
Bamenda, kota di Kamerun barat-laut, banyak dibicarakan orang, hari-hari akhir ini. Ibu kota Wilayah Kamerun Barat Laut ini adalah salah satu kota yang dikunjungi Paus Leo XIV dalam lawatan apostoliknya ke empat negara Afrika: Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Ekuatorial.
Di kota yang berada di kawasan pegunungan berhawa sejuk, sejauh 366 km barat-laut Yaoundé, ibu kota Kamerun ini, diselenggarakan pertemuan untuk perdamaian Bamenda oleh “Community of Bamenda for a Meeting of Peace.” Pertemuan di Katedral Santo Yusuf itu, antara lain dihadiri Kepala Adat Tertinggi Mankon, Fon Fru Asaah Angwafor IV; Moderator Emeritus Gereja Presbiterian, Fonki Samuel Forba; Imam Masjid Pusat Buea, Mohammad Abubakar; Suster Carine Tangiri Mangu, Suster St. Anne; dan keluarga pengungsi korban perang saudara, Denis Salo, istrinya, dan ketiga anak mereka. Mereka memberikan kesaksian tentang arti pentingnya perdamaian.
Dalam pidatonya, menurut Vatican News (16/4) Paus Leo XIV antara lain mengatakan: “Dunia sedang dirusak oleh segelintir tiran (handful tyrants), yang menghabiskan miliaran dollar uang untuk perang.” Para “masters of war” itu berpura-pura tidak mengakui bahwa “hanya butuh sesaat untuk menghancurkan, namun seringkali seumur hidup pun tidak cukup untuk membangun kembali.”
Pemimpin umat Katolik sedunia ini menyesalkan bagaimana mereka yang berkuasa menutup mata terhadap miliaran dollar yang dihabiskan untuk pembunuhan dan kehancuran, “namun sumber daya yang dibutuhkan untuk penyembuhan, pendidikan, dan pemulihan sama sekali tidak ditemukan.”
Tetapi, siapa yang dimaksud Paus Leo XIV sebagai “handful tyrants” itu? Siapa yang dimaksud dengan “masters of war” itu? Ia tidak menyebutkan. Tetapi, umat yang ada di dalam katedral itu, bisa mengira-ira. Masyarakat dunia pun yang mendengarkan dan membaca pidato itu–karena kemajuan teknologi komunikasi– bisa menduga-duga dan paham.
Dalam pidatonya itu, paus pertama dalam sejarah Gereja Katolik asal Amerika Serikat ini, juga mengecam para pemimpin dunia yang menggunakan agama untuk membenarkan kekerasan terhadap negara lain.
Tetapi, kiranya, tidak membaca setiap pernyataan Paus seolah-olah ditujukan kepada Washington. Sebab, Paus Leo XIV sedang di Afrika–di Kamerun yang dilanda perang saudara sejak tahun 2017. Benua ini, ditandai dengan konflik keagamaan yang parah (Nigeria, Republik Afrika Tengah, Sehel dan Mali, Ethiopia, serta Sudan dan Sudan Selatan). Karena itu, yang dikatakan Paus Leo XIV memiliki jangkauan yang jauh lebih luas dibanding Washington saja.
***

Dengan pidatonya itu, sekali lagi Paus Leo XIV menegaskan sikapnya yang anti-war, anti-perang. Kata Paus, “Perdamaian bukanlah sesuatu yang harus kita ciptakan: itu adalah sesuatu yang harus kita rangkul dengan menerima sesama kita sebagai saudara dan saudari kita. Kita tidak memilih saudara dan saudari kita: kita hanya perlu menerima satu sama lain! Kita adalah satu keluarga, mendiami rumah yang sama: planet yang indah ini yang telah dirawat oleh budaya-budaya kuno selama ribuan tahun.”
