
Di Aula Paulus VI, Vatikan, suatu malam, kami menikmati berbagai penampilan tarian dan nyanyian dari sejumlah negara. Salah satunya dari Indonesia, yang ditampilkan oleh para penari dari Komunitas Kebaya Menari.
Mereka menarikan tiga tarian yang masing-masing merepresentarikan agama Hindu, Katolik, Islam. Tari Rejang Dewa (Bali) merepresentasikan agama Hindu, Bedhayan Satya Mataya (Jawa) merepresentasikan agama Katolik, dan Zapin (Sumatera) merepresentasikan agama Islam. Tiga tarian itu menggambarkan pluralitas agama di Indonesia, meskipun kurang lengkap karena keterbatasan waktu. Tetapi, dengan tiga tarian itu, wajah Indonesia tergambar.
Mereka menari di panggung dengan latar belakang patung The Resurrection, “Kebangkitan” karya Pericle Fazzini (1977). Patung perunggu dan kuningan berukuran (lengkap) tinggi 7 meter dan lebar 20 meter, menjadi latar belakang yang sarat pesan dan makna.
Patung itu menggambarkan Yesus bangkit dari kawah bom nuklir. Ini melambangkan harapan dan pembaruan setelah kehancuran. Harapan yang muncul dari kekacauan, kengerian, dan khaotik… Kata Paus Fransiskus Spes non confundit, harapan tidak mengecewakan. Maka tema Tahun Yubileum 2025 adalah Pilgrims of hope, peziarah pengharapan.
***

Malam itu adalah perayaan ulang tahun ke-60 Deklarasi Nostra Aetate, Zaman Kita, dokumen resmi Konsili Vatikan Kedua. Deklarasi tentang Hubungan Gereja dengan Agama-agama Non-Kristen ini disahkan Paus Paulus VI, 28 Oktober 1965. Acara diselenggarakan oleh Dicastery for Interreligious Dialogue dan Dicastery for Promoting Christian Unity.
Deklarasi Nostra Aetate berdiri sebagai tonggak transformatif, mengajak Gereja memasuki era baru keterbukaan, dialog, dan saling menghormati dengan komunitas Yahudi, Muslim, dan agama lainnya. Nostra Aetate menandai perubahan radikal—menolak ketidakpedulian atau anti-Yudaisme selama berabad-abad, meneguhkan perjanjian abadi dengan umat Yahudi, dan menegaskan bahwa Gereja Katolik “tidak menolak apa pun yang benar dan suci dalam agama-agama ini.”
Selama enam dekade terakhir, Nostra Aetate telah membentuk refleksi teologis, penjangkauan ekumenis, dan inisiatif lintas agama akar rumput di seluruh dunia: memajukan dialog antaragama sekaligus melucuti prasangka dan membangun jembatan lintas agama.
Dengan demikian, Nostra Aetate ini, Gereja Katolik tidak hanya membuka jendelanya tapi bahkan pintu hatinya bagi agama-agama lain. “Gereja Katolik tidak menolak apa pun yang dalam agama-agama itu (berbagai agama bukan Kristen) serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkan sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenarah yang menyinari semua orang….” (Nostra Aetate 2).
Namun, Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenaran, dan hidup” (Yoh.14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya (NA 2).
Lalu, inilah yang menegaskan bahwa Gereja membuka pintu hatinya, tidak menutup diri, yakni dengan “…mendorong para putranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan penganut agama-agama lain, sambil memberikan kesaksian tentang iman serta perihidup kristiani, mengakui, memelihara, dan mengembangkan harta kekayaan rohani dan moral, serta nilai-nilai sosio-budaya yang terdapat pada mereka” (NA 2).
Jadi tiadalah dasar bagi setiap teori dan praktik, yang mengadakan pembedaan mengenai martabat manusia serta hak-hak yang bersumber padanya antara manusia dan manusia, antara bangsa dan bangsa (NA 5). Itulah sebabnya, selama ini Gereja mengecam setiap diskriminasi antara orang-orang atau penganiayaan bedasarkan keturunan atau warna kulit, kondisi hidup atau agama.
***

