Di Aula Paulus VI, Senin, 25 Mei 2026, pukul 11.30, kami menyaksikan–lebih kerennya: menjadi saksi sejarah– peluncuran ensiklik pertama Paus Leo XIV. Ensiklik itu, ‘Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence.’
Kata Magnifica Humanitas dalam bahasa Inggrisnya Magnificent Humanity, atau Kemanusiaan yang Agung: Tentang Perlindungan Pribadi Manusia di Abad Kecerdasan Buatan.
Menurut etimologinya, ensiklik (dari bahasa Yunani egkyklios, kyklos yang berarti lingkaran) adalah surat edaran. Elizabeth Huddleston dalam Church Life Journal, 25 Maret 2025, menjelaskan demikian: Ensiklik adalah surat pastoral dari Paus yang ditujukan kepada semua uskup Gereja Katolik untuk disebarkan kepada seluruh umat beriman, “to all people of good will.”
Surat-surat ini merupakan bagian dari wewenang pengajaran biasa Paus. Ensiklik mencakup berbagai topik, termasuk masalah iman dan moral, isu-isu sosial, dan petunjuk bagi umat beriman. Ensiklik dicirikan oleh sifat didaktiknya, menawarkan pengajaran dan bimbingan komprehensif tentang isu-isu kontemporer. Meskipun tidak memiliki status hukum formal seperti bulla (surat keputusan), ensiklik memiliki bobot doktrinal yang signifikan dan sering dianggap sebagai sumber otoritatif pengajaran Katolik.
Dalam Catholic Review (2026) Father Joseph Parisi menjelaskan secara singkat, demikian: Ensiklik adalah surat pastoral yang ditulis oleh Paus dan ditujukan kepada seluruh Gereja. Surat-surat ensiklik umumnya membahas masalah iman atau moral, mendorong peringatan atau devosi saleh tertentu, atau membahas masalah disiplin Gereja yang harus dipatuhi secara universal.
***
Dengan menerbitkan ensiklik Magnifica Humanitas, sekali lagi Gereja berbicara dari tradisi refleksi selama dua ribu tahun tentang makna kehidupan manusia. Misalnya, Paus Leo XIII pada tahun 1891 menerbitkan yang Ensiklik Rerum Novarum (1891), tentang keadilan sosial.
Paus Yohanes Paulus II menerbitkan Ensiklik Evangelium Vitae (25 Maret 1995) tentang kesucian hidup. Ensiklik ini menegaskan kembali nilai luhur dan kesucian martabat kehidupan manusia sejak dalam kandungan hingga akhir hayat yang wajar. Dokumen ini menentang keras “budaya kematian” seperti aborsi, hukuman mati, dan eutanasia, serta mengajak semua umat untuk merawat dan menghargai setiap kehidupan sebagai anugerah Tuhan
Lalu, Paus Fransiskus menerbitkan tiga ensiklik: Lumen Fidei atau Terang Iman (2013); Laudato Si’, Terpujilah Engkau, Tuhanku (2014), dan Fratelli Tutti, Semua Bersaudara (2020).
Ensiklik Lumen Fidei adalah ensiklik pertama Paus Fransiskus. Ensiklik ini berbicara tentang iman kepada Yesus Kristus yang merupakan anugerah agung Allah bagi manusia dan dunia. Di zaman moderen ini, iman sering diperlawankan dengan pengetahuan. Iman dianggap sebagai ilusi, khayalan, sesuatu yang menghambat kebebasan manusia untuk mengeksplorasi cara-cara baru bagi masa depan. Iman seakan-akan mengurasi makna eksistensi manusia (komkat-kwi.org).
Menghadapi krisis iman zaman moderen, melalui Ensiklik Lumen Fidei, Paus Fransiskus menegaskan pentingnya untuk menemukan kembali terang iman. Iman adalah cahaya yang mampu menerangi setiap aspek eksistensi manusia. Iman lahir dari suatu perjumpaan personal dengan Allah yang hidup, yang menyatakan kasih-Nya dan yang memanggil kita untuk menjadikannya sebagai jaminan hidup dan keselamatan.
