BETHLEHEM REBORN

Bagian dalam Gereja Kelahiran, Basilica della Nitivita, di Bethlehem yang sedang direnovasi (repro brosur pameran)

Hari Natal masih belum tiba. Sekarang baru bulan November. Natal dirayakan pada tanggal 25 Desember. Tetapi, suasana Natal mendadak hadir, ketika dinyanyikan lagu Leila Hakeema, (Leila Moukadassa), yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi Holy Night (Malam Kudus), di Chiesa di San Salvatore di Lauro, Roma, Gereja St Salvatore.

Layla muqaddasah, layla hadia
Kullu shay’ìn hadi’, kullu shay’in mushriq
Hawla al-umm al-‘adhraa’ wal-tifl
Tifl muqaddas, raqiq wa lateef
Yanam bisalam samawi
Yanam bisalam samawi

Silent night, holy night 
All is calm, all is bright
Round yon virgin mother and child
Holy infant so tender and mild
Sleep in heavenly peace
Sleep in heavenly peace

Lagu Leila Hakeema dinyanyikan menjelang Misa Kudus berakhir. Hari itu, Misa Kudus yang diselenggarakan Kedutaan Palestina untuk Takhta Suci menggunakan tiga bahasa: Inggris, Italia, dan Arab. Beberapa doa didaraskan dalam bahasa Arab, termasuk Bapa Kami, bacaan Kitab Suci Injil, dan juga doa umat. Khotbahnya pun menggunakan campuran tiga bahasa itu.

Misa diselenggarakan berkaitan dengan pameran Gereja Kelahiran di Betlehem, di Musei di San Salvatore in Lauro, di samping Gereja San Salvatore. Gereja Kelahiran sudah menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO. Pameran ini mengajak siapa saja yang mengunjunginya untuk melakukan perjalanan inspiratif melalui seni, iman, dan harapan. Pameran ini diselenggarakan dalam rangkaian Tahun Yubileum 2025.

***

Tembok Pemisah di Bethlehem, yang mengisolasi Bethlehem dengan Jerusalem Timur (Foto: Istimewa)

Membayangkan kota kecil yang terletak 10 kilometer selatan Jerusalem itu, 2000 tahun silam, tentu hanya bisa bila mengandalkan catatan sejarah. Catatan sejarah yang masih ada dari dunia Alkitab, penemuan arkeologi dari Yudea abad pertama, dan geografi alam wilayah sekitarnya. Memang, sumber-sumber yang tersedia ini tidak memungkinkan merekonstruksi secara lengkap desa tempat Yesus dilahirkan itu.

Tentu, Bethlehem sekarang sangat berbeda dengan Bethlehem pada masa lalu yang digambarkan dałam lagu Malam Kudus: Kullu shay’ìn hadi’, kullu shay’in mushriq, semua tenang, semua gemerlap bersinar. Kota itu dipisahkan dengan Jerusalem oleh tembok tinggi dan tebal—seperti Tembok Barlin, zaman dulu—yang dikenal dengan sebutan Tembok Tepi Barat atau Tembok Pemisah, yang dibangun Israel.

Tembok Pemisah itu dibangun selama Intifada Kedua (2000 – 2005), periode konflik yang memanas antara Israel dan Palestina. Pembangunan tembok dimulai pada tahun 2002. Israel menyebutnya sebagai langkah keamanan untuk mencegah pelaku bom bunuh diri memasuki Israel dari Tepi Barat.

Tetapi bagi ribuan warga Palestina yang tinggal di Bethlehem, tembok itu menjadi bencana. Mereka tidak dapat bergerak bebas, berjuang untuk mempertahankan mata pencaharian, dan tidak dapat kembali ke desa leluhur mereka, di balik tembok. Bagi warga Palestina, tembok ini telah menjadi salah satu simbol paling mencolok dari pendudukan militer Israel.

Maka orang pun bertanya: masihkan Bethlehem tenang, aman, dan damai? Para peziarah, mungkin, ketika berjalan menyusuri jalan-jalan di Bethlehem menuju Gereja Kelahiran Yesus, serasa berjalan di tengah sejarah. Sejarah yang menceritakan kisah ketika Sang Raja Damai dilahirkan di kota itu.