Dengan ini, penerbitan Nostra Aetate menandai tonggak penting dalam sejarah hubungan antara agama Kristen dan Yahudi; dan juga dengan agama-agama lain. Kata Paus Leo XIV dalam pidatonya, malam itu, dengan Nostra Aetate, “Benih harapan bagi dialog antaragama telah ditanam.”
“Hari ini, kehadiran Anda sekalian menjadi saksi bahwa benih ini telah tumbuh menjadi pohon yang besar, cabang-cabangnya menjangkau jauh dan luas, memberikan naungan dan menghasilkan buah-buah yang melimpah berupa pengertian, persahabatan, kerja sama, dan perdamaian,” kata Bapa Suci di hadapan para perwakilan agama-agama dunia, anggota korps diplomatik yang terakreditasi di Takhta Suci, serta para pejabat Vatikan dan Gereja yang berkomitmen pada dialog antaragama. Ada tokoh agama Yahudi, Islam, Buddha, Hindu juga Kristen, Gereja Katolik Ortodoks.
Penerbitan Nostra Aetate adalah sebuah sejarah. Sejarah peradaban umat manusia. Sejarah persaudaraan umat manusia. Nostra aetate, kata Paus, “membuka mata kita terhadap prinsip yang sederhana namun mendalam: dialog bukanlah taktik atau alat, melainkan cara hidup – sebuah perjalanan hati yang mengubah setiap orang yang terlibat, baik yang mendengarkan maupun yang berbicara.”
Pagi harinya saat audiensi umun di Lapangan Santo Petrus, Paus Leo XIV mengatakan, Deklarasi Nostra Aetate, membuka cakrawala baru perjumpaan, rasa hormat, dan keramahtamahan rohani. “Dokumen yang cemerlang ini mengajarkan kita untuk menjumpai para penganut agama lain bukan sebagai orang luar, melainkan sebagai teman seperjalanan di jalan kebenaran; untuk menghormati perbedaan yang meneguhkan kemanusiaan kita bersama; dan untuk menelaah, dalam setiap pencarian religius yang tulus, sebuah refleksi dari satu Misteri ilahi yang merangkul seluruh ciptaan,” katanya.
Kata Paus Leo XIV, jangan dilupakan bahwa fokus pertama Nostra Aetate adalah kepada dunia Yahudi, yang ingin dipulihkan kembali oleh Santo Yohanes XXIII dalam hubungan aslinya. Dalam sejarahnya, semangat Nostra Aetate terus menerangi jalan Gereja. Gereja mengakui bahwa semua agama dapat mencerminkan “sinar Kebenaran yang menerangi semua manusia” (NA, 2) dan mencari jawaban atas misteri-misteri agung eksistensi manusia, sehingga dialog tidak boleh semata-mata bersifat intelektual, melainkan mendalam secara spiritual.
***

