FIRENZE, MICHIAVELLI, DAN SUSTER

0Firw

Kota Firenze diambil dari Piazza Michelangelo (Foto: Abishai Sahadeva)

Ke Firenze, kami berkunjung. Kota yang terletak 275 km sebelah utara Roma ini–juga disebut Florence–selalu mengingatkan akan zaman Renaissance dengan juga tokoh-tokoh besarnya, misalnya di dunia seni. Karena, dari kota inilah Renaissance bermula.

Kata Rosie Lesso (The Collector, 2024), secara harfiah, kata “Renaisans” berasal dari bahasa Perancis yang berarti “kelahiran kembali.” Sejarawan Perancis abad ke-19, Jules Michelet, adalah salah satu tokoh pertama yang menggunakan istilah ini untuk menggambarkan seni di Italia dan wilayah lainnya dalam karya ikoniknya yang berjudul Renaissance (1855). 

Jules Michelet  berpendapat bahwa Italia pada abad ke-14 telah “melahirkan kembali” zaman klasik melalui penekanannya pada keindahan, keanggunan, dan pemahaman mendalam mengenai bentuk tubuh manusia. Jacob Burckhardt, sejarawan Swiss abad ke-19, juga mengembangkan teori serupa dalam esainya yang berpengaruh, The Civilization of Renaissance Italy (1860). Kedua sejarawan inilah yang mempopulerkan istilah “Renaisans,” yang kini digunakan secara luas.

Periode Renaisans ini bermula di Italia pada abad ke-14 dan kemudian menyebar ke seluruh penjuru Eropa. Ini merupakan kebangkitan kembali budaya yang mencakup seni klasik, bentuk-bentuk klasik, filsafat Yunani kuno, serta gaya arsitektur dunia kuno. 

Pengaruh klasik ini memicu revolusi ilmiah yang mengubah lanskap intelektual Eropa Barat. Periode ini menandai peralihan dari Abad Pertengahan menuju era modern, dan semangat Renaisans telah membentuk dunia modern seperti sekarang ini.

Seniman besar zaman Renaisans antara lain Michelangelo Buonarroti (1475–1564). Ia disebut sebagai sosok ideal manusia Renaisans sejati. Michelangelo yang lahir di Republik Florence, adalah seorang maestro pematung, pelukis, dan arsitek. Patung marmer Daud karyanya yang ikonik dan setinggi 17 kaki dapat dikagumi di Galleria dell’Accademia, sementara lukisan dinding (fresko) karyanya yang memukau–seperti Pengadilan Akhir– menghiasi Kapel Sistina, Vatikan.

Lalu, Leonardo da Vinci (1452–1519): Meskipun lahir di luar Florence, kejeniusannya di bidang seni, sains, dan filsafat berkembang pesat di Florence. Selain mereka, masih banyak seniman ulung lainnya yang adalah “anak kandung” Renaisans.

***

Basilika St Maria del Fiore atau Duomo di Firenze ini mulai dibangun pada tahun 1294. Basilika bergaya gothik yang memiliki panjang 153 meter, lebar 90 meter, dan tinggi 114,5 meter ini diselesaikan tahun 1436 (Foto: Abishai Sahadeva)

Firenze juga mengingatkan tokoh besar dalam dunia diplomasi, politik dengan karya tulisnya yang hingga kini, tidak hanya dibaca, tetapi menginspirasi dan diikuti. Dialah Niccolò Machiavelli, yang lahir 3 Mei 1469. Lahir di Florence, Machiavelli menempuh pendidikan dalam bidang tata bahasa Latin dan retorika, yang menjadi landasan bagi karya-karyanya di kemudian hari. 

Menurut Victor Anthony Rudowski (2024), Niccolò Machiavelli  (1469–1527) adalah seorang diplomat, filsuf, dan penulis Italia yang berpengaruh, yang paling dikenal karena karya-karya tulis politiknya yang mengupas kompleksitas kekuasaan dan tata kelola pemerintahan. 

Awal kariernya mencakup peran-peran penting dalam pemerintahan Florence, khususnya pada masa penuh gejolak setelah pengusiran keluarga Medici. Pengalamannya dalam diplomasi dan politik sangat memengaruhi pandangannya mengenai kepemimpinan dan seni memerintah negara.

Karya Machiavelli yang paling terkenal, The Prince (Sang Penguasa), yang ditulis pada tahun 1513, mengkaji kualitas dan taktik yang harus diterapkan oleh penguasa yang efektif untuk mempertahankan kendali dan kekuasaan. Karya besar lainnya, Discourses on the First Ten Books of Titus Livius (Diskursus tentang Sepuluh Buku Pertama Titus Livius), menyajikan perspektif yang kontras mengenai tata kelola pemerintahan republik. 

