
Jauh waktu sebelum Colosseum berdiri dengan megahnya, para dewa sudah bersemayam di puncak tujuh bukit Roma dan para pahlawan menjelajahi pedesaan-pedesaan. Di sinilah Hercules membunuh raksasa yang menyemburkan api dari mulutnya; di sini pula tempat dua saudara–Romulus dan Remus–dibesarkan, disusui serigala, dan tempat pertanda-pertanda Ilahi muncul di langit.
Di sini pula, tempat perlindungan bagi para penyintas terakhir Perang Troya yang letih, tempat konflik antar-suku yang haus darah. Aeneas dan teman-teman yang melarikan diri dari Troya, mula-mula mendarat di Makedonia, lalu pindah ke tanah yang sekarang bernama Italia.
Demikian kisah awal Roma, “Rome Before Rome“. Kata Philip Matyszak, sejarawan dari St. John’s College, Oxford (2025), “Rome Before Rome” yang mejadi judul bukunya Matyszak adalah legenda. Legenda bukan sekadar cerita fiksi dari zaman dahulu kala–legenda adalah kisah yang menceritakan kepada masyarakat tentang siapa mereka, apa yang seharusnya mereka lakukan, dan apa yang harus mereka takuti.
Roma dimulai dari legenda Romulus dan Remus, dua saudara yang diasuh dan disusui seekor serigala. Menurut mitologi, Roma didirikan pada tahun 753 SM, di wilayah Italia kuno yang dikenal dengan nama Etruria dan Latium. Dua saudara itulah pendirinya.
Apakah kedua saudara “anak asuh” serigala itu, manusia sungguhan atau sekadar tokoh khayalan yang diciptakan di zaman kemudian? Pentingkah memersoalkan apakah Roma dibangun oleh dua saudara yang diasuh dan disusui serigala itu atau tumbuh dari sebuah desa kecil menjadi kota besar dan negeri? Kata Philip Matyszak, nggak perlu.
Yang lebih penting adalah orang dapat belajar banyak dari legendanya. Dan, setiap masyarakat memiliki legenda. Kata Matyszak, legenda berbeda dari mitos dan cerita rakyat karena legenda berfokus pada manusia dalam latar sejarah. Latar sejarah tersebut adalah sesuatu yang secara umum diterima sebagai kenyataan.
Meskipun manusia terkadang berinteraksi dengan dewa atau makhluk magis, bahkan dalam kasus seperti itu, inti interaksinya adalah untuk memunculkan kualitas bawaan yang dengannya protagonis manusia menginspirasi orang lain dalam budayanya. Pada dasarnya, itulah tujuan legenda…
***

Sebagai seorang sejarawan, Philip Matyszak mengawali bukunya, “Rome Before Rome” dengan mengutip tulisan sejarawan Roma kuno yang sangat kondang. Yakni, Titus Livius atau Livy. Ia lahir di Patavium–sekarang bernama Padua, Italia Utara, tahun 59 SM dan meninggal di kota yang sama pada tahun 17 M.
Sebenarnya banyak tulisan yang menyatakan bahwa tahun kelahiran Livy, sejarawan Romawi itu tidaklah jelas. Tapi seorang teolog dan sejarawan makhsyur Jerome lah yang menyebut bahwa Livy lahir tahun 59 SM. Jerome memang hidup di zaman yang berbeda dengan Livy–Jerome hidup pada akhir abad keempat dan awal abad kelima; sementara Livy, 59 SM–namun pendapat Jerome itu dianggap benar.
Livy diyakini paling tahu tentang sejarah Roma. Lewat “magnum opus” atau mahakaryanya, “Ab Urbe Condita Libri” atau “From the Founding of the City”, Livy bercerita tentang Roma. Buku ini berkisah mulai dari legenda tentang kedatangan Aeneas dan para pengungsi akibat perang Troya, pendirian kota Roma (753 SM), pengusiran para raja (509 SM), hingga era Kaisar Augustus, zaman Livy hidup.
Livy adalah sejarawan utama di zaman Kaisar Augustus (63 SM – 14 M). Augustus itu kaisar kondang yang membawa kemakmuran dan perdamaian Romawi; dan memunculkan apa yang disebut “Pax Romana”, selama sekitar 200 tahun kemudian. Ini adalah hegemoni kekuasaan atas wilayah-wilayah taklukan yang dijalankan dan dikawal secara ketat.
