
Pertemuan di Sala Clementina, Istana Vatikan itu, akan selalu dikenang. Dikenang banyak orang. Sekurang-kurangnya, dikenang 200 orang warga negara Indonesia, yang hadir pada pertemuan siang itu. Suatu ketika, mereka akan mengatakan, “Ingat, saat bertemu di Sala Clementina itu …”
Ini kali yang pertama, para biarawan dan biarawati yang tergabung dalam IRRIKA (Ikatan Rohaniwan Rohaniwati Indonesia di Kota Abadi; meskipun sekarang anggotanya tidak hanya yang tinggal di Roma, tetapi di seluruh Italia) dan Rehat serta Keluarga Besar KBRI Takhta Suci, diterima Paus secara bersama-sama. Ini audiensi istimewa. Walaupun banyak yang kecewa karena tidak bisa salaman, tidak bisa foto bersama.
Paus Leo XIV mengatakan ini pertemuan spesial. Sebab, audiensi ini untuk memperingati setahun kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia (September 2024). Dan, ulang tahun ke-75 Hubungan Diplomatik Republik Indonesia dan Takhta Suci.
Peristiwa spesial itu berlangsung di tempat spesial juga: Sala Clementina atau Aula Clementine. Nama Clementine ada hubungannya dengan Santo Clement (Klemens). Memang, pada abad ke-16 ketika aula itu dibangun atas prakarsa Paus Klemens VIII, khusus dipersembahkan untuk Paus Klemens (Clement) I yang bertakhta dari 92 – 101. Paus Clemens I adalah paus keempat atau penerus Petrus yang ketiga.
Dari 267 paus hingga saat ini, ada 15 paus yang menggunakan nama Clement. Paus Clement I disebut sebagai “Bapa Apostolik” pertama. Ia dikenal karena “Surat Pertama kepada Jemaat Korintus” yang ditulisnya untuk membahas perpecahan dalam komunitas Korintus.
***

Aula itu begitu indah, seindah aula-aula lainnya di kompleks Istana Kepausan Vatikan; juga seindah kapel di lingkungan kompleks istana. Sebut saja Kapel Sistina yang baik langit-langit maupun dinding-dindingnya, dihiasi fresko karya para seniman renaisans, kondang seperti Michalangelo.
Aula Clementine terletak di lantai dua, di pintu masuk apartemen kepausan. Untuk masuk ke aula ini melewati tangga dengan banyak anak tangga yang diberi nama Scala Nobile. Sala Clementina saat ini berfungsi sebagai ruang tunggu , sebagai ruang vesting jika digelar resepsi besar di Aula Konsistorial, dan pada kesempatan yang jarang terjadi untuk resepsi ziarah atau perwakilan besar.
Dalam beberapa kasus, aula ini digunakan untuk berbagai upacara dan ritual. Clementine Hall juga ruangan tempat jenazah Paus disemayamkan. Di tempat itu, para pejabat Vatikan memberikan penghormatan terakhir. Dulu, jenazah Paus Yohanes Paulus II disemayamkan di aula itu, sebelum dipindahkan ke Basilika Santo Petrus.
Di bagian belakang aula ini terdapat divisi Pengawal Swiss. Pintu di sebelah kanan mengarah ke apartemen Paus, pintu di sebelah kiri mengarah ke Loggie, dan pintu di belakang langsung menuju Aula Konsistorial. Dinding marmer yang megah tingginya lebih dari enam kaki; di atasnya menjulang lukisan dinding hias yang berani dengan perspektif yang indah, memanjang di sepanjang langit-langit yang membulat. Di tengah langit-langit tergantung lampu gantung kolosal, yang patina hijaunya berpadu indah dengan keseluruhan harmoni warna.
Di atas pintu terdapat lukisan dinding “Kemartiran St. Clement” karya pelukis Belanda Paul Bril. Di dinding seberangnya terdapat lukisan dinding “Pembaptisan St. Clement” karya pelukis Italia Cherubino Alberti dan Baldassare Croce, serta “Alegori Seni dan Sains” karya Giovanni dan Cherubino Alberti.
