KOTA DI ATAS BUKIT

Basilika Santo Fransiskus Asisi

Udara masih terasa sejuk, ketika pagi itu, pukul 10.15, kami meninggalkan Chiusi della Verna menuju Asisi. Banyak peziarah yang berjalan kaki dari Chiusi della Verna ke Asisi. Mereka menyusuri jalan yang diperkirakan digunakan Santo Fransiskus (1182 – 1224) setiap kali pergi ke Chiusi della Verna dari Asisi, untuk menyepi dan berpuasa.

Jarak yang harus ditempuh lumayan jauh: 112,8 km, turun-naik gunung, melintasi lembah, dan menyeberangi sungai. Meskipun, kalah jauh dari jarak yang ditempuh para peziarah yang menyusuri jalan Camino de Santiago di Spanyol.

Tetapi, tentu masing-masing memiliki “makna rohani” sendiri-sendiri bagi para peziarah. Yang dari Chiusi della Verna ke Asisi ingin menghayati semangat Santo Fransiskus, dengan “napak tilas” perjalanan rohaninya. Yang menyusuri Camino de Santiago, ingin menghayati perjalanan rohani Santo Yakobus Rasul.

Kami, tidak jalan kaki. Naik mobil, menempuh jarak 117,5 km. Rasanya, kami belum siap untuk jalan kaki menyusuri jejak kaki Santo Fransiskus: orang kudus dari Asisi pencinta damai, persaudaraan, kesederhaan, lingkungan, dan pengayom kaum papa, hina-dina.

***

 

Pintu gerbang Basilika Santo Fransiskus

“Wow, indahnya.” Begitu komentar istri ketika dari jauh melihat kota Asisi, yang berdiri megah di atas bukit. Kami masih di Lembah Topino, di bawah kota, yang hijau dan sisi kiri-kanan jalan bunga mawar merah dan putih bermakaran.

Melihat Asisi yang berdiri kokoh di atas bukit lalu ingat Akropolis Athena, salah satu peninggalan arkeologis yang paling terkenal di Yunani bahkan di dunia. Akropolis merupakan sebuah citadel yang terletak di atas bukit setinggi 150 meter di atas permukaan laut Athena. Kata Akropolis konon artinya titik tertinggi atau ekstremitas (akron) dan kota (polis). Jadi Akropolis adalah kota yang berada pada wilayah yang tinggi.

Assisi, terletak di puncak Monte (Gunung) Subasio bagian rangkaian Pegunungan Apennina, pada ketinggian 400 meter dan menghadap ke lembah Sungai Topino dan Chiascio. Kota yang berjarak 191 km di sebelah utara Roma ini, menurut sejarah wilayah Asisi mulai dihuni pada abad pertama Masehi dan berkembang di abad pertengahan ini masuk Propinsi Perugia, wilayah Umbria, Italia tengah.

Orang-orang datang ke Assisi karena berbagai alasan. Ada yang datang sebagai peziarah religius, sebagai turis, atau pecinta seni yang ingin menjelajahi reruntuhan Romawi yang luar biasa.

Ketika akhirnya masuk gerbang kota Asisi, memang, terasa nuansa masa lalu: tembok-tembok batu tinggi yang mengapit jalan-jalan batu sempit (cukup satu mobil), bangunan-bangunan rumah atau gereja kuno. Meskipun kuno tapi kota ini terasa mewarisi semangat damainya Santo Fransiskus dan Santa Chiara (Klara) seorang putri bangsawan yang meninggalkan kemewahan dunia kebangsawanan dan memilih menjadi murid Santo Fransiskus hidup dalam kesederhanaan dan kemiskinan.

Semangat damainya itu terlihat jelas di setiap langkah melalui jalan-jalan, dan gang-gang kota yang indah. Maka pantaslah kalau Asisi disebut sebagai permata Umbria. Dan, UNESCO menetapkan “Assisi, Basilika San Fransiskus, dan Situs Fransiskan Lainnya” sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 2000.

Kota Asisi juga digambarkan sebagai “kumpulan mahakarya manusia yang jenius dan kreatif… yang menjadikannya referensi mendasar bagi sejarah seni di Eropa dan dunia.” Lihatlah, misalnya, Basilika Santo Fransiskus yang dibangun tahun 1228, dua tahun setelah meninggalnya, dan selesai tahun 1253.

