
Delapan ratus dua tahun silam, tahun 1223, kisah ini dimulai. Adalah St. Fransiskus Asisi yang pertama-tama mempopulerkan tradisi Kandang (Gua) Natal. Orang suci dari Asisi ini melakukan hal itu setelah mendapatkan izin dari Paus Honorius III (bertakhta, 1216 – 1227).
Lalu St. Fransiskus menggunakan sebuah gua di Greccio, Italia, untuk menciptakan kembali latar kelahiran Kristus. Greccio adalah sebuah kota tua di wilayah di Provinsi Rieti, di wilayah Lazio, Italia. Di kota inilah, pertama kali Gua Natal–adalah menyebut–Kandang Natal–yang sekarang dibuat setiap perayaan Natal, dibuat.
Dalam bukunya, The Christmas Crèche, Matthew Powell menulis, “Rahib yang kudus itu melihat dengan jelas kebutuhan untuk memvisualisasikan secara nyata peristiwa-peristiwa seputar kelahiran Kristus. Ia tahu kebutuhan orang-orang untuk melihat, dan bukan hanya mendengar, peristiwa-peristiwa sakral keselamatan mereka.”
Menurut Make Watson (stfrancisraleigh.org, 2023), sebelum tahun 1223, umat beriman mendengar tentang kelahiran Kristus dalam Misa sebagaimana dijelaskan oleh romo dalam bahasa Latin, yang mungkin tidak dipahami banyak orang.
Menurut Paus Fransiskus dalam surat apostoliknya, “Admirabile Signum“, Tanda Yang Menakjubkan, tentang arti dan pentingnya kandang natal, tertanggal 1 Desember 2019. Lima belas hari sebelum Natal, Fransiskus meminta seorang pria setempat bernama Yohanes untuk membantunya mewujudkan keinginannya “menghidupkan kembali kenangan akan bayi yang lahir di Bethlehem, untuk melihat sebanyak mungkin dengan mata jasmani saya sendiri ketidaknyamanan kebutuhan bayinya, bagaimana ia berbaring di palungan, dan bagaimana, dengan seekor lembu dan seekor keledai berdiri di dekatnya, ia dibaringkan di atas tempat tidur jerami”.
Mendengar ini, sahabat setianya segera pergi untuk mempersiapkan semua yang diminta oleh orang suci itu. Pada tanggal 25 Desember 1223, para biarawan datang ke Greccio dari berbagai penjuru, bersama dengan orang-orang dari peternakan di daerah tersebut, yang membawa bunga dan obor untuk menerangi malam suci itu. Ketika Fransiskus tiba, ia menemukan sebuah palungan penuh jerami, seekor lembu dan seekor keledai.
Semua yang hadir mengalami sukacita baru dan tak terlukiskan dalam kehadiran adegan Natal. Imam kemudian dengan khidmat merayakan Ekaristi di atas palungan, menunjukkan ikatan antara Inkarnasi Putra Allah dan Ekaristi. Di Greccio tidak ada patung; Adegan kelahiran Yesus diperagakan dan dialami oleh semua orang yang hadir.
Begitulah kisah Gua Natal bermula.
***

