DILEXI TE, AKU MENGASIHI ENGKAU

Paus Leo XIV menandatangani “Apostolic Exhortation Dilexi Te” didampingi Mgr Leonardo Sapienza (Dok. Vatikan)

Saya masih ingat percakapan ringan dengan Ignatius Kardinal Suharyo, bulan Mei lalu di Roma setelah konklaf. Ketika itu, menjawab pertanyaan saya, Kardinal Suharyo mengatakan kurang lebih demikian, “Untuk mengetahui arah kepausan Paus Leo XIV, kita tunggu nanti apa isi dan tekanan dari dokumen pertama yang dikeluarkan.”

Hari Kamis, 9 Oktober lalu, Paus Leo XIV, mengeluarkan dokumennya yang pertama.  Dari dokumen itu, orang akan membaca ke arah mana kepausan Paus Leo XIV akan mengarah. Dulu, dokumen pertama yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus, misalnya, adalah Lumen Fidei Terang Iman. Ensiklik ini merupakan penyempurnaan dokumen yang awalnya disusun oleh pendahulunya, Paus Benediktus XVI. Dokumen ini merefleksikan ‘Tahun Iman’ yang dimulai Paus Benediktus XVI.

Setelah Paus Benediktus XVI mengundurkan diri, dokumen tersebut diteruskan kepada Paus Fransiskus yang kemudian merampungkannya dan ditandatangani 29 Juni 2013 lalu dipublikasikan pada tanggal 5 Juli 2013. Artinya, kurang dari empat bulan setelah terpilih, 13 Maret 2013.

Eksiklik ini, Lumen Fidei, bisa dikatakan, mengindikasikan agenda kepausan Paus Fransiskus. Ensiklik Lumen Fidei berbicara tentang iman akan Yesus Kristus, yang merupakan anugerah agung Allah bagi manusia dan dunia. Dengan Terang Iman itu, Paus Fransiskus menginginkan “sebuah gereja yang tidak didasarkan pada busana mewah dan pernyataan yang tak pernah salah, melainkan pada kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama”.

Ia mengkritik gereja yang disibukkan dengan aturan-aturan picik dan menjadi museum bagi segelintir orang kudus, alih-alih, dengan semangat misionaris, menjadi tempat yang ramah bagi banyak orang.

***

Paus Leo XIV di Sala Clementina (Foto: Trias Kuncahyono)

Sama seperti Paus Fransiskus yang melanjutkan naskah dokumen Paus Benediktus XVI, yang akhirnya menjadi ensiklik Lumen Fidei, Paus Leo XIV pun demikian. Ia melanjutkan draft pertama yang sudah dimulai oleh Paus Fransiskus—yang tidak selesai karena sudah dipanggil pulang—dan kemudian menjadi dokumennya yang pertama: Apostolic Exhortation (Nasihat Apostolik)  yang diberi judul Dilexi Te.

Nasihat Apostolik Ini— Apostolic Exhortation—menjadi dokumen penting pertama dari sebuah kepausan yang sangat dinantikan dan dibaca sebagai indikasi agenda Paus yang baru. Paus Leo XIV telah memilih untuk menempatkan dokumen pertamanya, Dilexi Te (Aku Mengasihi Engkau), ke dalam kerangka Fransiskan. Maka ditandatangani pada Hari Raya Peringatan Santo Fransiskus dari Asisi, 4 Oktober 2025. Dan, dipublikasikan pada 9 Oktober 2025.

Dua tahun lalu, 4 Oktober 2023, Paus Fransiskus pada hari raya Santo Fransiskus menandatangani sebuah nasihat apostolik, Laudate Deum, Pujilah Tuhan. Nasihat apostolik ini merupakan sebuah analisis ilmiah yang sangat spesifik dan resep kebijakan terkait perubahan iklim. Dan, merupakan tindak lanjut dari ensikliknya tahun 2015 tentang lingkungan, Laudato Si, Terpujilah Engkau.

Dengan peduli pada orang miskin dan lingkungan Paus Fransiskus mengangkat Santo Fransiskus sebagai model “kepedulian terhadap rumah kita bersama.” Santo Fransiskus juga dikenal sebagai il Poverello, “Orang Miskin.”

Sekarang, dengan nasihat apostoliknya, Paus Leo XIV mengangkat “Orang Miskin.” Nasihat apostolik Dilexi Te membahas tentang kepedulian dan pelayanan kepada kaum miskin. Teks nasihat apostolik ini dimulai pada masa pemerintahan Paus Fransiskus, yang sering berbicara tentang mendengarkan dengan saksama “jeritan bumi” dan “jeritan kaum miskin”.

Memang, membaca judulnya, Dilexi Te, mengingatkan pada Nasihat Apostolik terkhir Paus Fransiskus, Dilexit Nos (Ia mengasihi kita), yang dikeluarkan pada 24 Oktober 2024, hampir enam bulan sebelum berpulang, 21 April 2025.

