“THE POWER OF BAHASA”

Bersama Uskup Surabaya Mgr Didik, Prefect Dikasteri Komunikasi Vatikan Paolo Ruffini, dan Kepala Radio Vatikan Massimiliano Manichetti, setelah penandatanganan MOU penggunaan bahasa Indonesia di “Vatican News”, 25 Maret lalu (Foto, Erik Sadewa)

Ketika tanggal 25 Maret lalu, diadakan acara sederhana di kantor pusat Radio Vatikan dan Vatican News, Vatikan, ada rasa bangga di dada. Meski pelaksanannya masih menunggu penyelesaian masalah-masalah teknis oleh Komisi Waligereja Indonesia (KWI), tapi tidak jua mengurangi rasa bangga itu.

Sebab, hari itu, Bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi ke-57 yang akan digunakan Vatican News untuk menyebarkan berbagai berita, informasi dari Vatikan. Juga sebaliknya, berbagai informasi dari seluruh pelosok Indonesia, tentu yang sesuai dengan misi dan visi Vatican News, akan dipublikasikan saluran berita resmi Vatikan ini; dan diketahui masyarakat Indonesia.

Portal berita Takhta Suci itulah Vatican News. Bersama dengan Radio Vatikan, L’Osservatore Romano, dan Vatican Media, portal ini berupaya untuk selalu menanggapi tuntutan misi Gereja dengan lebih baik dalam budaya kontemporer.

Dalam website Vatican News dijelaskan demikian: Melampaui konsep sebagai platform digital sederhana, Vatican News berupaya untuk menanggapi dan, dalam arti tertentu, mengantisipasi perubahan terus-menerus yang terjadi dalam komunikasi, dengan tujuan untuk “menyampaikan Injil belas kasih kepada semua orang” dalam berbagai budaya.

Portal ini berkomunikasi dan berinteraksi melalui audio, video, teks, dan gambar pada platform multibahasa, multibudaya, multisaluran, multimedia, dan multiperangkat.

Empat area tematik menyediakan informasi mengenai aktivitas Paus, Takhta Suci, Gereja-gereja lokal, serta memberikan ruang bagi berita dunia. Vatican News didirikan berdasarkan struktur operasional program bahasa Radio Vatikan. Radio Vatikan dirancang dan dibangun oleh Guglielmo Marconi atas permintaan Paus Pius XI, dan mulai mengudara pada 12 Februari 1931.

***

Paus Leo XIV saat merilis ensiklik “Magnifica Humanitas” tentang Kecerdasan Buatan (AI), 25 Mei 2026 di Aula Paulus VI, Vatikan (Foto: Trias Kuncahyono)

Petualangan Vatican News dimulai pada 27 Juni 2015 dengan Motu Proprio Paus Fransiskus yang membentuk Sekretariat Komunikasi, yang saat ini merupakan Dikasteri Kuria Romawi. Frasa dalam bahasa Latin ini, motu proprio berarti “atas inisiatif sendiri”. Dalam konteks Gereja Katolik, ini merujuk pada sebuah dokumen resmi yang diterbitkan langsung oleh Paus atas kemauannya sendiri, tanpa didahului oleh permintaan atau usulan dari pihak lain.

Sekadar contoh motu proprio. Misalnya, pada 3 September 2017, Paus Fransiskus menerbitkan Motu Proprio Magnum Principium, Prinsip yang Bagus. Dokumen ini Memberikan wewenang penuh kepada Konferensi Waligereja setempat untuk menerjemahkan buku-buku liturgi dari bahasa Latin ke bahasa sehari-hari secara akurat dan setia. Tugas Takhta Suci memberikan recognitio (pengesahan resmi), yang lebih bersifat mendukung dan mengonfirmasi hasil kerja para uskup lokal, bukan lagi mendikte atau mengambil alih terjemahan secara langsung.

Lalu, tanggal 16 Juli 2021, Paus Fransiskus menerbitkan Motu Propio Traditionis Custodes (Para Penjaga Tradisi) tentang pembatasan perayaan Misa Latin Tradisional atau Misa Tridentine. Yang menarik, motu proprio ini membatalkan Motu Proprio Summorum Pontificum, Paus Tertinggi (7 Juli 2007) yang dikeluarkan Paus Benediktus XVI, tentang keleluasaan lebih luas dalam perayaan Misa menggunakan Buku Misa Romawi (Bahasa Latin) edisi tahun 1962.

Di awal abad ke-20, 22 November 1903, Paus Pius X menerbitkan Motu Proprio Tra le Sollecitudini (Di antara Kekhawatiran) yang mereformasi musik Gereja Katolik Roma dan nyanyian liturgi. Dokumen ini melarang instrumen tertentu, mewajibkan penggunaan nyanyian Gregorian, dan mengharuskan paduan suara terdiri dari laki-laki dan bukan perempuan. Dokumen ini dianggap sebagai salah satu hukum liturgi paling terkenal dalam sejarah gereja modern.