Kisah itu muncul lagi ketika saya melihat lebih dari 132 Kandang (Gua) Natal dari 23 negara–termasuk Indonesia–yang dipajang di lengan kiri barisan tiang-tiang marmer, Basilika St. Petrus, karya seniman besar zaman Renaisans, Gian Lorenzo Bernini (1598 – 1680).
Pameran yang diberi tajuk “The International Exhibition ‘100 Presepi in Vaticano‘”, atau “100 Gua Natal di Vatikan” ini, merupakan peristiwa budaya bagian rangkaian “Jubilee is Culture“, Jubilee 2025. Pameran budaya ini diselenggarakan Dikasteri Evangelisasi, Vatikan.
Kata “presepe” dari bahasa Latin, “praesepium” yang berarti palungan–dipercaya dahulu setelah dilahirkan, Yesus dibaringkan di palungan. Maka pameran diorama “nativity scene” itu disebut “Presepi in Vaticano“, karena digelar di Vatikan.
Paus Fransiskus-lah yang memulai tradisi di Vatikan ini sejak tahun 2018. Pameran semacam ini, di luar Vatikan, sebelumnya pernah ini ada. Sejak zaman Paus Fransiskus itu, pameran digelar lengan kiri barisan tiang-tiang marmer karya seniman besar zaman Renaisans, Gian Lorenzo Bernini (1598 – 1680).
Pada pemeran tahun ini ditampilkan lebih dari 132 gua natal atau diorama natal karya para seniman dari 23 negara, termasuk Indonesia. Negara lain yang ambil bagian antara lain Italia, Kroasia, Spanyol, San Marino, Ukraina, Irlandia, Slovenia, Hungaria, Polandia , Estonia, Jermam, Slovakia, Republik Cek, Austria, Rusia, AS, Kolombia, Taiwan, Venezuela, Filipina, Guatemala, dan Paraguay.
Ketika Paus Fransiskus memulai “100 Presepi in Vaticano“mengatakan, hal itu dilakukan untuk melawan “masyarakat yang begitu sering terbius oleh konsumerisme dan hedonisme, kekayaan dan kemewahan” dan untuk berfokus pada bayi Kristus, yang “memanggil kita untuk bertindak bijaksana, dengan kata lain, dengan cara yang sederhana, seimbang, konsisten, mampu melihat dan melakukan apa yang esensial.”
Paus Fransiskus berpendapat Kandang Natal (Presepe) sebagai cara yang ampuh untuk mengalami kedekatan dengan Tuhan, menyoroti kesederhanaan, kedamaian, dan harapannya, mendorong keluarga untuk membangunnya sebagai pengingat nyata akan masuknya Yesus ke dalam kehidupan dan sumber keajaiban, terutama menghubungkannya dengan kandang pertama yang dibuat oleh Santo Fransiskus dari Assisi di Greccio, merayakan kerendahan hati dan pesan inti Injil.
Sebagai bagian dari rangkaian acara budaya “Jubilee is Culture“, pameran ini menampilkan karya-karya yang dibuat oleh seniman dari berbagai belahan dunia, masing-masing mengekspresikan seni mereka melalui versi kreatif kandang Natal.
***

Sesuai tradisi, patung-patung kelahiran Yesus Kristus dibuat dengan berbagai teknik, gaya, dan bahan, mulai dari kertas hingga kain, gabus hingga kayu, rotan, berasal dari seluruh dunia dan mencerminkan beragam budaya dan tradisi. Setiap karya merupakan mahakarya kecil yang dibuat dengan penuh semangat dan ketelitian, buah imajinasi dan kreativitas para seniman dan perajin kelahiran Yesus Kristus.
Peresepe dari Indonesia, misalnya, adalah karya Maria Tri Sulistyani dari Papermoon Puppet Theatre, Yogyakarta, yang diberi judul “Weaving Hope“, Menenun Pengharapan. Ini selaras dengan motto Jubileum 2025 ini, “Pellegrini in Speranza” atau Peregrinantes in Spem” atau “Penziarah Pengharapan.”
Keikutsertaan perupa Indonesia–ini yang pertama kali–dalam “100 Presepi in Vaticano” ini menjadi momen bersejarah karena bertepatan dengan 75 tahun Hubungan Diplomatik antara Indonesia dan Takhta Suci.
Karya instalasi nativitas berukuran 135 x 135 x 65 cm (tanpa stand), berbahan kayu, triplex, kertas, kain tenun, dan benang ini, berupa tangan terbuka yang menopang Keluarga Kudus. Mengapa tangan? Tangan melambangkan aksi; tangan melambangkan sebuah gerakan, kehidupan.
Kata Maria, tangan yang menopang Keluarga Kudus ini, adalah tangan-tangan yang mendukung dan menemani, tangan para penenun, petani, tangan para gembala, tangan para penjual sayur, tetapi juga tangan tiga orang majus yang datang dari jauh dan membawakan hadiah.
“Tangan ini juga melambangkan bahwa kebaikan datang jika kita mau memulainya,” jelas Maria.
Instalasi persepe karya Maria, mengangkat kisah perjuangan para ibu penenun di Mollo, Nusa Tenggara Timur. Mereka selama ini merawat alam dan identitas budaya melalui tradisi menenun. Dalam instalasi ini, kelahiran Yesus dihadirkan bukan di kandang di Betlehem, seperti sebagian besar instalasi lainnya. Tetapi, dimaknai ulang dalam lanskap pegunungan batu Mollo; di tengah perempuan-perempuan penenun yang hidup sederhana, sering terpinggirkan secara ekonomi, namun kaya martabat dan kebijaksanaan.
Kitab Suci menjelaskan, Yesus lahir di antara orang-orang yang kesusahan. Ia hadir ditengah ketidakadilan. “Jika saya boleh menggambarkan peristiwa kelahiran Yesus, dan melihatnya dengan peristiwa hari ini, Keluarga Kudus hari ini ditemani oleh Mama-Mama penenun kain dari Mollo,” kata Maria.
Dalam karya ini, Maria “meminjam” tenun dari Mollo untuk membalut Keluarga Kudus. Mollo adalah sebuah kota kecamatan yang terletak di NTT. Mollo sendiri artinya adalah perempuan dari gunung; orang-orang yang ditugaskan
<span;>oleh leluhur untuk menjaga batu, mata air dan hutan.
Para perempuan Mollo maju ke garis depan, berjuang melawan tambang bukan tanpa alasan. Merusak alam berarti mengganggu keseimbangan mereka menjalankan tugas menjaga ruang hidup dan sumber pengetahuan yang sekaligus identitas diri.
***

