
Begitu, kata Paus Leo XIV dalam pidato awal tahun, 9 Januari 2026 di depan para Duta Besar yang terakreditasi untuk Takhta Suci. Secara lebih lengkap pemimpin umat Katolik Roma sedunia ini mengatakan demikian: “War is back in vogue and a zeal for war is spreading,” perang kembali menjadi tren dan semangat untuk berperang semakin menyebar.
Sekarang ini, yang dikatakan Paus asal Amerika Serikat itu, benar adanya. Selagi perang Israel – Hamas, Rusia – Ukraina, belum selesai (entah kapan) sudah pecah perang baru: antara Pakistan – Afganistan, dan koalisi AS dan Israel melawan Iran, yang bisa mengobarkan perang lebih baru lagi antara Iran dan negara-negara Arab Teluk yang menjadi korban serangan Iran karena adanya pangkalan militer AS di negara-negara itu.
Maka, kata Paus Leo XIV Minggu (1/3) sebelum Doa Angelus (Doa Malaekat Tuhan), terjadilah “spiral of violence“, spiral kekejaman yang bila tidak segera bisa dihentikan akan menjadi “irreparable abyss”, “jurang yang tak dapat dijembatani.” Semakin lebar dan dalam jurang itu, dengan apa akan menguruknya?
Bukankah, stabilitas dan perdamaian tidak dibangun dengan saling mengancam, atau dengan senjata, yang menabur kehancuran, penderitaan, dan kematian. Tetapi, kata Paus Leo XIV, hanya melalui dialog yang masuk akal, otentik, dan bertanggung jawab.
Dialog masuk akal, otentik, dan tanggung jawab antara pihak yang berkonflik, itu yang rasanya sekarang sulit direalisasikan. Mengapa?
Kata Paus Leo XIV, karena “Kesombongan mengaburkan realitas itu sendiri dan empati kita terhadap orang lain. Bukan kebetulan bahwa kesombongan selalu menjadi akar dari setiap konflik.”
Karena kesombongan itu, diplomasi yang seharusnya mendorong dialog dan mencari konsensus di antara semua pihak yang sedang berseteru, berkonflik, digantikan oleh diplomasi berbasis kekerasan, baik oleh individu maupun kelompok sekutu.
***

Menurut Paus Leo XIV, kecenderungan Itu menunjukkan, “Diplomasi yang mendorong dialog dan mencari konsensus di antara semua pihak sedang digantikan oleh diplomasi berbasis kekerasan, baik oleh individu maupun kelompok sekutu.”
Pengakuan Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, yang memediatori perundingan nuklir antara AS dan Iran, bisa menjadi contoh, “kesombongan mengaburkan realitas”, juga contoh “diplomasi yang mendorong dialog digantikan diplomasi kekerasan.”
Kata Badr al-Busaidi (DW, 1 Maret 2026), pada hari Jumat (27/2) “kemajuan signifikan” dalam perundingan di Jenewa telah dicapai. Iran menawarkan jaminan bahwa mereka tidak akan berupaya memperoleh material nuklir untuk produksi bom atom. Komitmen ini merupakan “terobosan yang sangat penting” yang “belum pernah dicapai sebelumnya,” kata al-Busaidi kepada stasiun televisi AS CBS News, selain membuat pernyataan serupa di X.
Tapi, Sabtu pagi AS dan Israel, menggempur Iran!Padahal, di masa-masa yang sangat kritis seperti saat perundingan itu, setiap negara tidak boleh melupakan kebenaran sederhana: diplomasi-lah yang memenangkan perdamaian dan kewarasan. Melancarkan perang, terutama antara dua negara nuklir, bukanlah solusi; itu adalah jalan pintas menuju bencana besar.
Henry Kissinger, menlu AS (1973 – 1977) zaman Presiden Richard Nixon pernah mengingatkan meskipun kontroversial. Kata Kissinger, kebijakan luar negeri harus mencapai keseimbangan antara diplomasi dan kekuatan militer. Doktrin perdamaiannya menekankan pentingnya keputusan yang terhitung yang menguntungkan semua pihak terkait dan menjaga stabilitas global (moderndiplomacy.eu).
