
Gerakan mendayung ala Viking (Viking row) menjadi pemandangan yang lazim di Amerika Serikat, selama Piala Dunia ini. Para suporter Norwegia melakukan gerakan itu baik di stadion maupun jalanan. Apalagi, tim mereka mampu mengubur mimpi Brasil untuk menjadi juara dunia keenam kalinya.
“Dewa Thor” Erling Haaland, kerap bertindak sebagai pemimpin. Ia memukul genderang untuk memberi aba-aba kepada rekan-rekannya agar mulai mendayung, sembari meningkatkan kecepatan pada setiap ayunan gerakan. Skuad ini juga menampilkan kembali nuansa warisan Viking mereka sebelum turnamen dimulai, dengan berpose mengenakan baju zirah tradisional di hadapan sebuah kapal longboat.
Tampilnya kesebelasan Norwegia di Piala Dunia 2026 dengan tampilan yang sangat mengesankan di dalam maupu di luar lapangan, mengingatkan kembali cerita lama tentang bangsa Viking. Bangsa penakluk, tangkas, bangsa yang gigih.
Kata Viking mungkin berasal dari ‘vìkingr’ yang berarti bajak laut, atau dari ‘Viken’, wilayah di sekitar Oslo Fjord di Norwegia. Kelompok masyarakat yang sama juga disebut sebagai Norsemen (orang-orang dari utara) dan bahkan ashmen– berdasarkan jenis kayu yang mereka gunakan untuk membangun kapal (Australian National Maritime Museum).
Tetapi, para sejarawan berbeda pendapat mengenai asal-usul kata “Viking”. Dalam bahasa Norse Kuno, kata ini bermakna serangan bajak laut, yang berasal dari kata vikja (bergerak cepat) atau vik (teluk kecil). Makna ini mencerminkan jati diri bangsa Viking: para pelaut tangkas yang memanfaatkan jalur perairan untuk melintasi Atlantik Utara, menyusuri pesisir Eropa, serta masuk ke sungai-sungai di sana guna berdagang, melakukan penjarahan, atau bermukim (Historical Association; history.org.uk)
Dalam karya sastra puisi mereka, laut disebut sebagai‘ “the whale road”. Penulis-penulis Anglo-Saxon menyebut mereka sebagai orang Denmark (Danes), orang Norse (Norsemen atau Northmen), Pasukan Besar (Great Army), pengembara laut, serigala laut, atau kaum kafir.
***

Tanah air bangsa Viking adalah Skandinavia, yang kini mencakup wilayah Norwegia, Swedia, dan Denmark. Dari sana, mereka melakukan perjalanan jarak jauh—terutama melalui jalur laut dan sungai—menjangkau wilayah sejauh Amerika Utara di barat, Rusia di timur, Lapland di utara, serta kawasan Mediterania (Konstantinopel) dan Irak (Baghdad) di selatan.
Pada suatu masa–sekitar tahun 800 M–bangsa Viking “ada” di mana-mana. Inggris, pernah ditaklukkan dan diduduki bangsa Viking. Jejaknya masih ada hingga kini. Sejarah menceritakan mulai sekitar tahun 860 Masehi, bangsa Viking tinggal, menetap, dan berkembang pesat di Inggris, serta menjadi bagian dari perpaduan penduduk yang membentuk bangsa Inggris saat ini.
Sangat menarik, menurut thenorseway.com, jejak bangsa Viking di Inggris masih terlihat jelas pada peta geografi modern: Lebih dari 1.500 kota dan desa di Inggris memiliki nama yang berasal dari bahasa Norse. Akhiran ‘-by’ (seperti pada Derby dan Whitby) menandai bekas permukiman Viking.
Zaman Viking memperkenalkan konsep hukum dan tata kelola baru yang memengaruhi perkembangan politik Inggris selama berabad-abad kemudian. Gagasan tentang pemerintahan perwakilan, yang terlihat dalam Thing (majelis pertemuan bangsa Norse), berkontribusi pada evolusi tradisi parlementer Inggris. Bahkan hingga kini, istilah hukum seperti law (hukum) dan witness (saksi) berasal dari bahasa Norse.
