PAUS LEO XIV DAN LEBANON

Lebih seabad lalu, penulis kondang, yang juga penyair, dan visual artis Lebanon-Amerika, Khalil Gibran (1883–1931), menulis sebuah refleksi tentang tanah kelahirannya: Lebanon. Dalam The Eye of the Prophet 1920, Khalil Gibran menulis demikian:

You have your Lebanon and I have mine.
You have your Lebanon with her problems, and I have my Lebanon with her beauty.
You have your Lebanon with all her prejudices and struggles, and I have my Lebanon with all her dreams and securities.

Tentu, kini Lebanon tidak seperti seratus tahun silam saat Khalil Gibran hidup dan menuliskan refleksinya itu. Dahulu, Lebanon “cantik, indah, mempesona” seperti ditulis penyair itu. Dahulunya lagi, Lebanon sangat indah seperti dituliskan dalam Kitab Perjanjian Lama, dengan pohon arasnya maka disebut Negeri Pohon Aras, Negeri Pohon Cedar.

Pohon aras Lebanon, yang kini digambar pada bendera Lebanon modern, sejak dahulu kayunya sangat dikenal karena berkualitas tinggi dan harum. Pohon yang melambangkan kekuatan dan ketahanan. Maka, Raja Salomo (Suleman anak Daud) menggunakan pohon aras dari Lebanon untuk membangun bait suci, dan istananya yang disebut “Istana Hutan Lebanon” (1 Raja-raja 5:5–6; 7:1–3).

Untuk mengumpulkan kayu pohon cedar dalam jumlah besar yang dibutuhkan untuk bait suci dan istana, 30.000 pria Israel direkrut dan dikirim ke Lebanon selama satu bulan setiap kalinya (1 Raja-raja 5:13–14).

Gambaran Lebanon yang subur digunakan oleh pemazmur untuk mengajarkan kebesaran Tuhan dalam penciptaan: “Pohon-pohon Tuhan banyak airnya, pohon-pohon aras Lebanon yang ditanam-Nya” (Mazmur 104:16). Ini menggambarkan Lebanon yang subur.

Maka, Khalil Gibran menulis: My Lebanon is a flock of birds fluttering in the early morning as shepherds lead their sheep into the meadow and rising in the evening as farmers return from their fields and vineyards.

***

Lebanon menjadi negara kedua yang dikunjungi Paus Leo XIV, dalam perjalanan pertamanya ke luar negeri. Paus ke Lebanon setelah mengunjungi Turki. (Foto: Istimewa/Instagram)

Ada suatu masa, Lebanon menjadi tempat pertemuan yang indah tidak hanya antara masa lalu dan masa kini. Tetapi juga, kata Diana Khamis, seorang peneliti yang lahir di Moskwa dan tumbuh dewasa di Beirut, menjadi wilayah tempat banyak identitas, hidup berdampingan, dibentuk oleh harapan dan keinginan yang berbeda dan saling bertentangan.

Menurut Noura Soubra dkk. (2024), populasi Lebanon paling heterogen dari semua negara Arab. Berbagai etnis hidup berdampingan, termasuk Arab, Armenia, dan Kurdi. Dua agama utama Lebanon adalah Islam (54%) dan Kristen (40,5%) (worldpopulationreview.com 2025), tetapi tidak ada agama resmi negara. Komunalisme tetap menjadi fitur fundamental dalam komposisi sosial negara, karena ada 18 sekte agama yang diakui secara resmi di negara tersebut, dan komunitas dipisahkan di seluruh wilayah Lebanon, serta melalui pengadilan yang dilembagakan dan organisasi sosial dan ekonomi.

Dengan demikian, di Lebanon, sekte dan agama memainkan peran nontradisional yang melampaui spiritualitas atau pengabdian, untuk bertindak sebagai dasar bagi identitas sosial dan pandangan dunia budaya (Ayyash-Abdo, 2001).

Orientasi budaya sektarian ini dalam masyarakat pluralistik (yaitu, dengan dua atau lebih pengelompokan berbeda yang dapat dikenali dari ciri-ciri budaya, ras, atau ciri khas sosial lainnya) seperti Lebanon dianggap bertentangan dengan orientasi budaya nasional. Bahkan mungkin melampaui orientasi budaya nasional, karena banyak orang Lebanon mengidentifikasi diri dengan keluarga dan sekte mereka lebih kuat daripada negara mereka. Orientasi budaya nasional juga terancam oleh pengaruh faktor eksternal termasuk media global (kendaraan untuk Amerikanisasi), persepsi Barat (kolonialitas), dan tekanan regional dan domestik.

Kelompok-kelompok agama di Lebanon merupakan kekuatan politik utama dalam sistem politik. Dari perspektif historis, untuk menilai potensi kelangsungan hidup negara Lebanon Raya yang dibentuk pada tahun 1920, harus mempelajari hubungan antara berbagai kelompok agama yang membentuk komunitas-komunitas konvesional.

Maka Paus Santo Yohanes Paulus II mengatakan Lebanon “more than a country; it is a message of freedom and an example of pluralism for East and West“. Paus ingin mengatakan bahwa keberagaman–entah itu agama, etnik, budaya, dan sebagainya–hendaknya justru menjadi kekuatan bukan kelemahan; jadi pemersatu bukan pemecah-belah. Sebab, apa istimewanya kalau bisa bersatu karena kesamaan? Bukankan lebih istimewa dan indah bisa bersatu meski berangkat dari perbedaan.

Apa yang terjadi di Lebanon ini didasarkan pada Pakta Nasional 1943 sebuah kesepahaman tak tertulis antara para pemimpin Maronit dan Sunni, dan Konstitusi tahun 1926. Kedua dokumen tersebut menegaskan representasi politik berdasarkan garis sektarian dan menegaskan kendali komunitas Maronit atas eselon atas negara.