***

Deretan buku-buku, “the power of kata-kata,” di sebuah toko buku di Roma (Foto: Trias Kuncahyono)

Jadi, senjata utamanya–Radio Vatikan,Vatican Media, dan L’Osservatore Romano–adalah bahasa. Tentang bahasa, menarik penjelasan dari Atlantic International University. Demikian:

Bahasa adalah salah satu alat paling ampuh yang pernah diciptakan umat manusia; benang tak terlihat yang menyatukan pengalaman manusia. Bahasa adalah salah satu alat tertua dan terlama umat manusia dan penggunaannya sangat mendasar bagi setiap masyarakat manusia.

Kata-kata lisan telah mengambil berbagai bentuk, dari gambar gua, hingga vokal, hingga media sosial modern. Bahasa masih menjadi tulang punggung setiap peradaban, benang yang menyatukan budaya, jembatan yang menghubungkan semua orang lintas generasi, geografi, dan ideologi.

Masih menurut Atlantic International University: Bahasa adalah media yang melaluinya kita mengekspresikan pikiran, perasaan, niat, dan identitas kita. Bahasa adalah saluran untuk menyampaikan pengetahuan, mencatat sejarah, melestarikan warisan budaya, dan merencanakan masa depan.

Dan, bahasa bekerja melalui bunyi vokal untuk terlibat dalam percakapan, piktogram yang terukir pada gulungan, isyarat yang dibuat dengan tangan kita, dan kode mesin yang diketik menjadi pesan di seluruh dunia. Ini adalah proses di mana kita menciptakan makna realitas dan membaginya dengan orang lain.

Dengan demikian, bahasa berarti lebih dari sekadar komunikasi – ia adalah kognisi, ingatan, identitas, dan sejarah. Dari gambar gua paling awal hingga komunikasi digital, bahasa telah membentuk cara kita berpikir, cara kita berhubungan, dan bagaimana kita, sebagai spesies, berevolusi.

Menurut UNESCO, ada 7.000 bahasa yang saat ini digunakan di dunia, dengan masing-masing merupakan cara unik untuk memahami dan mewariskan pengetahuan tentang dunia di sekitar kita. Setiap bahasa dan dialek memiliki nilai intrinsik untuk melestarikan pengetahuan asli, spiritualitas, dan bahkan pengetahuan tentang lingkungan.

Kemampuan untuk mengartikulasikan ide-ide abstrak dari makna kata-kata lisan sambil memahami pentingnya bahasa telah memfasilitasi perkembangan sains, hukum, seni, dan teknologi. Seperti yang dijelaskan oleh psikolog Steven Pinker dalam The Language Instinct yang berjudul “Language is the jewel in the crown of cognition.”

***

Paus Yohanes Paulus II, muncul pertama kali setelah terpilih di balkon Basilika Santo Petrus, Vatikan, 1978 (Foto: Istimewa AP, 1978)

Hingga sekitar enam dekade lalu, Gereja Katolik sangat bergantung pada bahasa Latin dalam komunikasi resmi dan liturgisnya. Paus, berbicara dari takhtanya di Roma, memimpin Gereja dengan cara yang khidmat dan jauh dari balik tembok Vatikan.

Tetapi, sebagai Gereja universal yang merangkul banyak bangsa, Gereja mengakui pentingnya bahasa dan perannya dalam menyampaikan pesan Injil kepada semua orang. Setelah Konsili Vatikan II, Gereja mengalami reformasi mendalam. Misa tidak lagi disampaikan dalam bahasa Latin tetapi dalam bahasa setempat–di Indonesia menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah–dan Paus mulai keluar dari balik tembok Vatikan. Televisi dan radio tidak lagi dilihat sebagai ancaman, tetapi sebagai peluang. Apalagi, zaman informasi dan komunikasi sekarang ini demikian maju cepat.

Paus mulai berbicara kepada khalayak global. Disadari bahwa menggunakan satu bahasa saja tidak lagi efektif. Gereja memahami bahwa mereka harus beradaptasi agar dapat melakukan apa yang selalu mereka lakukan selama dua milenium: bertahan dan berkembang.

Adalah Paus Paulus VI adalah paus pertama yang mengadakan audiensi umum multibahasa di Roma. Dimulai pada Juli 1963. Dengan cara itu, Paus Paulus VI merevolusi format audiensi tradisional dengan menyampaikan salam, ringkasan katekese, dan berkat dalam beberapa bahasa modern (awalnya Perancis, Spanyol, Jerman, dan Inggris) untuk secara langsung menyapa para peziarah internasional (Catholic News Service).

