“THE SMALL MAKE HISTORY”

 

Kiper Cabo Verde Josimar José Évora Dias alias Vozinha, benteng kokoh Cabo Verde (Foto: The Standard)

Sebelum Piala Dunia 2026 ini, (bisa jadi) banyak orang belum pernah mendengar tentang Cabo Verde. Kini, jutaan orang  mengenal negara kecil, seluas 4.033 km persegi dengan penduduk kurang dari 600 ribu, di Samudra Atlantik, lepas pantai Senegal, Afrika Barat ini.

Sepak bola, jendela dunia mereka. Jutaan orang mulai mengenal nama negara itu karena sepak bola;  karena pemainnya memiliki ketangguhan luar biasa. Walau, tiga ratus tahun menjadi jajahan Portugal, menjadi lokasi perdagangan budak lintas-Atlantik, sebagai bangsa, mereka berdiri tegak, kepala terangkat.

Kata Pedro “Bubista” Brito, pelatih Cape Verde, seperti dikutip The Guardian (4/7), “Kami  telah melakukan sesuatu yang akan tercatat dalam buku sejarah dan kami telah mengukir sejarah bagi negara kami. Selain itu, bagi negara-negara seperti kami yang berjuang untuk lolos ke Piala Dunia, kami telah menunjukkan bahwa jika bekerja dengan karakter yang kuat dan fokus pada tujuan yang diinginkan—meski mungkin butuh waktu—mereka pasti bisa mencapainya.”

Ketika tiba di Amerika, Bubista mengatakan, “Lebih dari sekadar bermain, ini adalah tentang menunjukkan jati diri kami kepada dunia. Selama berada di sini, kami ingin bertanding melawan tim-tim terbaik dunia. Kami ingin menjunjung tinggi sportivitas. Kami ingin bersaing dalam kondisi yang setara. Kami memang minim pengalaman di turnamen ini, dan sering kali pengalamanlah yang menjadi penentu.”

***

Messi dan Vozinha (repro football bes reborn)

Yang dikatakan Bubista, tidak berlebihan.  Memang, mungkin, bagi banyak orang sepak bola hanyalah sekadar dua puluh dua pemain yang menendang bola ke sana ke mari. Namun, bagi jutaan orang lainnya, sepak bola adalah emosi, hasrat, identitas, kenangan, dan kebanggaan—semuanya terangkum dalam sembilan puluh menit penuh ketidakpastian. 

Bubista dan anak-anaknya datang sebagai tim yang relatif belum dikenal saat tampil pertama kali di panggung terbesar, Piala Dunia sepak bola, pesta akbar empat tahunan. Namun, mereka pulang membawa kenangan tak terlupakan karena performa saat menghadapi Spanyol (0 – 0), Arab Saudi (0 – 0), Uruguay (2 – 2), dan Argentina (2 – 3). 

Semua pertandingan itu akan terukir dalam sejarah selamanya, terutama setelah melawan Argentina, juara bertahan dan kesebelasan yang memiliki “Dewa” sepak bola. Sejarah telah dituliskan oleh kesebelasan Cabo Verde.

Dengan Argentina, Cabo Verde memang kalah. Tetapi, Sebagaimana diingatkan oleh filsuf Yubani Epictetus (50 – 135) yang terlahir sebagai budak di Hierapolis (sekarang wilayah Yunani) hasil akhir bukanlah hal yang paling utama; yang terpenting adalah bagaimana kita menjalani permainannya. Sebab, rasa hormat tidak diraih semata-mata melalui kemenangan, melainkan melalui kerendahan hati, kegigihan, dan ketulusan hati.

Ini menjelaskan  bahwa sepak bola bukan sekadar permainan (just a game) tetapi tentang emosi, identitas, komunitas, dan budaya. Kata salah seorang pemain Cabo Verde, Sidny Lopes Cabral, “Apa yang kami capai ini adalah upaya untuk menunjukkan apa yang bisa diraih oleh negara-negara kecil. Dengan tekad yang kuat, Anda bisa percaya dan bermimpi bahwa segalanya mungkin terjadi.” 

“Verde memang kalah, namun mereka juga menang,” komentar mantan pemain timnas Skotlandia, James McFadden, di BBC Radio 5 Live.