Rupanya, doktrin perdamaian itu sudah dilupakan. Mereka memilih tindakan yang tidak terukur atau tidak strategis, yang didorong oleh kebencian ekstrem dan ambisi politik. Padahal, semestinya,” peran diplomasi dikembalikan.
***

Sejarah telah mencatat dan membuktikan bahwa diplomasi berhasil menyelesaikan perang, mencegah perang. Perjanjian Westphalia pada tahun 1648 mengakhiri Perang Tiga Puluh Tahun yang menghancurkan, antara negara-negara Protestan dan Katolik. Dengan negosiasi, mereka mengakhiri perang, bukan senjata.
Setelah kehancuran mengerikan akibat perang dunia, para pemimpin internasional duduk bersama untuk membentuk lembaga-lembaga seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mencegah konflik di masa depan. Perdamaian tidak datang dari bom, rudal dan pertumpahan darah. Perdamaian datang dari pembicaraan damai, perjanjian, dan kerja sama.
Di era globalisasi saat ini, diplomasi muncul sebagai alat yang lebih ampuh dari sebelumnya. Diplomasi memungkinkan negara-negara untuk meredakan ketegangan, memahami situasi, dan bergerak maju menuju perdamaian. Ya, memang membutuhkan waktu. Ya, memang membuat frustrasi. Tetapi ini adalah satu-satunya pilihan yang tersisa yang menawarkan perdamaian dan stabilitas berkelanjutan.
Tetapi, realitas hasil diplomasi itu kabur atau sengaja dibuat kabur karena kosombongan pemimpin. Kesombongan juga membuat hati sulit menerima masukan, apalagi nasihat. Kesombongan mengaburkan empati. Kesombongan menjadikan orang lain sekadar objek perbandingan.
Maka ketika perundingan memperlihatkan kemajuan, justru ditinggalkan. Kegagalan diplomasi pun terjadi. Tapi, kegagalan tersebut terjadi di tengah kemajuan yang terlihat. Para mediator secara terbuka membahas kerangka kerja yang layak; kedua belah pihak telah menunjukkan fleksibilitas – jalan untuk membatasi eskalasi nuklir tampak nyata.
Sebab, memilih eskalasi militer pada saat itu merusak premis bahwa negosiasi adalah alternatif yang nyata untuk perang. Hal itu menandakan bahwa bahkan diplomasi aktif pun tidak menawarkan jaminan pengekangan. Perdamaian bukanlah hal yang naif. Itu masuk akal.
Kata Ron Kronish dalam The Times of Israel (30 November 2025), selama beberapa dekade, Israel tampaknya lebih memilih perang daripada diplomasi. Ini tampaknya merupakan respons spontan para pemimpin Israel (banyak di antaranya berasal dari militer!) terhadap krisis dan konflik. Apa yang tidak dapat dicapai dengan kekerasan, coba dicapai dengan kekerasan yang lebih besar!
Mengapa demikian? Kata Ron Kronish Bibi (Benjamin Netanyahu) telah menjadi pecandu perang. Dia benar-benar war-acholic, kecanduan perang. Dia, dan banyak politisi di partai politik mereka (Likud) tidak melihat solusi atau jalan keluar lain dari situasi keamanan Israel yang mengerikan. Mereka terus mendorongnya menuju “kemenangan total”, yang berarti perang abadi selama bertahun-tahun. Mereka menolak semua ide yang masuk akal yang mungkin benar-benar mengakhiri perang ini dan membawa ke jalan menuju perdamaian dan stabilitas.
Ini ketemu dengan slogan Donald Trump yang digunakan kampanye presiden pertama dan kedua: “Make America Great Again.” Ini adalah slogan politik yang kemudian juga digunakan untuk merujuk pada ideologi, basis politik Trump, atau individual atau grup mereka.