Audiensi dan katekese umum hari Rabu pertama diadakan pada April 1939 oleh Paus Pius XII. Pertemuan pertama secara khusus ditujukan untuk pasangan yang baru menikah. Audiensi mingguan berlanjut hingga PD II.

Tapi, karena pada tahun 1943 Roma diduduki pasukan Jerman Nazi, audiensi umum tidak mungkin diselenggarakan. Audiensi dimulai kembali diadakan oleh Paus Yohanes XXIII, Castel Gandolfo. Tapi, khusus para guru Katolik dan umat Katolik (EWTN Vatican)

Maka, sejak Juli 1963 itu, Gereja mulai menyampaikan pesannya jauh melampaui Basilika Santo Petrus—dalam bahasa Perancis, Spanyol, Inggris, dan bahkan Swahili. Tetapi mengapa begitu penting bagi Gereja untuk dipahami?

Tidak seperti banyak pemimpin agama lainnya, Paus memiliki status global yang unik. Tidak harus beragama Katolik—atau bahkan religius—untuk tertarik pada pandangannya. Orang-orang dari semua keyakinan, dan bahkan mereka yang tidak berafiliasi dengan agama, sering melihat Paus sebagai otoritas moral. Dan, bahkan, Paus dipandang sebagai pemimpin yang memiliki otoritas moral terdepan.

Gereja harus memahami mereka–umat dan masyarakat dunia–serta berbicara kepada mereka dalam bahasa ibu mereka. Dengan demikian, pesannya sampai dan mudah dipahami, serta diterima. Itulah mengapa membuat pesannya multibahasa sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri.

Saat ini, situs web Vatikan menawarkan konten dalam lebih dari 60 bahasa, yang mencerminkan komitmen yang jelas untuk menjangkau orang-orang, sejauh mungkin. Bahkan, ibarat kata, sampai ke ujung dunia: Gereja harus memahami mereka dan berbicara kepada mereka.

Karena itu, para Paus sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma, mempunyai kemampuan berbicara dalam banyak bahasa agar mudah terhubung lebih langsung dengan umat Katolik dan masyarakat di seluruh dunia.

Misalnya, menurut National Catholic Register (26 Februari 2026), Paus Yohanes XXIII lancar menggunakan enam bahasa: Latin, Italia, Perancis, Yunani, Turkiye, dan Bulgaria. Paus Paulus VI jago dalam berbahasa Italia, Latin, Perancis, Inggris, Spanyol, dan Jerman.

Paus Benediktus XVI yang berasal dari Jerman, sudah tentu menguasai bahasa ibunya itu. Selain bahasa Jerman, Paus Benediktus XVI lancar berbahasa Italia, Latin, Perancis, Inggris, Spanyol, Yunani kuno, dan Ibrani

Sementara Paus Fransiskus menguasai tujuh bahasa: Spanyol, Italia, Jerman, Inggris, Perancis, Portugis, dan Latin. Sedangkan Paus Leo XIV, fasih berbicara dalam bahasa Inggris, Spanyol, Italia, Portugis, dan Perancis. Ia juga bisa membaca dan memahami secara baik bahasa Latin dan Jerman.

Namun, Paus Yohanes Paulus II adalah yang paling mahir berbahasa asing di antara semuanya. Penutur asli bahasa Polandia ini fasih berbahasa Italia, Spanyol, Prancis, Inggris, Portugis, dan Latin, serta memiliki pengetahuan dasar tentang bahasa Slovakia, Rusia, Ukraina, Jepang, Tagalog, dan banyak lagi. Ia menyampaikan ucapan Selamat Paskah dalam sekitar 60 bahasa termasuk bahasa Indonesia, dan mengunjungi 129 negara berbeda— lebih banyak daripada paus mana pun dalam sejarah.

Bisa dikatakan, Paus Yohanes Paulus II adalah orang yang mengubah standar kepausan; ratusan paus datang dan pergi sebelum Misa pernah diadakan dalam bahasa lain, tetapi ia adalah salah satu yang pertama menyadari pentingnya menjangkau orang-orang di tempat mereka berada.

Para Paus berbicara dalam banyak bahasa untuk memimpin gereja global secara efektif, menjaga diplomasi Vatikan, dan terhubung secara intim dengan umatnya di seluruh dunia.

***

 

Paus Leo XIV bersama para Duta Besar yang terakreditasi untuk Takhta Suci, di Kapel Sistina, Vatikan setelah menyampaikan pidato awal tahun, 9 Januari 2026 (Foto: Vatican Media)

Dalam pidatonya dihadapan Korps Diplomatik terakreditasi di Takhta Suci, 9 Januari 2026, Paus Leo XIV, memang tidak membahas bahasa, tetapi kata-kata. Kata adalah salah satu dari tiga unsur bahasa yang saling terkait: suara/pelafalan (fonologi), kosa kota (leksikon), dan struktur kalimat (sintaksis).