Kata McFaden, “Mereka telah menunjukkan keberanian, kebersamaan, persatuan, dan keyakinan teguh terhadap jati diri serta kemampuan mereka. Kisah utama Piala Dunia ini adalah Cape Verde. Itulah hal yang ingin kita lihat dari sebuah tim sepak bola.”

Mereka mengawali pesta akbar sepak bola ini dengan peringkat ke-67 dunia, namun tiga hasil imbang di fase grup—termasuk menahan imbang juara Eropa, Spanyol, dengan skor 0-0 pada laga pembuka—telah membuka jalan luar biasa dan menciptakan salah satu kejutan terbesar dalam sejarah Piala Dunia.

Saat menghadapi Argentina, mereka sempat tertinggal akibat gol Messi, namun berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 dan memaksa pertandingan berlanjut ke babak perpanjangan waktu. Mereka kembali tertinggal, sebelum akhirnya tembakan memukau dari Cabral kembali menyamakan skor. Namun, keberuntungan tidak berpihak pada mereka; bola hasil sundulan Cristian Romero mengenai Diney Borges dan berbelok arah secara tragis, yang akhirnya meloloskan Argentina.

Inilah penampilan terbaik tim underdog dari negara kecil, yang  25 pemainnya tersebar di 14 negara, yang tim nasionalnya pertama kali main di panggung internasional baru tahun 1978, melawan Guinea. Kalah, 0-1.

Tapi, mentalitas morabeza–secara lurus dapat diartikan sebagai “bebas stres” atau keramahan yang terbuka–menjadi kekuatan mereka. Di lapangan, hal itu tercermin dalam sikap yang tenang dan tidak mudah goyah. Mereka tidak panik saat berada di bawah tekanan, melainkan memilih pendekatan permainan yang seimbang dan mengalir.

Mereka menyadari tim kecil dari negara kecil. Siapa yang menduga bahwa tim kecil itu bisa menahan Spanyol yang dalam segala-galanya jauh lebih besar. Siapa pula yang mengira mereka mampu membuat juara dunia bertahan Argentina nyaris dipermalukan andai Diney Borges tidak membuat gol bunuh diri.

Menghadapi raksasa Argentina dengan Messi, Julián Álvarez dan Enzo Fernández, “Blue Sharks”, begitu sebutannya,  tanpa beban, bermain dengan leluasa sembari berupaya memanfaatkan setiap peluang serangan balik.

Kata Paus Fransiskus (2021) “menyadari diri sebagai sosok yang kecil” adalah sebagai “titik awal untuk menjadi besar.” Paus dari Argentina ini dulu sering menekankan kekuatan dari sikap rendah hati dan kesederhanaan …. kekuatan yang bekerja secara senyap namun mampu mengubah dunia. (Radio Vatikan)

***

Kisah Cabo Verde seperti membenarkan bahwa dunia sepak bola selalu hidup berkat kisah-kisah bak dongeng. Dan, Piala Dunia FIFA 2026 ini telah menghadirkan tokoh utamanya bahkan sebelum satu bola ditendang di babak gugur: Cabo Verde atau Cape Verde.

Kekuatan Cabo Verde, seperti kata Paus Fransiskus, “…bekerja secara senyap, namun mengubah dunia.” Mereka telah  mematahkan segala logika sepak bola di panggung Piala Dunia. Melihat Cabo Verde, sulit untuk tidak mengatakan bahwa sepak bola jauh lebih dari sekadar permainan itu. Sepak bola juga bukan sekadar urusan bisnis miliaran dollar. Sepak bola merupakan satu-satunya pengalaman budaya yang benar-benar bersifat global. Ia membawa makna yang jauh melampaui lapangan hijau. 

Sepak bola menyatukan orang-orang, membentuk identitas, memicu percakapan baik langsung maupun lewat alat komunikasi, dan menciptakan momen-momen yang akan terus membekas dalam ingatan penggemar seumur hidup. 

Dan, bagi Cabo Verde, catatan sepak bola di panggung dunia ini semakin meyakinkan mereka bahwa impian mereka tidak pernah diukur oleh luasnya negara. Mereka telah membuktikan bahwa kebesaran tidak ditentukan oleh jumlah penduduk ataupun letak geografis, melainkan oleh ketangguhan, keyakinan, dan keberanian untuk bermimpi melampaui batas-batas kemungkinan yang dipercaya orang lain. ***

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
16
+1
9
Kredensial