PAUS DAN TRUMP

Paus Leo XIV memimpin Doa Mohon Karunia Perdamaian, di Basilika Santo Petrus, Vatika, Sabtu, 11 April 2026 (Foto: Trias Kuncahyono)

Sabtu lalu, 11 April 2026, Paus Leo XIV memimpin Doa Perdamaian–per Invocare il Dono della Pace, mohon karunia perdamain– di Basilika Santo Petrus, Vatikan. Pada hari yang sama, AS dan Iran memulai negosiasi tatap muka di Pakistan dan gencatan senjata yang rapuh tetap berlaku.

Dalam renungan pendeknya, Paus Leo XIV, antara lain mengatakan: “Cukup sudah pemujaan diri dan uang! Cukup sudah pameran kekuasaan! Cukup sudah perang!” Lalu mengutip kalimat yang ditulis dalam Ensiklik Pacem in Terris (Damai di Bumi) yang diterbitkan Paus Santo Yohanes XXIII, 11 April 1963: “Nulla è perduto con la pace. Tutto può essere perduto con la guerra”; Tidak ada yang hilang oleh perdamaian; semuanya dapat hilang oleh perang”

Tetapi, ada sepotong bagian dari renungan itu terdengar keras bagi telinga pihak-pihak yang berilusi tentang kekuasaan dan menggunakan serta mengagungkan kekuasaan itu sesuka hatinya. Dalam renungan itu, Paus Leo XIV mengecam “delusion of omnipotence”, khayalan kemahakuasaan yang mengelilingi kita dan yang semakin tidak terduga serta agresif.”

Paus memang tidak menyebut siapa atau negara mana yang dikelilingi “khayalan kemahakuasaan” itu. Tapi, semua tahu “khayalan kemahakuasaan” itulah yang memicu perang AS-Israel dan Iran. Lalu Paus menuntut para pemimpin politik untuk berhenti dan bernegosiasi demi perdamaian.

Sebelumnya, pada Minggu Palma dalam khotbahnya Paus Leo XIV mengatakan:

“Yesus, Raja Damai, menolak perang, (Yesus) tidak dapat digunakan siapa pun untuk membenarkan perang. Ia tidak mendengarkan doa-doa orang-orang yang berperang, tetapi menolaknya, dengan berkata: “Meskipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan: tanganmu berdarah'” (Yesaya 1:15).

Dua hari kemudian, Trump mengancam “seluruh peradaban akan mati malam ini” kecuali Iran menyetujui kesepakatan untuk mengakhiri perang dan membuka blokade Selat Hormuz. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dan Paus Leo XIV menanggapi ancaman itu. Paus Leo XIV mengatakan ancaman seperti itu “tidak dapat diterima”.

Ancaman Trump itu mengingatkan ucapan serupa yang dilontarkan pada tahun 153 SM oleh Cato the Elder, senator yang sangat kondang dan berpengaruh, zaman Romawi. Ia mengatakan: “Carthago delenda est”, atau “Khartago harus dihancurkan.”

Khartago adalah kota kuno di Afrika Utara (sekarang di wilayah Tunisia) yang menjadi hub perdangangan di Timur Tengah, pada masa itu. Dari kota ini muncul tokoh Hanibal yang dalam sejarah dicatat mengerahkan pasukan gajah untuk menaklukan Roma. Tapi, gagal. Khartago akhirnya dihancurkan pasukan Romawi dalam perang Phunisia, tahun 146 SM.

***

Paus Leo XIV dan Presiden Donald Trump (Foto: NovaNews)

Khotbah-khotbah Paus Leo XIV itu ternyata menyinggung Presiden AS Donald Trump. Mengapa? Paus Leo XIV berulang kali menyerukan perdamaian di saat Trump memamerkan kekuasaannya; di saat AS dan Israel menggempur Iran. Bahkan, Paus Leo XIV terang-terangan menggambarkan ancaman Trump untuk menghancurkan peradaban Iran sebagai “sungguh-sungguh tidak dapat diterima.”

Bagi Paus, mendorong perdamaian dan rekonsiliasi merupakan landasan perannya sebagai pemimpin spiritual; dan berakar pada Injil. Ini bertujuan untuk menghidupi belas kasih dan rahmat Kristus. Paus berpendapat, merupakan kewajiban moral komunitas internasional untuk campur tangan dan menghentikan “spiral kekerasan”, sebelum menjadi “jurang yang tidak dapat diatasi.”

Sementara Trump, berdiri di seberang.  Lalu, Trump pun menyerang dan mengejek Paus Leo XIV. Dalam unggahan media sosial, Truth Social hari Minggu lalu, Trump menggambarkan Paus sebagai “LEMAH”, dan “buruk dalam Kebijakan Luar Negeri” [sic]. sambil menyatakan bahwa Paus Leo terpilih “hanya” sebagai konsekuensi dari kepresidenan Trump.