Lalu, Paus yang sejak hari pertama masa kepausannya menekankan misinya–menghadirkan perdamaian–mengutip Anjuran Apostolik Evangelii Gaudium yang dikeluarkan Paus Fransiskus, 24 November 2013: “Misi saya untuk berada di hati orang-orang bukanlah sekadar bagian dari hidup saya atau lencana yang dapat saya lepas; itu bukanlah sesuatu yang ‘ekstra’ atau hanya momen lain dalam hidup. Sebaliknya, itu adalah sesuatu yang tidak dapat saya cabut dari diri saya tanpa menghancurkan diri saya sendiri. Saya adalah sebuah misi di bumi ini; itulah alasan mengapa saya berada di dunia ini” (no. 273).
Mengapa Paus Leo XIV mengutip anjuran apostolik itu? Sebab, anjuran apostolik itu bicara tentang perdamaian. Dan, perdamaian adalah tema sentral ajaran Katolik. Tema sentral ini ada dalam Kitab Suci (Alkitab) dan dalam tradisi Kristen, yang secara bertahap diintegrasikan ke dalam teks-teks resmi Gereja Katolik Roma. Dan, secara bertahap membentuk dasar wacana Takhta Suci.
Dalam teologi Kristen, Yesus dipercaya dan diyakini sebagai bukti nyata kasih Allah pada manusia. Dan, Ia merupakan elemen kunci kembalinya perdamaian di bumi. Maka, “Pergilah dengan damai.” Itu yang selalu dikatakan Yesus kepada orang sakit yang disembuhkan. “Damai sejahtera bagimu,” kata Yesus saat bertemu para murid-Nya setelah bangkit dari mati.
Lalu sebelumnya, dalam Khotbah di Bukit, Yesus mengatakan, “orang-orang yang membawa damai sejahtera…akan diakui sebagai anak-anak Allah.” Semua itu menjadi dasar wacana Takhta Suci. Misalnya, ensiklik Pacem in Terris (Damai di Bumi), yang diterbitkan 11 April 1963 oleh Paus Santo Yohanes XXIII.
Dengan menerbitkan ensiklik Pacem in Terris, Paus Santo Yohanes XXIII memberikan isyarat bahwa perdamaian sebagai prioritas kepausannya. Ensiklik itu bertujuan untuk “menciptakan perdamaian universal dalam kebenaran, keadilan, kasih, dan kebebasan.” Empat hal tersebut merupakan akar terdalam dari wacana Takhta Suci tentang perdamaian di Zaman Moderen ini.
Tugas memperjuangkan dan menjaga perdamaian ini tetap menjadi prioritas Gereja. Para paus penerusnya–Paus Santo Paulus VI, Paus Yohanes Paulus I, Paus Santo Yohanes Paulus II, Paus Benediktus XVI, Paus Fransiskus, dan Paus Leo XIV–semuanya berusaha dengan caranya masing-masing mengikuti jalan yang telah ditapaki Paus Santo Yohanes XXIII.
***
Apakah usaha dan tindakan mereka, semua berhasil? Tidak selalu. Tetapi, mereka tetap berusaha untuk mencegah munculnya perang baru. Paus Santo Yohanes Paulus II, misalnya, menjadi sponsor runtuhhnya rezim komunis di Polandia dan Uni Soviet; ia juga dengan tegas menentang Perang Teluk 1991 dan invasi ke Irak 2003, yang dipimpin oleh AS
Paus Fransiskus merukunkan kembali AS dan Kuba di zaman Obama dan terus mendorong diakhirinya perang Rusia-Ukraina serta perdamaian Timur Tengah (Gaza). Paus Fransiskus adalah pendukung perdamaian global, menekankan dialog, tanpa kekerasan, dan persaudaraan antar-manusia (lewat Deklarasi Abu Dhabi, ensiklik Fratelli Tutti, dan juga Deklarasi Istiqlal). Ia sering menggambarkan ketegangan global sebagai “perang dunia ketiga yang diperjuangkan secara sporadis.”
