LA BELLEZZA CI UNISCE

Bak mandi yang dikenal dengan sebutan “porphyry basin” di bangsal Museum Pio Clementino bagian dari Museum Vatikan. Bak mandi dibuat pada abad pertama di zaman Kaisar Nero. Maka juga sering disebut Bak Mandi Kaisar Nero (Foto: Trias Kuncahyono)

Ketika hari Sabtu kemarin, mengunjungi Museum Vatikan–menemani Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto dan rombongannya, yang berada di Italia untuk bertemu pimpinan militer Italia–saya teringat apa yang pernah dikatakan Paus Fransiskus. Paus dari Argentina ini berbicara tentang keindahan. Ia memaknai keindahan.

Paus berbicara tentang seni dan keindahan ketika mengunjungi Anima Mundi Ethnological Museum (Museum Etnologi Dunia Binatang), Vatikan. Bagian dari Vatican Ethnological Museum ini, saat itu baru saja direnovasi (Catholic News Agency, 19 Oktober 2019).

Di Museum Etnologi ini ada juga Taman Borobudur. Hasil kerja sama antara Indonesia dan Takhta Suci sebagai upaya promosi nilai-nilai harmoni dalam keberagaman sekaligus mempererat hubungan antara kedua negara. Taman Borobudur yang diresmikan pada 4 Oktober 2017, antara lain ada replika Candi Borobudur.

Museum Vatikan, menurut catatan adalah museum tertua kedua di dunia. Yang tertua adalah Musei Capitolini atau Museum Capitoline di Roma tak jauh dari Colosseum. Museum ini didirikan tahun 1471 ketika Paus Sixtus IV mendonasikan sejumlah koleksinya, berupa benda-benda perunggu kepada penduduk Roma.

Lalu, yang tertua kedua adalah Museum Vatikan di kompleks Vatikan yang dimulai oleh Paus Yulius II, tahun 1506. Museum ini bermula dari keputusan paus meletakkan patung-patung koleksi pribadi (diikuti oleh para penerusnya, tidak hanya patung tapi juga lukisan-lukisan, dan benda-benda seni lainnya) di taman Vatikan yang kemudian dibangunlah museum.

Maka di dalamnya kita temukan keindahan. Keindahan benda-benda seni terpenting dan terbesar di dunia yang mencakup mahakarya kuno, dari Mesir hingga Yunani hingga Roma, dari seni Kristen awal dan abad pertengahan hingga Renaisans, dari abad ke-17 hingga seni kontemporer.

Keindahan tak ternilai itu juga muncul dari fresko (lukisan dinding), mosaik, pahatan, dan patung. Semua itu diciptakan oleh seniman besar, pada zamannya. Dan, dikumpulkan oleh para paus selama berabad-abad, dilestarikan, dirawat, dipelihara, dan dipamerkan di berbagai ruangan Museum Vatikan.

Dari brosur yang disediakan disebutkan, Museum Vatikan menyimpan 70.000 adikarya. Tetapi, hanya 20.000 item yang dipamerkan, tersebar di 1.400 ruangan, kapel dan galeri. Ini merupakan penjaga warisan luar biasa berupa mahakarya, keindahan dan sejarah serta simbolis serta tempat dialog antar budaya dan agama.

Kata mantan Kepala Museum Etnologi Vatikan, pastor Nicola Mapelli, dalam suatu perbincangan di KBRI Takhta Suci, saban hari Museum Vatikan dikunjungi 25.000 wisatawan. Sepanjang tahun 2023, tercatat tujuh juta orang mengunjungi museum itu.

Maka, setiap hari akan terlihat orang mengular, antre sepanjang tembok Vatikan untuk masuk museum. Dan, di dalam, begitu ramai. Begitu banyak orang ingin menikmati keindahan; ingin larut dalam keindahan, tapi juga merenungkan masa lalu mencari inspirasi.

Kalau EF Schumacher mengatakan “Small is Beautiful” (1973, judul bukunya), maka Paus Fransiskus mengatakan, “La bellezza ci unisce”, Keindahan memersatukan kita.

***

Patung-patung di salah satu sudut Ethnolohical Museum Anima Mundi, Bangsal Binatang di dalam Museum Vatikan yang dibangun oleh Paus Pius  VI, 1775-1799 (Foto: Trias Kuncahyono)

Kata Paus Fransiskus, selain memersatukan, keindahan itu mengajak setiap orang untuk menghayati persaudaraan kemanusiaan, melawan budaya kebencian, rasisme, nasionalisme yang selalu mengintai” (Vatican News, 19 Oktober 2023).

Memang, hanya yang indah-indah yang memersatukan: harmoni, belas kasih, cinta kasih, toleransi, gotong-royong, kesantunan, taat dan patuh pada hukum, bermoral, beretika, bersahabat, bersaudara, dan sebagainya. Yang teratur, itulah yang indah. Yang indah itu adalah yang menenteramkan jiwa.

Nasihat-nasihat lama pun mengatakan demikian. Misalnya, Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto Dhur Angkoro, secara lurus berarti percantik keindahan dunia, berantas keangkaramurkaan.

