
Dua hari, saya menghadiri dua acara di dua tempat yang tercatat dalam sejarah Kekaisaran Romawi dan Sejarah Gereja. Kedua tempat itu adalah Abbazia delle Tre Fontane (Biara Tiga Air Mancur) dan Basilica di San Paolo Fuori le Mura (Basilika Santo Paulus di Luar Tembok). Kedua tempat tersebut saling berkaitan.
Pertama, Abbazia delle Tre Fontane adalah sebuah biara di Roma, terletak di antara Jalan Raya Eropa dan Distrik Ostiense, di sebuah lembah kecil di jalan Via Laurentina kuno. Diceritakan, di tempat itulah, Rasul Paulus dipenggal kepalanya atas perintah Kaisar Nero, sekitar tahun 65 – 57 M. Kepalanya jatuh ke tanah dan tiga kali membal; dan di tiga tempat itu dahulu muncul tiga mata air.
Kedua, ke Basilika Santo Paulus di Luar Tembok. Disebut “di luar tembok”, karena basilika berada di dua kilometer di luar Tembok Aurelian yang mengelilingi Kota Roma. Di tempat itu, yang menjadi makam Santo Paulus, mula pertama dibangun gereja kecil pada tahun 324 atas prakarsa Kaisar Konstantinus di Jalan Raya Ostiense, diberkati oleh Paus Sylvester.
Sekitar setengah abad kemudian, gereja kecil dirobohkan dan kemudian dibangun gereja besar yang diberkati dan diresmikan oleh Paus Innocentius I, pada tahun 402; tapi sebenarnya gereja itu belum sepenuhnya rampung, dan benar-benar dirampungkan sekitar 50 tahun kemudian oleh Paus Leo I. Menurut catatan, pada bulan Juli 1823, gereja terbakar, lalu direnovasi menjadi seperti sekarang ini.
Hal pertama yang menyita pandangan mata bila masuk ke kompleks basilika ini adalah patung monumental Santo Paulus di tengah halaman, yang dipahat dari marmer Carrara oleh Giuseppe Obici pada abad ke-19.
Di Basilika Santo Paulus di Luar Tembok, saya menghadiri Messa per la Pace e la Solidarietà, Misa untuk Perdamaian dan Solidaritas yang diadakan oleh Kedutaan Besar Korsel untuk Takhta Suci.
Misa dipimpin Kardinal Lazzaro You Heung Sik, Prefect of the Congregation for the Clergy dan Uskup Agung Emeritus Daejeon, Korsel. Hadir pada misa itu, Presiden Korsel Lee Jae Myung dan Ibu Negara Kim Hea Kyung. Lee Jae Myung adalah presiden Korsel ke-14 sejak 2025. Ia seorang politisi–dari Partai Demokratik Korea, –dan lawyer (korea.net).
***

Dua tempat itu berhubungan langsung dengan Kaisar Nero. Maka, menceritakan kedua tempat itu berarti mempertemukan, dalam kisah, Nero dan Paulus, dua sosok yang berbeda secara fundamental.
Katie Lee Gifford (2026), misalnya, menulis: Perbedaan antara Nero dan Paulus terletak pada benturan mendasar antara kekuasaan duniawi tertinggi (Nero) dan penyerahan spiritual yang radikal (Paulus) di Roma kuno. Nero adalah penguasa absolut yang melambangkan kesenangan diri dan tirani, sedangkan Paulus adalah rasul yang dipenjara (oleh Nero) yang pesan kasih karunianya membangun warisan abadi.
Kontras antara kedua tokoh ini ditentukan oleh peran inti, filosofi, dan warisan sejarah mereka: Nero Claudius Caesar Augustus Germanicus adalah Kaisar Roma ke-5 (memerintah dari tahun 54 hingga 68 M). Paulus dari Tarsus adalah seorang Rasul dan misionaris Kristen terkemuka yang melakukan perjalanan di Mediterania menyebarkan ajaran Yesus Kristus.