Dalam imperiumromanum.pl ditulis bahwa Kaisar Augustus, tertarik pada proyek penulisan sejarah yang dilakukan Livy. Dan, menaruh perhatian besar. Tetapi, sebagai sejarawan, Livy tidak termasuk dalam lingkaran dalam kaisar pertama Roma itu. Ia berdiri di luar lingkaran kekuasaan. Ia jauh dari kekuasaan.
Meskipun demikian, sejarawan dan kaisar saling menghormati. Livy tetap cukup dekat dengan istana kekaisaran untuk dan menjadi guru sejarah pangeran muda Claudius —yang nantinya menjadi Tiberius Claudius Caesar Augustus Germanicus, dan memerintah dari tahun 41 sampai 54 M–untuk menulis sejarah. (Kaisar masa depan itu menjadi seorang penulis yang produktif: sejarahnya tentang Roma, Kartago, dan Etruria terdiri dari enam puluh sembilan buku.)
Kata John M Lawrence (2023 dalam ebsco.com), buku sejarah karya Livy merupakan upaya patriotik sekaligus refleksi atas kemerosotan moral dan etika yang ia rasakan dalam masyarakatnya. Livy sering kali membandingkan kebajikan orang Romawi awal dengan rekan-rekan mereka sezaman.
***
P

Buku “From the Founding of the City” karya Livy yang sampai sekarang masih jadi acuan tentang sejarah Roma itu terdiri atas 142 jilid. Tapi, menurut Encyclopaedia Britannica, tidak semua jilid berhasil direkonstruksi kembali. Jilid 11-20 dan 46-142, hilang.
Meski demikian, kata Frode Osen (2023) seorang sejarawan dari Universitas Oslo yang belajar arkeologi di Roma, struktur “Ab Urbe Condita Libri” mencerminkan pendekatan tradisional Romawi terhadap sejarah, yang menekankan pelajaran moral dan karya-karya besar individu.
Dalam menulis buku itu, Livy memadukan legenda dengan fakta, menciptakan catatan sejarah yang hidup dan menarik. Ia mengambil inspirasi dari para sejarawan dan penulis terdahulu, menggabungkan karya mereka dengan karyanya sendiri.
Kata Jona Lendering (2020) sejarawan dari Amsterdam Free University dalam menulis “buku babon” sejarah Roma, Livius juga mengacu pada karya-karya sejarawan Yunani dan Romawi yang tersedia dan relevan, sebelum menulis bukunya.
Livy membaca karya sejarawan Yunani Polybius (200 – 118 SM), ahli hukum dan sejarawan Roma Lucius Celius Antipater (180 – 120 SM), sejarawan Roma Valerius Antias (meninggal tahun 91 SM), sejarawan Roma Quintus Fabius Piktor (254 – 190 SM), sejarawan Roma pada abad pertama sebelum Masehi Claudius Quadrigius, penulis dan politisi abad pertama sebelum Masehi Lucius Elius Tubero, Lucio Calpurnius Piso (101 – 138) juga analis, politisi, dan sejarawan Gaius Licinius Macer (110 – 66 SM). Selain itu Livy juga menggunakan dokumen resmi Senat, korespondensi militer-diplomatik, korespondensi diplomatik dan bahan-bahan lainnya.
Tapi, kata Lendering, hal itu tidak menjamin bahwa apa yang ia tulis benar. Ini bukan karena ia seorang sejarawan yang buruk. Melainkan, ia sangat ingin mengatakan kebenaran, sungguh-sungguh mencari kebenaran sejarah, dan terkadang menyela ceritanya untuk komentar yang menunjukkan sikap kritis. Misalnya, ia menulis:
Beberapa penulis telah memperkirakan korban jiwa, baik dari pihak kita maupun musuh, berkali-kali lipat jumlahnya; saya sendiri, terlepas dari keengganan saya untuk membesar-besarkan fakta yang tidak memadai, yang merupakan kesalahan umum para sejarawan, mendasarkan catatan saya pada Fabius, seorang saksi mata kontemporer dari peristiwa-peristiwa ini.