***

Yang terjadi saat ini–perang di mana-mana, dan yang teranyar perang koalisi AS-Israel lawan Iran–kata Paus Fransiskus dalam pidatonya di Istana Apostolik Vatikan pada 18 Maret 2022, menyatakan “perang selalu – selalu! – merupakan kekalahan umat manusia, selalu” (Canopy Forum, 4 Mei 2022).
Lebih dari lima tahun lalu, 3 Oktober 2000, dalam ensikliknya, Fratelli Tutti, Paus Fransiskus menunjuk perang (bersama dengan hukuman mati) sebagai “solusi palsu” untuk masalah-masalah di dunia. Kata Paus Fransiskus, “Perang dapat dengan mudah dipilih dengan menggunakan berbagai alasan yang konon bersifat kemanusiaan, defensif, atau pencegahan, dan bahkan sampai pada manipulasi informasi. Dalam beberapa dekade terakhir, setiap perang tampaknya ‘dibenarkan’” (FT 258).
Dalam ensiklik yang sama, Paus Fransiskus meminta kita untuk mempertimbangkan biaya perang: “Setiap perang meninggalkan dunia kita dalam keadaan yang lebih buruk daripada sebelumnya. Perang adalah kegagalan politik dan kemanusiaan, penyerahan diri yang memalukan, kekalahan yang menyakitkan di hadapan kekuatan jahat. Janganlah kita terperangkap dalam diskusi teoretis, tetapi sentuhlah daging yang terluka dari para korban….Dengan cara ini, kita akan mampu memahami jurang kejahatan di jantung perang. Kita juga tidak akan merasa terganggu jika dianggap naif karena memilih perdamaian” (FT 261).
***

Pada akhirnya, korban pertama perang adalah kebenaran. Yang juga perlu dipahami oleh–para pemimpin yang mengobarkan peperangan dan juga para pemimpin pada umumnya–bahwa kekuasaannya di dunia tidak hanya berasal dari kekuatan militernya saja, tetapi juga dari otoritas moralnya.
Selama kampanye kepresidenannya, Trump meyakinkan para pendukungnya bahwa tidak akan ada lagi “perang abadi,” dan bahwa AS tidak akan terjebak di Timur Tengah. Tetapi dengan diluncurkannya serangan udara hari Sabtu lalu, AS sekali lagi berada di garis depan konflik di sana, dengan keinginan untuk menggulingkan pemerintahan suatu negara.
Berapa lama perang berlangsung? Kata Gabriel Marquez: “It is easier to start a war than to end it.” Sementara Niccolo Machiavelli mengatakan, “Wars begin when you will, but they do not end when you please.”
Karena itu, kata Paus Leo XIV, “Mereka memikul tanggung jawab moral untuk menghentikan spiral kekerasan sebelum menjadi jurang yang tak dapat dijembatani.”
P Trias, terima kasih pencerahannya. Perang hanya akan mengakibatkan kehancuran diantara yang berperang. Negosiasi, perundingan diantara yang berperang adalah jalan keluar terbaik
Terima kasih pak Dubes narasinya yang runtut dan sistematik tentang penyebab perang akibatnya. Saya pikir perang akan selalu ada sepanjanng sejarah umat manusia cuma intensitas & variasinya yg berbeda karena perebutan kepentingan dan resources.
Dab Trias . . . . Matur nuwun,
Perselisihan-konflik dengan pihak lain karena egoist yang membuahkan kesombongan, menganggap kecil pihak lain. Kalahkanlah dirimu sendiri sebelum mengalahkan pihak lain, demikian salah satu kata bijak. Pihak egoist sebenarnya sudah lakah, belum dapat mengalahkan pihak diri sendiri.
Semoga damai di dunia . . . . .
Mas Trias, terima kasih banyak untuk tulisan perang kembali menjadi tren. Betul sekali, Trump dan Netanyahu merupakan pecandu perang karena kesombongan dan rasa superior mereka berdua. Perang betul menghancurkan kemanusiaan. Tak ada perang yang bermanfaat.
Terima kasih mas.
Terima kasih pa Dubes. Ulasan yang mencerahkan. Mari kita bersatu dalam doa semoga perdamaian di tegakkan di muka bumi ini.