
Ini kali yang kedua, kami mengunjungi biara Suster-suster Compossionate Serve di Maria (CSM), Suster-suster Pelayan Maria yang Penuh Kasih di Castellamare di Stabia. Di Castellamare ada pula biara para suster Instituto Piccole Ancelle di Cristo Re, Kongregasi Pelayan Kecil Kristus Raja.
Saat kunjungan pertama beberapa bulan lalu, kami bahkan sempat menginap semalam. Waktu itu, ada kegiatan “Warung Konsuler” dan pertemuan dengan para romo dan suster Indonesia yang berkarya di sekitar Pompeii.
Castellamare memang tidak jauh dari Pompeii, kota yang pernah hilang disapu letusan Gunung Visuvius, yang meletus pada tanggal 24 Oktober 79. Cerita tentang letusan dahsyat Visuvius itu diceritakan penulis Romawi, Pliny the Younger (61 – 113). Ia menggambarkan akibat yang sangat dramatik dari letusan itu dalam suratnya kepada Tacitus, sahabatnya.
Menurut Pliny the Younger, letusan itu mengubur kota Pompeii dan Herculaneum. Sekarang bisa kita lihat, sisa-sisa kota Pompeii yang dulu terkubur. Vesuvius kemungkinan besar muncul kurang dari 200.000 tahun yang lalu. Meskipun tergolong gunung berapi muda, Vesuvius telah tidak aktif, tidur, selama berabad-abad sebelum letusan dahsyat tahun 79 M yang mengubur selain kota Pompeii dan Herculaneum, juga Oplontis, dan Stabiae.
Sejak saat itu, Pompeii pada dasarnya hilang dan terlupakan hingga ditemukan kembali pada tahun 1748. Berkat penggalian yang masih berlangsung hingga saat ini, para ilmuwan dapat mengetahui dengan tepat apa yang terjadi pada hari mengerikan itu.
****

Dari Castellamare ke Pompeii tidak jauh. Kedua kota itu hanya dipisahkan jarak sekitar 9 km. Sementara, Castellamare berada, 247,5 km sebelah selatan Roma.
Castellammare adalah gabungan dari dua kata: castellum yang berarti tempat yang diperkuat, kubu, benteng, atau kota yang diperkuat dengan benteng; dan mare yang berarti laut.
Menurut catatan sejarah, dahulu 100 meter di atas laut berdiri benteng, Castello a Mare, Benteng di atas Laut. Maka disebut Castellammare. Begitulah cerita singkatnya kota berpemandangan indah itu.
Nama kota itu Castellamare di Stabia, disebut demikian karena letak Castellamare tak jauh dari Stabia. Kota Stabia yang dulunya bernama Stabiae, terkubur abu Gunung Visivius. Letak Stabiae hanya 4,5 km dari Visius.
Biara Suster-suster Compossionate Serve di Maria (CSM) yang kami kunjungi berada di wilayah perbukitan menghadap ke Teluk Napoli. Di belakang biara berdiri kokoh menjulang tinggi bukit bagian dari Gunung Faito. Di lereng bukit bagian bawah ada banyak bangunan: ada rumah, gereja, dan kastel.
Maka suasana biara adem, tenang, sejuk, nyaman. Bila berada di belakang biara: ke depan memang laut, ke samping bukit hijau. Antara bukit dan biara dipisahkan hamparan lembah yang ditanami aneka pohon, termasuk pohon buah-buahan–anngur merah dan hijau, jeruk, serta kiwi, dan sayuran: antara lain ada wortel, kol, sawi, dan tomat
***

