, bukan pula birokrat melainkan seorang pastor, seorang gembala, yang tahu domba-dombanya; gembala yang berbau domba, mengutip rumusan Paus Fransiskus.
***

Kata Kardinal Suharyo, bahkan, para kardinal mengusulkan, agar siapa pun yang nantinya terpilih sebagai paus, menggunakan nama atau Yohanes (mengacu pada Paus Santo Yohanes XXIII) atau Paus Fransiskus. Yang lebih penting lagi, siapa pun yang terpilih didukung oleh semua kardinal.
Kalau nantinya ada yang tidak setuju, sepaham dengan kebijakan, keputusan, ajaran paus hendaknya tidak diumbar di depan media, tapi dibicarakan langsung, empat mata dengan paus, sehingga tidak membuat kegaduhan yang tidak perlu.
Mengapa nama Yohanes dan mengapa Fransiskus yang disarankan para kardinal? Bukankah ada nama-nama besar paus di masa lalu. Misalnya, Benediktus (Benediktus XV, 1914 – 1922 dikenal sebagai Pope of Peace), Pius ( Pius IV, 1559 – 1565, yang mengurusi tercukupinya pasokan air untuk Roma), Benediktus (Benediktus XIV, 1740 – 1758, Selama masa itu, mendirikan empat akademi untuk seni, sains, dan agama. Ia juga dikenal karena kedermawanannya kepada orang miskin, sering kali blusukan ke daerah-daerah kumuh di Roma dan dengan senang hati mengobrol dengan penduduk setempat), Leo (Leo Agung, 440 – 461, menggelar Konsili Ekumenis Khalsedom –sekarang Kadikoy Turki–yang mengakui dan menegaskan kembali kebenaran tentang dua kodrat: ilahi dan manusiawi dalam satu pribadi Yesus Kristus), Leo (Leo XIII, 1878 – 1903), Gregorius (Gregorius Agung, 590 – 604), dan masih banyak lagi (Vatican News)
Tapi Kardinal Angelo Guiseppe Roncalli terpilih menjadi Paus (Paus Yohanes XXIII) 28 Oktober 1958, setelah wafatnya Paus Pius XII adalah contoh Paus ‘pastoral’, yang paling dekat. Ia seorang gembala yang baik yang sangat peduli terhadap domba-dombanya.
Ensiklik progresifnya, Mater et Magistra (Ibu dan Guru) diterbitkan pada 15 Mei 1961 untuk memperingati 50 tahun diterbitkannya Rerum Novarum karya Leo XIII. Mater et Magistra, menekankan pentingnya martabat manusia dan hak serta tanggung jawab individu dalam masyarakat. Ensiklik ini mengkritik individualisme dan kolektivisme yang ekstrem, menganjurkan pendekatan yang seimbang yang mengakui perlunya sosialisasi sambil mempromosikan martabat manusia.
Ensiklik Pacem in terris, 11 April 1963, yang menganjurkan kebebasan dan martabat manusia sebagai dasar bagi ketertiban dan perdamaian dunia. Pacem in Terris memperluas wacana ke hubungan internasional, memperjuangkan perdamaian melalui rasa saling percaya daripada kekuatan militer, dan menghubungkan hak asasi manusia dengan tanggung jawab moral.

Ensiklik Paus Yohanes XXIII, Mater et Magistra dan Pacem in Terris, muncul pada awal tahun 1960-an sebagai sumbangan penting bagi Ajaran Sosial Katolik, yang mencerminkan visi transformatif bagi peran Gereja dalam menangani masalah sosial.
Kedua ensiklik tersebut menandakan perubahan dalam perspektif Gereja Katolik tentang hak asasi manusia, memposisikannya sebagai sesuatu yang universal dan intrinsik bagi setiap orang, sekaligus juga menyoroti komitmen Gereja terhadap keadilan sosial. Dokumen-dokumen ini mencerminkan visi Paus Yohanes XXIII yang lebih luas tentang Gereja yang terlibat dengan dunia, menanggapi tantangan-tantangan kontemporer dengan pesan yang berakar pada belas kasih dan tanggung jawab komunitas.
Paus Yohanes XXIII juga mengangkat Komisi Kepausan untuk Sinema, Radio, dan Televisi ke status kuria, menyetujui kode rubrik baru untuk Brevir dan Misale, membuat kemajuan penting dalam hubungan ekumenis dengan menciptakan Sekretariat baru untuk Mempromosikan Persatuan Kristen dan dengan menunjuk perwakilan pertama untuk Majelis Dewan Gereja Dunia yang diadakan di New Delhi, 1961 (vatican.va).