Interpretasi Maria tentang gambaran kelahiran Yesus lewat instalasi persepenya, selaras dengan yang ditulis Paus Fransiskus dalam surat apostoliknya, “Admirabile Signum.” Dalam surat apostoliknya itu, Paus Fransiskus menulis:
Secara implisit, gambaran kelahiran Yesus memanggil kita untuk mengikuti-Nya di sepanjang jalan kerendahan hati, kemiskinan, dan penyangkalan diri yang menuntun kita dari palungan di Bethlehem menuju salib. Gambaran kelahiran Yesus mengajak kita untuk bertemu dan melayani-Nya dengan menunjukkan belas kasihan kepada saudara-saudari kita yang paling membutuhkan (bdk. Mat. 25:31-46).
Kata Maria, “Bumi yang kita tinggali hari ini, bukanlah tempat hidup yang sedang dalam kondisi baik-baik saja. Ribuan tahun yang lalu, Yesus juga lahir di tempat yang tidak baik-baik saja, Ia lahir di sebuah kandang, dan dalam bayang-bayang teror Herodes yang ingin membunuhnya. Jika bisa memilih, tak akan ada seorang perempuan pun mau memilih kandang sebagai tempat melahirkan.”
“Dunia yang kita tinggali hari ini bukanlah dunia yang tengah dalam keadaan baik-baik saja,” tutur Maria yang biasa disapa Ria Papermoon.
Hutan-hutan yang sedianya menjadi paru-paru dunia, pepohonan yang memampukan seluruh makhluk hidup untuk bernapas, ditebang habis, digantikan dengan kehadiran alat-alat berat yang membuat lubang ke dalam perut bumi,” jelas Maria Tri Sulistyani, Pendiri dan Direktur Artistik Papermoon Puppet Theatre, Indonesia ini.
***

Dengan demikian, instalasi persepe karya perupa Indonesia, Maria, bukan hanya sekadar dekorasi religius, melainkan kesaksian tentang bagaimana iman, keadilan sosial, dan keberlanjutan budaya saling bertaut.
Narasi lewat instalasi presepe ini merefleksikan pesan inti Natal: Yesus yang lahir 2.000 tahun lalu di tengah kaum kecil dan marginal, hadir kembali hari ini di tengah mereka yang terus berjuang mempertahankan tanah, air, hutan, dan warisan budaya demi generasi mendatang.
Pesan itulah yang dibawa Maria dan teman-temannya dari Indonesia ke Vatikan. Dan, di antara tiang-tiang marmer yang kokoh karya Bernini, Bethlehem hadir…
Bethlehem adalah jantung iman Kristen, simbol kerendahan hati, namun yang selama bertahun-tahun secara tragis dirusak oleh konflik yang berkelanjutan, di mana kata Paus Fransiskus, “Raja Damai ditolak oleh logika perang yang sia-sia”. ***
Foto-foto lain, pentas Ria Papermoon dan Kinanti Sekar Rahina di KBRI Takhta Suci:















Kandang Natal pertama dari St Fransiskus Assisi itu di Greccio, di sebuah lereng/dinding bukit batu yang hampir tegak lurus. Gerejanya seolah-olah nempel di dinding bukit batu itu. Sangat fantastis. Dari pelataran gereja itu, nampak pemandangan y ang sangat indah ketika melihat ke bawah.
Hampir semua tempat bersejarah dari St Fransiskus itu sekalu indah pemandangannya. Tidak heran bahwa St Fransiskus begitu dekat dengan alam yang diekspresikan dalam lagu Il Cantico di Frate Sole.
Allah bukanlah yang terlalu jauh, yang tak terjangkau oleh manusia, tetapi Ia dekat dengan kita, ia adalah salah satu di antara kita.