“REFUSED TO FALL”

Puncak Menara Miring Pisa (Foto: Trias Kuncahyono)

Seorang penulis, Mukhtiar Ahmad menyebut Menara Miring Pisa sebagai “refused to fall” (vocal.media). Menara lonceng Katedral Maria Assunta, Pisa ini “melawan” tarikan Bumi untuk roboh. Padahal, gaya gravitasi memberikan efek yang luar biasa terhadap benda-benda yang ada di muka Bumi ini. Tapi, Menara Pisa “menolak” tarikan itu. Ia tidak mau roboh. Tetap berdiri meski miring.

Maka, Mark Twain penulis sangat kondang asal Amerika, memuji Menara Pisa sebagai “Arsitektur aneh di dunia.” Ketika dibangun, tidak ada yang menduga gedung pencakar langit baru ini akan menjadi keajaiban dunia atau ditetapkan sebagai aset budaya oleh UNESCO.

Istilah itu juga mengacu pada kualitas yang membedakan mahakarya yang megah ini. Menara Pisa memiliki berat 14.500 ton, tingginya 55,86 meter, memiliki 8 lantai, dan 294 anak tangga dan 296 anak tangga dari bawah hingga puncak; saat ini miring 5,5 derajat.

Tapi, Menara Miring ini dulunya juga tegak lurus, sampai lantai dua. Karena kesalahan perhitungan dalam struktur bangunan dan lokasi di mana tanah tempat menara itu berada terus tenggelam, menara itu menjadi miring dan berisiko runtuh di masa depan. Hal ini membuatnya terkenal di seluruh dunia, menarik sejumlah besar wisatawan yang ingin melihat–bahkan mendaki–menara yang tetap berdiri dalam kemiringannya.

Meskipun demikian, menurut cerita, diktator fascis Italia Benito Mussolini pada tahun 1934 menyatakan, menara itu memalukan bagi negara; karena miring. Maka, ia memerintahkan agar menara itu diluruskan. Upaya ini dilakukan dengan menuangkan berton-ton semen ke dalam lubang-lubang yang dibor di dasarnya. Akibat tindakan itu, justru sebaliknya. Pondasi semakin melesak ke dalam tanah, makin dalam. Hal itu menyebabkan menara semakin miring (thevine.cambs.sch.uk)

Saat Perang Dunia II, pasukan Jerman menduduki Pisa setelah gencatan senjata Italia pada September 1943. Karena ada di kota itu, pasukan Sekutu terus membombardir. Akibatnya, ketika kota dibebaskan pasukan Sekutu, 2 September 1944, hampir setengah Pisa hancur. Menara Pisa, yang oleh pasukan dijadikan pos pengintai, aman.

***

Katedral Maria Assunta dan Menara Miring Pisa, dua dari empat bangunan di Piazza Dei Miracoli, Lapangan Mukjizat, Pisa (Foto: Trias Kuncahyono)

Ketika hamparan rumput hijau di samping kiri Katedral Maria Assunta, masih berembun menunggu disingkirkan sinar Matahari, saya sudah berdiri di depan menara, mengagumi keindahan dan keajaiban menara.

Memandangi berlama-lama Menara Miring itu, serasa ikut miring. Sekalipun miring, menara itu memang, “refused to fall”, tidak mengikuti kemauan Bumi yang menariknya ke pelukannya. Ia tetap berdiri dalam kemiringannya. Dan menjadi ikon Kota Pisa. Tidak hanya Kota Pisa, tapi juga Italia.

Tetapi, ikon Pisa terindah itu, tidak dapat dinikmati warga Pisa. Menurut dongeng, warga Pisa tidak dapat menikmati keindahan menara itu dengan naik ke puncak. Sebab, itu pantangan …bila mereka naik, akan bernasib buruk. Apa benar demikian? Apa warga Pisa hanya bisa melihat di bawah saja? Tidak dapat ikut merasakan kemiringan menara. Mereka tidak dapat mengagumi dari atas apa yang paling indah di Pisa: menara itu sendiri!