Yang kurang-lebih berarti,  hidup di dunia hendaknya berusaha memperindah dunia ini dengan rasa cinta kasih kepada semesta, dan memberantas angkara murka dari segala sifat tercela yang merusak dunia. Sebab, Urip Iku Urup (Hidup itu Nyala).  Orang seharusnya menjadi penerang dan memberi manfaat kepada setiap makhluk di sekitarnya.

Dalam pidatonya kepada para seniman di Kapel Sistina yang juga bagian dari Museum Vatikan, 23 Juni 2023, Paus mengutip yang ditulis Romano Guardini (1885 – 1968), imam, filsuf, dan teolog Italia tinggal di Jerman. Bagi Guardini, “sebuah karya seni membuka sebuah ruang di mana kita dapat melangkah, di mana kita dapat bernapas, bergerak dan menjumpai benda-benda dan orang-orang yang terbuka di hadapan kita.”

Kata paus, memang benar bahwa dalam perjumpaan dengan seni, batasan menjadi lebih cair dan batasan pengalaman serta pemahaman kita semakin luas. Segalanya tampak lebih terbuka dan mudah diakses. Kita mengalami spontanitas anak yang penuh imajinasi dan intuisi visioner yang memahami realitas.

Lalu, paus melanjutkan, seperti dikatakan oleh seorang penulis Amerika Latin, kita sebagai manusia mempunyai dua mata: satu mata untuk melihat apa yang ada di depan kita, dan satu lagi untuk melihat harapan dan impian kita.

Ketika seseorang tidak memiliki kedua mata ini, atau hanya melihat sesuatu dengan salah satu mata, maka ada sesuatu yang hilang. Yakni, kemampuan untuk melihat harapan dan impian kita… kreativitas artistik… Sebab, oculi plus vident quam oculus, dua mata menyaksikan lebih banyak daripada satu mata’.

Tetapi, tidaklah cukup hanya dengan melihat. Kita juga perlu bermimpi. Sebagai manusia, kita mendambakan sebuah dunia baru yang tidak dapat kita lihat sepenuhnya dengan mata kepala kita sendiri, namun kita menginginkannya, kita mencarinya, kita memimpikannya.

***
Kata Paus ketika itu kepada para seniman, seni selalu terikat dengan pengalaman keindahan. Seperti yang ditulis Simone Adolphine Weil (1909 – 1943), seorang aktivis politik, mistikus, dan filsuf Perancis, “Kecantikan menggoda daging untuk memasuki jiwa. Seni menyentuh indra untuk menghidupkan semangat, melalui keindahan yang mencerminkan hal-hal yang baik, adil, dan benar.”

Kecantikan adalah tanda kepenuhan. Hal ini membuat orang secara spontan mengatakan sesuatu: “Betapa indahnya!” Keindahan membuat orang merasakan bahwa hidup diarahkan pada kepenuhan, kepuasan. Kata Paus, dalam keindahan sejati, orang mulai mengalami kerinduan akan Tuhan.

Banyak orang saat ini yang berharap seni dapat kembali lagi pada penggarapan keindahan. Tetapi, kata paus, ada juga keindahan yang sia-sia, dibuat-buat, dangkal, bahkan tidak jujur.

Itu kecantikan kosmetik. Kepura-puraan. Lamis. Padahal, bukankah naturalia non sunt turpia, segala hal yang alami tidak memalukan. Justru indah.

***

 

Fresko di langit-langit lorong Museum Vatikan (Foto: Trias Kuncahyono)

Tetapi siang itu, kami benar-benar menikmati keindahan karya seni sejati di Museum Vatikan sampai Kapel Sistina, dan berakhir Basilika Santo Petrus lengkap dengan makam para paus di grota, ruang bawah tanah. Demikian juga para peziarah dan wisatawan yang hari itu rela antre untuk masuk museum dan basilika.

Mengapa rela antre dan berpanas-panas? Bukankah manusia memang pemuja keindahan. Karena keindahan identik dengan kebenaran. Sesuatu yang indah, di dalamnya selalu mengandung kebenaran.

Maka, walaupun terlihat indah namun tidak membawa serta bahkan tidak mengandung kebenaran, sejatinyalah tidak indah. Padahal, La bellezza ci unisce, keindahan memersatukan kita.***

Foto-foto yang lain:

 

 

Tangga Bramante ( karya arsitek Donato Bramante, 1505) di Museum Vatikan

Pintu masuk Museum Vatikan

Patung Golden Globe karya Arnaldo Pomodoro di halaman luar museum

 

Sala delle statue atau bangsal patung

Ornamen pada sebuah sarkofagus marmer putih

 

Patung Perseus mengangkat kepala Medusa, salah satu monster dalam mitologi Yunani, karya Antonio Canova (1757 – 1822)

Patung Arno, dewa sungai, zaman Kaisar (76 – 138)

 

 

Patung sapi berbahan marmer putih di Anima Mundi Museum, Bangsal Binatang

Patung kuda dari marmer di Anima Mundi, Bangsal Binatang,Museum

Fresko di langit-langit

 

Sarkofagus dari marmer merah St Helena, ibunda Kaisar Konstantinus Agung, yang meninggal tahun 335.

Patung Meleager, seorang pahlawan dalam legenda Yunani, di Bangsal Binatang.
Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
22
+1
16
Kredensial