Pada tahun 1960 ia menahbiskan empat belas uskup untuk Asia, Afrika, dan Oseania. Yayasan Balzan Internasional menganugerahinya Penghargaan Perdamaian pada tahun 1962. Dan, Paus Yohanes XXIII (bertakhta, 1958 – 1963) mengawali Konsili Vatikan II, pada 11 Oktober 1962. (CNA)
Semangat Paus Yohanes XXIII yang sederhana, penuh kerendahan hati, kebaikan hati yang mendalam, dan kehidupan doa yang mendalam terpancar dalam semua tindakannya, dan mengilhami orang-orang untuk memanggilnya dengan penuh kasih sayang, “Paus Yohanes yang baik.”
***

Paus Fransiskus yang disebut “Pope of People, Pope of Mercy, Pope of Peace, A Man of His Word,” dan sebagainya adalah paus yang rendah hati, sederhana, hatinya terbuka bagi siapa saja, paus yang mendatangi bukan yang didatangi, paus yang melayani bukan dilayani, yang sangat peduli pada kaum miskin dan papa serta yang terpinggirkan, paus yang menghangatkan dunia.
Dari ucapan pertamanya malam itu — “Buonasera” (“Selamat malam”) yang sangat normal — hingga pelukannya kepada para pengungsi, kaum tertindas, dan kaum terpinggirkan, Fransiskus mengisyaratkan nada yang sangat berbeda untuk kepausan, menekankan kerendahan hati atas tuduhan kesombongan Gereja Katolik yang diliputi skandal dan ketidakpedulian. Ia menampilkan wajah baru Gereja.
Dan kemudian, Fransiskus disebut paus pinggiran yang mencintai orang banyak dan suka berkeliling dunia menyapa dan memeluk siapa saja, mendatangi siapa saja, tidak menunggu didatangi. Paus yang murah senyum. Kata Paus Fransiskus, “Senyuman itu, belaian lembut, belaian hati, belaian jiwa (Franciscus, Pope for the People, 2024).
Yang juga membuat hati tenang dan bahagia, kata Paus Fransiskus, “Jangan menyebarkan agama, bekerjalah untuk perdamaian, bekerjalah pada pekerjaan yang memberikan martabat dasar, melepaskan perasaan negatif, menjalani hidup dengan tenang, menikmati seni, buku, dan kesenangan.”
Maka, ketika tersiar berita Paus Fransiskus berpulang, para pemimpin dunia memuji komitmennya terhadap kaum terpinggirkan dan perdamaian, serta persaudaraannya. Presiden Prancis Emmanuel Macron, menulis di X: “Dari Buenos Aires hingga Roma, Paus Fransiskus ingin gereja membawa kegembiraan dan harapan bagi yang termiskin. … Semoga harapan ini selamanya bertahan lebih lama darinya.” (The Intelligencer, 21 April)
Paus Fransiskus menavigasi realitas yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam memimpin agama universal melalui pandemi virus corona dari Kota Vatikan yang terkunci. “Kita telah menyadari bahwa kita berada di perahu yang sama, kita semua rapuh dan bingung,” kata Paus Fransiskus di Lapangan Santo Petrus yang kosong pada Maret 2020.
Ia juga menyerukan pemikiran ulang tentang kerangka ekonomi global. Kata Paus Fransiskus pandemi menunjukkan perlunya “kita semua untuk mendayung bersama, masing-masing dari kita perlu menghibur yang lain.”
Paus asal Argentina ini dikenal sebagai Pontifex, pembangun jembatan yang menghubungkan umat Katolik dan Islam dengan menandatangani Deklarasi Abu Dhabi (The Document on Human Fraternity for World Peace and Living Together), 4 Februari 2019
dengan Imam Besar Al-Azhar, Kairo, Mesir, Ahmad al-Tayyib; juga Deklarasi Istiqlal di Jakarta.
Di Najaf, Irak pada Maret 2021, Paus Fransiskus menemui Grand Ayatollah Sayyid Ali Al-Husayni Al-Sistani di rumahnya. Rumah Al-Sistani dekat dengan Masjid Imam Ali, yang oleh orang-orang Shiah dipandang sebagai tempat tersuci ketiga setelah Makkah dan Madinah. Al-Sistani adalah pemimpin kaum Shiah, Irak (Vatican News, 6 Maret 2022).
