
Setiap kali masuk Basilika Santo Petrus, Vatikan, setiap kali pula rasa kagum meluap-luap. Tak terbendung. Kagum pada keindahan basilika. Basilika ini adalah “capolavoro” kata orang Italia atau “masterpiece” para seniman Zaman Renaisans.
Begitu banyak karya seni adiluhung ada di dalam dan luar basilika. Sebut saja, patung Pieta, karya seniman besar Michelangelo. Kata Pietà berasal dari kata Italia yang berarti “kasihan” dan kata Latin yang berarti “kesalehan” juga “cinta kasih orangtua kepada putranya.”
Dalam kesedihan dan kehancurannya, Bunda Maria tampak pasrah dengan apa yang telah terjadi. Ia tetap tampak anggun, indah. Sekalipun dalam keadaan tragis.
Patung itu begitu indah. Hidup. Tapi, sekaligus menilukan, menyayat hati. Betapa tidak menyayat hati. Puluhan tahun sebelumnya, Bunda Maria menggendong bayi Yesus tapi puluhan tahun kemudian, memangku jenazah Yesus yang penuh luka, sebelum dikafani dan dimakamkan.
Itulah pelukan terakhir kasihnya. Itulah kasih ibu. Kasih yang tak terhingga sepanjang masa. Kata Paus Fransiskus pada audiensi umum (2015), keibuan itu “lebih daripada sekadar melahirkan anak; itu adalah pilihan hidup, yang memerlukan pengorbanan,” hormat terhadap kehidupan, dan komitmen untuk meneruskan nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan yang sangat penting bagi masyarakat yang sehat.
Masyarakat tanpa ibu-ibu, kata Paus, akan menjadi “masyarakat yang tak manusiawi” karena dalam saat-saat tergelap sekalipun “ibu-ibu adalah saksi-saksi kelembutan, dedikasi dan kekuatan moral.”
Semoga Perawan Maria yang Terberkati senantiasa menyertai Anda: dialah “tota pulchra”, sungguh-sungguh cantik yang digambarkan oleh banyak seniman, yang direnungkan Dante di antara kemegahan Surga sebagai “keindahan yang merupakan sukacita di mata semua orang kudus lainnya”.(27) (Paradiso XXXI, 134-135.)
***

Mengapa keindahan itu berjejalan di dalam basilika–tidak hanya di Basilika Santo Petrus, tetapi juga di basilika lain, seperti Basilika Santa Maria Maggiore, Basilika Yohanes Lateran, dan Basilika Santo Paulus di Luar Tembok? Juga, gereja-gereja lainnya di Roma; dan banyak Eropa lainnya.
Kata Paus Fransiskus (2022), keindahan yang terpancar dari seni, puisi, dan musik dapat mengatasi rintangan dan mendekatkan manusia kepada Tuhan. Keindahan mampu menciptakan persekutuan, karena keindahan menyatukan Tuhan, manusia, dan ciptaan dalam satu simfoni; karena keindahan menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan; karena keindahan menarik orang-orang yang berbeda dan yang berjauhan ke tempat yang sama dan melibatkan mereka dalam tatapan yang sama.
Tatapan yang sama. Ya, tatapan ke arah obyek yang sama.
Petang itu, lebih dari 300 pasang mata yang mengikuti Misa Syukur 75 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia dan Takhta Suci, di Basilika Santo Petrus, Vatikan mengarahkan pandangan matanya ke satu titik: Cathedra Sancti Petri Apostoli atau Cathedra Petri atau, atau Takhta Santo Petrus, di belakang altar.
Altar itu disebut Altar Santo Petrus karena ada di depan Takhta Santo Petrus yang diletakkan di ceruk (apse) di ujung nave tengah. “Nave” adalah bagian tengah gereja, yang membentang dari pintu masuk utama atau dinding belakang hingga transept atau chancel. Istilah ini berasal dari kata Latin “navis” yang berarti “kapal”, yang cocok mengingat bentuk nave yang panjang dan sempit.
Apa yang ada di dalam apse itu memang indah. Di tengah apse terdapat Cathedra Petri, sebuah mahakarya dari Gian Lorenzo Bernini (1598-1659). Bernini, dalam Encyclopaedia Britannica ditulis sebagai seorang seniman Italia yang mungkin merupakan pematung terhebat abad ke-17 dan juga seorang arsitek yang luar biasa. Bernini menciptakan gaya patung Barok dan mengembangkannya sedemikian rupa sehingga seniman lain hanya dianggap kurang penting dalam diskusi tentang gaya tersebut.
