BUKAN DON QUIXOTE

 

Gambar: lithub.com

Pedro Sánchez, bukanlah Don Quixote, ksatria pemimpi ciptaan Miguel de Cervantes Saavedra dari Alcalá de Henares, Madrid, Spanyol yang hidup dari tahun 1547 hingga 1616. Cervantes seorang penyair dan novelis yang karyanya–The Ingenious Don Quixote of La Mancha–judul asli El ingenioso hidalgo don Quijote de la Mancha— sangat mendunia.

Sánchez adalah perdana menteri Spanyol kelahiran 29 Februari 1972, dari Spanish Socialist Workers’ Party (PSOE), yang hidup di dunia nyata. Sementara, Don Quixote, yang disebut sebagai seorang hidalgo atau “bangsawan rendahan,” hidup di alam khayalan.

Meski “bangsawan kelas dua” tetapi para hidalgo menikmati hak istimewa, seperti dibebaskan dari pajak, memiliki hak untuk membawa senjata, memiliki lambang keluarga, memiliki sistem hukum dan pengadilan terpisah di mana mereka hanya dapat diadili oleh sesama bangsawan, tidak dikenakan hukuman mati kecuali diizinkan oleh raja, dan lain sebagainya.

Seperti itulah Don Quixote digambarkan oleh Cervantes. Kata “don” memiliki akar yang membentang jauh ke masa lalu. Istilah ini berasal dari kata Latin ‘dominus,’ yang berarti tuan atau penguasa. Dalam bahasa Spanyol, “Don” adalah istilah yang memiliki berbagai makna dan signifikansi budaya. Kata ini digunakan sebagai gelar kehormatan, dan dapat menunjukkan bangsawan atau status sosial tinggi ketika diletakkan di depan nama seseorang, mirip dengan “Sir” dalam bahasa Inggris atau mungkin “Raden” dalam budaya Jawa.

Kata “quixote”, menurut The Economic Times, edisi 13 Januari 2026, dulunya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sangat idealis tetapi tidak praktis. Artinya, mereka bermimpi besar tanpa memikirkan batasan kehidupan nyata. Definisi resmi dari “quixote” adalah sangat idealis, tidak realistis, dan tidak praktis, menunjukkan bahwa kata tersebut sering digunakan secara kritis tetapi bijaksana, seperti yang dinyatakan oleh klub bahasa Oxford.

***

Foto: Pexels.com

Dalam novelnya, Cervantes mengisahkan petualangan Alonso Quixano, yang terpengaruh dan terobsesi kisah-kisah petualangan ksatria dan romansa ksatria, dari buku yang dibacanya. Ia akhirnya menjadi gila dan percaya bahwa dirinya sedang menjalani salah satu kisah tersebut; bahwa dirinya seorang ksatria; bahwa dirinya pembela orang-orang yang tertindas; bahwa dirinya pembela keadilan dan perdamaian.

Bertekad untuk membuktikan dirinya sebagai ksatria pengembara, ia mengenakan baju zirah, mengambil tombak, dan menunggang kuda berkeliling negeri dan untuk menegakkan keadilan, dengan nama Don Quixote de la Mancha; didampingi seorang pengawal bernama Sancho Panza.

Karena biasanya seorang ksatria bertarung untuk gadis cantik pujaannya, maka demikian juga Don Quixote. Ia bertempur atas nama Dulcinea del Toboso, yang ia yakini sangat cantik jelita, meskipun ia hampir tidak tahu apa pun tentangnya; tidak tahu senyatanya Dulcinea itu seperti apa dan bagaimana. Padahal, Dulcinea, sebenarnya adalah Aldonza Lorenzo, seorang gadis dari keluarga petani sederhana yang kadang-kadang melacurkan diri.

Karena polah-tingkahnya, orang-orang mengejek dan menertawakannya. Bahkan, Don Quixote dijadikan bahan gurauan, candaan, lelucon, atau bahkan dianggap sebagai orang gila yang berbahaya. Apalagi, Don Quixano sudah tua dan kurus. Kudanya pun sudah lelah, diajak berpetualang; jalan tersaruk-saruk dengan kepala tertunduk. Baju zirahnya berkarat dan perisainya sudah tua. Kusam.

Don Quixote, karya Cerventes, pertama-tama bukanlah seorang ksatria berkuda, tetapi adalah buku, tentang membaca, menulis, idealisme versus materialisme, kehidupan… dan kematian. Lalu, Don Quixote juga kisah tentang ksatria gila.

Don Quixote adalah ksatria yang “otaknya kering” karena bacaannya. Don Quixot juga sebuah cerita tentang seseorang yang tidak mampu memisahkan antara kenyataan dan fiksi, sesuatu yang dari dulu hingga kini masih sering saja terjadi dalam kehidupan.