Hari itu empat biarawati Indonesia berkaul kekal. Keempatnya dari Pulau Timor: Sr. Gaudensia Anin dari Kabupaten Kefa, Sr. Maria Naiati dari Kabupaten Kefa, Sr. Florida Manu dari Kabupaten Soe , dan Sr. Maria Goreti dari Kabupaten Soe. Bersama mereka, yang juga berkaul kekal, seorang dari India, dan seorang lagi dari Myanmar.
Kongregasi Compossionate Serve di Maria (CSM), yang sekarang dipimpin oleh Suster Maria Raffaela Todisco ini didirikan oleh Beata Maria Maddalena Starace—yang kemudian bernama Mary Magdalene of the Passion–tahun 1869 dan diresmikan 1871 di Castellamare.
Menurut cerita, sepanjang hidupnya, Suster Maria Maddalena mengamalkan kebajikan-kebajikan teologis dan human virtues (kebajikan manusia) atau cardinal virtues (kebajikan utama) yang memungkinkannya hidup beriman dan berserah diri kepada kehendak Tuhan dalam segala hal. Ada empat kebajikan utama: _prudence_ (kehati-hatian), justice (keadilan), fortitude (ketabahan), dan temperance (kesederhanaan).
Ada makna tentang kesucian dari Suster Maria Magdalena yang sangat menarik: “Dunia tidak diperbarui ketika orang-orang memahami kesucian sebagai sesuatu selain memenuhi tugas-tugas negara. Pekerja akan disucikan di tempat kerjanya, prajurit akan menjadi orang suci di ketentaraan. Pasien akan disucikan di rumah sakit, mahasiswa melalui studinya, petani di ladang, para romo melalui pelayanannya, administrator di kantornya.”
Kata pendiri suster-suster CSM ini: “Setiap langkah maju di jalan menuju kesucian adalah langkah dalam pengorbanan untuk memenuhi tugas seseorang.”
Semua itu dijalani dengan penuh penghayatan oleh para suster-suster CSM. Tentu, termasuk empat suster Indonesia yang hari itu berkaul kekal. Mereka berpegang teguh pada pesan pendiri dalam menjalankan tugasnya: Ketika engkau tidak dapat berbicara kepada manusia tentang Tuhan, berbicaralah kepada Tuhan tentang manusia.
***

Yang selalu saya ingat setiap kali menghadiri kaul kekal suster biarawati adalah tiga kaul mereka: “…faccio voto di obbedienza, poverta, e castuta per tutta la vita…”, …saya berkaul untuk patuh, miskin, dan suci seumur hidup…”
Menurut Katekismus Gereja Katolik kaul adalah : Janji kepada Allah yang dibuat dengan tekad bulat dan bebas mengenai sesuatu yang lebih mungkin dan baik, harus dipenuhi demi keutamaan agama. Kaul adalah suatu tindakan penyerahan diri, yang dengannya warga Kristen menyerahkan diri kepada Allah atau menjanjikan suatu perbuatan baik pada-Nya.
Dengan memenuhi kaulnya, ia mempersembahkan kepada Allah, apa yang telah ia janjikan atau ikrarkan ( KGK 541 ). Kaul merupakan anugerah dan sarana agar kita yang terpanggil, dapat memberikan diri dengan penuh kebebasan seperti Kristus memberikan diri-Nya kepada Gereja dan manusia.
Maka berkaul berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Dan, motivasi terdalam dari hidup berkaul hanyalah karena cinta Tuhan yang lebih dahulu mencintai kita. Penghayatan akan hidup Kaul merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan yang telah memberikan diri-Nya melalui Putra-Nya Yesus Kristus, bagi keselamatan manusia. Untuk itu melalui Kaul yang kita ikrarkan menuntut kita untuk melakukan hal yang sama seperti Yesus, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah, sesama dan Gereja demi kemuliaan Allah dan keselamatan sesama( kons. No 28 ).
Pasti, tidak mudah menjalankan tiga kaul itu di zaman sekarang ini. Mana ada orang mau hidup miskin? Kalau bisa justru kaya-raya dan kekayaan itu didapat dengan cara mudah. Salah satunya, dengan jalan pintas: korupsi.
Kemiskinan berarti hidup miskin dalam kenyataan dan dalam semangat, hidup kerja dalam kesederhanaan dan jauh dari kekayaan duniawi. Di samping itu membawa serta ketergantungan dan pembatasan dalam hal penggunaan serta penentuan harta benda menurut peraturan hukum masing-masing tarekat (Kitab Hukum Kanonik, Kanon. 600).
Sudah miskin, harus patuh. Patuh pada pimpinan; menaati semua aturan kongregasi, aturan biara. Setiap kongregasi suster, aturannya berbeda-beda. Yang sama adalah semua suster anggota kongregasi–apa pun–harus patuh.
***

