ANDREA BOCELLI, “AMAZING GRACE”

Gambar dua tangan saling menunjuk dari drone di atas basilika, terinspirasi lukisan “The Creation of Adam” karya Michelangelo di Kapel Sistina (Foto: Trias Kuncahyono)

Tepuk tangan puluhan ribu pasang tangan memecah langit Vatikan begitu maestro tenor Italia Andrea Bocelli mengakhiri himne Amazing Grace. Himne yang liriknya ditulis oleh John Newton tahun 1772 ini, membuka konser musik Grace for the World, malam itu. Inilah konser musik dunia pertama di Lapangan Santo Petrus, Vatikan.

Lirik himne itu begitu indah, menyentuh:

Amazing grace! how sweet the sound,
That saved a wretch; like me!
I once was lost, but now am found,
 Was blind, but now I see.

Dan, memang, Amazing Grace adalah salah satu himne yang paling dicintai serta paling sering dinyanyikan di Amerika Utara. Himne ini mengungkapkan pengalaman iman pribadi John Newton tentang pertobatan dari dosa sebagai tindakan kasih karunia Allah. Di akhir hayatnya, Newton (1725 – 1807) berkata, “Ada dua hal yang tidak akan pernah kulupakan: bahwa aku adalah seorang pendosa besar, dan bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat yang lebih agung!”

Himne ini merupakan otobiografi rohani Newton, tetapi kebenaran yang ditegaskannya—bahwa kita diselamatkan hanya oleh kasih karunia—adalah sesuatu yang dapat diakui oleh semua orang Kristen dengan sukacita dan rasa syukur.

Dan, ketika himne itu dinyanyikan Andrea Bocelli, suasana begitu hening, seperti mengingatkan semua yang hadir, adalah “pendosa” dan “diselamatkan karena kasih.” Tiba-tiba keheningan pecah, ketika di langit di atas basilika muncul wajah Paus Fransiskus yang dibentuk dari lebih 3.000 drone yang berkerlap-kerlip menyala.

Setelah Amazing Grace, Andrea Bocelli masih mengajak semua orang untuk merenungkan kasih Allah, ketika melanjutkan dengan menyanyikan Ave Maria karya Schubert dengan sangat indah.

Ave Maria
Gratia plena
Maria, gratia plena
Maria, gratia plena
Ave, ave dominus
Dominus tecum
Benedicta tu in mulieribus
Et benedictus
Et benedictus fructus ventris
Ventris tuae, Jesus.
Ave Maria

Ya, gratia plena, penuh rahmat. Tentu, Andrea Bocelli berharap semua yang hadir di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, juga yang mengikuti lewat siaran langsung, penuh rahmat. Rahmat perdamaian. Rahmat persaudaraan sebagaimana tema konser malam itu: Grace for the World.

***

Andrea Bocelli menyanyikan himne “Amazing Grace” mengawali konser. (Foto: Trias Kuncahyono)

Malam itu, malam bersejarah. Sederet penyanyi kondang tampil. Selain Andrea Bocelli, masih ada ikon urban Amerika Selatan Karol G, lalu penyanyi dan rapper dari Amerika Pharrell Lanscilo Williams , John Legend yang juga rapper, dua penyanyi hip hop dari Virginia: duo Clipse , Teddy Swims penyanyi AS yang nggabungin elemen soul-country-pop, Jelly Roll penyanyi dan rapper, Angélique Kidjo ikon Afrika peraih lima Grammy Awards. Tampil pula Fire Gospel Choir, juga paduan suara lainnya, dan banyak artis lain.

Semua tampil dengan ciri khasnya masing-masing: Pharrell Williams tampil bersama Voices of Fire Gospel Choir–genre musik Protestan Amerika, yang berakar pada kebangkitan agama pada abad ke-19, dan berkembang ke dalam komunitas kulit putih (Eropa Amerika) dan Hitam (Afrika Amerika) di Amerika Serikat. Musik ini demonstratif, energik, dinamis, dan menggairahkan, sehingga semua yang mendengarnya tergoda untuk menggoyangkan badannya.

Maestro Andrea Bocelli menghadirkan kekuatan opera, sementara Jennifer Hudson, Karol G, John Legend, Clipse, Teddy Swims, Jelly Roll, BamBam, dan Angélique Kidjo menambah kemeriahan musik. Selain itu, ada paduan suara gabungan yang dibentuk untuk acara tersebut dengan arahan musik dari Adam Blackstone, bersama Paduan Suara Keuskupan Roma yang dipimpin oleh Maestro Marco Frisina.

Masing-masing penyanyi membawa perspektif musik unik. Tapi, mendukung tema acara: persatuan. Kata Pharrell William “Konser ini adalah momen budaya langka di mana dunia berhenti sejenak dan bersama-sama mendengarkan. Ini adalah pesan persatuan dan rahmat bagi seluruh umat manusia.”

Andrea Bocelli menambahkan, “Mari kita soroti kemanusiaan dengan musik dari inti Kekristenan dan alunan spiritual terpenting, menjangkau seluruh dunia dengan satu pesan persaudaraan dan perdamaian.”