Pengaruh bangsa Viking pada kebudayaan Inggris, benar-benar nyata. Warisan Viking yang paling bertahan lama dapat ditemukan dalam kata-kata bahasa Inggris. Bahasa Norse Kuno tidak sekadar menambahkan beberapa kata ke dalam bahasa Inggris, melainkan mengubah struktur dasar bahasa tersebut secara mendasar.
Selain kata-kata serapan Norse, bangsa Viking juga memengaruhi tata bahasa Inggris. Kata ganti umum seperti they, them, dan their semuanya berasal dari bahasa Norse. Penyederhanaan tata bahasa Inggris Kuno yang terjadi pada masa itu juga dapat dikaitkan dengan pengaruh bahasa Norse.
Nama-nama hari dalam seminggu sebagian besar berasal dari nama dewa-dewi Norse—Tuesday (Selasa) dari Tiw atau Týr, Wednesday (Rabu) dari Woden (Odin), Thursday (Kamis) dari Thor, dan seterusnya. Banyak kata lain dari bahasa mereka juga telah diserap ke dalam bahasa Inggris, contohnya egg (telur), steak (daging panggang), law (hukum), die (mati), bread*(roti), down (bulu halus), fog (kabut), muck (kotoran), lump (gumpalan), dan scrawny (kurus kering).
Keahlian komersial bangsa Viking turut mengubah perekonomian Inggris. Jaringan kota yang mereka dirikan atau kembangkan di wilayah utara dan timur menjadi pusat perdagangan dan produksi kerajinan yang sangat penting. York, khususnya, muncul dari periode ini sebagai salah satu kota besar di Eropa abad pertengahan—sebuah warisan dari masa ketika kota itu menjadi ibu kota Viking bernama Jorvik.
Pendek kata, Inggris adalah “negeri baru” bagi bangsa Viking, pada masa itu. Boleh jadi, banyak pula orang Inggris keturunan bangsa Viking; atau sekurang-kurangnya, dalam tubuh mereka ada tetesan darah bangsa Viking.
***

Maka banyak yang berpendapat bahwa tahun 800 M sebagai awal “Abad Viking.” Pada masa itu, kata “Viking” memiliki lebih dari satu makna. Sebagaimana dijelaskan oleh Judith Jesch:
“víkingr” adalah seseorang yang melakukan ekspedisi, biasanya ke luar negeri, umumnya melalui jalur laut, dan biasanya dilakukan dalam kelompok bersama víkingar (bentuk jamak) lainnya. Istilah víkingr tidak merujuk pada etnisitas tertentu dan merupakan istilah yang cukup netral, yang dapat digunakan untuk menyebut kelompok sendiri maupun kelompok lain. Aktivitas víking itu sendiri juga tidak didefinisikan secara spesifik; kegiatan ini tentu bisa mencakup aksi penjarahan, namun tidak terbatas hanya pada hal tersebut.” (ancient-origins.net)
Namun, pandangan yang umum diterima adalah bahwa Zaman Viking bermula ketika orang-orang Norse mulai melakukan penjarahan di wilayah lain. Oleh karena itu, banyak ahli berpendapat bahwa awal mula pelayaran Viking ditandai oleh serangan terhadap biara Lindisfarne di Inggris pada tahun 793 M.
Akan tetapi, jika sosok víkingar dipandang sebagai pelaut yang melakukan ekspedisi, Zaman Viking dapat dikatakan telah dimulai lebih awal, yakni ketika orang-orang dari Norwegia berlayar ke Ribe, Denmark, untuk misi damai sekitar tahun 725 M.
Akhir Zaman Viking secara resmi ditetapkan pada tahun 1066, saat Raja Norwegia Harald Hardrada gugur dalam Pertempuran Stamford Bridge—yang merupakan invasi besar terakhir Viking ke Eropa.
***

Bangsa Viking dikenal sebagai salah satu warrior culture paling legendaris dalam sejarah. Itulah sebabnya, mereka mampu menaklukkan banyak wilayah dan negara pada zamannya.
Para warrior, pejuang Viking, yang dikenal karena reputasi mereka yang menakutkan di seluruh Eropa antara abad ke-8 dan ke-11, bukan hanya petarung yang tangguh, tetapi juga navigator dan penjelajah yang ulung. Kapal longship memfasilitasi pelayaran mereka, memungkinkan mereka untuk melakukan penjelajahan, penjarahan, berdagang, dan mendirikan permukiman jauh melampaui tanah air mereka di Skandinavia.