Memang, kehidupan sehari-hari terus berjalan. Tetapi, orang-orang Palestina kehilangan kemerdekaan mereka, kebebasan mereka, dan juga ketenangan serta kedamaian mereka, karena pendudukan Israel. Kebijakan Israel membangun permukiman illegal di wilayah itu, pembangunan tembok bertujuan untuk mengurangi luasan kota, dan yang lebih tragis lagi, mengubah Bethlehem menjadi getto yang dililit kemiskinan, immobilitas, dan tentu saja, isolasi.

Sejak pendudukan Israel tahun 1967, Israel telah menerapkan beberapa strategi untuk memperluas kolonisasinya atas tanah Palestina, yang melanggar hukum internasional. Mayoritas Betlehem utara telah direbut oleh pemukiman ilegal Israel dan Tembok Pemisah mengisolasi Betlehem dari Yerusalem Timur yang diduduki. Lebih dari 85 persen tanah Betlehem ditetapkan berada di bawah kendali penjajah Israel. Saat ini, pemerintah Palestina hanya memiliki kendali terbatas, sisanya.

***

Pakaian tradisional penduduk Bethlehem yang dipamerkan

Bethlehem kota kecil—menurut data resmi terakhir pemerintah Kota Bethlehem, penduduknya, 30.000 jiwa—hingga tahun lalu, dikelilingi 37 permukiman Israel yang disebut Blok Gush Etzion. Tujuan pembangunan permukiman ini adalah untuk mengisolasi Bethlehem dari Jerusalem dan wilayah historis Palestina lainnya (The New Arab, 2024).

Kota tempat kelahiran Yesus ini pernah menjadi medan pertempuran selama dua Intifada, terutama ketika 200 pejuang perlawanan Palestina dan warga sipil mundur ke Gereja Kelahiran pada tahun 2002 – yang kemudian dikepung oleh pasukan Israel selama 39 hari. Ketika itu, Vatikan menggambarkan pengepungan Israel sebagai “tindakan barbar yang tak terlukiskan.”

Padahal, Betlehem adalah titik pertemuan surga dan bumi, mewartakan kemuliaan bagi Allah dan damai sejahtera bagi manusia yang berkehendak baik. Kelahiran Yesus, 2000 tahun silam di Bethlehem memiliki satu pesan mendasar bagi umat manusia — pesan kasih. Ia mencontohkan dalam diri-Nya sendiri pesan kasih yang melayani karena Ia tidak hidup untuk diri-Nya sendiri melainkan untuk orang lain.

Konsep kasih menemukan dalam diri Yesus sebuah definisi baru: pengorbanan diri. Ia memeteraikan definisi itu dengan darah-Nya sendiri di kayu salib. Visi kasih yang rela berkorban mencakup semua orang dan tidak mengecualikan siapa pun; visi ini menghormati kehidupan dan menyerukan martabat setiap pribadi manusia, mengajak orang miskin dan tertindas untuk memilih, menuntut keadilan bagi semua, dan membayangkan prinsip solidaritas di dunia.

Akankah semangat, Bethlehem Reborn benar-benar akan mewujud dan Bethlehem lahir kembali menjadi kota yang aman, damai, dan tenang? Pertemuan antara Paus Leo XIV dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, beberapa hari lalu di Vatikan, kiranya dałam rangka itu pula. Mengusahakan segera terciptanya perdamaian di Tanah Palestina, termasuk di Bethlehem. Pesan utamanya adalah bagaimana mengembalikan perdamaian tidak hanya di Bethlehem tetapi di seluruh Tanah Palestina.

Tapi, damai bukan sekadar ketiadaan perang. Damai adalah pertumbuhan dalam harmoni: seperti Misa Kudus di Gereja St Salvatore yang menggunakan tiga bahasa, begitu harmonis. Dan, perdamaian hanya mungkin terjadi jika ada keinginan untuk rekonsiliasi. Kebencian hanya melahirkan kebencian. Rekonsiliasi membutuhkan keberanian dan kemurahan hati. Ini yang hingga kini belum ada. Tanah Palestina masih dikuasai kebencian. ***

Foto-foto lain:

0

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
34
+1
17
Kredensial