Didorong oleh kepedulian dan kecintaannya pada ciptaan, pada alam semesta yang dilandasi semangat Santo Fransiskus Asisi, Paus Fransiskus menerbitkan Ensiklik Laodato Si (Terpujilah Engkau — Tentang Kepedulian terhadap Rumah Bersama Kita), 24 Mei 2015. Ensiklik Fratelli Tutti (Semua Saudara) yang diterbitkan 3 Oktober 2020 tentang Persaudaraan dan Persahabatan Sosial, menegaskan bagaimana Paus Fransiskus memandang sesama manusia, siapa pun mereka. “Kita adalah saudara,” katanya.
Ensiklik Fratelli Tutti merupakan ensiklik ketiga dari Paus Fransiskus, setelah Lumen Fidei dan Laudato si’. Tema sentral Fratelli Tutti ialah persaudaraan dan persahabatan antara manusia di dunia. Pada Pengantar Ensiklik, Paus Fransiskus mengatakan bahwa, sebagaimana Laudato si’, demikian pula Fratelli Tutti dijiwai oleh gairah persaudaraan universal yang dihayati oleh Fransiskus Assisi. Jika Laudato si’ menekankan persaudaraan antara manusia dan bumi, Fratelli Tutti menekankan persaudaraan antara manusia, sesama saudara ‘satu daging’.
Namun, Paus Fransiskus diserang kaum konservatif yang semakin kesal dengan kecenderungan progresifnya, penjangkauan kepada kaum Katolik LGBTQ+, dan tindakan keras terhadap kaum tradisionalis.
Meskipun demikian, Paus Fransiskus tetap tercatat sebagai paus besar yang membawa pembaharuan Gereja, yang menampilkan wajah baru Gereja yang lebih bersahabat dan bersaudara…
Dengan demikian, jelaslah mengapa para kardinal saat General Congregation menyarankan agar paus baru mengambil nama Yohanes atau Fransiskus…Paus Santo Yohanes XXIII sebagai pemrakarsa dan pembuka Konsili Vatikan II, sementara Paus Fransiskus sebagai yang melaksanakan keputusan-keputusan konsili….Kedua paus, melaksanakan Ensiklik Paus Leo XIII yakni Rerum Novarum sesuai zamannya…(Bersambung)
Foto-foto lain:















Dengan latar belakangnya sebagai orang Amerika yang juga sekaligus misionaris di daerah terbelakang (Peru), dia pasti menyadari adanya ketimpangan dalam kacamata Ajaran Sosial Gereja (ASG) yang perlu diimplementasikan dengan lebih konsisten. Dia hidup di dua dunia yang kontras.
Saya sangat mendukung beliau mengambil nama Leo XIV, terutama dengan afiliasinya dengan Leo XIII yang menjadi champion dalam ajaran sosial Gereja (ASG), terutama dengan Rerum Novarumnya. Gereja harus menjadi pelopor dalam bidang ajaran sosial supaya manusia semakin sejahtera, terbebas dari perang dan penindasan, mengalami damai sejahtera, dan human rights dihormati di mana-mana.
Saya mendukung arah pontifikatnya ke arah ajaran sosial Gereja ini.
Viva Il Papa Leone XIV!!!
Iya, Romo…ini sangat menarik…pausnya seorang misionaris…memiliki latar-belakang sebagai misionaris…tentu akan berbeda dalam melihat berbagai persoalan…. bagaimana menerjemahkan Rerum Novarum untuk zaman kini…Matur nuwun
Pimpinan agama memang harus menunjukkan kebaikan kepada dunia ya, apapun agama yang dipeluk dan diyakini kebenarannya…
Selayaknya pula menghargai dan menghormati serta berkolaborasi dengan pimpinan agama lain untuk menjaga perdamaian dunia…
“Agamamu untukmu, agamaku untukku. ”
Semoga perdamaian selalu tumbuh di muka bumi… 🤲🌹👏
Ya, begitulah seharusnya…terima kasih
Terima kasih pak Dubes…. nama Paus mencerkinkan program yg akan dijalankan…. semoga Paus Leo XIV berhasil dlm membimbing umat mengatasi tantangan zaman..
Amin, De ..semoga demikian
Tulisan Mas Trias yg bagus dan menambah pamahaman kita tentang Paus Leo XIV ini. suwun dan Berkah Dalem….
Terima kasih Dab pencerahannya . . . . .
Nama apapun yang dipilih Bapak Paus, adalah baik . . . . Apalagi nama Leon sudah dipilih oleh Paus-paus sebelumnya . . . . . . Semoga Paus Leo XIV menjadi gembala yang baik, yang selalu didampingi Allah dalam setiap langkahnya . . . .
Matur nuwun untuk pencerahan ini, Mas Dubes … Setiap melihat foto2 yg ditayangkan, rasanya ingin sekali hadir di tempat2 itu …