Fresko yang indah-indah itu bergaya Renaisans, sesuai zamannya. Di langit-langit, misalnya, ada fresko karya Giovanni dan Cherubino Alberti tahun 1595, yang diberi nama “The Apotheosis of St. Clement.” Istilah “apotheosis” berarti pemuliaan. Sehingga fresko tersebut menggambarkan kenaikan Santo Klemens dari Roma ke dalam keadaan surgawi dan ilahi. Fresko itu menggambarkan Santo Clement berlutut dikelilingi oleh para malaekat.
***

Di ruangan yang indah itu, pertemuan indah berlangsung. Audiensi umum dengan Paus, adalah kebiasaan baru di Vatikan. Baru, artinya tidak sudah ada sejak berabad-abad lampau.
Mula pertama yang mengadakan audiensi umum sebagai sarana katekese adalah Paus Pius XII pada bulan April 1939 (EWTN Vatican). Audiensi pertama ini khusus bagi pasangan yang baru saja menikah.
Hingga pecah PD II, audiensi mingguan ini terus berlanjut. Ketika perang semakin dahsyat dan Roma diduduki tentara Nazi tahun 1943, audiensi ditiadakan karena tidak memungkinkan dari segi keamanan.
Baru kemudian di masa kepausan Paus Santo Yohanes XXIII, audiensi diselenggarakan lagi. Paus Santo Yohanes XXIII pertama kali mengadakan audiensi dengan para guru. Tetapi, audiensi itu tidak diselenggarakan di Vatikan melainkan di tempat peristirahatan paus di musim panas yakni Castelgandolfo.
Di masa kepausan Paus Santo Paulus VI, dilakukan pembaharuan audiensi. Misalnya, Paus mulai 13 Juli 1963, menyampaikan salam kepada para peziarah dan umat beriman dalam berbagai bahasa, selain Italia: Perancis, Spanyol, Jerman, dan Inggris.
Karena sudah menjadi tradisi, Paus Yohanes Paulus I pun, meski hanya menjabat selama 33 hari, sempat memberikan audiensi. Tidak hanya sekali. Tapi, empat kali. Tema yang dipilihnya, ketika itu, adalah keutamaan iman, harapan, dan kasih.
Kata Paus Yohanes Paulus I: “Dalam Sinode 1977, beberapa uskup mengatakan: ‘Khotbah-khotbah Paus Paulus VI pada hari Rabu merupakan katekese sejati yang disesuaikan dengan dunia modern. Saya akan berusaha meneladaninya, dengan harapan dapat, dengan cara tertentu, membantu orang-orang menjadi lebih baik.”
Ketika Paus Yohanes Paulus II mengadakan audiensi publik pertamanya pada akhir Oktober 1978, ia melanjutkan tema yang dimulai oleh pendahulunya. “Hari ini kita harus berbicara tentang keutamaan lain, karena dari catatan almarhum Paus (Yohanes Paulus I) saya mengetahui bahwa beliau bermaksud untuk berbicara tidak hanya tentang tiga keutamaan teologis: iman, harapan, dan kasih, tetapi juga tentang empat kebajikan utama,” katanya.
Empat kebajikan utama–four cardinal virtues-– prudence (kehati-hatian, wisdom), justice (keadilan), fortitude (ketabahan, courage), dan temperance (kesederhanaan, self-control).
Kata Peter Kreeft, “kebajikan-kebajikan dasar” ini merupakan fondasi untuk menjalani kehidupan yang bermoral, sementara semua kebajikan lain berada di bawah dan bergantung padanya. Kebajikan-kebajikan ini disebut “kebajikan manusiawi” karena memandu tindakan kita dalam hubungannya dengan diri sendiri dan orang lain, dan dapat dikembangkan melalui upaya pribadi dan ditingkatkan oleh kasih karunia Tuhan (Catholic Education Resource Center, 1986)
Semua peziarah di Roma, yang ingin berkesempatan bertemu dan berdoa bersama Bapa Suci bisa ikut audiensi. Biasanya, audiensi diadakan di Lapangan Santo Petrus, yang dapat menampung lebih dari 50.000 peziarah, dimulai pukul 10.00.