Meskipun ia mendukung paham republikanisme, tulisan-tulisan Machiavelli sering kali memicu perdebatan; interpretasi terhadap dirinya beragam, mulai dari pandangan yang menganggapnya sebagai pendukung tirani hingga pandangan yang melihatnya sebagai pengamat tajam realisme politik. 

Karena itu, menurut Alessandro Campi (dikutip Stephen Bowd dan Alexander Lee, 2026) karya-karya Machiavelli dimasukkan ke dalam Index Librorum Prohibitorum (Daftar Buku Terlarang) milik Paus pada tahun 1559; The Prince dikecam sebagai karya yang bersifat setan, sementara Machiavelli dicap sebagai sosok yang amoral dan ateis—bahkan dianggap sebagai penganjur bidah—hingga patung dirinya pun dibakar di Ingolstadt.

Tetapi, menurut Stephen Bowd dan Alexander Lee, filsuf Inggris dan negarawan Inggris, Francis Bacon (1561-1626)  mengatakan, Machiavelli termasuk di antara penulis yang ‘secara terbuka dan tanpa kepura-puraan memaparkan apa yang biasanya dilakukan manusia, bukan apa yang seharusnya mereka lakukan’; dan ia kerap mendapat perhatian serius pada dekade-dekade serta abad-abad setelah kematiannya.

Stephen Bowd dan Alexander Lee yang mengutip Victoria Kahn (2010) juga menulis, kaum Republikan Inggris dan Belanda pada abad ketujuh-belas yang membaca karya Machiavelli, Discourse, mendapat pembenaran dalam menolak ‘tirani’ monarki  serta pembentukan institusi politik yang menjamin stabilitas, kebebasan rakyat, dan keadilan. Di abad berikutnya, kaum revolusioner Perancis dan Amerika pun mendapatkan inspirasi dari karya-karya politik Machiavelli. Bahkan, mendapat inspirasi dari The Prince, yang ditafsirkan sebagai peringatan terselubung terhadap para tiran.

Pada tahun 1967, di puncak keyakinan diri teknokratis—saat ‘panas membara’ revolusi teknologi tampak menyala paling terang—Anthony Jay mengungkapkan kekagumannya terhadap pendekatan Machiavelli yang dianggap ‘ilmiah’ dalam pemecahan masalah. Maka Anthony Jay menerapkan pelajaran-pelajaran yang ’empiris, pragmatis, dan praktis’ dari tokoh tersebut untuk menjawab tantangan yang dihadapi oleh para penguasa baru maupun ‘pemimpin’ bisnis yang menduduki posisi manajemen.

Menurut Stephen Bowd dan Alexander Lee, buku terlaris karya Jay, Management and Machiavelli, memicu munculnya banyak peniru yang selalu menampilkan sosok Machiavelli serta karya paling termasyhur (atau paling kontroversial)-nya sebagai contoh perilaku yang egois, amoral, manipulatif, dan penuh tipu daya. Machiavelli menjadi sosok penting bagi kalangan pebisnis, politisi, psikolog, bahkan muncul istilah Macachiavellian Intelligence, ‘Kecerdasan Machiavellian.’ Banyak politisi, ‘corporate princes’, dan ‘corporate warrior’ yang terus mengagumi sosok Machiavelli yang memegang prinsip ‘tujuan menghalalkan segala cara’, serta mencerminkan sikap individualisme yang keras, agresivitas, dan kecenderungan melanggar aturan yang mereka tunjukkan sendiri.

Itulah sebabnya,  warisan pemikirannya yang ditandai oleh pendekatan pragmatis terhadap politik,  terus memicu diskusi mengenai etika dalam kepemimpinan dan hakikat kekuasaan. Walau demikian, ada yang berpendapat bahwa ajaran Machiavelli begitu kaya sehingga setiap generasi  dapat menemukan di dalamnya jawaban atas berbagai persoalan politik yang menjadi perhatian utama mereka.

Dengan kata lain, Machiavelli lewat karyanya ingin menegaskan bahwa masalah-masalah duniawi kita harus memiliki solusi yang bersifat duniawi pula.

