DI BORGO EGNAZIA

Paus Fransiskus dan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, di KTT G7 di Borgo Egnazia, Brindisi, Puglia, Italia Selatan, 14 Juni 2024 (Foto: The Guardian)

Tempat peristirahatan mewah Borgo Egnazia, kemarin disebut-sebut berbagai media. Borgo Egnazia terletak di Fazano, Brindisi, wilayah Puglia, Italia Selatan. Di peta Italia tergambar, Fazano terletak antara Bari dan Brindisi.

Borgo Egnazia, digambarkan sebagai resort mewah yang dikelilingi pohon zaitun di desa model abad pertengahan. Inilah tempat yang disukai para selibritas untuk “ngadem”. Madonna, misalnya, atau Justin Timberlake, yang pada tahun 2012 menikahi aktris Jessica Biel di tempat ini.

Pada tahun 1997, saya ditemani Romo Budi Subanar mengunjungi Brindisi yang waktu itu “diserbu” pengungsi dari Albania. Tetapi, kami tidak mengunjungi Fazano, kota kuno yang wilayahnya membentang dari perbukitan hingga pantai Laut Adriatik itu.

Di resort yang menghadap Laut Adriatik itu, terpisah jarak 487 km selatan Roma, kemarin dulu (13 – 15 Juni) digelar KTT G7. Ini konferensinya negara-negara kaya: Perancis, Inggris, Jerman, Kanada, Italia, AS, Jepang, ditambah Uni Eropa (Ursula von de Leyen) dan Dewan Eropa Uni Eropa Charles Michel,

Meskipun harian The New York Times (13/6), “meledeknya” sebagai pertemuan puncak para pemimpin yang secara politik lemah. Bahkan disebut mendiskusikan “Unruly World.” Memang para peminpin negara G7–Joe Biden, Emmanuel Macron, Rishi Sunak, Olof Scholz, Fumio Kishida, Justin Trudeau, dan Giorgia Meloni–menghadapi persoalan politik di negerinya masing-masing.

Tapi, PM Meloni mengambil langkah cerdik dengan mencoba menghilangkan reputasi G7 sebagai klub yang hanya diperuntukkan bagi negara-negara kaya di Barat dan memberikan kesan G7 masih kuat serta penting. Maka Italia mengundangan lebih dari 10 negara lain untuk hadir.

Mereka adalah Pangeran Mohamed bin Zayed dari UEA, Presiden Aljazair Abdelmadjid Tebboune, Raja Abdullah II dari Yordania, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, PM India Narendra Modi, Presiden Argentina Javier Milei, President Brazil Luiz Inácio Lula da Silva of Brazil, Presiden Kenya William Samoei Ruto, Presiden Tunisia Kais Saied, juga President Ukraina Volodymyr Zelensky, dan Paus Fransiskus.

Yang istimewa di KTT ke-50 ini adalah diundangnya Paus Fransiskus untuk berbicara. Ini kali pertama seorang paus diundang menghadiri KTT G7.

***

Paus Fransiskus naik mobil golft didampingi PM Italia Giorgia Meloni menuju tempat KTT, 14 Juni 2024 (CNS photo/Vatican Media)

Kehadiran Paus Fransiskus, amat menarik dan disambut para pemimpin politik yang berada di ruang konferesi dengan penuh sukacita. Bahkan Narenda Modi seperti sahabat lama, misalnya, memeluk paus penuh antusias; juga Lula, dan Javier Milei

Joe Biden dan Erdogan, serta Sunak berbincang akrab dengan Paus; sementara Raja Abdullah dan Trudeau mencium pipinya, sedangkan Macron buru-buru memakai jasnya kembali saat akan salaman dengan pemimpin umat Katolik sedunia itu.

Paus tiba di Borgo Egnazia setelah bertemu dengan 100 komedian dunia di Vatikan. Dunia yang sangat berbeda dengan KTT G7. Di Borgo Egnazia, paus tidak seperti para ekonom yang diundang ke KTT. Mereka memberikan ramalan-ramalan tentang kondisi perekonomian dunia.

Paus tidak bicara ekonomi. Tidak juga berkotbah soal kekuatan NATO yang “berhadapan” dengan Rusia di Ukraina. Paus juga tidak bicara lagi soal krisis di Timur Tengah, khususnya Gaza, sebagaimana disampaikan akhir-akhir ini yang menjadi keprihatinannya. Meskipun bicara perdamaian dunia.

