PIAZZA DEI MIRACOLI

Empat bangunan di Piazza de Miracoli: Baptisterium, Katedral Maria Assunta, Menara Miring, dan Camposanto Monomentale yang kelihatan sebagian (Foto: Trias Kuncahyono)

Pisa mengingatkan banyak hal. Sebut saja, Republik Pisa, Menara Miring, ilmuwan kondang Galileo Galilei (1564 – 1642) dan tentu para suster biarawati dari Indonesia yang jumlahnya lebih dari 30 orang. Hari itu, kami ke Pisa tujuan utamanya menghadiri kaul pertama empat suster dari Indonesia.

Baru kali ini, kami menghadiri acara kaul pertama; biasanya yang kami hadiri adalah kaul kekal. Tapi, karena kami ingin mengunjungi biara itu, maka kami pun menghadiri acara kaul pertama para suster Kongregasi Suore Francescane Ospedaliere di Santa Chiara, di Pisa. Mereka adalah ordo religius wanita yang berfokus pada pelayanan kesehatan (hospitaller) dan spiritualitas Fransiskan.

“Ini sangat istimewa, kaul pertama dihadiri dua bapak uskup dan bapak duta besar. Apalagi, yang hadir ikut misa satu gereja penuh,” kata Mother Superior Suster Maria Chiara Kalliyathuparambil, penuh senyum bahagia dan tak henti-hentinya menyampaikan terima kasih.

Memang, Misa Kaul Pertama dipimpin Uskup Agung Pisa Saverio Cannistra OCD didampingi Uskup Agung emeritus Giovanni Paolo Benotto serta sejumlah pastor. Karena itu, Suster Maria Chiara sangat terharu, kaul pertama yang biasanya sangat sederhana, kali ini istimewa.

Para biarawan/wati membaktikan diri kepada Allah serta Gereja melalui beberapa tahap, yakni: novisiat, kaul pertama atau suatu ikatan suci lain, dan kaul kekal. Selain itu dilaksanakan pula pembaruan kaul sesuai dengan Konstitusi setiap Ordo/Kongregasi religius.

Hidup dalam tarekat, yang dimulai dengan masa novisiat. Yakni, masa percobaan, baik untuk novis itu sendiri maupun untuk Ordo/Kongregasi religius yang bersangkutan. Jadi selama masa ini, para novis berpikir dan menjalani secara serius apakah hidup membiara benar-benar panggilan hidupnya? Sebaliknya, pihak Ordo/Kongregasi juga mengamati, membimbing, dan akhirnya menilai apakah “sang novis” cocok dan benar-benar ingin menjalani hidup membiara? Benar-benar terpanggil?

Kaul pertama mengakhiri masa novisiat. Melalui pengikraran kaul sementara ini novis mengikatkan diri untuk hidup menurut nasihat-nasihat Injili di hadapan Allah dan Gereja. Pengikraran kaul sementara boleh dilangsungkan dalam Misa, namun tanpa kemeriahan khusus (tetapi, kemarin di Pisa, upacara meriah).

Dalam upacara kaul pertama itu diserahkan busana kebiaraan dan tanda-tanda pengenal lain yang berkaitan dengan hidup kebiaraan. Sudah menjadi kebiasaan sejak dahulu untuk menyerahkan busana biara pada akhir masa percobaan, sebab busana biara adalah tanda pembaktian diri (Bdk. Kons. Vatikan II, Dekrit tentang pembaharuan hidup religius Perfectae caritatis, no. 17.)

Setelah menempuh masa yang telah ditetapkan, biarawan/ wati mengikrarkan kaul kekal, memasrahkan diri untuk selamanya akan mengabdi Allah dan Gereja. Kaul kekal itu mengibaratkan Kristus yang bersatu dengan Gereja sebagai mempelai-Nya dalam ikatan yang tak terputuskan (Bdk. Kons. Vatikan II, Konstitusi dogmatis tentang Gereja Lumen Gentium, no. 44).

***

Pemandangan kota Pisa diambil dari puncak Menara Miring (Foto: Trias Kuncahyono)

Acara itulah yang kami hadiri di kota yang dahulu menjadi pusat Republik Pisa atau yang dalam bahasa Itali disebut Repubblica di Pisa (antara abad ke-11 hingga abad ke-15). Menurut catatan sejarah, Republik Pisa dikenal juga sebagai Repubblica Marinara atau Republik Maritim, karena pada zamannya, republik itu menjadi kekuatan maritim besar di dunia perdagangan di Laut Tengah. Mereka pesaing Genoa dan Venesia serta kaum Saracens (istilah yang digunakan oleh orang Kristen Eropa pada abad ke-11 hingga ke-13, untuk menyebut orang-orang Arab dan Muslim (Encyclopaedia Britannica).