Menara Miring Pisa telah menjadi lebih dari sekadar struktur arsitektur; lebih dari sekadar ikon. Tapi, “kemampuan” menara untuk tidak roboh dalam pelukan Bumi, sekalipun sudah lebih dari delapan abad miring, menjadi simbol ketahanan manusia dalam menghadapi tantangan dan adaptasi terhadap keadaan.

Menara Miring itu adalah lambang kegigihan manusia dalam menghadapi kesulitan. Kemiringannya yang ikonik menceritakan kisah kemampuannya mengatasi tantangan dan ketahanan menghadapi tarikan. Karena itu, Menara Miring Pisa menjadi simbol universal harapan dan ketekunan. Simbol tahan terhadap godaan.

***

Salah satu dari tujuh lonceng Katedral Santa Maria Assunta di puncak Menara Miring..(Foto: Trias Kuncahyono)

Satu dua orang melintas di plaza belakang katedral, di depan menara. Katedral itu berdiri kokoh, seperti raksasa yang kakinya sangat kuat berpijak Bumi. Diam sejak 1064, tahun ketika didirikan. Di depannya atau sebelah barat katedral, berdiri bangunan bulat dengan atap agak meruncing, yang juga kokoh: Battistero di San Giovani (Gedung Pembaptisan Santo Yohanes). Bangunan setinggi 54,86 meter ini didirikan tahun 1153 – 1265.

Bangunan-bangunan bersejarah itu, mempunyai cerita melintasi zaman. Tapi pandangan saya terarah ke Torre Pendente, Menara Miring atau Menara Pisa. Menara Pisa benar-benar sebuah bangunan yang luar biasa.

Pagi itu, kami kembali ke Pisa untuk mengadakan “Warung Konsuler” di dua biara: Biara Addolorata Serve di Maria dan Biara Kongregasi Suore Francescane Ospedaliere di Santa Chiara, di Pisa. Sepuluh hari sebelumnya, kami sudah ke Pisa untuk menghadiri kaul pertama empat suster Indonesia anggota Kongregasi Francescane Ospedaliere di Santa Chiara.

Kami kembali ke kompleks di mana Menara Miring berdiri . Apakah Menara Miring yang dibangun pada tahun 1063 itu, suatu keajaiban? Keajaiban teknik arsitek Bonanno Pisano yang bertanggung jawab atas pembangunan menara ini atau sebaliknya: kecelakaan teknik? Pertanyaan itu terus berkeliaran mencari jawabannya.

Nama Bonanno Pisano (Bonanno dari Pisa), memang banyak disebut dalam tulisan-tulisan tentang Menara Miring Pisa. Tetapi, Dan Wrightson (2026) menulis, menurut Vasari dalam karya tulisnya berjudul “Le vite de’ più eccellenti pittori, scultori, e architettori” tahun 1550, mula-mula diarsiteki oleh Gherardo di Gherardo, lalu dilanjutkan oleh Bonanno Pisano pada tahun 1173.

Sejak kapan menara itu diketahui miring? Menurut catatan Florence Museum (florence-museum.com) menara itu diketahui miring pada awal tahun 1178, lima tahun setelah pembangunan dimulai. Para pekerja menyadari menara miring 5 (lima) Cm ke arah tenggara, ketika mulai membangun lantai ketiga.

Kata William Harris (Will the Leaning Tower of Pisa ever fall?, 2021), kemiringan menara disebabkan oleh tanah di bawah menara yang tidak cukup stabil untuk menopang menara. Tanah di bawah menara terdiri dari lumpur, pasir, dan lempung, permukaan air tanah di daerah tersebut juga cukup tinggi. Pisa terletak 10 km dari Laut Liguria.

Selain tanah di bawah menara tidak cukup stabil menopang, kata William Harris, permukaan air tanah di daerah tersebut juga cukup tinggi. Seiring bertambahnya berat struktur, tanah di bawah menara mulai mengendap secara tidak merata. Bahkan ketika lantai kedua menara sedang diselesaikan, menara sudah mulai miring.

