
Dalam kunjungannya ke Afrika Selatan pada September 1995, Paus Santo Yohanes Paulus II berkata: “Hari ini perjalanan saya membawa saya ke Afrika Selatan yang baru, sebuah “Rainbow Nation”, Bangsa Pelangi, yang menunjukkan keragaman ras, kelompok etnis, bahasa, dan budaya yang menjadi ciri khasnya.”
Kata Jeff Congialosi, bahasa adalah salah satu indikator paling jelas dari keberagaman Afrika Selatan yang luar biasa. Lagu kebangsaannya mungkin terdiri dari lima bahasa yang berbeda–Xhosa, Zulu, Sesotho, Afrikaans, dan Inggris. Tetapi negara ini memiliki total 11 bahasa resmi. Di Cape Town, bahasa Afrikaans, Inggris, dan Xhosa adalah bahasa yang paling banyak digunakan, tetapi ada banyak bahasa asli lainnya saat bepergian lebih jauh ke luar kota (The State of The Rainbow Nation, Berkley Center, 2012).
Meskipun sejarah apartheidnya (1948 – 1994) yang terkenal, warna kulit juga merupakan penanda lain dari keberagaman Afrika Selatan. Mencakup hampir 80 persen populasi, orang kulit hitam merupakan kelompok ras terbesar. Meskipun demikian, terdapat heterogenitas yang luar biasa dalam populasi kulit hitam, dengan masing-masing kelompok berbicara bahasanya sendiri dan mempraktikkan budayanya yang khas.
Namun, di masa-masa sulit itu, muncul beberapa tokoh perdamaian berpengaruh yang menyuarakan hak-hak kaum tertindas dan terpinggirkan. Nelson Mandela dan Uskup Agung Anglikan Desmond Tutu, misalnya. Kedua tokoh ini merupakan aktivis anti-apartheid yang revolusioner. Bahkan, Desmond Mpilo Tutu-lah yang menciptakan istilah “Rainbow Nation”.
Awalnya, ia menggunakan frasa “Rainbow People of God” untuk menggambarkan keberagaman penduduk Afrika Selatan pada tahun 1993. Istilah itu muncul setelah pembunuhan aktivis kulit hitam Christ Hani oleh seorang rasis kulit putih.
Uskup Agung Desmond Tutu (1931 – 2021) yang melihat ancaman besar akan pecahnya tragedi pergolakan balas dendam, mengimbau agar semua mengendalikan diri, tenang, dan tidak membalas dendam. Kata Tutu, “Kita adalah umat pelangi Tuhan! Kita berbaris menuju kebebasan! Hitam dan putih bersama.” (Mark Austin, 2021).
***

Istilah “Rainbow Nation” adalah untuk menggambarkan lanskap budaya Afrika Selatan yang beragam, terutama setelah berakhirnya apartheid. Istilah ini menekankan gagasan tentang sebuah bangsa yang dibangun atas dasar keadilan, kesetaraan, dan keberagaman, yang mencakup beragam budaya, agama, dan kelompok etnis ke dalam masyarakat yang harmonis.
Sebuah cita-cita, tujuan bangsa. Maka, saat pidato pelantikannya sebagai presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan pasca-apartheid, pada tanggal 10 Mei 1994, istilah “Rainbow Nation” yang kemudian berkembang menjadi konsep “Rainbow Nation” pun disinggung.
Kata Mandela, “Kita masuk ke dalam sebuah perjanjian (covenant) bahwa kita akan membangun sebuah masyarakat di mana semua orang Afrika Selatan, baik kulit hitam maupun kulit putih, akan mampu berjalan tegak, tanpa rasa takut di hati mereka, yakin akan hak mereka yang tidak dapat dicabut atas martabat manusia – sebuah bangsa pelangi (rainbow nation) yang berdamai dengan dirinya sendiri dan dunia.”
Mandela yang selama 27 tahun mendekam dalam penjara korban politik apartheid, memenangi pemilu demokratis pertama di Afrika Selatan. Pemilu dilaksanakan pada 27 April 1994; di bawah pengawasan 60 anggota Commonwealth Observer Group (COG) di bawah pimpinan PM Jamaika, Michael Manley.