Pisa yang wilayahnya dilewati Sungai Arno–bermuara di Laut Liguria (berjarak 10 km dari Pisa), sebelah utara Pulau Corsica, Perancis–dalam catatan sejarah disebut pernah menjadi kekuatan ekonomi di kawasan itu. Dominasi Pisa dalam bidang perdagangan berlangsung selama satu abad. Tapi akhirnya, digusur Republik Genoa yang mengalahkannya dalam Perang Meloria tahun 1284. Dan, dalam perjalanan sejarahnya, Pisa dikuasai Florence pada tahun 1406 (www.italia.it).

Di masa Republik Pisa berjaya, dibangunlah empat bangunan dari marmer putih di area yang disebut Piazza dei Miracoli atau Lapangan Mukjizat. Bangunan pertama yang dibangun adalah Katedral (1064), simbol megah kekuasaan sipil dan keagamaan Republik Pisa. Kemudian diikuti oleh Baptisterium (Gedung Tempat Pembaptisan,1153 – 1265 yang berdiri di depan katedral) dan Menara Miring (yang dibangun dalam dua tahap, yakni 1063 – 1118 dan 1261 – 1272), lalu bangunan Spedale Nuovo (1257), yang sekarang menjadi Museo delle Sinopie, dan akhirnya Camposanto Monumentale (1277) di sisi utara. Di belakang alun-alun juga terdapat Museo dell’Opera del Duomo yang telah dipugar dengan biara dan loggia yang indah di lantai dua.

Setiap bangunan ada kisah dan ceritanya. Baptisterium, misalnya, yang didedikasikan untuk Santo Yohanes Pembaptis, adalah gedung pembaptisan terbesar di Italia, dengan keliling 107,24 meter dan tinggi 54 meter dan 86 sentimeter. Di dalamnya, terdapat pahatan seperti mimbar, bejana baptisan, dan patung perunggu Santo Yohanes Pembaptis.

Bangunan ini memiliki akustik luar biasa yang menjadikan monumen ini sebagai “instrumen musik” sejati, berkat ketinggian, bentuk, dan struktur kubahnya. Bila kita berteriak atau bernyanyi, suara akan bergema. Saat kami masuk, ada seorang perempuan yang berteriak dalam nada yang indah dan gemanya begitu indah pula terdengar sampai telinga.

Dalam catatan yang ada, dijelaskan Katedral Maria Assunta yang berdiri megah di depan Baptisterium dibangun dalam gaya Romawi Pisano dengan pengaruh Bizantium dan Arab. Katedral ini mewakili model gereja baru untuk arsitektur polikrom dan penggunaan loggia. -Fasad-nya yang terbuat dari marmer putih dan abu-abu kaya akan detail dan interiornya yang terbuat dari marmer hitam dan putih sangat serasi dengan langit-langit yang dilapisi laci kayu berlapis emas. Bagian apse dengan mosaik karya Cimabue dan mimbar karya Giovanni Pisano, yang dianggap sebagai mahakarya Gotik Italia, yang indah.

Keluar dari katedral berjalan belok kanan akan sampai ke Camposanto Monumentale (Monumen Pemakaman), yang mulai dibangun pada tahun 1277 oleh Giovanni di Simone. Monumen adalah bangunan monumental terakhir di Piazza dei Miracoli. Disebut Campo Santo karena di sinilah Tanah Suci Golgota dibawa oleh kapal-kapal Pisa yang kembali dari Perang Salib Ketiga yang penuh kemenangan.

Pemakaman ini (dalam gedung besar) dibangun untuk menampung makam-makam yang ketika itu tersebar di sekitar Duomo. Di dalam gedung pemakaman ini ada banyak sarkofagus–peti mati dari batu. Pada awalnya sarkofagus ditempatkan di ruang tengah pemakaman yang terbuka, yang menurut tradisi, diisi dengan tanah suci yang dibawa dari Palestina pada masa Perang Salib Kedua pada tahun 1146.

Sejak abad keempat belas dan seterusnya, para seniman besar pada waktu itu, menghiasi dinding pemakaman. Pada awalnya dengan siklus lukisan dinding yang luar biasa oleh Francesco Traini dan Bonamico Buffalmacco, yang melukis Trionfo della Morte (Kemenangan Kematian) dan Giudizio Universale (Penghakiman Terakhir).

Kemudian Storie dei Santi Pisani (Kisah Para Orang Suci Pisa) oleh Andrea Bonaiuti, Antonio Veneziano dan Spinello Aretino, Storie di Giobbe (Kisah Yakub) oleh Taddeo Gaddi dan Storie dell’Antico Testamento (Kisah dari Perjanjian Lama), yang diselesaikan pada pertengahan abad kelima belas oleh Benozzo Gozzoli dari Florence, ditambahkan (visittuscany.com)

***

Dinding Camposanto Monumentale berhiaskan lukisan dan sejumlah sarkofagus (Foto: Trias Kuncahyono)

Keempat bangunan itu, memendam banyak cerita. Menurut N Squeglia dan C Vaggiani (2022) Piazza dei Mericoli adalah simbol indah dari persatuan mendalam dan kuat pada masa itu di antara kekuatan keagamaan, spiritual, dan politik.