Peletakan batu pertama oleh Paus Gregorius IX, 17 Juli 1228, sehari setelah kanonisasi Santo Fransiskus. Menurut cerita, tempat tersebut sebelumnya digunakan untuk mengeksekusi mati dan mengubur para penjahat.

Basilika dua lantai ini terdiri dari gereja atas dan gereja bawah. gereja. Ruang bawah tanah di gereja bawah ditambahkan pada tahun 1818 ketika makam Santo Fransiskus dibuka. Fresko-fresko yang menghiasi dinding dan langit-langit basilika, sangat indah. Maka sering disebut, basilika ini merupakan salah satu gudang lukisan fresko Renaisans Awal terbesar di Italia.

Santo Fransiskus dimakamkan di gereja bawah, yang dihiasi fresko karya seniman dari Florence Giovanni Cimabue (1240 – 1302), dan muridnya yakni Giotto di Bondone (1227 – 1337) yang dikenal sebagai seniman zaman Gothic dan Proto-Renaisans serta para pengikutnya seperti Pietro Lorenzetti, dan Simone Martini.

Dinding gereja atas dihiasi fresko yang mewakili episode kehidupan Santo Fransiskus karya Giotto dan para pengikutnya. Dan, lukisan lain yang menggambarkan adegan Perjanjian Lama dan Baru oleh Cimabue, murid-muridnya, dan Jacopo Torriti.

Gempa bumi pada tanggal 26 September 1997 menyebabkan kerusakan parah pada basilika, meruntuhkan beberapa langit-langit berkubah di bagian atas gereja dan menghancurkan lukisan dinding karya Cimabue dan teman-temannya.

***

Basilika Santa Chiara

Benar, Asisi memang indah. Kota yang terletak di atas bukit, bagaikan sebuah mercusuar yang dibangun di atas batu karang dengan tujuan mengarahkan kapal-kapal laut agar tidak terhempas menabrak batu karang. Dan, sinar lampu mercusuar itu akan menembus kegelapan di ke segala arah, sekalipun lampunya kecil.

Tetapi, Asisi tidak hanya indah dari jauh, keindahan itu sungguh nampak dari dekat. Keindahan Asisi, tidak hanya karena bangunan-bangunan kunonya, tetapi karena roh kota itu yang memancarkan kedamaian.

Mungkin karena kota ini adalah tempat kelahiran Santo Fransiskus (dan peristirahatan terakhirnya), Santa Chiara (1194 – 1253) yang dibaringkan di Basilika Santa Chiara atau Klara, juga tempat dibaringkannya jenazah Santo Carlo Acutis di Gereja Santa Maria Maggiore. Atau memang, inilah kota damai.

Orang-orang kudus itu hidupnya mengikuti tuntunan Guru Agungnya, Yesus Kristus yang mengatakan, “Kamu ibarat terang di dalam dunia yang gelap ini, bila baik cara hidupmu. Seperti kota yang terletak di atas bukit selalu terlihat dari jauh, demikianlah seharusnya cara hidupmu menjadi teladan baik yang terlihat bagi semua orang.”

Itulah kiranya yang mendorong Paus Santo Yohanes II, memilih Asisi untuk menjadi tempat pertemuan para pemimpin agama dari seluruh dunia, 27 Oktober 1986. Paus mengundang mereka (71 orang) untuk berdialog, berdoa bersama, berefleksi dan menumbuhkan komitmen untuk mengupayakan perdamaian dunia.

Peristiwa bersejarah itu kemudian dikenal dengan Spirit of Asisi. Dialog itu menghasilkan “buah” untuk membantu mengatasi kesalahpahaman, ketidakpercayaan dan sikap tertutup antar-umat beragama.

“Damai adalah ladang kerja untuk kita semua”, kata Paus Yohanes Paulus II ketika itu, mengikuti jejak Santo Fransiskus yang menekankan perlunya perdamaian, rekonsiliasi dan persaudaraan.

Tetapi, kerap kali ladang itu ditinggal; dan dibiarkan ditumbuhi rumput ilalang dan semak duri. Atau sebaliknya, justru ladang itu dengan sengaja ditebari duri dan benih semak belukar. ***

foto-foto lain:

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
28
+1
21
Kredensial