Empat patung raksasa dari perunggu berlapis emas mengelilingi Takhta Santo Petrus itu yang tampak seolah-olah tergantung di tengah awan. Dua patung luar merupakan figur dua Doktor Gereja Latin: Santo Ambrosius (kiri luar) dan Santo Agustinus (kanan luar); dua patung dengan kepala telanjang, merupakan figur dua Doktor Gereja Yunani: Santo (kiri dalam) Athanasius dan Santo Yohanes Krisostomus (kanan dalam). Para santo ini melambangkan kekatolikan dan sekaligus, konsistensi ajaran para teolog dengan doktrin para Rasul.
Menurut catatan yang ada, Cathedra Petri dirancang antara tahun 1657-1666, sekitar 23 tahun setelah selesainya salah satu pencapaian penting Bernini lainnya di dalam basilika, yaitu kanopi besar di atas altar utama basilika, persis di atas makam St. Petrus. Kanopi perunggu bertiang empat, sangat megah dan elok. Para peziarah yang masuk basilika, pasti kepingin foto di depan kanopi.
***

Kalau pihak Vatikan mengizinkan Misa Syukur ulang tahun ke-75 Hubungan Diplomatik antara Indonesia dan Takhta Suci, diselenggarakan di depan Cathedra Petri, tentu ada maksudnya. Tempat itu indah, penuh makna.
Memang hubungan kedua negara indah dan penuh makna. Ibarat pohon, tumbuh subur dan berbuah banyak. Empat presiden Indonesia–Sukarno, Soeharto, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Sukarnoputri–sudah mengunjungi Vatikan.
Presiden Sukarno bertemu dengan tiga paus: Paus Pius XII, Paus Santo Yohanes XXIII, dan Paus Santo Paulus VI. Lalu, Presiden Soeharto bertemu Paus Santo Paulus VI. Sedangkan Presiden Abdurrahman Wahid bertemu Paus Santo Yohanes Paulus II. Dan, Presiden kelima, Megawati Sukarnoputri bertemu Paus Fransiskus.
Sebaliknya tiga paus melakukan kunjungan apostolik ke Indonesia: Paus Santo Paulus VI, Paus Santo Yohanes Paulus II, dan Paus Fransiskus yang bersama Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar (sekarang Menteri Agama) menandatangani Deklarasi Istiqlal, sebuah dokumen yang menegaskan komitmen terhadap kerukunan antarumat beragama.
Indonesia adalah salah satu negara yang dikunjungi Paus Fransiskus dalam lawatan panjang terakhirnya, September tahun lalu. Paus Fransiskus juga sangat terkesan pada Indonesia yang memiliki Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
Kata Paus Fransiskus, ketika itu, “Indonesia adalah negara besar, mozaik budaya, suku bangsa, adat istiadat, keberagaman yang sangat kaya, yang tercermin pula dalam keanekaragaman ekosistem dan lingkungan sekitarnya. … ketahuilah bahwa harta yang paling berharga adalah kemauan agar perbedaan tidak menjadi alasan untuk bertikai, tetapi diselaraskan dalam kerukunan dan rasa saling menghormati. Jangan sia-siakan anugerah ini!”
Paus Leo XIV saat menerima 200 warga negara Indonesia–romo, suster, dan awam dari KBRI Takhta Suci–dalam audiensi khusus pun, menegaskan lagi harta tak ternilai yang dimiliki bangsa Indonesia: Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Paus yang pernah berkunjung ke Indonesia–ketika menjadi pemimpin Ordo Santo Agustinus (OSA) pada tahun 2003 ke Papua–mengingatkan agar warga Indonesia di Roma, dan seluruh Italia, sungguh-sungguh menjadi Katolik, dan sungguh-sungguh menjadi warga Indonesia yang baik.
Maka di depan Cathedra Sancti Petri Apostoli itu, keindahan hubungan kedua negara diteguhkan, agar semakin bermakna, semakin subur dan buahnya pun melimpah (saat ini ada 1818 biarawan dan biarawati Indonesia di Italia), dalam banyak bidang.
***
Menyampain pidato singkat, ucapan terima kasih kepada Takhta Suci sebagai negara pertama di Eropa yang mengakui Kemerdekaan Indonesia (Foto: Abishai Sahadeva)
Apa yang membuat indah hubungan kedua negara seindah basilika dan Cathedra Sancti Petri Apostoli ?