Namun, Paus Fransiskus datang untuk berbicara tentang masa depan. Bukan masa depan satu negara. Tapi, masa depan bangsa-bangsa, masa depan umat manusia dengan segenap martabat kemanusiaannya berkaitan dengan kemajuan teknologi.

Para pemimpin negara dan pemerintahan diajak untuk berpikir dan merenungkan masa depan. Memang benar, kemampuan untuk merenungkan masa depan yang tidak diketahui sering kali dianggap sebagai ciri sebenarnya dari kenegarawanan yang bijaksana, dibandingkan dengan politisi kotor yang hanya memikirkan kepentingan diri saat pegang kuasa.

Tetapi, tidak mudah untuk merenung dan merenungkan suatu persoalan. Apalagi, merenungkan persoalan masa depan. Sebab, ada kecenderungan, orang maunya cepat, kalau perlu potong kompas, tak peduli akibatnya dari tindakannya itu. Yang penting, tujuan tercapai untuk dirinya sendiri.

***

Para pemimpin dunia berfoto saat KTT G7 di Borgo Egnazia, Italia, 13 Juni 2024. Dari kiri, Presiden Dewan Eropa Charles Michel; Kanselir Jerman Olaf Scholz; Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau; Perdana Menteri Perancis Emmanuel Macron; Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni; Presiden AS Joe Biden; Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida; Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak; dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. (CNS/Courtesy of G7 Italia 2024)

Paus berbicara tentang Artificial Intelligence (Kecerdasan Buatan/AI). Kata Paus bahwa kelahiran AI mewakili “revolusi industri-kognitif sejati” yang akan mengarah pada “transformasi penting yang kompleks”.

Transformasi-transformasi ini, mempunyai potensi positif. Misalnya, “demokratisasi akses terhadap pengetahuan”, “kemajuan penelitian ilmiah secara eksponensial”, dan pengurangan “pekerjaan yang menuntut dan sulit.

Tetapi juga memiliki arti negatif. Misalnya, “ketidakadilan yang lebih lebar dan besar antara negara-negara maju dan berkembang atau antara kelas sosial yang dominan dan tertindas.”

Itulah sebabnya, Paus Fransiskus beberapa waktu lalu, berbicara tentang perlunya regulasi AI. Vatikan mempromosikan, “Rome Call for AI Ethics” (Seruan Roma untuk Etika AI) sejak tahun 2020. Seruan itu menjabarkan enam prinsip etika AI, yang mencakup transparansi, inklusi, ketidakberpihakan, tanggung jawab, keandalan, keamanan, dan privasi.

Dalam pesannya pada Hari Perdamaian Gereja Katolik Sedunia, Agustus 2023, yang diselenggarakan pada 1 Januari 2024, paus memeringatkan tentang bahaya AI. Ia mengatakan bahwa AI harus digunakan sebagai “pelayanan kemanusiaan.”

Menurut Paus, harus ada perjanjian internasional yang mengikat untuk mengatur perkembangannya. Sebab, AI dapat mengarah pada “kediktatoran teknologi” jika tidak diatur dengan benar.

Ketika paus berbicara tentang AI dengan segala untung dan ruginya, manfaat dan mudaratnya, segala konsekuensinya, sebenarnya para pemimpin diajak untuk memikirkannya.

Sama halnya, ketika suatu saat paus bicara soal perubahan iklim (ensiklik Laodato Si), ledakan penduduk, pandemi global, perdamaian, atau gelombang imigrasi, individualisme, konsumerisme, persaudaraan, misalnya, sebenarnya adalah bentuk ajakan kepada para pemimpin dunia untuk bersama-sama memikirkan, mengatasi, dan yang lebih penting mencari jalan keluar.

Maka, ketika paus kemarin bicara soal AI, ini menunjukkan kepekaannya terhadap isu tersebut. Selain itu juga menunjukkan tantangan yang dihadapi umat manusia. Paus membaca tanda-tanda zaman. Hanya mereka berhati bersih dan peka sajalah yang manpu membaca tanda-tanda zaman.

Katanya, “The future starts today, not tomorrow.” Artinya, kita harus bergegas bergerak agar tidak ditinggal zaman; gara-gara asyik dengan dirinya sendiri, asyik memikirkan dan memuaskan kepentingan diri sendiri.