Sementara Rishab Bajaj dan Swati Choudhar (2014) berpendapat, miringnya menara disebabkan oleh pondasi yang hanya sedalam tiga meter, yang diletakkan di tanah dasar yang lemah dan tidak stabil, sebuah desain yang cacat sejak awal.

Pembangunan kemudian dihentikan selama hampir satu abad karena perang Pisa dengan kota tetangganya, Florence. Hal ini memberi waktu bagi tanah di bawahnya untuk mengendap. Pada tahun 1272, pembangunan menara dilanjutkan di bawah pimpinan Giovanni di Simone, arsitek Camposanto.

Giovanni di Simone, tahun 1185 menyadari kemiringan makin bertambah, maka ia memutuskan untuk mengakomodasi kemiringan dengan menambahkan ketinggian ekstra pada lantai atas di satu sisi Menara. Namun hasilnya tidak seperti yang diharapkan, menara masih miring dan pekerjaan dihentikan lagi.

Pada tahun 1298, deviasi vertikal sebesar 1,43 m diukur dan 60 tahun kemudian angka ini meningkat menjadi 1,63 m. Karena itu, menara tersebut sebenarnya melengkung. Beban ekstra menyebabkan bagian atas Menara miring ke arah yang berlawanan.

Lantai tujuh selesai dibangun pada tahun 1319, di bawah pimpinan Tommaso di Andrea Pisano. Ia berhasil menyelaraskan unsur-unsur Gotik dari ruang lonceng dengan gaya Romawi dari menara. Ruang lonceng akhirnya ditambahkan pada tahun 1372. Terdapat tujuh lonceng, di lantai tujuh.

Karena, menara ini memang dibangun tempat lonceng Katedral Maria Assunta. Lonceng- lonceng di puncak menara diberi nama dan memiliki nada berbeda-beda. Yang paling besar diberi nama Assunta, nada B2, seberat 7.981 pons (dibuat oleh Giovanni Pietro Orlandi tahun 1654. Lalu Crocifisso (Salib), seberat 5.428 pons, nada C#3, dibuat tahun 1572 oleh Vincenzo Possenti.

Lonceng San Ranieri, nada D#3, dibuat pada tahun 1719–1721 oleh Giovanni Andrea Moreni, beratnya 3.192 pons. Lalu La Giustizia (Keadilan), nada G#3, seberat 2.235 pons, dibuat pada tahun 1262 oleh Lotteringo. Lonceng Il Vespruccio, nada E4, dicetak pada abad ke-14 dan sekali lagi pada tahun 1501 oleh Nicola di Jacopo, beratnya 2.205 pons. Dal Pozzo (Dari Sumur), nada G3, dibuat pada tahun 1606 dan dibuat lagi tahun 2004, seberat 1.437 pons.

Lonceng-lonceng itu diselaraskan dengan tujuh nada tangga nada musik. Ini mencerminkan pandangan dunia filosofis di mana seni, arsitektur, dan agama disintesis untuk membimbing jiwa menuju ilahi.

Kemiringan menara melambat selama berabad-abad berikutnya, diyakini bahwa beratnya merupakan faktor penting yang memungkinkan stabilisasi bangunan tertentu. Arsitek Alessandro Gherardesca melakukan restorasi pertama pada tahun 1835 dengan menghilangkan tanah berlumpur dan menggantinya dengan dasar marmer.

Hasilnya luar biasa, ini memicu kemiringan baru dan pada tahun 1918 penyimpangan Plumbing mencapai 5,1 m. Hingga tahun 1990, kemiringan menara terus meningkat dari 1 hingga 1,2 mm setiap tahunnya

***

Ada 294 anak tangga (jalur lain 296 anak tangga) yang harus ditapaki untuk sampai ke puncak Menara Miring Pisa. (Foto: Trias Kuncahyono)

Menara yang berdiri kokoh, meskipun miring, berada di belakang sebelah kiri katedral. Kemiringan menara sangat terasa dan terlihat saat kita meniti tangga menuju puncak. Walau anak tangga– sebagaimana, seluruh badan menara dibangun dari marmer–namun karena sudah lebih 800 tahun diinjak demikian banyak orang, cekung juga.