Sebanyak 87 persen pemilih yang terdaftar menggunakan hak politiknya. Dan, Kongres Nasional Afrika (ANC), partainya Mandela memperoleh 12,337,655 suara atau 62.2 persen total suara; sementara Partai Nasional, partainya orang-orang kulit putih yang sebelumnya selalu berkuasa hanya memperoleh kurang dari empat juta suara. Masih ada Partai Komunis Afrika Selatan (SACP), Pan Africanist Congres (PAC), Partai Muslim Afrika (AMP), Kongres Moderat Afrika (AMC), Partai Federal (FP), dan Front Minoritas (MF).
Dengan demikian, Mandela menjadi presiden; presiden pertama pasca-apartheid. Banyak orang Afrika Selatan memandang Mandela dengan cara yang sama: sebagai bapak bangsa pelangi (rainbow nation) mereka, sebagai orang yang mengajari mereka cara hidup berdampingan dengan seseorang yang selama ini mereka benci, sebagai perwujudan masyarakat yang dinamis di mana warna kulit dan status sosial tidak membatasi kesempatan. Bapak Mandela mengajarkan rakyat Afrika Selatan tentang pengampunan dan toleransi (lowyinstitute.org)
Mandela juga dipandang oleh semua orang sebagai teladan kesopanan dan integritas, seseorang yang dapat mereka teladani, dan seseorang yang akan menjadi tolok ukur bagi semua pemimpin berikutnya.
***

Duapuluh-sembilan tahun kemudian, ketika mengunjungi Indonesia, September 2024, Paus Fransiskus mengatakan hal yang hampir sama dengan yang dikatakan Paus Santo Yohanes Paulus II itu. Dalam pidatonya di Istana Merdeka, Paus memuji motto Bhinneka Tunggal Ika.
Kata Paus, “Semboyan nasional Anda Bhinneka Tunggal Ika menggambarkan dengan baik realitas multifaset dari beragam bangsa yang bersatu kokoh dalam satu bangsa.” Ia menekankan bagaimana beragamnya suku dan agama di negara Indonesia dapat disebut sebagai “jalinan pemersatu”, sebagaimana lautan menyatukan ribuan pulau.
Tapi, kata Paus, kerukunan dalam keberagaman menuntut setiap orang untuk merangkul semangat persaudaraan dalam mengupayakan kebaikan bagi semua. Ini yang ditegaskan Paus Fransiskus dalam ensikliknya, “Fratelli Tutti”, Semua Saudara.
Lewat “Fratelli Tutti”, Paus Fransiskus mengajak semua orang untuk keluar dari tabu agama, menjadi manusia bebas mengasihi sesama sebagai saudari dan saudara, melampaui batas apa pun, terutama agama yang seolah-olah menjadi penghalang antara aku dan engkau.
“Terbenam dalam keindahan tanah ini, tempat pertemuan dan dialog antarbudaya dan agama yang beragam, saya mendoakan agar bangsa Indonesia semakin bertumbuh dalam iman, persaudaraan, dan kasih sayang. Tuhan memberkati Indonesia!”
Begitu tulis Paus Fransiskus dalam bahasa Italia, di “Book of Honour” di Istana Merdeka, Jakarta (Vatican News). Begitulah “Rainbow Nation.”
Tapi, pelangi tak pernah ada kalau tak ada kebersatuan warna–merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu–dalam keharmonisan. Begitulah Indonesia, ada karena keberagaman dalam banyak hal: suku, ras, etnik, agama, bahasa, budaya, kebiasaan, adat-istiadat dan sebagainya.
Begitulah Indonesia…..***
Foto-foto lainnya:




















Terimakasih banyak Pak Dubes atas tulisannya yang menginspirasi.
Dilihat dari sudut manapun, Indonesia itu adalah sebuah mujizat yang tidak mudah terjadi di tempat lain: Ada begitu banyak pulau, bahasa, suku bangsa, agama, kebudayaan, sifat dan sebagainya yang semuanya begitu berbeda, tetapi bisa disatukan menjadi satu bangsa dan satu bahasa, maka ini adalah keajaiban dunia nyata.
Malaysia yang masih lebih kecil dari Indonesia, belum selesai menjadikan bahsa nasional dan bahkan bahasa Melayu cenderung kurang populer, tetapi bahasa Indonesia dipakai di mana-mana di Indonesia. Semua dengan sukarela memakainya.
Indonesia adalah keajaiban dunia nyata!!!