Dalam prolog nasihat baru tersebut, Paus Leo XIV menulis bahwa Paus Fransiskus sebelum wafat sedang mempersiapkan nasihat apostolik ini tentang kepedulian gereja terhadap kaum miskin sebagai tindak lanjut, dan memberinya judul.

Lalu, Paus Leo XIV menulis, “Saya senang menjadikan dokumen ini milik saya sendiri — dengan menambahkan beberapa refleksi — dan menerbitkannya di awal masa kepausan saya sendiri, karena saya memiliki keinginan yang sama dengan pendahulu saya tercinta agar semua orang Kristen menghargai hubungan erat antara kasih Kristus dan panggilan-Nya untuk peduli terhadap kaum miskin.”

Ada kesinambungan. Kesinambungan pusat perhatian antara Paus Fransiskus dan Paus Leo XIV. Dan, sebelumnya dari Paus Benediktus XVI dan Paus Fransiskus. Para paus, seperti yang dikatakan oleh Paus Leo XIV pada awal masa kepausannya, menekankan kesinambungan dengan ajaran dan kebijakan sosial para pendahulu untuk mengatasi tantangan kontemporer. Kesinambungan perhatian dan peduli kepada orang muskin dan papa.

Dengan mengeluarkan Dilexi Te,  pada  hari raya Santo Fransiskus Assis, Paus Leo XIV menempatkan dirinya dengan kokoh di jalur yang telah ditetapkan oleh para pendahulunya, termasuk Paus  Santo Yohanes XXIII, dengan seruannya, dalam Mater et Magistra, Ibu dan Guru (1961) kepada negara-negara kaya agar tidak tetap acuh tak acuh terhadap negara-negara yang tertindas oleh kelaparan dan kemiskinan ekstrem (83).

Paus Santo Paulus VI menambahkan suaranya sendiri dengan Populorum progressio, Perkembangan Bangsa-Bangsa (1967) dan penampilannya di Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai “pembela kaum miskin”; sebagaimana yang dilakukan Paus  Santo Yohanes Paulus II, yang mengonsolidasikan fondasi doktrinal Gereja pada “Preferential option for the poor.

Preferential option for the poor merupakan tema utama Ajaran Sosial Katolik, yang mengingatkan kita bahwa mereka yang mengalami kemiskinan diberi perhatian khusus di mata Tuhan. Oleh karena itu, kita dipanggil untuk mengutamakan kebutuhan mereka yang terpinggirkan dan rentan.

Dalam seruannya, Paus Leo Xiv menulis bahwa keutamaan bagi kaum miskin ini “tidak pernah menunjukkan eksklusivitas atau diskriminasi terhadap kelompok lain yang mustahil bagi Tuhan… Karena ingin meresmikan kerajaan keadilan, persaudaraan, dan solidaritas, Tuhan memiliki tempat khusus di hati-Nya bagi mereka yang didiskriminasi dan, Ia meminta kita, Gereja-Nya, untuk membuat pilihan yang tegas dan radikal demi mereka yang paling lemah.” (#16).

***

 

Wajah kemiskinan di India (Freepik)

Sangat menarik, bahwa Dilexi Te yang dikeluarkan Paus Leo XIV pada 4 Oktober 2025, dimulai dengan mengutip kisah perempuan yang menuangkan minyak mahal ke kepala Yesus (Matius 26:8-9,11). Tetapi, perempuan itu kemudian ditegur oleh salah seorang murid yang resah, “Untuk apa pemborosan ini? Sebab minyak narwastu ini dapat dijual dengan mahal dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin.”

Lalu dałam Dilexi Te, Paus Leo XIV, mengutip tanggapan Yesus terhadap kritikan tersebut: “Orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada padamu” (Mat. 26:8-9,11).

Perempuan itu melihat Yesus sebagai Mesias yang rendah hati dan menderita, yang kepadanya ia dapat mencurahkan seluruh kasihnya. Betapa besar penghiburan yang pasti dibawa oleh pengurapan itu bagi kepala yang dalam beberapa hari akan tertusuk duri! Itu adalah tindakan kecil, tentu saja, tetapi mereka yang menderita tahu betapa besarnya bahkan tindakan kasih sayang yang kecil sekalipun, dan betapa besar kelegaan yang dapat diberikannya. Yesus memahami hal ini dan memberi tahu para murid bahwa kenangan akan tindakannya akan kekal: “Di mana saja kabar baik ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia” (Mat. 26:13).