Anak tangga itu warna campuran–kuning, coklat, dan putih. Gilap. Licin. Sangat keras. Tangga spiral itu lebar sekitar 80 hingga 90 sentimeter. Karena tangga ini sangat sempit dan dipahat langsung ke dinding marmer yang tebal, wisatawan hanya dapat naik atau turun dalam satu baris.

Pelan-pelan, kami naik mengikuti jalur spiral anak tangga ke atas, mengitari menara. Harus berjalan pelan. Karena licin. Dan, tentu, agar tidak capek. Untung, kami naik ketika hari masih pagi, sehingga tidak kerap kali berpapasan dengan yang akan turun. Ketika kami turun, kerap kali berpapasan dengan yang naik. Kami, bersenggolan.

Entah dilihat sebagai keajaiban teknik atau kecelakaan yang menguntungkan, Menara Miring Pisa terus menginspirasi kekaguman. Setiap tahun, tak kurang dari lima juta wisatawan datang ke Pisa: untuk melihat dan mengagumi Menara Miring, yang menurut cerita dahulu digunakan oleh Galileo Galilei untuk mengukur gravitasi Bumi.

Pada saat Galileo Galilei konon menjatuhkan bola meriam dan bola senapan dari puncak menara pada akhir abad ke-16, menara tersebut telah bergeser sekitar 3 derajat dari posisi vertikal. Namun, pemantauan yang cermat baru dimulai pada tahun 1911. Pengukuran ini mengungkapkan kenyataan yang mengejutkan: Puncak menara bergerak dengan kecepatan sekitar 1,2 milimeter (0,05 inci) per tahun.

Ketika sudah diketahui–saat pembangunan lantai ketiga–bahwa menara miring, mengapa pembangunan terus dilanjutkan? Jawabannya: Selama tiga abad pertama milenium ke-2, Pisa adalah negara adidaya Eropa, dengan puncak kekuasaannya sekitar tahun 1200. Lokasinya di Sungai Arno dan kedekatannya dengan laut menjadikannya saingan Venesia dan Genoa sebagai kekuatan maritim.

Sejarah mencatat, pada awal abad ke-12, Pisa telah membuka basis perdagangan di Suriah, Lebanon, dan Palestina (kekuatan militer dan kepentingan komersial saat itu, seperti sekarang, sangat terkait). Pisa bertindak sebagai republik independen, dengan hubungan dan pos terdepan yang kuat di seluruh Mediterania. Selain itu, Pisa juga beraliansi dengan Bizantium (Kekaisaran Romawi Timur).

Semua itu ingin ditunjukkan. Sangat wajar, Pisa ingin diketahui dan diakui sebagai republik besar dan makmur. Maka mereka membangun “Piazza Dei Miracoli”, Lapangan Keajaiban dengan kekayaan yang diperoleh dari perdagangan.

Maka, walau menara itu diketahui miring, pembangunan diteruskan untuk menunjukkan kemakmuran Republik Pisa–negara maritim yang menguasai perdagangan di kawasan–kekuatan, dan ambisi arsitektur negara kaya di zaman itu.

Maka Menara Miring Pisa merupakan perpaduan yang kaya antara simbolisme abad pertengahan, revolusi ilmiah, dan kebenaran mendalam manusia bahwa kekurangan dapat menghasilkan mahakarya. Ia melampaui sekadar rekayasa untuk menjadi metafora budaya dan intelektual.

Ini adalah pengingat bahwa keindahan tidak selalu ditemukan dalam kesempurnaan, tetapi terkadang dalam kemiringan lembut sebuah menara marmer yang menolak untuk roboh, yang menentang waktu dan memikat imajinasi generasi demi generasi. ***

Foto-foto lain:

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
26
+1
11
Kredensial