Kehebatan bangsa Viking dalam peperangan, navigasi, dan dampaknya terhadap budaya menjadikan mereka salah satu kekuatan paling tangguh dan berpengaruh dalam sejarah.
Viking berdiri sebagai salah satu budaya prajurit yang paling abadi dalam sejarah. Tetapi di balik mitos helm bertanduk terdapat filosofi yang berakar pada kehormatan, takdir, dan pengejaran warisan.
Filosofi Viking berpusat pada keyakinan mendalam akan takdir. Konsep wyrd—atau takdir—berarti bahwa setiap prajurit memiliki saat kematian yang telah ditentukan sebelumnya; sesuatu yang tidak dapat diubah dan tidak terelakkan (wanderlust-magazine.com)
Viking memiliki pandangan hidup yang sangat fatalistik. Konsep Urðr (takdir atau nasib) berarti bahwa waktu dan cara kematian seseorang telah ditentukan. Keyakinan ini membebaskan mereka dari rasa takut mati dan mendorong keberanian yang luar biasa dalam pertempuran.
***

Kita akan menyaksikan saat Erling Haaland dan kawan-kawannya menghadapi kesebelasan Inggris di bawah komando Harry Kane, apakah mereka masih mewarisi semangat para warrior Viking, ketika dahulu menaklukkan Inggris? Atau mereka sudah melihat cara kematian?
Tetapi, kakek moyang mereka mengajarkan bahwa hidup mereka berorientasi pada tindakan, dengan penekanan pada kehormatan, ketangguhan, serta penerimaan terhadap takdir yang tak terelakkan (wyrd). Kearifan ini tertanam dalam mitos yang mengedepankan keberanian, semangat kebersamaan, dan pengejaran kejayaan. ***
Mas Dubes, terimakasih…. keren banget tulisannya! Sudut pandangnya super keren, mengaitkan aksi gemilang timnas Norwegia dan Erling Haaland di Piala Dunia 2026 dengan ketangguhan sejarah bangsa Viking di masa lalu. Penjelasan sejarahnya juga mengalir dan gampang dipahami. Mantap, ditunggu tulisan-tulisan keren selanjutnya ya mas… Selalu sehat dan penuh berkah
Bung Anton, nuwun…sekadar ndongeng untuk memberi warna lain Piala Dunia, walau pun Norwegia kalah…..
Beberapa th yll sy sempat ke museum Viking di Norway dg pengetahuan yg minim dan ternyata baru jelas dg membaca sejarahnya ditulisan dik Trias. Matur nuwun, tambah pengetahuan.
Wah, pasti menarik ya museum Viking itu…saya belum pernah…terima kasih..Salam
Keren mas Trias tulisannya, pas dg kehebatan kesebelasan Norwegia dg sosok Erling Haaland di piala FIFA yg sdg berlangsung. Sy ikut kagum dg personifikasi Haaland yg humble, rendah hati …. Bravo Haaland 👍👍👍
Betul, Om…walau kalah…tetapi kita tahu siapa dan bagaimana kultur Viking itu….salam
Matur nuwun Dab Trias . . . .
Asupan pengetahuan tentang Warrior Viking yang sangat baik, yang hingga kini masih ada tradisi yang masih dihidupi . . . . Viking row, yang membahana dalam kejuaraan dunia sepakbola 2026 . . .
Mendayung memang perlu kompak agar tidak saling berbenturan . . . demikian pula sepak bola juga perlu kompak agar menang . . . . . sayangnya Norwegia dikalahkan England . . . .
Ya, betul Mas Rektor…meski kalah kita bisa menarik pelajaran dari mereka…tentang kultur kekompakan dan kultur pejuang. Salam
Mas Trias terima kasih banyak untuk tulisan sekitar bangsa dan budaya Viking. Wow baru tahu pengaruhnya amat besar pada negara Inggris lebih-lebih untuk bahasa dan berbagai nama kota. Saya amat terkesan dengna istilah warrior culture (karakter prajurit). Tetapi ya dalam pildun Inggris mengalahkan Norwegia walau Erling Haaland menggerakkan skuadnya full percaya diri.
Sekali lagi terima kasih.
Iya Romo…Norwegia kalah…tetapi meninggalkan kesan dan kenanangan—suwun