Kata Kardinal Parolin dalam khotbahnya, hubungan resmi dua negara sejak 13 Maret 1950, dilandasi dengan semangat liturgis, doa, dan syukur. Maka, Kardinal Parolin menekankan makna doa syukur dalam memperingati hubungan diplomatik dua negara.
Syukur adalah perasaan terima kasih, terutama, kepada Tuhan atas berkat dan karunia-Nya. Maka, rasa syukur perlu dijadikan sebagai fondasi iman terhadap hal-hal apa pun yang terjadi dalam kehidupan rohani dan jasmani, baik yang menyenangkan, maupun yang tidak menyenangkan.
Salah satu sifat liturgi adalah komunal. Karena Liturgi (leitos: yang berhubungan dengan banyak orang dan ergon: kegiatan atau tindakan) adalah kegiatan bersama, melibatkan banyak orang dan dibuat demi kepentingan umum (banyak orang). Maka hubungan diplomatik kedua negara adalah untuk kepentingan banyak orang, untuk mewujudkan kebaikan bersama. Liturgi adalah jalan hidup yang melibatkan kepekaan sosial dan spiritual.
Kardinal Parolin mengingatkan bahwa fondasi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945 bertumpu pada prinsip-prinsip dasar: iman kepada Tuhan, persatuan nasional, keadilan sosial, dan nilai-nilai demokrasi (Pancasila). Prinsip-prinsip tersebut tidak hanya menjadi landasan kehidupan masyarakat Indonesia, melainkan juga menyediakan dasar kuat bagi terbangunnya hubungan diplomasi antara Indonesia dan Takhta Suci.
Sebab, prinsip-prinsip tersebut cocok atau senapas dengan diplomasi Takhta Suci. Diplomasi Takhta Suci bukan instrumen negara, sekecil apa pun, melainkan instrumen lembaga keagamaan, yaitu Gereja Katolik. Tujuan utamanya adalah tatanan spiritual, moral, dan kemanusiaan, termasuk penghormatan terhadap hak asasi manusia kolektif dan individual. Di antara hak-hak ini terdapat hak atas kebebasan beragama, tidak hanya bagi umat Katolik, tetapi juga bagi penganut semua agama lain.
Dengan demikian, Diplomasi merupakan salah satu cara untuk mewujudkan kehadiran resmi Gereja dalam komunitas internasional– termasuk dengan Indonesia– yang, saat ini, pada hakikatnya diarahkan untuk menggunakan dialog di tingkat kelembagaan guna mewujudkan harapan-harapan besar umat manusia seperti perdamaian antarbangsa, ketertiban internal, dan kemajuan masing-masing negara.
***

Takhta Santo Petrus, Cathedra Petri mengingatka apa yang dikatakan Paus Benediktus XVI, pada tahun 2012. Paus Benediktus XVI menggambarkan “kursi” (cathedra) sebagai “simbol misi khusus Petrus dan para penerusnya untuk menggembalakan kawanan domba Kristus, menjaganya tetap bersatu dalam iman dan kasih.
Maka Cathedra Sancti Petri Apostoli akan selalu mengingatkan semua itu. Seperti Petrus diingatkan akan perutusannya ketika hendak meninggalkan Roma, menghindari kejaran Kaisar Nero.
Karena itu, kalau perayaan ulang tahun ke-75 hubungan diplomatik diselenggarakan di depan Cathedra Petri, adalah untuk mengingatkan perutusan kita masing-masing; juga perutusan Indonesia dan Takhta Suci di tengah dunia yang terus bergerak maju dengan segala macam persoalan dan tantangannya.***
Foto-foto lain:














Selalu mendapatkan hal baru dari tulisan Mas Trias. Terima kasih Mas. Salam dari Kupang, NTT
Selamat untuk 75 hubungan baik dan erat, Indonesia dan Tahta Suci di Vatican. Selamat berkarya Mas Trias
Matur nuwun Dab . . . .
Pelengkapan atau penyempurnaan deskriptif lingkungan pisik secara lengkap, yang tentu saja akan melengkapi bagi mereka yang pernah melihat secara pisik lingkungan Basilika Santo Petrus . . . .
Selamat atas relasi Vatican – Indonesia selama 75 tahun, yang tentu saja dengan harapan bahwa relasi tsb tdk akan pernah usai . . . .
Luar biasa. Memberi wawasan baru
Seolah ikut serta dalam misa ulang tahun hubungan persahabatan Indonesia – Tachta Suci yg megah. Selamat atas Ulang Tahun ke 75 Indonesia – Tachta Suci ….
Matur nuwun dik
Salam,
Lupie