KABUT DI ATAS ASISI

Kebun belakang Abbazia San Pietro, Asisi (Foto: Trias Kuncahyono)

Kota di atas bukit itu, tidak kelihatan. Keindahannya yang biasanya memanjakan mata dari jauh di bawah bukit, hari itu hilang. Mana keindahanmu, Asisi? Bukankah kota di puncak bukit di luar Toskana di Umbria ini, dikenal indah.

Biasanya, Basilika Santo Fransiskus–salah satu puncak spiritual dan artistik peradaban Barat–kelihatan dari jauh. Basilika ini dibangun antara tahun 1228 dan 1253; dan memiliki tiga bagian: basilika atas, basilika bawah, dan makam santo. Hari itu, basilika itu tidak kelihatan.

Ke tempat-tempat suci itulah, kami diajak oleh Suster Teresa Fransiscan Missionari di Asisi. Suster dari Samosir ini juga mengajak kami ke kamar St. Josep Cupertino OFM Conv (1603 – 1663). “Tidak semua orang boleh masuk kamar ini,” katanya sambil menjelaskan siapa St Joseph Cupertino itu.

Hari itu, kami pergi ke Asisi untuk bertemu denga para suster (ada yang dari kongregasi Fransiscan Sacri Cuori, Fransiscan Santa Elizabeth, Kongregasi di Brando, dan Fransiscan Missionari di Assisi. Semuanya berjumlah 15 Suster) dan seorang pastor, Ludovico Hayong OFM Conventual. Pertemuan diadakan di Abbazia San Pietro, Asisi, sebuah biara yang dahulunya menjadi tempat para rahib Benediktin. Biara ini didirikan pada abad ke-10. Sekarang dikelola oleh lima suster dari Indonesia–mereka disebut para Suster di Brando–dipimpin Suster Maristella.

***

Piazza Basilika Santo Fransiskus Asisi di Asisi (Foto: Trias Kuncahyono)

Abbazia San Pietro,  sama seperti seluruh Asisi, diselimuti kabut. Namun, kabut itu tak mengurangi para peziarah menziarahi tempat-tempat suci yang menyentuh jiwa, membawa para peziarah menjauh dari hal-hal duniawi dan fana ke dalam keadaan kontemplasi yang penuh kebahagiaan.

Pada saat mistis inilah, ketika suara langkah kaki pengunjung memudar dan kota diselimuti keheningan suci, semangat sejati Santo Fransiskus dari Assisi (1181 – 1226) dapat dirasakan secara paling intim. Di Asisi, dahulu, Santo Fransiskus lahir, hidup, dibaptis, berjalan melalui lembah-lembah hijau yang subur, menemukan perlindungan, mendengar suara Tuhan saat bermeditasi dalam keheningan, meninggalkan keduniawian, lalu meninggal. Tetapi, auranya tetap tertinggal.

Kata Asisi berarti “città della pace“, dalam bahasa Italia yang berarti kota perdamaian. Nama ini berasal dari kata Latin “assidere,” yang berarti “duduk berdampingan” atau “berada di dekat.” Asisi kota abadi.

Di Assisi, Santo Fransiskus meninggalkan warisan kemanusiaan dan artistik yang tak ternilai harganya. Hidupnya telah menginspirasi seluruh budaya, dan karya seni yang dikagumi di seluruh dunia. Tetapi, hari itu semua diselimuti kabut. Tebal. Putih.

Kata seorang suster yang tinggal di Abbazia San Pietro, Asisi, “biasanya cuaca seperti berlangsung selama 40 hari. Hari ini, baru hari ketiga.”

“Ini selimut surgawi,” seloroh seorang teman. Memang, selimut itu, menghapus keindahan duniawi. Kata Suster Teresa, “Tapi, coba rasakan kedamaian yang memancar dari kota ini.” Lalu, ia mengajak mengangkat kedua tangan ke atas kepala sambil bergndengan. “Ini simbul pace, damai. Bukankah hati kita damai berada di kota ini?” katanya dalam nada tanya, lalu disusul tawa berderai, yang menjadi ciri khasnya.