***

Jelly Roll dan Teddy Swims menyanyikan lagu “Heaven Hears Me Anyway” (Foto: Trias Kuncahyono)

Persaudaraan dan Persatuan. Itulah inti dari Human Fraternity. Pada 4 Februari 2019, Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Kairo, Ahmad Al-Tayyeb di Abu Dhabi menandatangani Dokumen Human Fraternity for World Peace and Living Together. Dokumen itu, menegaskan bahwa semua orang, terlepas dari perbedaan budaya, agama, atau latar belakang, adalah bagian dari satu keluarga manusia, yang dipersatukan oleh nilai-nilai bersama berupa perdamaian, keadilan, toleransi, dan saling menghormati. Fratelli

Dokumen Human Fraternity, mengajak semua orang untuk patuh terhadap prinsip-prinsip kebebasan, keadilan, demokrasi, toleransi, solidaritas, kerja sama, pluralisme, keragaman budaya, dialog dan pemahaman di semua tingkat masyarakat dan antar bangsa. Dan, hal itu dipupuk oleh lingkungan nasional dan internasional yang kondusif bagi perdamaian

Kata Paus Leo XIV saat membuka The 3rd World Meeting on Human Fraternity, di Clementine Hall, Vatikan, 12 September 2025: Dunia saat ini ditandai oleh konflik dan perpecahan, yang membuatnya semakin penting bagi Anda untuk dipersatukan oleh sebuah “tidak” yang kuat dan sebuah “ya” untuk perdamaian dan persaudaraan. Seperti yang diajarkan Paus Fransiskus kepada kita, perang bukanlah cara yang tepat untuk menyelesaikan konflik.

“Kesediaan untuk menghadapi konflik secara langsung, untuk menyelesaikannya dan menjadikannya sebuah mata rantai dalam rantai proses baru” ( Gaudium et Spes, 227) adalah jalan yang paling bijaksana, jalan orang-orang yang kuat. Kehadiran Anda menjadi saksi kebijaksanaan ini, yang menyatukan budaya dan agama, dan merupakan kekuatan diam yang memungkinkan kita untuk saling mengakui sebagai saudara dan saudari, terlepas dari semua perbedaan kita.”

Maka, semakin kita membangun persaudaraan dan mengakui satu sama lain sebagai saudara dan saudari, semakin kita bertumbuh dalam kemanusiaan—begitu pula sebaliknya. Menyadari bahwa setiap orang yang datang ke dunia adalah anugerah bagi dunia.

***

Karol G penyanyi Kolombia menyanyikan “Vivo Per Ella, Saya Hidup Untuknya. (Foto: Trias Kuncahyono)

Konser musik bertajuk Grace for the World, adalah untuk merayakan Tahun Suci Yubileum–yang menandai 2.025 inkarnasi Jesus Kristus. Dan juga, menandai penutupan “the third World Meeting on Human Fraternity” di Vatikan yang antara lain dihadiri Graça Machel, janda Nelson Mandela, pemimpin Afrika Selatan.

Di ujung konser bersama vokalis Jennifer Hudson, Andrea Bocelli menyanyikan The Prayer. Lagu arasemen dan gubahan David Foster dan diproduksi bersama William Ross ini, awalnya direkam dalam dua versi solo – dalam bahasa Inggris oleh Dion, dan dalam bahasa Italia oleh Bocelli – untuk film Quest for Camelot.

Lagu The Prayer menyampaikan pesan harapan dan persatuan, menyerukan dunia yang bebas dari kekerasan dan dipenuhi keadilan serta perdamaian.  Perang masih belum juga menguasai Palestina, Ukraina, sejumlah negara di Afrika, serta sejumlah wilayah lainnya.

Ketidak-adilan, ada di mana-mana. Kata Paus Fransiskus, “Kita semua memahami betapa pentingnya keadilan bagi koeksistensi damai dalam masyarakat: dunia tanpa hukum yang menghormati hak asasi manusia akan menjadi dunia yang mustahil untuk ditinggali; dunia ini akan menyerupai hutan belantara. Tanpa keadilan, tak ada kedamaian. Bahkan, jika keadilan tidak dihormati, konflik pun muncul. Tanpa keadilan, hukum dominasi yang kuat atas yang lemah akan mengakar, dan ini tidaklah adil.”

Maka, kata Graça Machel, marilah kita memilih keberanian daripada diam, empati daripada ketidakpedulian, dan kebenaran daripada ketidakadilan untuk mewujudkan masa depan yang lebih damai,

Sebab, kata Paus Leo XIV “perang selalu merupakan kekalahan” dan “tidak ada yang hilang dengan perdamaian; segalanya bisa hilang dengan perang.” Paus juga mengenang kata-kata Paus Pius XII, yang memimpin Gereja selama Perang Dunia Kedua: “Tidak ada yang hilang dengan perdamaian. Segalanya bisa hilang dengan perang.”

Maka, “The Prayer” melambangkan hasrat akan kebaikan, kasih, dan iman untuk membimbing individu menuju keselamatan dan menekankan pentingnya bersatu sebagai komunitas untuk saling mendukung, menghilangkan segala bentuk penindasan, pengekangan, ketidak-adilan, tipu-daya, kemunafikan, dan kekerasan; mengakhiri segala omong kosong, dan segera bertindak nyata. Sebab:

Sognamo un mondo senza più violenza
Un mondo di giuztizia e di speranza
Ognuno dia la mano al suo vicino
Simbolo de pace e di fraternità

Kami memimpikan dunia tanpa kekerasan
Dunia yang penuh keadilan dan harapan
Biarkan setiap orang menjangkau sesamanya Simbol perdamaian dan persaudaraan…

Dari Lapangan Santo Petrus, Vatikan harapan atau bahkan ajakan untuk “hidup sebagai saudara” yang penuh kedamaian dan saling mendukung, malam itu disebarkan ke seluruh dunia, termasuk sudut-sudut dunia yang masih di bawah kuasa kegelapan.

Dari Lapangan Santo Petrus Vatikan, ajakan untuk membangun dunia yang menjunjung tinggi kebenaran, kebebasan, dan martabat, diteriakkan dalam semangat persaudaraan…

Foto-foto lain:

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
28
+1
44
Kredensial