Tetapi empat suster dari Timor itu–juga dua orang lainnya–meninggalkan kampung halamannya yang nun jauh di sana, dan memilih “hidup susah dengan tiga kaulnya” itu di Castellamare. Mereka sadar sepenuhnya apa artinya vocatio, panggilan hidup; apa artinya meneguhkan vocatio-nya dengan mengucapkan kaul itu.
Dengan vocatio–panggilan hidupnya–mereka ingin memberi makna pada hidupnya. Setiap manusia menginginkan hidupnya bermakna, bermartabat, dan berguna bagi dirinya sendiri dan orang lain. Makna hidup berfungsi sebagai arah dan pedoman dalam kegiatan yang akan di lakukan, sehingga makna hidup itu seakan – akan menantang untuk dicapai dan dipenuhi.
Seseorang akan memiliki kehidupan yang bermakna ketika mengetahui apa makna dari sebuah pilihan hidupnya, yang tidak dapat diberikan oleh siapapun dan harus dicari dan ditemukan sendiri.
Maka, dengan panggilan hidupnya, mereka menebar kebajikan kepada banyak orang. Kata Suster Maria Magdalena: “Kebajikan itu seperti matahari, yang, bahkan dengan pintu tertutup, masuk melalui celah-celah.”
***

Castellammare memang indah, seindah janji dalam kaul kekal yang diucapkan para suster yang kemudian melantunkan lagu pujian, yang juga sangat indah:
l’anima mia magnifica il Signore
e il mio spirito esulta in Dio, mio Salvatore
Jiwaku memuliakan Tuhan
dan hatiku bersukacita karena Allah, Juruselamatku….
Foto-foto lain:











Terima kasih mas Dubes, bagus sekali dan menyentuh tulisannya. Tepat sekali, kebajikan itu seperti matahari yg akan menembus dan memberikan cahaya/terang meski hanya lewat celah yg sangat sempit sekalipun.
Selamat Berkarya terus, salam sehat dan berlimpah berkat utk mas Trias dan klga.
Terima kasih Mas Trias untuk tulisan yang selalu menarik dan kaya pesan bernas. Sedikit koreksi mengenai tempat asal empat biarawati Indonesia.
Nama kabupaten bukan Kabupaten Kefa dan Kabupaten Soe tapi Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
– Kefa (Kefamenanu) adalah ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara
– Soe adalah ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan
Demikian Mas. Terima kasih
Salam dari Pulau Timor
Untuk menemukan makna panggilan hidup terkadang diperlukan mengalami aneka warna peristiwa yang tidak selalu mudah.
Dari situ lahir kebajikan yang mengkristal, sehingga mampu menghayati panggilan hidupnya dengan sadar agar bisa bermanfaat untuk sesama.
Apapun bentuk panggilan hidupnya
Sebuah tulisan yang sangat inspiratif dari mas Dubes Trias, bravo Monsegneur Trias !
Tulisan yang menarik. Terima kasih Pak Trias.
Semoga para Suster dari Timor selalu setia dalam kaul dan menjadi pelayan yang penuh kasih.
Mas Trias matur nuwun atas informasi yang komprehensif, apik dan mencerahkan. Tulisan tentang letak geografis menggiring pikiran membayangkan keindahan Castellammare dan pesan kaul kekal mengusik kesadaran diri. Selamat berkarya untuk para suster diaspora dari Indonesia teriring doa agar mereka senantiasa dilimpahi berkat kesehatan, kepatuhan dan kebahagiaan dalam pelayanannya. Terima kasih ditunggu tulisan berikutnya dan GBU
Matur nuwun Dab , , , , ,
Statement yang bagus . . . . Ketika engkau tidak dapat berbicara kepada manusia tentang Tuhan, berbicaralah kepada Tuhan tentang manusia . . . . .
Mas Trias terima kasih. Saya ikut membayangkan suster-suster dari Kefa dan Soe (Timor Barat) mengucapkan kaul kekal, termasuk meninggalkan keluarga, kebudayaan, sejarah, dan tempat tinggal. Memang lompatan besar.
Amat mendalam.