***

Makam St. Fransiskus Asisi di basilika bawah (Foto: Trias Kuncahyono)

Walau kabut menyelimuti seluruh Asisi dan wilayah di bawahnya hingga Orte, sejauh 103 km, namun Asisi tetaplah mengingatkan pada Orang Suci, Santo Fransiskus, pendiri Ordo Saudara Dina (Ordo Fratrum Minorum/OFM) 1223, yang kemudian disebut Fransiskan. Fransiskus juga mengingatkan Kandang (Gua) Natal, precepe. Delapan ratus dua tahun silam, tahun 1223, kisah Gua Natal, dimulai. Adalah St. Fransiskus Asisi yang pertama-tama mempopulerkan tradisi Kandang (Gua) Natal.

Asisi juga akan selalu mengingatkan perdamain sesuai namanya. Di kota ini, pada 27 Oktober 1986, Paus Yohanes Paulus II, mengatakan kepada para Pemimpin Agama se-Dunia pada Day of Prayer for Peace:

Kita berziarah ke Assisi karena kita semua yakin bahwa berbagai agama dapat dan harus berkontribusi pada perdamaian. Sebagian besar agama mengajarkan penghormatan terhadap hati nurani, kasih kepada sesama, keadilan, pengampunan, pengendalian diri, pelepasan dari makhluk ciptaan, doa, dan meditasi.

Yesus Kristus, yang kami, umat Kristen, percayai dan nyatakan sebagai Tuhan dan Juruselamat kami, mengingatkan kami akan golden rule: “Perlakukan orang lain seperti yang kamu ingin mereka perlakukan padamu”. Berbagai kepercayaan agama Anda mungkin memiliki perintah serupa yang memenuhi kebutuhan setiap hati nurani manusia. Kepatuhan terhadap aturan emas ini merupakan fondasi perdamaian yang sangat baik.

Perdamaian perlu dibangun di atas keadilan, kebenaran, kebebasan, dan kasih. Agama memiliki fungsi penting untuk membantu menata hati manusia sehingga perdamaian sejati dapat dipupuk dan dipelihara. Di Assisi, kami semua telah berkomitmen kembali untuk memberikan kontribusi khusus kami dalam membangun perdamaian. Marilah kita berusaha untuk hidup dalam semangat janji suci …marilah kita berkomitmen untuk menjadi instrumen perdamaian di antara semua orang.

***

Basilika St. Fransiskus Asisi, selepas senja ketika kabut mulai menipis (Foto: Trias Kuncahyono)

Santo Fransiskus tidak hanya bicara tentang perdamaian, tapi juga lingkungan hidup. Sekitar 800 tahun silam, ia sudah mengingatkan akan penting dan perlunya menjaga lingkungan hidup. Kata Fransiskus, kerusakan lingkungan juga akan menyebabkan rusaknya perdamaian.

Bahkan, menurut PBB, akibat bencana alam, lebih dahsyat dari pada akibat konflik. Sebab, bencana alam menyebabkan tiga kali lebih banyak orang mengungsi dibandingkan konflik, memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka dan mencari keselamatan di tempat lain.” (greenheart.org)

Fransiskus mencintai ciptaan, tidak hanya lingkungan. Seluruh ciptaan. Ia menganggap semua ciptaan–termasuk alam seisinya–sebagai saudara, “family of creation” , “saudara ciptaan.” Karena itu, bagi Fransiskus, seluruh ciptaan adalah saudara, fratelli tutti, semua saudara.

Ia mencintai ciptaan (creation) karena ia mencintai San Pencipta (Creator). Bagi Fransiskus, Sang Pencipta, bukan ia anggap sebagai kekuatan kosmik atau raja yang jauh dan terpisah, tetapi sebagai “Bapa.”