Tetapi, selama musim panas bila panas sekali dan musim dingin yang dingin sekali, audiensi dipindahkan ke dalam ruangan, yaitu Aula Audiensi Paulus VI, yang dapat menampung sekitar 6.000 peziarah. Aula ini terletak di sebelah kiri Basilika Santo Petrus.
Satu hal yang perlu dipahami: Audiensi Kepausan bukanlah Misa, melainkan waktu katekese dan doa. Biasanya, dimulai dengan bacaan singkat dari Kitab Suci. Setelah itu, Paus menyampaikan homili berdasarkan bacaan tersebut. Setelah Paus selesai berkhotbah, ringkasan khotbahnya disampaikan dalam delapan bahasa utama.
Audiensi kemudian ditutup dengan Berkat Apostolik dari Paus kepada semua peziarah yang hadir atau mengikuti audiensi melalui media sosial.
***

Siang itu, kami di Sala Clementina. Di tempat itu, Paus Leo XIV berpesan, “Saya mendorong kalian semua untuk menjadi nabi persekutuan di dunia yang begitu sering hendak dipecah-belah dan diprovokasi.”
Pesan yang sangat tepat untuk saat ini karena di mana-mana muncul “kekuatan pemecah belah.” Banyak faktor atau entitas yang menyebabkan perpecahan, konflik, atau perselisihan dalam suatu kelompok, masyarakat, atau negara. Faktor-faktor itu bisa berupa tindakan yang sengaja ditujukan untuk menciptakan perbedaan pendapat, atau isu-isu sosial dan politik yang dimanfaatkan untuk memecah belah masyarakat.
Paus Leo XIV juga berpesan agar warga Indonesia yang tinggal di Roma (di Italia) menjadi umat Katolik yang setia sekaligus warga Indonesia yang bangga, “berbakti kepada Injil dan membangun keharmonisan dalam masyarakat.” Dalam bahasa Uskup Agung pertama Semarang Mgr Sugiyapranata, “Seratus persen Katolik, Seratus Persen Indonesia.
***

Di Sala Clementina, kami bertemu Paus Leo XIV untuk menandai 75 Hubungan Diplomatik RI dan Takhta Suci. Hubungan kedua negara pada tingkat diplomatik secara resmi dimulai pada 13 Maret 1950. Meskipun sejak tahun 1947–dua tahun setelah Indonesia Merdeka–Takhta Suci sudah mengakui kemerdekaan dan kedaulatan NKRI, antara lain atas peran besar Mgr Sugiyapranata. Takhta Suci menjadi negara pertama di Eropa yang mengakui kemerdekaan Indonesia.
Kata Paus Leo XIV, Takhta Suci telah mendampingi bangsa Asia Tenggara, khususnya Indonesia, sejak kemerdekaannya. Ikatan tersebut telah dibangun di atas rasa hormat, dialog, dan komitmen bersama terhadap perdamaian dan harmoni.
Ia mengenang Perjalanan Apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia sebagai kunjungan istimewa yang mempererat persahabatan ini. Dialog antaragama menjadi sorotan utama dalam kunjungan almarhum Paus Fransiskus terutama saat beliau mengunjungi Masjid Istiqlal.
Saat itu, Paus Fransiskus bersama Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar (sekarang Menteri Agama) menandatangani Deklarasi Istiqlal untuk memupuk persatuan demi kebaikan umat manusia.