Sumber kekuasaan Nero bersifat politik dan militer, didukung oleh Kekaisaran Romawi, kekayaan, dan Garda Praetorian. Kekuasaan Paulus bersifat spiritual, mengandalkan kerendahan hati, iman, dan “Injil kasih karunia,” bahkan saat dipenjara dan dirantai (Institut Theopolis).
***

Menurut Harrison W Mark (2026), awalnya Nero populer di kalangan rakyat. Yang menarik: seni dan tirani menjadi ciri pemerintahannya. Ia gemar bernyanyi dan memainkan kecapi, sangat menyukai balap kereta kuda, dan sering berakting dalam drama tragedi.
Namun, pada saat yang sama, Nero bisa bertindak kejam untuk mengamankan kekuasaannya. Ia, misalnya, membunuh ibunya sendiri, Agrippina, yang dianggapnya terlalu dominan. Nero juga membunuh dua istrinya: Claudia Octavia dan Poppaea Sabina. Lawan-lawan politiknya–atau yang dianggap sebagai lawannya–baik di militer maupun di Senat, disingkirkan.
Akibatnya, pelan-pelan, Nero kehilangan popularitas. Rakyat mulai memalingkan wajahnya. Lawan-lawan politiknya mulai menyusun kekuatan, terutama yang jauh dari Roma. Popularitas semakin terpuruk setelah Kebakaran Besar Roma tahun 64 M. Api melalap 10 dari 14 distrik di Roma.
Menurut cerita, termasuk berdasarkan catatan sejarawan terbesar Roma, Tacitus (56-120) yang karyanya antara lain, Annals (tentang sejarah Romawi antara tahun 14-68), Nero-lah yang memerintahkan untuk membakar Roma. Tetapi, kata Daniel G Graetzer (2020), Nero mencari kambing hitam.
Ia menuduh orang-orang penganut agama baru, Kristen yang tak mau menyembah dewa-dewa Romawi, sebagai yang membakar Roma. Tuduhan itu yang menyebabkan penganiayaan secara brutal dan luas terhadap orang-orang Kristen.
***

Tindakan ini menandai titik balik bagi orang Kristen di Roma, yang sebelumnya menikmati tingkat toleransi dari pemerintah. Di bawah Nero, banyak orang Kristen yang dijatuhi hukuman mengerikan, termasuk dicabik-cabik oleh binatang, disalibkan, atau digunakan sebagai obor manusia selama pertunjukan publik.
Tindakan kejam tersebut tidak hanya menargetkan orang Kristen di Roma tetapi juga meluas ke wilayah lain seperti Asia Kecil. Akibatnya, popularitas Nero semakin memudar. Suara-suara tidak suka mulai bermunculan.
“Burung-burung pembawa sial hinggap di Capitol, rumah-rumah runtuh akibat gempa bumi yang berulang kali terjadi, dan orang-orang lemah terinjak-injak oleh kerumunan yang melarikan diri,” tulis Tacitus (pbs.org) melukiskan situasi saat itu.
Nero merasakan semua itu. Ia resah. Khawatir bahkan takut kehilangan kekuasaannya, yang dipegang sejak berusia,16 tahun. Ia semakin putus asa. Maka, ia mencoba menggalang dukungan Garda Praetorian, tetapi mereka pun merasakan bahwa keadaan mulai berbalik.
Salah seorang anggota Garda Praetorian mendesak Nero untuk menerima takdirnya, mengutip sebuah bagian dari Aeneid karya Virgil: “Apakah mati itu begitu menyedihkan?” (dikutip dalam Holland, 414).
Tacitus menulis, Subrius Flavius, salah seorang konspirator, mengatakan kepada Nero sebelum dieksekusi (Annal 15.67): ‘oderam te’, inquit. ‘nec quisquam tibi fidelior militum fuit, dum amari meruisti: odisse coepi, postquam parricida matris et uxoris, auriga et histrio et incendiarius extitisti.’