***

Mengapa Livy membaca dan menggunakan karya para sejarawan sebelumnya? Menurut Livy, sulit untuk memilih satu catatan di atas yang lain atau lebih menyukai satu sejarawan daripada yang lain. Sejarah yang sebenarnya telah dipalsukan oleh keluarga bangsawan.
Mereka menyalah-gunakan tindakan heroik masa lalu untuk kepentingan diri mereka sendiri dan secara keliru mengklaim gelar resmi dalam upacara pemakaman dan silsilah keluarga yang palsu. Karena itu, catatan menjadi begitu kacau sehingga tidak ada catatan pasti tentang kehidupan pribadi atau peristiwa publik.
Pengaruh Livy sebagai sejarawan tetap ada, menjadikannya tokoh penting dalam studi Romawi kuno dan historiografinya. Warisan Livy terus menjadi topik utama bagi para cendekiawan yang meneliti kompleksitas narasi sejarah kuno.
Namun, Livy dikritik karena bias, terutama terhadap kelas aristokrat. Tetapi, ia diakui mengevaluasi sumber-sumbernya secara kritis, dan menunjukkan kecenderungan nasionalis.
Pengaruh Livy dalam studi sejarah Romawi kuno tidak dapat dilebih-lebihkan. Pada masanya, ia sangat dihormati sebagai sejarawan. Generasi sejarawan dan penulis selanjutnya, termasuk orang-orang seperti Machiavelli dan Montesquieu, beralih ke karya-karya Livy untuk wawasan tentang politik dan pemerintahan. Karyanya tetap menjadi sumber penting untuk memahami sejarah awal Roma, dan gaya narasinya telah menetapkan standar untuk penulisan sejarah.
***

Kata Christina Athanasiou (2024) dalam romanempiretimes.com, Livy menjelaskan bahwa Negara Romawi telah menetapkan struktur politik, agama, dan sosial dengan jelas, beserta tradisi yang mapan mengenai asal-usulnya. Meskipun asal mula sebenarnya dari banyak lembaga ini masih terselubung di masa lampau, bangsa Romawi memiliki keyakinan kuat tentang bagaimana lembaga-lembaga tersebut terbentuk.
Misalnya, mereka percaya bahwa praktik keagamaan mereka diperkenalkan oleh Numa, konstitusi mereka oleh Servius Tullius, dan rumusan deklarasi perang oleh Ancus Marcius. Meskipun keakuratan historis sebenarnya dari asal-usul ini mungkin tidak pasti, hal itu tidak mengurangi efektivitas lembaga-lembaga ini. Kisah-kisah pembentukannya merepresentasikan pemikiran dan interpretasi Romawi, memproyeksikan masa lalu yang agung untuk melegitimasi masa kini.
Sekalipun Livy tidak menyajikan fakta-fakta konkret, ia mencerminkan pola pikir kolektif Romawi dan ia sendiri merupakan pendukung tradisi-tradisi awal ini. Dari refleksi Livy di seluruh karyanya dan dari pernyataan-pernyataannya sendiri, kata Athanasiou, pembaca dapat memahami Livy sebagai seorang Romawi yang berakar kuat pada nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan masa-masa awal Romawi yang lebih berbudi luhur.
Kata R. B. Steele, sejarah Romawi merupakan perpaduan antara fakta dan fiksi, dan untuk memahaminya membutuhkan upaya intelektual yang sama untuk memahami keduanya. Misalnya, upaya seorang anak sekolah untuk menghafal nama tujuh raja mitologi Romawi dan lamanya masa pemerintahan mereka sama beratnya dengan menghafal nama-nama tokoh sejarah yang sebenarnya.
***

Jadi, “Rome Before Rome”, sebelum ada Roma, yang ada adalah legenda. Sebelum sejarah ada legenda. Sebelum Roma disebut Roma, sebelum Italia disebut Italia, sebelum orang-orang Latin disebut Latin, legenda Roma telah menceritakan kepada kita ada sebuah kota di puncak Bukit Phalitina…
Foto-foto lainya:















Narasi yang sangat keren catatan mengenai sejarah Roma dan pendekatan para penulis sejarah Roma. . Makasih Mas Trias.