Pada tahun 2014, Paus Fransiskus menerbitkan ensiklik Laudato Si’, Terpujilah Engkau, Tuhanku. Lewat ensiklik ini Paus Fransiskus mengungkapkan keprihatinannya karena hancurnya bumi sebagai rumah kita bersama dengan menyatakan bahwa ibu pertiwi yang memelihara dan mengasuh kita dengan aneka ragam buah-buahan beserta bunga yang warna-warni sekarang telah menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya, karena penggunaan dan penyalahgunaan yang tidak bertanggungjawab atas kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalamnya.
Gereja melalui Paus Fransiskus menawarkan sebuah solusi alternatif melalui Ensiklik Laudato Si’. Melalui ensiklik ini Paus Fransiskus melihat bahwa krisis ekologis disebabkan oleh cara pandang manusia yang salah terhadap alam. Alam sering dijadikan instrumen untuk pemenuhan kebutuhan. Oleh karena itu, melalui seruan profetis dalam Ensiklik Laudato Si’ manusia mesti bertanggung jawab atas kerusakan alam. Mestinya ada sikap peduli untuk memulihkan hubungan yang sudah retak dan chaos.
Lalu, pada 3 Oktober 2020, Paus Fransiskus, sekali lagi, menerbitkan ensikliknya yakni Fratelli Tutti (3 Oktober 2020), Semua Bersaudara, tentang Persaudaraan dan Persahabatan Sosial. Ensiklik ini bertujuan untuk mempromosikan aspirasi universal menuju persaudaraan dan persahabatan sosial. Latar belakang Ensiklik ini adalah pandemi Covid-19 yang, menurut Francis, “tiba-tiba meletus” saat ia “menulis surat ini”.
Namun, menurut Paus Fransiskus, keadaan darurat kesehatan global telah membantu menunjukkan bahwa “tidak seorang pun dapat menghadapi kehidupan dalam isolasi” dan bahwa waktunya telah tiba untuk “bermimpi, sebagai satu keluarga manusia” di mana kita semua adalah “saudara dan saudari”.
***

Kini jelas bahwa setiap ensiklik yang lahir memiliki latar-belakang sendiri-sendiri, khusus; ada kondisi dunia yang perlu mendapat tanggapan dan juga arah jalan; ada kegawatan situasi, misalnya, kondisi manusia, alam, kondisi sosial, kaum buruh dan sebagainya yang memburuk.
Ensiklik Magnifica Humanitas ini, kata Paus Leo XIV dalam pidato saat merilis ensklik itu, sebagai tanggapan Gereja terhadap tantangan yang ditimbulkan oleh artificial intelligence (AI),,kecerdasan buatan.
Lalu, Paus menyerukan agar AI “dilucuti” dari logika dominasi, pengucilan, dan perang. Dengan mengambil paralel dari Rerum Novarum, Paus mendesak komunitas global untuk menempatkan kemajuan teknologi demi martabat manusia, solidaritas, dan kebaikan bersama.
Di hadapan lebih dari 300 orang–para kardinal, uskup, korps diplomatik yang terakreditasi di Takhta Suci, dan tamu undangan lainnya–Paus Leo XIV menyerukan perlindungan kemanusiaan, penegakan kebenaran, martabat kerja, keadilan sosial, dan perdamaian.
“Umat manusia, yang diciptakan oleh Tuhan dalam segala keagungannya, saat ini menghadapi pilihan penting: membangun Menara Babel yang baru atau membangun kota tempat Tuhan dan umat manusia tinggal bersama,” katanya.
Di bagian lain pidatonya, Paus menggambarkan revolusi teknologi saat ini sebagai “titik balik penting” yang sebanding dengan pergolakan yang dihadapi oleh Paus Leo XIII selama Revolusi Industri.