Cervantes lewat Don Quixote ingin pula bercerita tentang seorang pahlawan, seorang pria yang berjuang melawan keterbatasannya sendiri untuk menjadi seseorang yang ia impikan. Walaupun, “To dream the impossible dream,” nyanyian Cervantes dalam lirik Richard Kiley, “To follow that star/No matter how hopeless/No matter how far.”

***

Pedro Sánchez, lain ceritanya dengan Don Quicote. Kalau Don Quixote adalah tokoh rekaan dalam cerita, yang asyik bermimpi membela orang-orang tertindas, menjadi penegak keadilan, Pedro Sánchez adalah tokoh nyata. Ia perdana menteri Spanyol dari Spanish Socialist Workers’ Party (PSOE). Pedro Sánchez yang lahir di Madrid, 29 Februari 1972 ini adalah sekjen PSOE. Ia bergabung dengan PSOE sejak berusia 21 tahun.

Menurut The Guardian online edisi 6 Maret 2026, Pedro Sánchez adalah seorang pemimpin di Eropa yang berani menolak kemauan Presiden AS Donald Trump, ketika para pemimpin lainnya tunduk atau pura-pura berani. Pemerintah Spanyol di bawah PM Pedro Sánchez tidak mengizinkan AS menggunakan pangkalan-pangkalan vital strategisnya di Rota dan Morón untuk mendukung serangan terhadap Iran.

Kata Pedro Sánchez hal itu dilakukan untuk menegakkan hukum internasional. Dengan itu, Spanyol, yang selama ini menjadi pilar yang dapat diandalkan, memilih jalan lain. Karena beberapa mitra Eropa mengadopsi sikap yang lebih hati-hati terhadap tindakan Washington.

Memilih jalin lain. Itu pilihan Sánchez. Walau mungkin bertujuan baik dan masuk akal, jalan lain biasanya tidak populer. Jalan lain, dianggap tidak wajar dan menentang arus utama.

Padahal, “Kami tidak akan terlibat dalam sesuatu yang buruk bagi dunia dan juga bertentangan dengan nilai-nilai dan kepentingan kami, hanya karena takut akan pembalasan dari beberapa pihak,” kata Sánchez dalam pidato 10 menit yang disebut “Deklarasi kelembagaan oleh perdana menteri untuk menilai peristiwa-peristiwa internasional terkini,” tanggal 4 Maret 2026, dan disiarkan langsung televisi. Ia pidato di La Moncloa, kediaman resminya menurut El Pais, koran Spanyol edisi online 4 Maret 2026.

Sikap Spanyol berbeda dengan Perancis dan Jerman. Tapi, Sánchez tetap menjunjung tinggi konsensus UE. Hanya saja, Spanyol tidak mau (sudi) posisinya menjadi bawahan (subordinate) AS, dan berhak untuk tidak melakukannya, karena Spanyol adalah mitra yang dapat diandalkan di NATO dan Uni Eropa yang memenuhi komitmennya.

“Anda tidak dapat menanggapi satu pelanggaran hukum dengan pelanggaran hukum lainnya,” katanya. Sementara, Kanselir Jerman Friedrich Merz tentang potensi pelanggaran hukum internasional mengatakan, “Ini bukan saatnya untuk memberi ceramah kepada mitra dan sekutu kita.”

Sikap Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, beda lagi yakni berusaha keras untuk mengambil jalan tengah. Di satu sisi, mengacu pada hukum internasional, tapi di sisi lain, mengizinkan Washington menggunakan pangkalan militer Inggris untuk “operasi pertahanan” – yang, pada kenyataannya, bukanlah operasi pertahanan karena termasuk menargetkan peluncur rudal Iran di wilayah Iran.

Tapi, Keir Starmer tetap diejek Donald Trump dengan mengatakan, Starmer “bukan Winston Churchill,” yakni perdana menteri Inggris di zaman PD II, sang pemberani.

Argumen Sánchez, perang lain di Timur Tengah akan merenggut banyak nyawa, sehingga semakin menggoyahkan stabilitas dunia, dan memiliki konsekuensi ekonomi yang mengerikan. Padahal, kata Sánchez, tugas utama pemerintah adalah melindungi dan meningkatkan kehidupan warganya, bukan memanipulasi atau mengambil keuntungan dari konflik global.

“Sama sekali tidak dapat diterima bahwa para pemimpin yang tidak mampu memenuhi tugas ini menggunakan kedok perang untuk menyembunyikan kegagalan mereka dan, dalam prosesnya, memperkaya segelintir orang – orang-orang yang sama seperti biasanya; satu-satunya yang mendapat keuntungan ketika dunia berhenti membangun rumah sakit dan mulai membangun rudal,” kata tegas.