***

Para suster–sembilan dari Indonesia dan enam dari Vietnam–anggota Kongregasi Fransiskanes Putri-putri St. Elisabeth, mengucapkan kaul kekal di Gereja Para Kudus, Firenze (Foto: Abishai Sahadeva)

Tetapi, kami ke Firenze tidak untuk ziarah ke sebuah monumen pemakaman dari marmer dan perunggu yang dibangun pada tahun 1784 untuknya di ruang tengah gereja Santa Croce. Pada monumen itu ada tulisan: ‘Tiada pujian yang memadai bagi nama yang begitu agung.’

Kami ke Firenze kota kelahiran Renaisans dan Machiavelli ini untuk menghadiri kaul kekal 15 suster–sembilan dari Indonesia dan enam dari Vietnam–di Chiesa di Ognissanti, Firenze–Gereja Para Kudus. 

Yang mengesankan bagi kami adalah di gereja itu, kami mendengar lagi untuk yang kesekian kalinya–kali ini diucapkan oleh  para suster anggota Kongregasi Fransiskanes Puteri-puteri Santa Elisabeth (FSE)–tiga ikrar, saat kaul kekal. 

Tiga ikrar  itu adalah Castità, Obbedienza e Povertà (Kesucian, Ketaatan, dan Kemiskinan). Mungkin bagi sebagian orang, atau mungkin, malah bagi banyak orang ikrar itu biasa saja. Tetapi, tidak demikian bagi para suster itu.  Dalam tradisi Katolik, ikrar saat kaul adalah janji suci yang diucapkan secara publik dan sukarela kepada Allah. Bagi para suster (biarawati), kaul merupakan penyerahan diri secara total untuk mengikuti jejak Kristus. 

Tapi, Niccolò Machiavelli di zamannya,  kata De Gruyter Brill (202 menolak kebajikan religius tradisional seperti itu.  Ia memandang kaul biara klasik—yakni kesucian, ketaatan, dan kemiskinan—sebagai hal yang pada dasarnya bertolak belakang dengan semangat kewargaan yang tangguh.

Kata Machiavelli, kaul seperti itu bukan sebagai kebajikan spiritual, melainkan sebagai sarana politik. Ia berpendapat bahwa kaul-kaul tersebut menumbuhkan sikap tunduk dan kelemahan, seraya menyarankan para penguasa untuk justru mengedepankan keterlibatan aktif, kemandirian, dan kekuasaan duniawi demi menjaga stabilitas negara.

Mengapa Machiavelli berpendapat seperti itu? Karena pada masa itu, Machiavelli memandang Gereja Katolik terutama sebagai kekuatan politik dan kelembagaan, bukan sebagai kekuatan spiritual. Maka, sudut pandangannya selalu dari sisi kepentingan negara. 

***

Piazza della Signora, Firenze (Foto: Abishai Sahadeva)

Ya, memang, apa yang bisa dikatakan mengenai kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan di dunia yang sebagian besarnya menaruh harapan pada kekayaan materi, serta menjunjung tinggi kebebasan individu di atas segalanya?

Tentu saja, bila memandangnya dengan kacamata keduniawian, maka kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan sangat bertentangan dengan arus budaya umum. Hal itu, terutama disebabkan  nilai-nilai tersebut umumnya tidak dipahami dengan baik. Sebagian besar orang menganggapnya sebagai pelepasan yang drastis, pengorbanan atas kehidupan yang utuh, penyangkalan seksualitas yang tidak wajar, serta penyerahan kebebasan dan kreativitas layaknya sikap remaja. Namun, anggapan itu keliru.

Kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan bukanlah bentuk kehilangan atas kekayaan, seksualitas, dan kebebasan. Sebaliknya, ketiganya merupakan perwujudan yang sejati dan kaya akan makna.

Kaul kemiskinan pada dasarnya bukan sekadar soal menjalani hidup dengan barang-barang yang lebih murah, tidak memiliki mesin pencuci piring, atau mengerjakan sendiri pekerjaan rumah tangga. Dan, kaul ini juga bukan tentang melepaskan kekayaan yang justru dapat menunjang kehidupan yang berkembang sepenuhnya. 

Menjalani hidup dalam kemiskinan secara sukarela merupakan wujud nyata dari pernyataan bahwa segala harta benda adalah anugerah, bahwa dunia ini milik bersama, bahwa tidak ada satu pihak pun yang memiliki sebuah negara, dan bahwa kebutuhan siapa pun tidaklah lebih utama daripada yang lain. Ini adalah kaul atau ikrar yang menentang konsumerisme dan tribalisme, sekaligus menghadirkan kekayaan luar biasa tersendiri—berupa makna hidup serta kebahagiaan dan sukacita dalam kebersamaan. ***

Foto-foto Abishai lainnya:

 

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
Kredensial