“Kecerdasan buatan sudah menyentuh banyak bidang kehidupan kita dan memengaruhi keputusan yang membentuk koeksistensi manusia,” katanya, seraya mencatat bahwa hal itu juga “secara dramatis mengubah cara perang dilakukan.”
Dahulu, 135 tahun silam, Paus Leo XIII menerbitkan Ensiklik Rerum Novarum (1891), sebagai tanggapan Gereja Katolik terhadap masalah sosial yang begitu besar, yang dihadapi dunia modern. Pada masa itu (1891) dunia sedang dibentuk ulang oleh batu bara, uap, dan ekonomi industri yang tidak diatur. Para pekerja dihancurkan oleh roda mesin baru. Segelintir industrialis mengendalikan kekayaan dalam skala yang belum pernah dilihat dunia.
Perubahan radikal sedang terjadi dalam politik, ekonomi, dan masyarakat. Revolusi Industri berada di puncaknya. Perpindahan besar-besaran masyarakat desa ke pusat-pusat industri yang kumuh mengganggu cara hidup jutaan orang yang telah dikenal selama beberapa generasi. Migrasi massal dari Eropa memecah belah keluarga. Para pekerja menanggung jam kerja yang melelahkan, upah yang sedikit, dan kondisi yang berbahaya, sementara segelintir elite mengumpulkan kekayaan yang sangat besar.
Jurang antara yang kaya dan miskin, begitu dalam dan lebar. Pada saat yang sama, gerakan sosialis semakin mendapatkan momentum, mengadvokasi tindakan drastis seperti penghapusan kepemilikan pribadi. Tulisan-tulisan Karl Marx telah berakar dalam gerakan komunis yang meluas.
Kemarin, dalam pidatonya, Paus Leo XIV menarik paralel langsung dengan Ensiklik Rerum Novarum. Paus Leo XIV mengatakan bahwa Gereja saat ini juga dipanggil untuk menafsirkan “hal-hal baru” zaman ini dalam terang Injil dan martabat manusia.
Paus menjelaskan bahwa Magnifica Humanitas muncul dari mendengarkan secara luas para ilmuwan, insinyur, pendidik, pemimpin politik, dan keluarga yang prihatin tentang masa depan generasi muda. Pada saat yang sama, Paus mengatakan bahwa ia telah mendengar “suara-suara yang sangat mengkhawatirkan” mengenai sistem senjata otonom dan algoritma yang mampu menolak akses ke perawatan kesehatan, pekerjaan, atau keamanan berdasarkan data yang tidak adil dan bias.
Dari proses perenungan tersebut, kata Paus, muncul keyakinan yang diungkapkan dengan jelas dalam ensiklik tersebut: “kecerdasan buatan perlu dilucuti senjatanya.”
Mengakui kekuatan ungkapan tersebut, Paus Leo XIV mengatakan bahwa beratnya momen saat ini membutuhkan kata-kata yang mampu “membangkitkan hati nurani dan menunjukkan jalan ke depan bagi umat manusia.”
Mengingat dukungan Gereja yang telah lama diberikan untuk perlucutan senjata nuklir, Paus mengatakan bahwa setiap kekuatan teknologi besar harus disertai dengan kebijaksanaan moral dan akuntabilitas publik.
“Dalam pengertian yang sama, kecerdasan buatan sekarang menuntut untuk ‘dilucuti senjatanya,’ dibebaskan dari logika yang mengubahnya menjadi instrumen dominasi, pengucilan, atau kematian,” katanya.
***

Yang menarik, saat peluncuran ensiklik ini dihadiri oleh Christopher Olah, salah satu pendiri perusahaan AI Anthropic. Anthropic telah memposisikan dirinya sebagai perusahaan Artificial Intelligence (AI) yang mengutamakan keselamatan dan mitigasi risiko dalam penelitiannya.
Februari lalu, perusahaan AI Anthropic, menjadi sorotan luas. Ini setelah pemerintahan Donald Trump memerintahkan semua lembaga AS untuk berhenti menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) Anthropic dan memberlakukan sanksi berat lainnya. Keputusan itu diambil karena Anthropic menolak mengizinkan militer AS menggunakan teknologi AI Anthropic tanpa batasan.