Trump juga menulis (the guardian.com), “Saya tidak menginginkan seorang Paus yang mengkritik Presiden Amerika Serikat karena saya dipilih, dengan kemenangan telak,” tambah Trump, merujuk pada kemenangan pemilu 2024-nya.

Dalam pemilihan tahun 2024, Trump memenangkan 55 persen suara pemilih Katolik, menurut AP VoteCast, sebuah survei ekstensif terhadap para pemilih. Namun, pemerintahan Trump juga memiliki hubungan dekat dengan para pemimpin Protestan evangelis konservatif dan telah mengklaim dukungan surgawi untuk perang melawan Iran.

Lewat unggahan itu, Trump juga menyatakan bahwa Paus Leo hanya mendapatkan posisinya “karena dia orang Amerika, dan mereka berpikir itu akan menjadi cara terbaik untuk berurusan dengan Presiden Donald J Trump”. Lalu, Trump mengklaim, “Jika saya tidak berada di Gedung Putih, Leo tidak akan berada di Vatikan.”

Trump masih menambahkan: “Leo harus memperbaiki perilakunya sebagai Paus, menggunakan akal sehat, berhenti melayani kaum Kiri Radikal, dan fokus menjadi Paus yang hebat, bukan seorang politisi. Itu sangat merugikannya dan, yang lebih penting, itu merugikan Gereja Katolik!”

Kepada wartawan, Trump mengatakan: “Saya rasa dia tidak melakukan pekerjaan yang sangat baik. Saya kira dia menyukai kejahatan,” menambahkan: “Dia orang yang sangat liberal.”

***

Paus Leo XIV memberikan keterangan pers dalam penerbangan dari Roma ke Aljazair (Foto: MediaVatican)

Serangan dan ejekan Trump terhadap Paus Leo XIV, mengingatkan akan cerita ejekan diktator Uni Soviet Joseph Stalin terhadap Paus Pius XII. Menurut Winston Churchill, suatu ketika PM Prancis Pierre Laval bertanya kepada Joseph Stalin, “Tidak bisakah Anda melakukan sesuatu untuk mendorong agama dan umat Katolik di Rusia? Itu akan sangat membantu saya dengan Paus.”

Mendengar ucapan Laval itu, menurut Churchill, Winston (1948) dalam “From War to War – Challenge and Response”,  The Second World War, dengan nada merendahkan menjawab, “Paus? How many divisions has the Pope? Berapa banyak divisi yang dimiliki Paus?”

Bagi Lenin, kekuatan selalu dikaitkan dengan kekuatan militer. Karena, Vatikan tidak punya tentara, berarti tidak memiliki kekuatan. Maka, tidak “direken” oleh Lenin. Dalam satu hal, diktator komunis itu benar. Kelangkaan senjata dan tentara di Negara Kota Vatikan hampir tidak menempatkan negara terkecil di dunia itu sebagai kekuatan militer yang serius.

Tetapi Stalin gagal menyadari kekuatan yang lebih dalam yang dimiliki oleh Paus. Paus bukan hanya sebagai penguasa Negara Kota Vatikan, yang hanya 44 hektar hasil Perjanjian Lateran 1929, tetapi sebagai Gembala Agung Gereja Universal, yang didirikan dan dipercayakan oleh Gembala yang Baik itu sendiri.

Seandainya Stalin hidup lebih lama dari masa hidupnya di dunia (meninggal 5 Maret 1953), ia akan melihat kekuatan kepausan bekerja dalam kesaksian moral yang luar biasa dari Santo Yohanes Paulus II, yang membantu menggulingkan rezim komunis yang menurut Stalin tak terkalahkan. Sesungguhnya, para Paus memiliki banyak hal untuk diajarkan kepada dunia tentang seni perang dan perdamaian.

Pemimpin Rusia itu lupa bahwa Paus adalah pemimpin umat Katolik sedunia. Dan, di zamannya tahun 1940-an, Paus memiliki umat antara 300 – 350 juta orang di seluruh dunia. Sekarang ini pun, Trump seperti Lenin. Ia lupa atau tak peduli bahwa saat ini (2026) Paus Leo XIV pemimpin 1, 422 miliar umat yang telah dibaptis (menurut Annuario Pontificio atau Pontifical Yearbook), di seluruh dunia.

***

Perayaan Misa Minggu Paskah dipimpin Paus Leo XIV, di Lapangan Santo Petrus, 5 April 2026 (Foto: Trias Kuncahyono)

Sejarah mencatat, dari dahulu, Paus menjadi aktor penting dalam urusan global. Bahkah di masa lalu, sampai dengan ditandatanganinya Perjanjian Westphalia 1648, kepausan memainkan peran aktif dalam masalah-masalah domestik kekaisaran-kekaisaran di Eropa.