Presiden, menurut Konstitusi, haruslah seorang Maronit, dan memiliki kekuasaan yang luas, sementara para deputi Kristen juga memiliki mayoritas di parlemen dengan rasio 6:5 terhadap Muslim. Pada saat itu, hal ini mencerminkan demografi negara tersebut, serta dominasi kaum borjuis Maronit atas sebagian besar perekonomian Lebanon, sesuatu yang bertahan hingga Perang Saudara (Joseph Daher, 2022)

Tetapi, kisah Lebanon tragis, memang. Perbedaan yang menyatukan itu, goyah juga. Perang Saudara Lebanon (1975–1990) disebabkan oleh antara lain perpecahan sektarian internal itu.

Sebab lain, adalah ketimpangan sosial-ekonomi, keberadaan milisi Palestina bersenjata, dan intervensi asing yang ekstensif yang mengubah Lebanon menjadi perang proksi. Dengan kata lain, Perang Saudara tidak dilatari oleh satu penyebab tunggal, melainkan konvergensi faktor-faktor yang mengikis negara yang rapuh ini.

***

 

Logo resmi kunjungan apostolik Paus Leo XIV ke Lebanon, mulai 30 November hingga 2 Desember 2025 (Foto: Istimewa/Instagram)

Sejak Perang Saudara berakhir, Lebanon belum sepenuhnya pulih, hingga kini. Jeffrey G. Karam (2025), dari The Lebanese Center for Policy Studies menulis, perang memang telah berlalu. Tetapi, sejak Perang Saudara berakhir, konflik selalu mewarnai kehidupan Lebanon. Luka-luka itu tak pernah benar-benar kering; tambahan lagi ada tangan lain yang terus menggaruk-nggaruknya.

Lebanon bukanlah satu-satunya, dalam hal ini. Negara-negara pascakonflik seperti Bosnia, Irak, Suriah, dan El Salvador juga menunjukkan bagaimana perang proksi dan negosiasi internasional sering kali menghasilkan penyelesaian politik yang tidak stabil.

Elia Ayoub (2025), menambahkan era pascaperang ditandai oleh kekerasan, pendudukan asing, kelumpuhan politik, dan krisis ekonomi. Sepanjang tahun 1990-an, Israel tetap menduduki wilayah Lebanon Selatan; yang kemudian terlibat konflik dengan Hezbollah– partai politik dan kelompok berhaluan keras dukungan Iran, dan membangun reputasi sebagai “negara di dalam negara” (Council on Foreign Relations, 2024).

Konflik bersenjata Israel dan Hezbollah di Lebanon Selatan, diakhiri dengan gencatan senjata tahun 2024; setelah jatuhnya Bashar al-Assad di Damaskus dan tewasnya pemimpin Hezbollah Hassan Nasrallah in Aita al-Shaab. Namun, gencatan senjata kerap kali dilanggar; rapuh.

Selama beberapa dekade, Suriah memandang Lebanon sebagai “bagian wilayahnya”, sehingga menanamkan pengaruhnya dan menempatkan militernya sampai 2005. Setelah Bashar al-Assad jatuh, terjadilah perubahan. Tapi, Lebanon menanggung beban pengungsi dari Suriah.

Lebanon hingga kini belum terlepas dari persoalan berat; selain masalah persatuan nasional, juga tekanan tangan-tangan luar; banyak yang punya kepentingan.

***

Paus Leo XIV meninggalkan Vatikan, 27 November 2025, melakukan perjalanan ke luar negeri pertama dengan mengunjungi Turki dan Lebanon (Foto: Istimewa)

Di tengah kekhawatiran pecahnya perang lagi, antara Israel dan Hezbollah serta krisis politik dan krisis ekonomi-sosial, Paus Leo XIV mengunjungi Lebanon, yang 40,5 % penduduknya Kristen. Paus Leo XIV yang saat pidato pertamanya setelah terpilih menyapa umat dengan kalimat, “La pace sia con voi“, Damai sejahtera bersamamu, ke Lebanon membawa damai. Inilah misi membawa damai ke negeri yang sering disebut sebagai “Jembatan antara Timur dan Barat”.

Seperti pendahulunya, Paus Fransiskus, mengunjungi negeri yang dikoyak perang– misalnya, Sudan Selatan (2023) dan Republik Afrika Tengah (2015)– untuk membantu mencari perdamaian, demikian pula Paus Leo XIV. Maka, ia akan bertemu dengan para pemimpin Lebanon, para pemimpin agama, dan anak muda.

Bagi Paus Leo XIV, kunjungan ini dapat memberikan bobot tambahan pada seruannya untuk menciptakan keharmonisan dan dialog di Lebanon, khususnya dan Timur Tengah pada umumnya, dan menggemakan kata-kata pertama yang diucapkannya setelah terpilih: “La pace sia con voi”. Kiranya, komunitas Kristen Lebanon akan menantikan pesan persatuan dari Paus di saat negara tersebut masih sangat terpolarisasi, saat negeri di tubir perang.

Vatikan adalah salah satu otoritas moral terakhir di dunia yang sungguh-sungguh berusaha mempromosikan perdamaian dan keadilan tanpa agenda tersembunyi. Harapannya, kunjungan ini akan menunjukkan bahwa kekuatan global seperti Vatikan dapat berupaya menyembuhkan perpecahan dalam masyarakat Lebanon tanpa mengejar kepentingan politik mereka sendiri.

Meskipun, pada akhirnya nasib dan masa depan Lebanon ada di tangan mereka sendiri: para pemimpin politik, peminpin militer, para pemimpin agama, dan rakyat Lebanon sendiri….***

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
1
+1
0
+1
19
+1
7
Kredensial