[Ia berkata: ‘Aku membencimu. Tak seorang pun prajurit yang lebih setia kepadamu, sementara kau pantas dicintai. Aku mulai membencimu setelah kau menjadi pembunuh ibumu dan istrimu, seorang kusir dan aktor, serta seorang pembakar.’]
Pemberontakan pecah di wilayah utara dan dengan cepat menyebar. Senat pun lalu menyatakan Nero sebagai musuh publik. Ini berarti bahwa siapa pun dapat membunuhnya tanpa hukuman. Akhirnya, Nero bunuh diri.
***

Dua tokoh itu, hidup berabad-abad lampau. Namun, kisah mereka terasa masih segar untuk dinikmati di zaman sekarang ini. Seakan, kisah mereka, sekarang dibacakan lagi.
Dahulu, di tengah dominasi dan kemerosotan Romawi, seorang rabi Yahudi yang beralih menjadi penginjil–setelah bertobat di Damaskus– menantang ideologi seorang kaisar yang sangat berkuasa tetapi tidak bermoral.
Kisah Nero dan Paulus adalah drama tentang kesombongan manusia dan takdir ilahi yang terungkap di panggung Kekaisaran Roma. Drama ini membawa dua pesan yang bersaing bertabrakan—dan pesan-pesan itu bergema hingga ke dunia modern kita.
Nero yang penuh kekayaan, kemewahan, seks, dan kekuasaan—pernak-pernik kesombongan seorang yang memproklamirkan diri sebagai dewa. Sebaliknya, Paulus dengan berani menawarkan apa yang sangat dibutuhkan dunia: kabar baik yang memberi kehidupan dari Mesias tentang kehadiran Allah yang berdiam di dalam umat-Nya.
Meskipun bentrokan pandangan dunia yang epik ini menyebabkan pertumpahan darah dan kematian. Tapi, kebenaran akan selalu memenangkan pertarungan. Ia yang memperoleh kehidupan dan benar-benar hidup.
Nero dan Paulus membawa semangat yang tidak hanya berbeda, tetapi bahkan bentrokan. Semangat antara Kaisar Nero dan Rasul Paulus, mewakili benturan pandangan dunia kuno yang paling mendasar: kekuasaan duniawi versus penyerahan diri spiritual.
Nero dikuasai semangat untuk mewujudkan pengejaran ego, dominasi, kekuasaan, dan kesenangan yang tertinggi; sementara, Paulus melambangkan kerendahan hati, kasih yang penuh pengorbanan, dan pengabdian pada misi abadi.
Menurut Paus Fransiskus, Santo Paulus adalah orang yang “selalu bergerak, gelisah, selalu sibuk.” Santo Paulus, “memiliki api di dalam dirinya, semangat kerasulan yang mendorongnya maju” ((L’Osservatore Romano, Weekly ed. in English, n. 25, 23 Juni 2017).
Sampai akhirnya, Paulus dihukum mati oleh Nero, karena “gerakannya, kegelisahannya, dan kesibukannya” dianggap membahayakan kekuasaan Nero yang digambarkan sebagai seorang tiran dan pembunuh; orang yang membakar kota Roma dan menyalahkan orang Kristen atas kejadian itu.
Nero, penguasa tertinggi yang tak tertandingi dari kerajaan terkuat di bumi; tak ada duanya dalam kedudukan dan kekuasaan, tak tertandingi dalam supremasi. Kata Katie Lee Gifford dalam Nero and Paul (2026) adalah jenis penguasa yang melakukan segala cara dan daya untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan.
Tetapi ketika di hadapannya, berdiri Paulus yang tua, miskin, tanpa teman, dan tak berdaya, Nero gundah, risau, dan khawatir dibuatnya. Inilah yang menurut para cerdik pandai disebut paradoks, “powerless is powerful,” tak berdaya itu kuat.” Dalam banyak konteks, mengakui keterbatasan diri adalah langkah pertama menuju pertumbuhan sejati.