Namun, setelah perjanjian yang mengakhiri Perang TigapuluhTahun (1618 -1648) itu, terjadi pergeseran menuju sekularisasi dalam politik internasional. Meski demikian, peran kepausan di panggung internasional tidak hilang sama sekali.

Menurut Christopher Paller Gerale, (2025), terlepas dari perubahan lanskap geopolitik, mesin diplomasi Vatikan telah menunjukkan ketahanan yang luar biasa yang menunjukkan kemampuan untuk menavigasi hubungan internasional yang kompleks dengan tepat. Takhta Suci telah lama memposisikan dirinya sebagai penengah netral yang telah memanfaatkan otoritas moral dan spiritualnya untuk memperjuangkan perdamaian, keadilan, dan martabat manusia.

Dalam bahasa ilmuwan politik AS, Joseph Samuel Nye Jr, Takhta Suci menggunakan soft power-nya (dalam hal ini otoritas moral dan spiritualnya), semakin besar tapi secara halus. Nye mendiskrepsikan soft power sebagai “daya tarik tak berwujud yang membujuk kita untuk mengikuti tujuan orang lain tanpa ancaman atau pertukaran eksplisit yang terjadi”.

Kata Joseph Nye, soft power, sebagai bentuk kekuatan kooptif, berbeda dengan hard power, kekuatan koersif (pemaksa, misalnya dengan kekuatan militer), yang memungkinkan kerja sama melalui daya tarik nilai-nilai bersama. Kekuatan lunak Paus berasal dari kemampuannya untuk mengajak umat Katolik di seluruh dunia, bekerja melalui nilai-nilai Kekristenan yang sama.

Pengaruh langsung dari soft power (Timothy Byrnes, 2019), dilakukan melalui tindakan, pernyataan, atau inisiatif Paus, yang ditujukan kepada para pemimpin atau khalayak global, untuk mempromosikan kepentingan institusional dan pandangan dunia Gereja, melalui peran mereka dalam profesi sekuler dan kehidupan publik, memenuhi dan memajukan keputusan dan preferensi kebijakan.

Misalnya, pada 27 Oktober 1986, Paus Yohanes Paulus II menyelenggarakan Hari Doa Perdamaian Sedunia yang bersejarah di Assisi, Italia, yang mempertemukan lebih dari 160 pemimpin dari agama-agama besar dunia dan denominasi Kristen. Ini menjadi momen penting hubungan antar-agama untuk mewujudkan perdamaian.

Paus Yohanes Paulus II adalah pendukung perdamaian dunia yang tak kenal lelah. Ia mendefinisikan perdamaian bukan hanya sebagai ketiadaan perang, tetapi sebagai kehadiran keadilan, martabat manusia, dan solidaritas. Sebagai penyintas Perang Dunia II, ia mempromosikan “peradaban kasih,” menekankan dialog, kebebasan beragama, dan hak asasi manusia sebagai fondasi perdamaian.

Paus Fransiskus bersama Imam Besar Al-Azhar, Kairo Sheik Ahmed el-Tayeb menandatangani  The Document on Human Fraternity for World Peace and Living Together, atau Abu Dhabi Declaration, 4 Februari 2019. Lewat dokumen itu, kedua pemimpin mendukung rasa empati dan solidaritas antarmanusia.

Pada 5 September 2024, di Jakarta bersama Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar menandatangani “Deklarasi Bersama Istiqlal 2024.” Dokumen berjudul “Membina Kerukunan Beragama demi Kemanusiaan” ini membahas krisis global dehumanisasi dan perubahan iklim, menekankan perlindungan lingkungan dan kerja sama antaragama.

Paus Fransiskus lewat ensiklik Laudato Si, mengajak seluruh umat manusia untuk menyelamatkan Bumi seisinya. Lalu dengan ensiklik Fratelli Tutti mengingatkan bahwa kita semua itu bersaudara. Untuk apa bermusuhan dan perang?

***

Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar menandatangi “Deklarasi Istiqlal” di kompleks Masjid Istiqlal, Jakarta, 5 September 2024 (Foto: Trias Kuncahyono)

Paus mampu mengubah fakta sederhana–bahwa ia memimpin Gereja Universal yang hadir di seluruh dunia–menjadi aktivitas dan memiliki pengaruh politik. Hal ini diakui AS. Dalam sebuah laporannya kepada Presiden George W Bush, Kedubes AS untuk Takhta Suci menulis demikian: “Vatikan adalah salah satu dari sedikit entitas berdaulat yang memiliki kehadiran dan jangkauan di hampir setiap negara di dunia” (The Guardian, 2010).

Ini berarti, Paus dan Gerejanya memiliki “kepentingan” di hampir semua negara, dan memiliki kehadiran dan sumber daya kelembagaan di hampir setiap konteks politik. Maka, bahwa Paus memainkan peran dalam politik dunia–meskipun bukan politisi–tidak bisa dipungkiri.