Deklarasi ini mengajak semua umat Katolik – uskup, klerus, kaum hidup bakti, dan umat beriman awam – untuk melibatkan diri secara tulus dalam dialog dan bekerja sama dengan para penganut agama lain, dengan mengakui dan mempromosikan segala sesuatu yang baik, benar, dan kudus dalam tradisi mereka (NA 2.).
Hal ini diperlukan saat ini di hampir setiap kota di mana, karena mobilitas manusia, perbedaan spiritual dan budaya kita dipanggil untuk saling berjumpa dan hidup bersama dalam persaudaraan. Nostra Aetate mengingatkan kita bahwa dialog sejati berakar pada kasih, satu-satunya fondasi perdamaian, keadilan, dan rekonsiliasi, sekaligus dengan tegas menolak segala bentuk diskriminasi atau penganiayaan, dan meneguhkan kesetaraan martabat setiap manusia (NA, 5).
Dialog mengandaikan bahwa masing-masing pihak ingin mengenal satu sama lain, dan ingin meningkatkan serta memperdalam pengetahuannya tentang pihak lain. Dialog merupakan cara yang sangat tepat untuk mendorong saling mengenal yang lebih baik.
Kata Paus Leo XIV, dialog menuntut rasa hormat terhadap pihak lain apa adanya; terutama, rasa hormat terhadap iman dan keyakinan agamanya. Tiadanya rasa hormat dan saling percaya, tidak akan pernah ada yang namanya dialog.
Sambil menunjuk pada judul perayaan peringatan, “Berjalan Bersama dalam Harapan”, Paus Leo XIV mengatakan, “Kita menjalani perjalanan ini bukan dengan mengkompromikan keyakinan kita, melainkan dengan tetap setia pada keyakinan kita.”
Maka katanya, dialog yang autentik, “dimulai bukan dari kompromi, melainkan dari keyakinan – dari akar keyakinan kita yang dalam yang memberi kita kekuatan untuk menjangkau orang lain dalam kasih.”
Paus Leo XIV menegaskan, “harapan” dan “ziarah”–merujuk pada Pilgrims of hope– “merupakan realitas yang umum bagi semua tradisi keagamaan kita. Inilah perjalanan yang Nostra aetate undang untuk kita lanjutkan — untuk berjalan bersama dalam harapan.”
Ini, katanya, bukanlah karya satu agama, bangsa, atau generasi saja, melainkan “tugas suci bagi seluruh umat manusia, untuk menjaga harapan tetap hidup, untuk menjaga dialog tetap hidup, dan untuk menjaga cinta tetap hidup di hati dunia.”
Memang, harus diakui bahwa diskursus tentang dialog antarumat beragama masih menjadi pro dan kontra. Ada yang pro dan amenerima dengan tulus hati, melalui kesadaran akan pentingnya dialog untuk mencapai persatuan dan kesatuan. Tetapi, ada sebagian yang karena alasan-alasan teologis menolaknya.
Meskipun demikian pandangan dan pilihan kedua belah pihak mesti dihormati agar persaudaraan dalam suasana yang serba plural dapat terwujud. Oleh karena itu dalam rangka membangun kehidupan yang penuh dengan kebersamaan para tokoh agama harus terus mendorong umat untuk tergabung dalam forum-forum dialog hingga terjadi perjumpaan antarumat beragama secara intensif. Tentu, para tokoh agama, haruslah memberikan contoh, dan mempraktikannya dalam keseharian, baik dalam ucapan maupun tindakan.
***

Malam itu rasa persaudaraan antar-saudara sangat kuat. Sapaan dan jabat tangan, senyum dan tawa, serta nyanyian dan tarian mempersatukan. Tidak ada sekat-sekat apa pun, termasuk perasaan di antara ribuan orang yang hadir di Aula Paulus VI.
Kata Paus Leo XIV, pesan Nostra Aetate tetap “sangat relevan saat ini.” Ia mengingat pelajaran Konsili: bahwa umat manusia semakin dekat satu sama lain, bahwa semua manusia termasuk dalam satu keluarga manusia dengan satu asal usul dan satu tujuan; bahwa semua agama mencoba menanggapi “kegelisahan hati manusia”; dan bahwa Gereja Katolik “tidak menolak apa pun yang benar dan suci dalam agama-agama ini.” ***
Foto-foto lain:

















Proud of you teman2 Kebaya Menari…
Semoga segala niat baik dan upaya menjaga budaya Nusantara yang ditampilkan melalui tarian, dapat terus dipertahankan dan menjadi perhatian dunia… 🤲🌷👏
Mas Trias, luar biasa, dokumen 60 tahun yang lalu melalui tulisan mas Trias menjadi semakin aktual, berisi, dan bermakna untuk mewujudkan dialog dan persaudaraan lintas batas di zaman sekarang. Ternyata “Nostra Aetate” sungguh salah satu dokumen yang makin relevan.
Terima kasih mas Trias. Menarik dan inspiratif.