Sánchez tidak mau berilusi seperti Don Quixote, yang hidup dalam mimpi. Maka katanya, “Ilusi bahwa kita dapat menyelamatkan dunia dengan bom. Jangan mengulangi kesalahan masa lalu.” Ia seperti menggemakan khotbah Paus Leo XIV (Vatican News, 8 Maret 2026): “Stabilitas dan perdamaian tidak dibangun dengan ancaman timbal balik, atau dengan senjata yang menabur kehancuran, penderitaan, dan kematian, tetapi hanya melalui dialog yang masuk akal, otentik, dan bertanggung jawab.”

Lalu, kata Sánchez, “Adalah naif untuk percaya bahwa demokrasi atau rasa hormat antar bangsa dapat tumbuh dari reruntuhan. Atau untuk berpikir bahwa mempraktikkan kepatuhan buta dan tunduk adalah bentuk kepemimpinan… Kita tidak akan terlibat dalam sesuatu yang buruk bagi dunia dan yang juga bertentangan dengan nilai-nilai dan kepentingan kita, hanya karena takut akan pembalasan dari seseorang.”

Semua itu dengan ringan dikatakan Sánchez beberapa jam setelah Donald Trump mengancam akan memutus perdagangan dengan Spanyol karena penolakan pemerintahnya untuk mengizinkan dua pangkalan yang dioperasikan bersama di Andalusia digunakan untuk menyerang Iran.

***

Menurut koran Spanyol, El Pais edisi online, 4 Maret 2026, Pedro Sánchez telah menghidupkan kembali slogan “No a la guerre” , “No to War” yang pada tahun 2003, memobilisasi kaum kiri Spanyol menentang invasi pasukan koalisi pimpinan AS ke Irak.

Perang Irak menyebabkan peningkatan dramatis terorisme dunia dan krisis migrasi dan ekonomi yang serius. Itulah hadiah dari ‘Tiga Azores’ (George W. Bush, Tony Blair, dan mantan perdana menteri Spanyol José María Aznar).

Karuan saja pernyataan Sánchez itu membuat Trump uring-uringan. “Kita punya banyak pemenang, tapi Spanyol adalah pecundang,” kata Presiden AS Donald Trump kepada The New York Post, mengomentari pernyataan tersebut.

Tapi, Sánchez tetap menggambarkan serangan AS-Israel sebagai “intervensi militer yang tidak beralasan.” Dan, invasi itu telah “membuat dunia kurang aman dan kehidupan menjadi lebih buruk”.

Sikap Sánchez itu mendapat dukungan rakyat Spanyol. Menurut jajak pendapat 40dB, hanya 23 persen warga Spanyol yang mendukung serangan militer oleh AS-Israel. Jajak pendapat lain oleh pusat penelitian CIS, menunjukkan 77 persen warga Spanyol memiliki opini negatif tentang Trump. Itu berarti, pertaruhan Sánchez di panggung internasional menjadi masuk akal di arena domestik.

Posisi Spanyol terhadap serangan AS-Israel, sama seperti terhadap Ukraina atau Gaza. Spanyol teguh menentang pelanggaran hukum internasional. Sánchez lebih berkomitmen pada jalan diplomasi, sebagai sedari awal didesakkan oleh Paus Leo XIV. Yang menarik, menurut koran Italia, La Repubblica, Paus berbicara dalam bahasa awam tentang dialog dan diplomasi, sementara para pemimpin politik mengutip argumen agama dan kitab suci untuk membenarkan perang.

Maka, kata Sánchez, “Sebagian orang akan mengatakan bahwa ini naif. Yang naif adalah berpikir bahwa kekerasan adalah solusinya. Atau berpikir bahwa kepatuhan buta dan tunduk adalah kepemimpinan. Kami tidak akan terlibat dalam sesuatu yang buruk bagi dunia karena takut akan pembalasan dari seseorang.”

Sikap Sánchez, tidak sendirian walaupun menjadi bagian dari sedikit pemimpin Eropa yang seperti itu. Mereka yang masih menunjunjung tinggi nilai kemanusiaan, cinta damai dan persaudaraan, nilai-nilai Konstitusi banyak negara, Uni Eropa, Piagam PBB, dan perdamaian, mendukung perdamaian.

***

 

Foto: Freepik

Tidak seperti Don Quixote, yang berlari-lari dalam dunia mimpinya di atas punggung kudanya yang kelelahan, sikap Sánchez bukanlah sikap seorang idealis yang naif. Tetapi, sikap seorang pemimpin yang tangguh dan realistis berdiri di dunia yang nyata, yang mengingat dan belajar dari sejarah, memahami rakyatnya, dan bertindak untuk melindungi negaranya dari perang yang menurut pendapatnya tidak masuk akal dan ilegal serta kemungkinan konsekuensinya, seperti serangan balasan teroris, kesulitan ekonomi, dan migrasi massal.