Dalam kidung Canticle of the Creature, Fransiskus menyebut Matahari sebagai Saudara Laki-laki (Brother Sun; juga Brother Wind, dan Brother Fire) dan Bulan sebagai Saudari Perempuan (Sister Moon, juga Sister Water, dan Sister Mother Earth). Ini semua menunjukkan betapa cinta dan dekatnya Fransiskus dengan alam raya, alam semesta. Maka, ia mengajak semua untuk menjaganya, bukan justru sebaliknya merusaknya atau bahkan menghancurkannya. Sebab, alam semesta adalah bagian dari hidup.

Karena itu, rusaknya alam raya akan menjadi bencana dahsyat bagi umat manusia. Bahkan, kedahsyatannya tiga kali lipat dari akibat konflik. Bencana alam yang sekarang ini terjadi, antara lain di Sumatera, bisa menjadi salah satu contohnya.

Dalam kidung itu, Fransiskus berulangkali menulis “Terpujilah Engkau, Tuhanku,” (Praised be You, my Lord) atau dalam dialek Umbria dari bahasa Italia kuno, “Laudato Si’, mi signore.” Pujian ini adalah ungkapan syukur Fransiskus atas indahnya alam ciptaan. Alam yang indah itu, harus dirawat, tidak justru dirusak dengan segala macam alasan dan tujuan. Merawat alam seisinya adalah tanda dan ungkapan syukur serta terima kasih kepada Sang Pencipta.

Pujian ini pula yang menginspirasi Paus Fransiskus memberi judul ensikliknya tentang lingkungan dan ekologi manusia: “Laudato Si’, on Care for Our Common Home.” (2015). Ensiklik atau surat edaran itu, ditujukan kepada “setiap orang yang hidup di planet ini.” Lewat ensikliknya, Paus menyerukan dialog global tentang bagaimana kita membentuk masa depan planet kita melalui tindakan dan keputusan kita sehari-hari.

Ensiklik itu diawali dengan : Dalam kata-kata kidung indah ini, Santo Fransiskus dari Assisi mengingatkan kita bahwa rumah kita bersama bagaikan seorang saudara perempuan yang dengannya kita berbagi hidup dan seorang ibu yang cantik yang membuka lengannya untuk memeluk kita. “Terpujilah Engkau, Tuhanku, melalui Saudari kita, Ibu Pertiwi, yang menopang dan mengatur kita, dan yang menghasilkan berbagai buah dengan bunga dan tumbuhan berwarna-warni”.

Mari kita kembali ke “Kidung Makhluk-Makhluk,” yang disusun oleh santo tersebut menjelang akhir hidupnya. Di dalamnya, Fransiskus tidak hanya mempersembahkan pujian kepada Tuhan untuk seluruh ciptaan, tetapi juga mengajak masing-masing untuk bergabung dengannya dalam memuji Tuhan.

***

Malam segera tiba menjemput Asisi dalam peraduan (Foto: Trias Kuncahyono)

Asisi hari itu berkabut. Kabut juga ciptaan. Maka, kabut tebal itu, sekalipun menyelubungi gedung-gedung, pohon-pohon, dan membatasi kemampuan mata memandang, namun tidak menutupi tradisi Fransiskan yang diajarkan oleh St. Fransiskus: kemajuan sejati bukanlah terletak pada mendominasi alam, melainkan pada hidup harmonis dengan alam.

Ini mengingatkan kita bahwa kesejahteraan kita terkait erat dengan kesehatan planet ini. Dengan merawat ciptaan, kita menghormati hubungan kita dengan dunia alam, sesama, dan Tuhan. Meskipun, kadang hal itu diabaikan–lebih karena ketidak-pedulian dan keserakahan–sehingga akibatnya timbul bencana alam.

Asisi berkabut. Dingin. ***

Foto-foto lain:

   

   

   

 

 

 

 

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
8
+1
5
Kredensial