***

Masa pemerintahan Nero berakhir dalam kekacauan, paranoia, dan bunuh diri pada tahun 68 M. Dan, sejarah mengingat Nero sebagai lambang tirani yang berlebihan. Paulus, yang kemungkinan diadili dan dimartir dengan dipenggal di Roma selama masa pemerintahan Nero, membangun warisan keagamaan yang membentuk peradaban Barat dan terus berdampak pada jutaan orang di seluruh dunia.
Maka Kathie Lee Gifford, lewat bukunya, Nero and Paul (2026), bertanya: Apakah kekuasaan, harta benda, dan popularitas akan membawa pada kebahagiaan dan kepuasan? Atau apakah transformasi batin dan cinta yang penuh pengorbanan diri membawa sukacita dan kepuasan terbesar? ***
Sangat mencerahkan. Dua tokoh bersejarah yang sangat kontras: Paulus vs. Nero…
Bahan perenungam.bagi penguasa.
Matur nuwun.
Salam Kredensial n berkah Dalem
Sangat menarik untuk dibaca karena penuh inspirasi
Waaah Terima kasih sharing nya ya mas Trias…
Sangat menarik sejarah manusia di muka bumi ini…
👍👍👍
“Kaisar” dan “rasul” seharusnya tidak saling meniadakan. Kekuasaan mengurus tata kehidupan bersama, sementara suara moral menjaga agar kekuasaan tidak melampaui batasnya. Ketika masyarakat sipil dan kaum cendekia dilemahkan, yang hilang bukan hanya kritik, melainkan juga kompas etis yang dibutuhkan bangsa untuk tetap berjalan di jalur yang benar.
Maturnuwun, mas Trias, yang senantiasa mencerahkan dan mengundang untuk ber-refleksi tentang situasi saat ini di tanah air. Tetap sehat, mas Dubes. Berkah Dalem 🙏
Hitam dan putih ketemu. Bukan jadi abu abu, tetapi menjadi putih semuanya.
Terimakasih mas Trias sharing ttg Basilika Santo Paulus; penjelasannya lebih lengkap drpd saat saya (istri & anak) berkunjung (via Rombongan Gracia) di bulan Nop.2025. Saya juga sempat berkunjung ke 2 Basilika lainnya dlm sehari; shg kami dpt Surat Keterangan Porta Santa dari Vatican (ttp sayang tdk dapat penjelasan dari fihak Gracia). Selamat berkarya dan berbagi informasi ttg kegiatan spiritual mas Trias Kuncahyono. Berkah dalem🙏
Terimakasih mas Trias sharing ttg Basilika Santo Paulus; penjelasannya lebih lengkap drpd saat saya (istri & anak) berkunjung (via Rombongan Gracia) di bulan Nop.2025. Saya juga sempat berkunjung ke 2 Basilika lainnya dlm sehari; shg kami dpt Surat Keterangan Porta Santa dari Vatican (ttp sayang tdk dapat penjelasan dari fihak Gracia). Selamat berkarya dan berbagi informasi ttg kegiatan spiritual mas Trias Kuncahyono. Berkah dalem🙏
Pencerahan yg sangat menyegarkan dan menakjubkan. Luar biasa sejarah keagamaan yang apik. Tks Pandito, pencerahannya. Sangat bermanfaat dan menjadi referensi.
Matur nuwun Dab Trias . . . .
Tambahan wawasan pengetahuan yang amat berguna . . . . tuturan yang runtut dan lengkap . . . .
Ciamik . . . !!!!
Matur nuwun sharing dan kisah kehidupan nyata berabad avad yang lalu dihadirkan dalam tulisan apik dan menarik sehingga melengkapi wawasan saya setelah sempat berkunjung ke Biara Tiga Air Mancur tahun 2025 yang lalu. Thanks a lot mas Trias🙏🙏
Sejarah adalah salah satu sumber untuk mengambil pelajaran. Mestinya, belajar menjadi lebih baik dan lebih berguna. Terutama saat memiliki kuasa. Bukan justru belajar menjadi sekadar lebih berkuasa dan lebih keras lagi.