Sami2, matur nuwun nggih…Salam
Artikel ini sangat mencerahkan dan memberikan ketajaman utk berfikir kritis.
Terima kasih, telah membaca dongeng saya, Jufri…Salam
Sangat mencerahkan pengetahuan, yg sebelumnya tidak tahu jadi terbuka, dan gambar/ foto2nya sangat bagus, maturnuwun pak Dubes
Matur nuwun, Mbak…salam
Terimakasih Mas.
Sebelum sejarah, ada legenda …
Legenda, termasuk legenda dewa dewi Yunani yang disembah oleh orang2 Roma sebelum mereka menjadi Katolik karena peran Ratu Helena dan Kaisar Konstantinus. Salam selalu. Berkah Dalem
Ya, betul…demikianlah…perjalanan sejarah manusia…terima kasih
Saya pengagum tulisan2 mas Trias Kuncahyono. Karya2nya di situs Kredensial srg di-share di Grup PPKG. Tinjauan sejarahnya sangat tajam dan faktual menurut literatur yg tdk umum. Dari tulisan ini sy sebenarnya jg ingin sekali membaca point2 yg bisa dijadikan refleksi utk konteks kehidupan atau peradaban masa kini. Apakah ada yg bisa dijadikan gambaran atau pegangan agar para pemimpin skrg bisa lebih arif & bijak dlm memimpin? Terima kasih. Sehat selalu Pak Dubes. Salam dari Palmerah Selatan. 🙂🙏
Terima kasoh banyak, Mas…mengikuti dongeng saya…ya, mestinya dari dongeng itu, bisa ditangkap “sesuatu” yg memang tidak saya tulis secara terang….terima kasih
Terima kasih pa Dubes untuk artikelnya untuk menambah pelajaran sejarah
Sama2, Pak..terima kasih..Salan
Matur pak Dubes… article yg menambah dan mengingatkan saya waktu belajar teks2 kuno seperti De Bello Galico…
Berkah Dalem
De, saya malah belum pernah baca…hehe…suwun
Matur nuwun Dab . . . Meskipun tidak melihat kitab kitab sejarahnya, namun seakan turut melongok sedikit ke kitab kitab tsb . . .
Matur nuwun menambah wawasan . . .
Terimakasih atas sharing tulisannya, mas Trias. Seperti masuk ke terowongan waktu. Cocok dengan konteks Indonesia saat ini, di mana sejarah Indonesia akan ditulis ulang. Penting bagi sejarawan Indonesia untuk ambil bagian meluruskan sejarah, dan mendasarkan diri pada nilai-nilai luhur bangsa Nusantara sebelum Indonesia serta ideologi bangsa yang dicita-citakan oleh para pendiri negara: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Mungkin bisa seperti Livy atau sejarawan Roma lainnya yang mengungkapkan fakta dan legenda (bukan mitos), namun berakar kuat pada nilai2 dan keyakinan masa-masa awal Romawi yang lebih berbudi luhur.
Tulisan amat bagus dan mencerahkan Mas Trias, saya selalu ikuti dan menunggu episode selanjutnya .
Jika punya sejarah ttg Seminari Mertoyudan saya juga tertarik Mas……sbg orang Mertoyudan saya lahir 1960 Seminari sudah berdiri dg megahnya dan menjadi Icon pendidikan bermutu di daerah Magelang…
Jadi sejarah tidak harus fakta ya. Legendapun bisa masuk sbg sejarah.
Matur nuwun, Mas Dubes … Sejarah selalu menggetarkan yaaa. Sejarawan bisa sngt dihormati dan dihargai seperti itu. Luar biasa …
Matur nuwun, Mas Dubes … Sejarah selalu menggetarkan yaaa … Sejarawan Livy sngt dihormati san dihargai pada masanya. Luar biasa …
Adakah bangsa kita memiliki sejarawan yg sngt berpengaruh? Saat ini, saya sedang harap-harap cemas ttg penulisan ulang sejarah Indonesia. Semoga berpihak pada kebenaran sehingga akan memiliki dampak yg signifikan bagi kehidupan berbangsa di masa kini dan kemuka.