Luar biasa memberi pengetahuan saya tentang berbagai bahasa di Afrika. Seperti halnya Indonesia memiliki ribuan bahasa..sungguh kekayaan yg tidak ternilai. Pak Dubes juga sudah membawa kebudayaan Indonesia gamelan dan wayang dalam kancah dunia…bravo
Ya Tulisan Mas Dubes Trias Kuncahyono yang amat bernas. Mengajak kita bercermin ke Afrika Selatan ke masa kepe mimpinan Nelson Mandela yg terpilih menjadi presiden kulit hitam pertama setelah menang Pemilu. Membawa negara itu yg seperti pelangi menjadi negeri damai. Indonesia pun dgn kearifan para bapak bangsa membuat pancasila dan UUD 45 menjadi pemersatu warna pelangi itu -mejiku hibiniu – merah jingga kuning hijau biru nila ungu……dalam rangkaian tali Bhineka Tunggal Ika…..terima kasih Mas Trias !!! Berkah Dalem
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika diambil dari kitab Sutasoma karya Mpu Tantular pada abad ke-14, sementara frasa Negara Pelangi diperkenalkan oleh Uskup Agung Desmon Tutu tahun 1994 dan dipopulerkan oleh Presiden Nelson Mandela bulan pertama masa jabatannya.
Dalam konteks Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika menjadi landasan penting dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di tengah keberagaman yang ada, sementara “Negara Pelangi” menjadi simbol harapan dan rekonsiliasi di Afrika Selatan setelah masa apartheid yang panjang.
Relevansi keduanya terletak pada konsep persatuan dalam keberagaman, keduanya relevan dalam konteks upaya membangun masyarakat yang inklusif dan harmonis.
Matur nuwun mas Dubes Trias untuk tulisan yang menginspirasi ini. Berkah Dalem.
Sangat mencerahkandan menginsprirasi tulisan Pandito. Dlm filsafat Stoik sangat menyejukkan.
Terima kasih Dab atas pencerahannya . . . . Asupan pengetahuan . . . .
Penampilan wayang di Vatikan maupun di Roma memperkenalkan budaya Bangsa Indonesia . . . . memperkenalkan salah satu kekayaan budaya bangsa . . .
Indonesia tidak semeriah pelangi paling tidak dalam hal bahasa . . . . tetapi dalam hal suku bangsa . . . budaya . . . bahasa daerah . . . Indonesia mungkin lebih banyak warnanya . . . . .
Horas . . . . .
Mas Trias, mat pagi waktu Yogya.
Tulisan yang luar biasa inspiratif. Kita sungguh bersyukur mempunyai Binneka Tunggal Ika mirip sekali dengan Rainbow Nation, Pluribus in Unum punya AS.
Kita sungguh bersyukur dengan para founding Fathers,
Juga bersyukur pada Tuhan yang menganugerahan tokoh Uskup Desmond Tutu dan Nelson Mandela.
Tulisan sangat menarik dan didukung oleh foto-foto yang relevan.
Terima kasih
Matur nuwun, Mas Dubes … Menarik skl ttg rainbow nation, fratelli tutti, Romo Alphonseus yg menjadi dalang pagelaran wayang di Roma … Semoga Bhinneka Tunggal Ika semakin nyata dalam hidup keseharian bangsa Indonesia 🙏👍🇮🇩
Konsep Bhineka tunggal Ika adalah sumbangan terbesar agama Buddha di Indonesia. Namun implementasinya yang masing sangat kurang. Sudah ada Kementrian Kebudayaan, hanya pemikirannya yang sangat pragmatis terhadap peradaban. Mau naik ke bagian atas candi Borobudur? Bia pakai skylift yang dibangun dengan mengabaikan Borobudur adalah suatu ensiklopedia Buddhisme, sehingga stda Tara untuk menghayatinya. Kita kurang sekali dalam praktek kehidupan yang membentuk pelangi. Bersgam-ragam.nsmun sangat indah.
Lihat foto2 yg bagus, di Italy rasa Indonesia, malah banyak yg rasa Jawa, ada wayang dan gsmelan yang saya sdh asing walaupun masih di Indonesia. Apa acara peringatan kemerdekaan disini dik, pasti rame dan jangan lupa share foto2 nya. Salam kagem keluarga disini … Berkah Dalem 🙏🏻