Sementara National Christian Reporter (22 Mei 2026) menulis, “Anthropic adalah salah satu perusahaan teknologi yang benar-benar peduli untuk mendidik semua komunitas, termasuk komunitas keagamaan, tentang bagaimana model AI yang canggih ini bekerja dan apa kelebihannya serta apa potensi risikonya,” katanya.
Maka, hadirnya Christopher Olah, saat peluncuran ensiklik di Vatikan, bisa jadi akan menarik perhatian AS. Tetapi, bagi Vatikan bekerjasama dengan Anthropic, penting. Sebab, dengan benar-benar mengerti dan memahami AI, Paus Leo XIV lewat ensiklik dapat memberikan panduan moral tentang revolusi digital dan teknologi baru seperti Artificial Intelligence (AI) yang menjadi ranah kerja dan penelitian Anthropic.
Ensiklik Magnifica Humanitas membahas ‘perlindungan pribadi manusia di era kecerdasan buatan’. Dokumen tersebut merupakan surat resmi dari Paus yang dimaksudkan untuk membimbing para uskup dan praktisi, juga umat. Paus yang menjadikan AI sebagai prioritas masa kepausannya yang masih muda, menyatakan keprihatinan mendalam tentang AI dalam peperangan dan menyerukan pemantauan penggunaannya.
Menurut Vesa Hautala (Effective Altruism for Christians, 2026), ketertarikan Vatikan terhadap AI dipicu sekitar tahun 2016 oleh Dialog Minerva, serangkaian percakapan informal yang melibatkan orang-orang dari Silicon Valley. Paus Fransiskus juga didekati oleh para pemimpin bisnis yang beretika dari Eropa yang prihatin tentang isu-isu yang muncul seputar AI. Uskup Paul Tighe mencatat bahwa diskusi awal ini sangat penting dalam meningkatkan kesadaran di dalam Vatikan tentang signifikansi AI dan potensi dampaknya terhadap masyarakat.
Paus Fransiskus menanggapi potensi transformatif AI dengan sangat serius. Dalam pidatonya kepada para pemimpin G7, di Borgo Egnazia (Puglia), Italia, 14 Juni 2024, Paus Fransiskus, mengatakan bahwa “munculnya kecerdasan buatan merupakan revolusi kognitif-industri sejati, yang akan berkontribusi pada penciptaan sistem sosial baru yang ditandai dengan transformasi zaman yang kompleks” (The Holy See).
Di forum yang sama, Paus Fransiskus mengakui keunikan AI di antara alat-alat teknologi. Alat-alat yang lebih sederhana berada di bawah kendali penggunanya, tetapi AI dapat secara otonom beradaptasi dengan tugas dan membuat pilihan yang berorientasi pada tujuan secara independen dari penggunanya. Tanpa menggunakan kata tersebut, Paus menggambarkan agensi, yang secara luas dianggap sebagai bagian kunci dari potensi transformatif—dan bahaya—AI tingkat lanjut.
Karena itu, Paus memperingatkan agar tidak menyerahkan pengambilan keputusan manusia kepada sistem AI. Ia juga dengan sangat jelas mendesak kehati-hatian dan mendukung kerangka kerja regulasi. Dalam pidatonya di Hari Perdamaian Dunia (2023), Paus mengatakan bahwa pengembangan AI tidak dapat diasumsikan secara apriori bermanfaat bagi masa depan umat manusia dan bahwa hal itu harus diatur secara internal oleh negara-negara, dan mendesak adopsi perjanjian internasional yang mengikat untuk mengatur pengembangan dan penggunaan AI.