Kata Paus Fransiskus, kecerdasan buatan menyebabkan “revolusi industri-kognitif” yang dapat merendahkan martabat manusia. Memang, katanya, AI adalah “alat yang menarik dan juga menakutkan.” Ini seperti politik: tremendum et fascinatum, menggentarkan dan mengagumkan.

Dengan kata lain, Paus mengakui potensi penerapannya dalam banyak bidang yang berguna bagi kehidupan manusia, seperti kedokteran, tenaga kerja, budaya, komunikasi, pendidikan dan politik. Tetapi, paus sekaligus mengingatkan akan bahasa yang dibawanya.

Tahun lalu, paus menjadi sasaran kejahatan oleh AI. Tahun lalu, ketika gambar paus muncul secara online. Gambar tersebut menunjukkan Paus berusia 86 tahun itu mengenakan jaket puffer putih bergaya dan salib berhiaskan berlian perak.

Gambar tersebut segera menjadi viral dan ditonton jutaan kali di platform media sosial. Foto tersebut merupakan rendering— proses menggabungkan hasil editan berupa foto, video, audio, teks, dan objek lainnya–kecerdasan buatan yang dihasilkan dengan perangkat lunak AI Midjourney.

***

Paus Fransiskus dan Presiden AS Joe Biden di KTT G7 Italia, 14 Juni 2014 (Photo by Vatican Media via Vatican Pool/Getty Images)

Menjelang akhir pidatonya, Paus Fransiskus, “Refleksi saya mengenai dampak kecerdasan buatan terhadap umat manusia membawa kita untuk mempertimbangkan pentingnya ‘politik yang sehat’ sehingga kita dapat menatap masa depan dengan harapan dan keyakinan.”

Lalu, Paus mengingatkan yang ditulis dalam ensiklik Fratelli Tutti. Katanya, “bagi banyak orang saat ini, politik adalah kata yang tidak disukai, sering kali disebabkan oleh kesalahan, korupsi, dan ketidakefisienan yang dilakukan beberapa politisi. Ada juga upaya untuk mendiskreditkan politik, menggantinya dengan ekonomi, atau memutarbalikkannya ke ideologi tertentu.”

“Namun”, lanjutnya, “bisakah dunia kita berfungsi tanpa politik? Bisakah ada proses pertumbuhan yang efektif menuju persaudaraan universal dan perdamaian sosial tanpa kehidupan politik yang sehat?” Maka itu, perlu politik yang sehat.

Lewat pidatonya, paus mendesak para pemimpin pemerintahan dan negara untuk mengakui bahwa mereka mempunyai kekuatan untuk memutuskan apakah kecerdasan buatan menjadi alat yang menakutkan atau kreatif.

Paus juga menyerukan mereka agar melarang penggunaan killer robots dalam perang. Kata Paus, mesin tidak boleh memutuskan apakah manusia hidup atau mati. Manusialah yang harus memutuskan, sebab manusia “tidak hanya memilih, namun di dalam hati mereka mampu mengambil keputusan”.

Paus tidak hanya berpidato di hadapan G7 secara kolektif, tapi mengadakan pertemuan bilateral dengan sejumlah pemimpin: Managing Direktur IMF Kristalina Georgieva, Zelenskyy, Macron, Justin Trudeau, Samoei Ruto, Narendra Modi, Joseph Biden, Luiz Inácio Lula da Silva, dan Erdoğan.

Puglia atau Apulia, hari itu seperti mengulang sejarahnya. Secara historis, Apulia berperan sebagai jembatan antara dunia Timur dan Barat. Selama berabad-abad, wilayah ini menyambut berbagai bangsa, budaya, dan agama yang meninggalkan warisan yang kaya.

Peran historis yang dimainkan kawasan Puglia dalam mendorong dialog menjadikannya tempat yang ideal untuk mempertemukan para Pemimpin G7, negara-negara yang diundang, dan Organisasi Internasional untuk mengatasi masalah-masalah besar global.

Di Borgo Egnazia…akhirnya Paus Fransiskus mengatakan, semua orang berhak memanfaatkannya (AI). Namun, tanggung jawab politik ada pada penciptaan kondisi agar pemanfaatan yang baik itu bisa dilakukan dan membuahkan hasil….

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
41
+1
24
Kredensial