Dan, Paus Leo XIV, demikian juga. Hal ini sudah dinyatakan di hari pertama masa kepausannya. “La pace sia con tutti voi, Semoga damai sejahtera bersamamu,” katanya di balkon Basilika Santo Petrus, Vatikan, 8 Mei 2025. Meski karena sikap dan pernyataannya anti-perang yang sangat tegas akhir-akhir ini, Paus Leo XIV ditentang dan diejek Presiden AS Donald Trump, juga oleh Wapres JD Vance.
Pernyataan terkuat Paus Leo XIV menentang perang disampaikan pada 29 Maret 2026, Minggu Palma, di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. Ketika itu, Paus mengatakan bahwa Tuhan “tidak mendengarkan doa-doa mereka yang berperang.”
Kemudian, Paus memposting di media sosial yang mengatakan bahwa “siapa pun yang merupakan murid Kristus” “tidak pernah berada di pihak mereka yang pernah memegang pedang dan hari ini menjatuhkan bom.”
Komentar tersebut menuai kritik dari antara lain Wapres AS JD Vance yang juga beragama Katolik. Kata Vance, “Bagaimana Anda mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah berada di pihak mereka yang menggunakan pedang?” tanya Vance. Ia lalu memberikan contoh pasukan AS telah membebaskan Perancis dari Nazi dan membebaskan tahanan dari kamp-kamp Holocaust.
Saat Paus Leo XIV di Aljazair, Vance mempertanyakan pemahaman Paus tentang doktrin Katolik untuk menentukan apakah suatu perang dapat dibenarkan secara moral. Vance mengatakan itu, beberapa jam setelah Paus Leo XIV berziarah ke Annaba (dulu bernama Hippone atau Hippo Regius) Aljazair utara tempat Santo Agustinus, bapak rohaninya (National Catholic Reporter, 15 April 2026).
Santo Agustinus (354-430) adalah salah satu tokoh kunci “just war theory”, teori perang adil. Di Hippone itulah Santo Agustinus menulis sebagian besar pandangannya tentang prinsip-prinsip just war.
Santo Agustinus adalah seorang doktor Gereja dan salah satu tokoh intelektual paling berpengaruh dalam pemikiran Barat. Ia berpendapat bahwa perang secara moral dapat dibenarkan jika diarahkan untuk memulihkan perdamaian. Para pemikir selanjutnya, khususnya Santo Thomas Aquinas, mengembangkan lebih lanjut pemikiran Agustinus dan menetapkan kriteria yang ketat untuk penggunaan kekuatan militer yang bermoral.
Misalnya, ancaman harus berlangsung lama, serius, pasti, dan keberhasilan harus realistik untuk dicapai. Yang terpenting, semua cara penyelesaian lainnya, harus benar-benar diupayakan terlebih dahulu.
Sederhananya, tujuan dari seperangkat aturan yang ditulis Santo Agustinus lalu dikembangkan Santo Thomas Aquinas adalah untuk mencegah pecahnya perang; untuk mencegah yang terlibat dalam perang menjadi hakim akhir atas kebenaran mereka sendiri.
Kata Joseph Capizzi dari Universitas Katolik Amerika (euronews.com), doktrin ini (just war) memahami bahwa kebanyakan orang menganggap tujuan mereka adil. Tetapi, ini adalah cara untuk membedakan penyebab perang yang sah dan adil dari penyebab perang yang tidak sah.”
***

Komentar Vance memancing reaksi berbagai pihak, tidak hanya kalangan Gereja tetapi juga politisi dan akademisi. Kata mereka, ada masalah tentang apa yang dikatakan Vance, karena ia tidak hanya bicara soal perang semata tetapi juga tentang wewenang Paus. Vance menyarankan agar Paus Leo XIV membatasi diri pada moralitas dan tidak perlu ikut campur tangan dalam kebijakan luar negeri.
Padahal perang adalah juga soal moral. Kata Patricia J Huhn (EBSCO, 2023), “Perang adalah masalah moral.” Ini berarti, konflik bersenjata bukan hanya masalah politik, strategis, atau hukum, tetapi dilema etika mendalam yang memaksa benturan antara prinsip-prinsip moral dasar—seperti larangan membunuh—dan anggapan perlunya kekerasan untuk membela nilai-nilai, bangsa, atau nyawa yang tidak bersalah.