***

Mengikuti pendahulunya, Paus Leo XIV, dalam pesan untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 (12 Maret 2026) mengatakan, “Saya tidak mengatakan bahwa AI tidak mengandung risiko, atau bahwa kita tidak perlu memberikan perhatian besar pada perkembangannya. Saya mengatakan bahwa, seperti halnya tulisan, mesin cetak, atau internet, perlu untuk menggunakannya bagi kebaikan dan bukan untuk kejahatan, bahwa cara kita menggunakannya hanya bergantung pada kita, pada kendali yang kita dan otoritas publik kita lakukan atasnya. Tulisan dan mesin cetak, seperti halnya AI, dapat digunakan baik untuk kebaikan maupun kejahatan, untuk menerbitkan Don Quixote, tetapi juga untuk menerbitkan Mein Kampf (Vatican News, 12 Maret 2026)
Kata Paus Leo XIV, teknologi bukanlah masalahnya. Masalahnya adalah penggunaan teknologi. “Saya juga tidak mengatakan bahwa teknologi itu netral. Saya mengatakan bahwa kita manusia merancang teknologi dan oleh karena itu kita bertanggung jawab atas kebaikan atau kejahatan yang dilakukan dengannya — baik itu tulisan, mesin cetak, atau AI,” katanya.
Menurut Vatican News (12 Maret 2026), Paus Leo XIV bukanlah seorang apokaliptik. Ia tidak berpikir seperti banyak orang bahwa teknologi baru ini adalah dan akan menjadi penyebab semua kejahatan kita, atau sebagian besar dari kejahatan kita, dan bahwa teknologi ini akan menghancurkan peradaban kita, atau setidaknya budaya kita, tetapi ia juga tidak “terintegrasi”, dan tidak berpikir seperti banyak orang lain, bahwa teknologi baru ini memiliki kapasitas untuk meningkatkan kehidupan kita.
“Merangkul peluang yang ditawarkan oleh teknologi digital dan kecerdasan buatan dengan keberanian, tekad, dan kebijaksanaan tidak berarti menutup mata terhadap isu-isu kritis, kompleksitas, dan risiko,” tulis Paus Leo XIV.
Paus sangat menyadari hal ini dan memperingatkan terhadap “ketergantungan yang naif dan tanpa pertanyaan pada kecerdasan buatan sebagai ‘teman’ yang mahatahu, sumber dari semua pengetahuan, arsip dari setiap ingatan, ‘oracle’ dari semua nasihat”.
***
Bahwa Ensiklik Magnifica Humanitas diluncurkan hari ini, 25 Mei 2026, perlu juga dicatat. Sebab, tepat, 135 tahun silam, Paus Leo XIII menerbitkan Ensiklik Rerum Novarum, Tentang Hal-hal Baru (1891) yang menjadi fondasi utama Ajaran Sosial Gereja Katolik. Dokumen ini membahas hak dan kewajiban buruh, majikan, hak milik pribadi, serta menolak kapitalisme ekstrem maupun komunisme.
Kata Paus Yohanes Paulus II (ensiklik Centesimus Annus 1 Mei 1991), “Masyarakat tradisional sedang lenyap dan masyarakat lain mulai terbentuk – masyarakat yang membawa harapan akan kebebasan baru tetapi juga ancaman akan hal-hal baru”
Pada puncak kegawatan ini, Paus Leo XIII turun tangan. Dalam, Ensiklik Rerum Novarum, Paus Leo XIII, dan Gereja bersamanya, menghadapi masyarakat yang terpecah belah oleh perselisihan dan membahasnya dengan tegas. Ia memberikan visi moral yang seimbang yang menolak ideologi ekstrem dan menekankan perlindungan martabat manusia.
Kini, ketika dunia menghadapi kemajuan teknologi yang demikian dahsyat (AI, misalnya) yang akan berdampak pada manusia, martabat manusia, Gereja kembali lagi bersuara. Maka dengan menerbitkan Ensiklik Magnifica Humanitas, pada tanggal yang sama dahulu Ensiklik Rerum Novarum diterbitkan, Paus Leo XIV, “menyamakan” munculnya AI dengan transformasi penting yang dibawa oleh industrialisasi pada zaman Paus Leo XIII.