Kata Paus Leo XIV, “menemukan kembali makna kata-kata mungkin merupakan salah satu tantangan utama zaman kita.” Karena ketika kata-kata kehilangan hubungannya dengan realitas, realitas itu sendiri menjadi “dapat diperdebatkan dan pada akhirnya tidak dapat dikomunikasikan.”

Ia mengingat bagaimana Santo Agustinus menggambarkan dua orang yang terpaksa tetap bersama tanpa bahasa yang sama: “binatang bisu… lebih mudah saling memahami daripada kedua individu ini,” tulis Agustinus; bahkan, “seseorang akan lebih mudah berbicara dengan anjingnya daripada dengan orang asing!”

Namun, Paus memperingatkan, ambiguitas semantik saat ini bukan hanya kebetulan. “Bahasa semakin menjadi senjata untuk menipu, atau untuk menyerang dan menyinggung lawan,” katanya.

Paus ke-267 sejak Santo Petrus itu menyerukan agar kata-kata “mengungkapkan realitas dan jelas secara tegas,” sehingga dialog otentik dapat dilanjutkan – dalam keluarga, dalam politik, di media, di media sosial, dan dalam hubungan internasional.

Paus Leo XIV mencatat sebuah paradoks: pelemahan bahasa ini sering kali dibela “atas nama kebebasan berekspresi,” namun, “jika diteliti lebih cermat, justru sebaliknya yang terjadi,” karena kebebasan dilindungi justru ketika bahasa berlandaskan pada kebenaran.

Menurut Paus Leo XIV, “Saat ini, makna kata-kata semakin cair, dan konsep yang diwakilinya semakin ambigu.” Ini nyaman bagi mereka yang lebih mencintai kekuasaan daripada kebenaran, karena memungkinkan narasi yang berubah-ubah, lebih sesuai dengan momen, dengan margin yang memungkinkan penyangkalan yang masuk akal di semua titik pada setiap masalah.

Meminjam pendapat filsuf Jerman Josef Pieper dalam esainya Abuse of Language, Abuse of Power (1974), bahwa berbohong berarti menghalangi akses orang lain ke realitas. Kata-kata menyampaikan realitas dan memiliki karakter interpersonal.

Jika kata-kata terlepas dari realitas, maka bahasa akan rusak. Karena memiliki karakter interpersonal, dialog pun menjadi tidak mungkin. Jika kebenaran bukan tujuannya, komunikasi tentang sesuatu seperti politik hanya akan menjadi opini dan apa yang kita inginkan, dan satu-satunya cara untuk membuat seseorang mengubah pikirannya adalah dengan kekuasaan (yaitu kekerasan, paksaan). Tanpa kebenaran sebagai tujuan, tidak akan ada dialog atau debat.

Dalam refleksi mingguannya, Pastor John Parks (Our Lady of Joy, 09/08/2024), menulis, Kita menggunakan kata-kata untuk menyampaikan kebenaran kepada orang lain, yaitu bahasa memiliki karakter interpersonal. Jadi, ketika Anda merusak bahasa dengan menggunakannya bukan lagi untuk menyampaikan kebenaran, tetapi untuk menyembunyikan kebenaran agar dapat memanipulasi orang lain, Anda menghancurkan tujuan keberadaan bahasa itu sendiri. Tujuan bahasa adalah untuk menyampaikan realitas.

Pieper bahkan mengatakan bahwa ketika seseorang berbohong dalam berkomunikasi dengan orang lain—yang seharusnya menjadi sarana untuk melihat sesuatu bersama—secara sederhana, ia tidak dapat mengatakan bahwa ia sedang berkomunikasi sama sekali. Ia telah memalsukan bahasa dan alasan keberadaannya.

Dan sekali lagi, tulis Pastor John Parks, ini sering dilakukan untuk memanipulasi orang lain agar memiliki kekuasaan atas mereka. Bayangkan semua retorika muluk-muluk dari begitu banyak otokrat yang mengucapkan kebohongan manis untuk menyenangkan telinga para pendengarnya, hanya agar ketika mereka meraih kekuasaan, mereka segera mengingkari janji mereka.

Padahal, kata Paus Leo XIV, bahasa membangun jembatan belarasa, dialog, dan komunikasi di dunia yang sering dipisah-pisah oleh tembok ideologi. “Bahasa bukan lagi cara yang disukai manusia untuk saling mengenal dan bertemu satu sama lain,” kata paus. ***

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
30
+1
9
Kredensial