Seperti dijelaskan Akansha Rajoria (2024), interaksi antara kekuatan politik dan agama di Abad Pertengahan ditandai oleh hubungan yang sangat erat, di mana Gereja Katolik bertindak sebagai aktor politik dominan dan terpusat bersama dengan monarki regional, mengelola kehidupan spiritual dan kekuasaan duniawi. Agama memiliki dampak signifikan pada masyarakat, budaya, dan politik pada masa itu. Kekristenan adalah agama utama di Eropa selama Abad Pertengahan, dan Gereja Katolik memainkan peran penting dalam masyarakat Abad Pertengahan.

Gereja adalah organisasi politik dan sosial yang kuat yang pengaruhnya mencapai seluruh Eropa. Paus adalah pemimpin spiritual Gereja Katolik dan memiliki pengaruh politik yang cukup besar. Gereja juga memengaruhi banyak aspek kehidupan sehari-hari, seperti pendidikan, pernikahan, dan moral. Agama memengaruhi seni dan arsitektur Abad Pertengahan. Katedral Gotik, seperti Notre Dame di Paris dan Katedral Chartres, dibangun selama periode ini.

Selain Kekristenan, Islam juga memainkan peran penting di Abad Pertengahan. Kekhalifan Islam sangat luas, membentang dari Spanyol hingga India, dan pencapaian budaya dan intelektualnya memengaruhi perkembangan Eropa selama periode abad pertengahan. Para cendekiawan Muslim memberikan kontribusi signifikan pada matematika, sains, dan filsafat, dan karya-karya mereka diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Yunani, memengaruhi pemikiran Eropa.

Kata Akansha Rajoria, Kekristenan dan Islam sama-sama mempromosikan gagasan hak ilahi raja, yang menyatakan bahwa penguasa diangkat oleh Tuhan dan memiliki kewajiban untuk memerintah dengan adil. Konsep ini digunakan untuk membenarkan kekuasaan raja dan memperkuat hierarki sosial Eropa Abad Pertengahan (ijnrd.org 2024).

***

Katedral Maria Assunta, Pisa (Foto: Trias Kuncahyono)

Ke Piazza dei Miracolli, menikmati sebagian kejayaan Abad Pertengahan Eropa, pagi itu. Tapi, istilah “miracoli”, “keajaiban” yang digunakan sebagai nama piazza itu, tidak lahir di Abad Pertengahan, melainkan Abad Ke-20.

Adalah penyair dan novelis Gabriele D’Annunzio (1863 – 1938) yang pertama menggunakan sebutan itu. Kata “miracoli”, keajaiban digunakan untuk menggambarkan mahakarya arsitektur, dan pekerjaan pembangunan tersebut melindungi warisan artistik, religius, dan historis yang begitu indah ini (Opera della Primaziale Pizana/opapisa.it)

Dalam novelnya tahun 1910, Forse che sì forse che no (Mungkin Ya, Mungkin Tidak), Gabriele menggambarkan monumen-monumen marmer putih yang menakjubkan di daerah itu sebagai, Prato dei Miracoli, “Padang Rumput Keajaiban,” lalu menjadi Campo dei Miracoli (Lapangan Keajaiban) dan akhirnya Piazza dei Miracoli (lapangan keajaiban). Istilah terakhir itu yang menjadi julukan tempat itu hingga kini (UNESCO site).

Sebelum bangunan- bangunan Kristen itu didirikan, area tersebut telah ada rumah-rumah Romawi (domus) dan kemudian dikuduskan untuk ibadah, sebagaimana dibuktikan oleh banyaknya artefak Romawi yang digunakan kembali pada bagian luar monumen yang secara simbolis mengekspresikan dialog Surga dengan Bumi: Baptisterium = Kelahiran, Katedral dan Menara Lonceng = Kehidupan, Pemakaman Monumental = Kematian dan Kebangkitan (terredipisa.it). Jadi bangunan-bangunan di piazza masing-masing merayakan momen-momen utama kehidupan manusia: kelahiran, kehidupan, dan kematian.

Piazza dei Miracoli adalah situs Warisan Dunia UNESCO yang melambangkan kekayaan, kekuasaan, dan pengabdian religius Republik Maritim Pisa pada Abad Pertengahan, serta siklus kehidupan Kristen. Tempat ini mewakili “dialog antara Surga dan Bumi” melalui empat monumen utama.

Dialog, suatu aktivitas yang sangat elok. Kata Paus Fransiskus, dialog lahir dari sikap menghormati orang lain, dari keyakinan bahwa orang lain memiliki sesuatu yang baik untuk dikatakan. Dialog mengasumsikan bahwa ada ruang di hati untuk sudut pandang, pendapat, dan usulan orang tersebut. Berdialog berarti menerima dengan ramah, bukan menghakimi terlebih dahulu. Untuk berdialog, perlu mengetahui cara menurunkan pertahanan, membuka pintu rumah, dan menawarkan kehangatan manusia.” (On Heaven and Earth, Sudamericana, 2011)

Tapi, sekarang, dialog terasa semakin mahal…

Foto-foto lain:

   

   

   

 

   

   

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
33
+1
15
Kredensial