Bagi Vatikan, AI bukan hanya sebagai perkembangan teknologi tetapi sebagai salah satu ujian moral yang menentukan di zaman modern. Maka, pada 16 Mei 2026, Vatikan mengumumkan pembentukan kelompok studi tentang AI yang bekerja lintas berbagai dikasteri untuk bertukar informasi tentang proyek-proyek terkait kecerdasan buatan “termasuk kebijakan tentang penggunaannya di dalam Takhta Suci” (Catholic Courier, 2026).
Singkatnya, bagi Leo XIV, AI bukanlah obat mujarab, atau instrumen jahat. AI tidak lebih dan tidak kurang dari apa yang kita lakukan dengannya. Oleh karena itu, pengembangannya di atas segalanya adalah sebuah tantangan: menggunakannya untuk membangun masyarakat yang lebih adil, lebih egaliter, dan lebih bahagia.
Dengan terbitnya Ensiklik Magnifica Humanitas ini, kita berharap Vatikan menjadi suara yang semakin menonjol dalam percakapan global tentang etika AI; sama dengan dahulu Paus Leo XIII dengan Rerum Novarum-nya, yang meletakkan hak-hak dasar pekerja, serta mengkritik ekstremisme kapitalisme maupun komunisme.
Mengutip pendapatnya Steven Umbrello (wordonfire.org), dengan terlibat dalam revolusi AI, Gereja memberikan kesaksian kepada dunia dengan harapan dan kebijaksanaan. Gereja menunjukkan bahwa iman dan akal, yang bekerja bersama, dapat membimbing kita melewati badai teknologi yang paling kompleks sekalipun.
Namun Paus menekankan bahwa tugas umat manusia bukan hanya untuk menahan teknologi berbahaya, tetapi juga untuk membangun masa depan yang lebih adil bersama-sama. ***


Kudu diwoco kanthi trewoco. Rodo abot. Maturnuwun pak dubes
Mas Trias, tulisan yang sungguh luar biasa, sangat update, inspiratif dan edukatif. Betul sekali, AI adalah mesin, bukan manusia. Karena itu harus kita perlakukan sebagai mesin yang membantu manusia memperkembangkan martabat dan kemanusiaannya. Sangat setuju, AI harus dilucuti dari bahaya dan senjata yang justru menggerogoti kemanusiaan. Sangat penting, Gereja selalu menampaikan suara yang profetis dan persaudaraan, perdamaian, keadilan.
Mas Trias terima kasih banyak, ternyata mas Trias seperti perpustakaan yang berjalan.
Selamat berkarya.
Matur nuwun Dab Trias . . . . saya acung 2 jempol . . . .
Pernyataan awal yang luar biasa “AI harus dilucuti dari logika dominasi, pengucilan dan perang”
AI memang meresahkan apabila iman dan akal tidak bekerjasama . . . Teknologi memang harus dilandasi kejiaksanaan moral dan akuntabilitas publik agar tidak meremehkan manusia dan kemanusiaan . . . .
Matur nuwun up date infonya mas Trias. Saya ikut bangga bahwa Paus Leo XIV dan Vatican sangat berwawasan jauh dalam menyikapi perkembangan AI bukan hanya dalam pemanfaatannya namun yang lebih mengkhawatirkan adalah aspek daya distruktifnya terhadap kemanusiaan yang didorong oleh sifat keserakahan. Tidak mudah namun Vatican telah menabuh genderang.peringatan untuk mitigasi. Salam sehat mas Trias..🙏🙏
Matur nuwun bapak Dubes Trias untuk pencerahan nya. Bersyukur bahwa Gereja Katolik mengawal kemajuan teknologi cq AI untuk digunakan dengan martabat kemanusiaan.
Salam Kredensial dan berkah Dalem
Suwun Pandito Trias– tulisan yg bergizi dan kritis rasional. Sangat jarang saya membaca tulisan seorang jurnalis sekaligus Pak Dubes yg sangat bernas dan berbobot. Tks pandito teruslah berbagi ilmu pengetahuan utk saya. Salam.