Paus Leo XIV memuji warga negara Indonesia, baik rohaniwan-rohaniwati maupun awam, yang terus merawat tradisi dan saling peduli. Kata Paus, “Bahkan jauh dari rumah, kalian melestarikan tradisi kalian yang semarak dan saling peduli.”
Satu hal yang dicatat Paus Leo XIV, yang dulu juga dikagumi Paus Fransiskus, adalah ikatan yang kuat antar-umat beragama, antara umat Kristen dan non-Kristen di Indonesia. Meskipun, jumlah umat Katolik hanya sekitar 3 persen di tengah mayoritas penduduk yang Muslim. Kata Paus hal itu menjadi wujud dari motto bangsa “Bhinneka Tunggal Ika.”
Mengutip apa yang pernah dikatakan Paus Fransiskus, Paus Leo XIV mengatakan, “masyarakat Indonesia membentuk ‘jalinan pemersatu’, diikat oleh keinginan bersama untuk mewujudkan kebaikan; sesungguhnya, menjaga keharmonisan di tengah keberagaman bagaikan sebuah ‘karya seni yang dipercayakan kepada setiap orang’ yang rumit.”
“Jalan dialog—jalan persahabatan,” kata Paus Leo XIV, “mungkin menantang, tetapi menghasilkan buah perdamaian yang berharga.”
***
Di Sala Clementina, kami bertemu. Kata Paus Leo XIV, “Pertemuan audiensi ini merupakan tanda buah-buah iman dan persatuan yang baik,” kata Paus Leo yang mendoakan agar warga negara Indonesia di Roma, di Italia, di manapun menjadi “pembangun jembatan antara bangsa, budaya, dan agama.” ***
Foto-foto lainnya:













Semoga pertemuan ini membawa berkah bagi saudara2 kita di Nusantara…
Luar biasa. Sy kira sala clementia artinya aula belas kasih untuk orang Indonesia yg sdg prihatin krn korupsi masuk kemana mana kadilan merana. Ternyata nama Paus. Ini kalau pak Dubes nya wartawan pintar bikin berita yg bisa dibaca dari baliknya ..sengaja atau tidak. Apalagi disitu untuk baringkan jenasah Paus sebelum dibawa ke Gereja St. Peter. Yg paling menajubkan Patung Maria dari Jawa akan bersanding dgn patung2 karya pemahat klas dunia. Bravo mas Widiyanto. Hidup orang Indonesia. Trims banyak pak dubes Trias.
Terima kasih pa Dubes. Ceritanya begitu hidup, serasa hadir disana.
Matur nuwun Dab . . . . mewakili kami suluruh bangsa dalam pertemuan di Sala Clementina . . . . Matur nuwun pula pandangan mata serta latar belakang yang sangat bermanfaat untuk kami ketahui . . . . .
Mas Trias satu terobosan yang luar biasa untuk membangun hubungan diplomatik dan pengembangan iman. Semoga umat Katolik Indonesia mampu menjadi nabi persatuan dan membangun kepedulian kepada sesama dalam iman, harapan dan kasih..Thanks a lot atas sharingnya dan see you soon 🙏🙏
Luar biasa Pak DuBes….Kepingan demi kepingan moment istimewa dengan Bapa suci ditata dan dirajut…. semoga Indonesia semakin terberkati. Amin
Matur nuwun sanget njih Mas DUBES ….luar biasa, berkah dalem
Sangat menyegarkan pencerahan yg diberikan Pandito Trias. Bergizi ilmu dan bermanfaat utk diamalkan. Salam Pandito.
Terima kasih mas Dubes.
Mas Trias mat pagi. Terima kasih banyak. Tulisan informatif tetapi sekaligus menarik, komunikasi Paus Leo CXIV dengan orang-orang Indonesia. Saya terkesan dengan pesannya supaya kita menjadi nabi persaudaraan lintas batas yang sejati.
Terima kasih banyak juga untuk berbagai foto yang membuat berita menjadi makin kaya dan lebih visual.
Juga beberapa instagram.