Kesederhanaan tindakan perempuan itu berbicara banyak. Tak ada tanda kasih sayang, sekecil apapun itu, yang akan pernah terlupakan, apalagi jika ditunjukkan kepada mereka yang tengah menderita, yang sedang kesepian, atau yang sedang membutuhkan, sebagaimana yang dilakukan Tuhan pada saat itu (#4)

Peduli pada orang miskin. Kata Paus Leo XIV, kepedulian terhadap kaum miskin menuntut lebih dari sekadar respons individual, meskipun memang demikianlah yang dibutuhkan. “Komitmen konkret terhadap kaum miskin juga harus disertai dengan perubahan mentalitas yang dapat berdampak pada tataran budaya,”

“Faktanya, ilusi kebahagiaan yang berasal dari kehidupan yang nyaman mendorong banyak orang menuju visi hidup yang berpusat pada akumulasi kekayaan dan kesuksesan sosial dengan segala cara, bahkan dengan mengorbankan orang lain dan dengan memanfaatkan cita-cita sosial yang tidak adil serta sistem politik-ekonomi yang menguntungkan yang terkuat” (#11).

Lalu, tulis Paus Leo XIV, “Kaum miskin tidak berada di sana secara kebetulan atau karena takdir yang buta dan kejam. Bagi sebagian besar dari mereka, kemiskinan bukanlah sebuah pilihan. Namun, ada orang-orang yang masih berani mengklaim hal ini, sehingga menunjukkan kebutaan dan kekejaman mereka sendiri,” (#14).

Dan, ini: “Juga tidak dapat dikatakan bahwa sebagian besar kaum miskin menjadi miskin karena mereka tidak ‘berhak’, sebagaimana dipertahankan oleh pandangan meritokrasi yang keliru yang hanya melihat orang sukses sebagai ‘berhak'” (#14). Ini adalah kata-kata yang keras tetapi tepat sasaran.

***

Foto ilustrasi: Freepik

Di bagian lain, Paus Leo XIV menggemakan kecaman pendahulunya terhadap “kediktatoran ekonomi yang membunuh” dan mengingatkan kita semua untuk tidak menerima alasan yang mempertahankan kebijakan ekonomi yang tidak adil.

“Banyak sekali teori yang mencoba membenarkan keadaan saat ini atau menjelaskan bahwa pemikiran ekonomi mengharuskan kita menunggu kekuatan pasar yang tak terlihat untuk menyelesaikan segalanya,” tulisnya. “Meskipun demikian, martabat setiap manusia harus dihormati hari ini, bukan besok, dan kemiskinan ekstrem semua orang yang martabatnya diingkari hendaknya terus-menerus membebani hati nurani kita” (#92).

“Di dunia di mana jumlah orang miskin semakin banyak, kita secara paradoks menyaksikan pertumbuhan kaum elit kaya, yang hidup dalam gelembung kenyamanan dan kemewahan, hampir di dunia yang berbeda dibandingkan dengan orang biasa,” tulis Paus. “Kita tidak boleh lengah dalam menghadapi kemiskinan.”

Sekarang ini, sekitar 700 juta orang hidup dalam kemiskinan ekstrem (pendapatannya kurang dari 2,15 dollar AS sehari), dengan hampir setengah populasi dunia (sekitar 3,5 miliar orang) hidup dengan penghasilan kurang dari 6,85 dollar AS sehari. Sementara 1,1 miliar orang dianggap hidup dalam kemiskinan multidimensi (UNDP, 2024; dengan 40 persen tinggal di negara-negara yang dilanda perang, kerapuhan dan/atau kedamaian rendah menurut setidaknya satu dari tiga kumpulan data yang digunakan secara luas tentang situasi konflik.)

Melihat kenyataan seperti itu, lewat Dilexi Te, Paus Leo XIV menyerukan “perubahan mentalitas” yang dapat membebaskan kita dari “ilusi kebahagiaan yang berasal dari kehidupan yang nyaman yang mendorong banyak orang menuju visi kehidupan yang berpusat pada akumulasi kekayaan dan kesuksesan sosial dengan segala cara, bahkan dengan mengorbankan orang lain dan dengan mengambil keuntungan dari cita-cita sosial yang tidak adil dan sistem politik-ekonomi yang menguntungkan yang terkuat” (11).

Dokumen pertama Paus Leo XIV ini mengingatkan pada kita semua tentang sifat kemiskinan yang multifaset di dunia modern. Pengucilan sosial, kerapuhan pribadi, kurangnya suara dan hak merupakan bentuk-bentuk kemiskinan serta kurangnya sumber daya material. Paus Leo XIV mendesak kita, bersama pendahulunya, untuk menghindari kriteria lama dan bersembunyi di balik gagasan bahwa segala sesuatu selalu membaik, dan mengabaikan bentuk-bentuk kemiskinan baru yang halus, yang mungkin jauh lebih berbahaya. Kita harus memperhitungkan meningkatnya ketimpangan, globalisasi ketidakpedulian, dan ketidakadilan yang membebani perempuan.

Pada akhirnya, Paus Leo XIV menyebutkan perlunya kita bersuara lebih lantang untuk menyerukan diakhirinya struktur dan sistem yang tidak adil yang membuat orang tetap miskin, bahkan jika orang lain menganggap kita bodoh atau naif. ***

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
16
+1
47
Kredensial