Bukan kali ini saja Sánchez, memilih jalan lain. Koran The New Statesman online edisi 30 Januari 2026, menulis, setelah Trump mengancam akan mengenakan tarif 25 persen pada sejumlah sekutu Eropa kecuali Denmark menjual Greenland ke AS, Sánchez mengatakan ancaman presiden AS itu “akan membuat Putin menjadi orang paling bahagia di Bumi” dan menjadi “lonceng kematian bagi NATO”. Dan, Trump mundur setelah menegosiasikan kesepakatan dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte.

Beberapa jam setelah tentara AS menculik Presiden Venezuela (3 Januari 2026), Nicolás Maduro, Sánchez menyebut tindakan itu suatu “pelanggaran hukum internasional” dan kemudian bergabung dengan para pemimpin Amerika Latin dalam mengutuk eksploitasi sumber daya Venezuela setelah Trump mengatakan AS akan menyita cadangan minyaknya yang sangat besar.

Namun, mungkin sikap Sánchez terhadap Gaza-lah yang paling membedakannya. Spanyol mengakui negara Palestina pada tahun 2024 dan Sánchez adalah pemimpin Eropa paling senior yang menggunakan kata “genosida” untuk menggambarkan perang Israel di Gaza.

Sementara para pemimpin lain bertele-tele, Sánchez melarang pelabuhan dan wilayah udara Spanyol digunakan untuk mengangkut bahan bakar atau senjata ke militer Israel. Ia juga tegas menolak bergabung dengan “Board of Peace” (BoP), bentukan Trump karena diangggap mengabaikan PBB dan tidak melibatkan masukan dari Palestina.

Sikap Sánchez tentang BoP sama dengan sikap Takhta Suci yang disampaikan Kardinal Parolin. Menurut Vatican News, Kardinal Parolin: Takhta Suci “tidak akan berpartisipasi dalam Dewan Perdamaian (BoP) karena sifat khususnya, yang jelas berbeda dari negara-negara lain… di tingkat internasional, PBB-lah yang seharusnya mengelola situasi krisis ini. Ini adalah salah satu poin yang telah kami tekankan.”

Kini serangan AS-Israel terhadap Iran, menegaskan siapa itu Sánchez. Seperti yang hampir selalu dilakukan dalam pidatonya, Sánchez membuat referensi sejarah untuk menyampaikan sejauh mana keputusan Trump dapat membawa dunia menuju bencana total. Ia mengingatkan bahwa ketika Kanselir Jerman saat itu, Theobald von Bethmann Hollweg (1856-1921) ditanya bagaimana Perang Dunia I dimulai, ia menjawab, “Saya berharap saya tahu.”

“Begitulah bencana besar umat manusia dimulai. Sangat sering, perang besar pecah karena kesalahan perhitungan. Kita tidak bisa bermain Russian roulette dengan nasib jutaan orang,” kata Sánchez.

Sejarah mencatat, 23 tahun lalu, AS menyeret dunia ke dalam perang di Timur Tengah, Irak. Perang yang, secara teori, pada saat itu dikatakan bertujuan untuk melenyapkan senjata pemusnah massal Saddam Hussein, untuk membawa demokrasi, dan untuk menjamin keamanan global, tetapi, perang itu justru melepaskan gelombang ketidakamanan terbesar yang diderita dunia. Perang itu tidak memiliki otorisasi dari Dewan Keamanan PBB.

Maka, “Kita jangan mengulang kesalahan masa lalu,” kata Sánchez.

***

Pedro Sánchez, bukan Don Quixot. Lelaki berusia 53 tahun ini, dikenal selalu berbicara lembut. Tapi, menurut Adam Rasmi dari The New Statesman, setiap kata dan kalimat yang keluar dari mulutnya berbobot. Bernas.

Di panggung global, nama Sánchez banyak disebut. Walaupun, persoalan di dalam negeri dirasakan berat dan kompleks. Menurut Fernando Casal Bértoa and José Javier Olivas Osuna (LSR European Politic), janji Sánchez untuk mengakhiri korupsi dan meningkatkan kualitas demokrasi di Spanyol belum lah terpenuhi.

Yang terjadi justru di banyak bidang, pemerintah gagal atau tidak mampu mencapai tujuannya, meskipun berulang kali dipresentasikan sebagai keberhasilan. Indeks internasional tentang kualitas demokrasi Spanyol, tidak mengalami periode regenerasi, melainkan periode kemunduran demokrasi, sejak Sánchez berkuasa tahun 2018.

Tetapi, Pedro Sánchez, tetap lah bukan ksatria tipe Don Quixote, seorang hadilgo, bangsawan kelas dua yang berlari-lari di dalam dunia mimpinya, di atas punggung kudanya yang berjalan dengan kepala menunduk, kaki berat melangkah di jalan berbatu dan berdebu. Pedro Sánchez, tetap di dunia nyata. ***

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
22
+1
10
Kredensial