Bukankah, tidak ada aspek dalam kehidupan ini, di mana moral tidak berperan? Paus sebagai gembala tertinggi Gereja universal, memiliki peran untuk berbicara tentang iman dan moral, termasuk politik; politik kemanusiaan, bukan politik untuk memperebutkan atau mempertahankan kekuasaan. Maka, akan menjadi kesalahan untuk berpikir bahwa kebijakan publik tidak menyentuh moral.
Satu hal penting yang perlu dipahami: Paus adalah sekaligus “pemimpin spiritual dan temporal leader“, pemimpin duniawi. Pernyataan Bapa Suci adalah bagian dari perannya “untuk membimbing dan mengajar”, sebagai pemimpin spiritual. Sementara itu, bila Paus Leo XIV, misalnya, menghindari perang Iran–dalam arti diam saja, sementara begitu banyak korban jiwa–itu tidak sejalan dengan tradisi kepausan selama ini, yang dijalankan para pendahulunya, juga tidak sejalan dengan posisinya sebagai “temporal leader“.
Karena menentang perang itu bagian dari iman dan moral orang-orang beriman di seluruh dunia. Bukankah, perdamaian adalah tema sentral ajaran Katolik? Maka, kata Ketua Komite Doktrin USCCB (The United States Conference of Catholic Bishops atau KWI-nya AS) Uskup James Massa (euronews.com), “Ketika Paus Leo XIV berbicara sebagai gembala tertinggi Gereja universal, ia tidak hanya menyampaikan pendapat tentang teologi. Ia sedang memberitakan Injil dan menjalankan pelayanannya sebagai Wakil Kristus.”
***
Karena itu, terasa aneh ketika Vance, seperti diberitakan National Catholic Reporter (15/4) dan media-media lainnya, mengatakan, “Saya pikir sangat, sangat penting bagi Paus untuk berhati-hati ketika dia berbicara tentang masalah teologi. Jika Anda ingin memberikan pendapat tentang masalah teologi, Anda harus berhati-hati. Anda harus memastikan pendapat itu berlandaskan kebenaran, dan itulah salah satu hal yang saya coba lakukan, dan tentu saja itu adalah sesuatu yang saya harapkan dari para imam.”
Di Kamerun, Paus Leo XIV tidak menanggapi pernyataan Vance itu. Ia hanya mengatakan, “Celakalah mereka yang memanipulasi agama dan nama Tuhan itu sendiri untuk keuntungan militer, ekonomi, dan politik mereka sendiri, menyeret apa yang suci ke dalam kegelapan dan kekotoran.” ***


Sangat mencerahkan gizi ilmu dari analisis tulisan pandito ias ini. Luar biasa, pesan yg menyegarkan. Semoga pesan Paus yg suci ini bermanfaat buat manusia untuk saling mengoreksi diri. Salam Pandito Trias Kuncahyono.
Orang2 baik yang diutus Allah di muka bumi ini memang benar2 pas jadi pemimpin dunia…
Ini bukan soal agama karena di Quran pun sudah ditegaskan bahwa “Agama mu untuk mu dan agama ku untuk ku” tapi soal kebaikan dan ketulusan hatinya bergerak di muka bumi ini..
Mudah2an Allah membukakan jalan untukku bersalaman dengan Paus suci ini ya mas Trias 🤲🙏🤲
Matur nuwun Dab Trias . . . . .
Asupan pengetahuan yang sangat bagus, terutama ensiklik-ensiklik . . . pilihan kata dan kalimat yang indah. . .
Perang bukan hanya dengan senjata, tetapi juga dengan kata-kata . . . .
Perdamaian adalah segalanya, pembawa damai sejahtera adalah anak-anak Allah . . . .
Maturnuwun mas Dubes. Saya mendapat pencerahan.