Menurut laporan Kedubes AS kepada Presiden Obama, Paus adalah seorang pemimpin spiritual yang “memiliki megafon moral yang tak tertandingi” (The Guardian, 2010a). Koran Inggris ini mengutip informasi dari Kedutaan AS di London tentang peran Paus dalam pembebasan para pelaut Inggris yang ditawan Iran (The Guardian, 10 Desember 2010)

Hingga saat ini, Vatikan tetap menjadi aktor penting dalam politik global karena perpaduan unik antara otoritas moral, identitas keagamaan, dan infrastruktur diplomatiknya. Meskipun tidak memiliki kekuatan militer tradisional, Vatikan memengaruhi hubungan internasional melalui netralitas yang berprinsip dan jaringan misi diplomatik global.

Menurut Jodok Troy (2017) “Intervensi Kepausan” bukanlah hal baru. Melindungi “hak-hak fundamental individu dan hak-hak rakyat dalam upaya mereka untuk menentukan nasib sendiri yang otentik”, mendorong para paus untuk mengkritik keras intervensi militer, dilakukan Paus. Misalnya, Paus Yohanes Paulus II menentang Operasi Badai Gurun dan Pembebasan Irak.

Tetapi, Gereja tidak terlibat dalam politik langsung, melainkan menawarkan dukungan moral kepada orang-orang yang menentang kediktatoran. Karena itu, pengaruh Paus selalu menjadi masalah bagi banyak diktator dan otokrat yang mencoba mengurangi pengaruhnya, misalnya, dengan menerjemahkannya ke dalam istilah militer.

Mariano Barbato dan Robert Joustra (2017) mengatakan, kekuatan Gereja Katolik dan Takhta Suci sangat besar di dunia yang begitu cepat kehilangan kosakata moral selain untung/rugi, kekuasaan/ketertiban, dan keamanan/kekuatan. Bahasa diplomasi internasional telah menguduskan kata-kata yang diingat Gereja: martabat, citra Allah, iman, dan harapan.

***

 

Para kardinal memberikan penghormatan pada salib saat Ibadah Jumat Agung di Basilika Santo Petrus, Vatikan, 3 April 2026 (Foto: Trias Kuncahyono)

Ini kali kedua Trump “berkonflik” dengan paus. Pada masa pemerintahan pertama, Trump menyebut Paus Fransiskus yang mengunjungi perbatasan Meksiko dengan AS, sebagai “a very political person.” Ia juga menuding Meksiko memanfaatkan Paus. Lalu Paus Fransiskus mengritik Trump yang berencana membangun tembok perbatasan sebagai “not Christian”, karena lebih fokus membangun tembok pemisah bukannya jembatan penghubung.

Ketika itu, Trump menanggapi kritikan Paus Fransiskus sebagai “disgraceful.” Kini dengan Paus Leo XIV, Trump berhadapan. Tapi, unggahan serangan dan ejekan Trump terhadap Paus Leo XIV, sekurang-kurangnya mengungkapkan bahwa bagi Trump, agama terutama tentang kekuasaan, bukan moralitas. Trump memandang agama seperti halnya ia memandang segala sesuatu yang lain: sebagai sesuatu yang dapat melayaninya tetapi tidak menciptakan kewajiban apa pun baginya.

Karena itu, Paus Leo XIV, dalam penerbangan ke Aljazair, hari Senin (13/4) kepada para wartawan, Paus Leo XIV, “Saya tidak ingin berdebat dengannya.” Apalagi, kata Paus, “Saya bukan politikus.”

Bagi Paus Leo XIV yang lebih penting adalah terus mendorong terciptanya perdamaian. Karena itu, Paus akan terus tegas menentang perang, berupaya mempromosikan perdamaian, dialog, dan multilateralisme antar negara untuk menemukan solusi atas masalah. Kata Paus Leo XIV, “Terlalu banyak orang menderita saat ini, terlalu banyak nyawa tak berdosa yang hilang, dan saya percaya seseorang harus berdiri dan mengatakan ada jalan yang lebih baik.”

“Saya katakan ini kepada semua pemimpin dunia, bukan hanya kepadanya [Presiden Trump]: mari kita akhiri perang dan promosikan perdamaian dan rekonsiliasi.”

Paus Leo XIV secara tegas mengatakan, “Saya tidak takut pada pemerintahan Trump.” Dan, “tidak takut berbicara lantang tentang pesan Injil, yang menurut saya adalah tujuan saya di sini…”

Mengapa Paus Leo XIV, tidak takut? Sebab, ia berbicara berlandaskan kebenaran, nilai-nilai moral, dan makna….***

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
19
+1
42
Kredensial