
Cerita lima abad silam—Reformasi, pisahnya Gereja Inggris dari Gereja Katolik Roma— kembali ditulis oleh berbagai media. Dań disebut-sebut dałam perbincangan. Sepertinya, peristiwa itu baru terjadi kemarin dulu. Padahal, pisahnya Gereja Inggris dari Gereja Katolik Roma sudah terjadi pada tahun 1534.
Peristiwa itu, yang disebut sebagai Reformasi, terjadi karena berbagai faktor: ketidakpuasan selama abad ke-12 dan ke-14 terhadap Gereja Katolik, yang para paus dan uskupnya menunjukkan peningkatan penyalahgunaan kekuasaan spiritual demi keuntungan politik dan material; keinginan Henry VIII untuk bercerai dengan Catherine Aragon dan mengawini Anne Boleyn, namun Gereja tidak mengabulkannya; dan ambisi politik para anggota istana Henry (Durham Castle and Catedral dan Musée Protestan, 2025).
Mark Cartwright menulis (World History Encyclopedia: English Reformation, 2020), reformasi Inggris dimulai dengan Raja Henry VIII (memerintah 1509-1547) dan berlanjut secara bertahap sepanjang sisa abad ke-16 M. Proses ini menyaksikan pemisahan Gereja Inggris diri dari Gereja Katolik yang dipimpin oleh Paus di Roma. Gereja Protestan Inggris pun didirikan dan raja Inggris menjadi pemimpin tertingginya.
Konsekuensi lainnya termasuk pembubaran biara-biara, penghapusan Misa, penggunaan bahasa Inggris dalam ibadah dan Alkitab, dan juga penghapusan elemen-elemen Katolik yang lebih dekoratif dan mencolok, baik dalam ibadah maupun di gereja-gereja itu sendiri.
***

Selama berabad-abad berikutnya, menurut Uskup Agung Flavio Pace dan Uskup Anthony Ball (Vatican News), hubungan antara umat Katolik dan Protestan di Inggris, dingin. Bahkan, banyak darah tertumpah dan ada banyak martir di kedua belah pihak. Lama setelah kekerasan berakhir, mereka tetap menjadi orang asing satu sama lain. Padahal, mereka semula saudara sekandung, serumah.
Ketika sekelompok kecil cendekiawan Katolik Roma dan Anglikan mulai menjajaki kemungkinan reuni korporat pada tahun 1921, dalam apa yang dikenal sebagai Percakapan Malines (Malines Conversations), para uskup Katolik Inggris sama sekali tidak antusias. Pada tingkat global, Gereja Katolik tetap menyendiri dari gerakan ekumenis selama sebagian besar paruh pertama abad kedua puluh. Baru pada tahun 1960 Uskup Agung Canterbury Geoffrey Fisher ke Roma untuk yang pertama kali mengunjungi Paus Yohanes XXII, dalam kapasitas sebagai pribadi (Vatican II—Voice of The Church). Begitu sensitifnya pertemuan mereka sehingga fotografi tidak diizinkan.
Zaman terus berputar, situasi berubah. Kata Santo John Henry Newman (1801-1890): “To live is to change. To be perfect is to have changed often,” Hidup berarti berubah. Menjadi sempurna berarti sering berubah.
Bertentangan dengan anjuran pemerintah, Raja Edward VII mengunjungi Paus Leo XIII pada tahun 1903 – dalam kapasitas yang sepenuhnya pribadi. Meskipun kedutaan Inggris untuk Takhta Suci telah didirikan pada tahun 1914, hubungan diplomatik penuh baru terjalin pada tahun 1982. Raja George V dan Ratu Mary mengunjungi Paus Pius XI pada tahun 1923.
Kunjungan kerajaan Inggris berikutnya ke Vatikan baru terjadi pada tahun 1961, ketika Ratu Elizabeth II mengunjungi Paus Yohanes XXIII. Ini merupakan kunjungan resmi pertama ke Takhta Suci oleh seorang ratu Inggris sejak Reformasi. Ratu Elizabeth II mengunjungi Paus Yohanes Paulus II dan Fransiskus, serta menerima Paus Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI selama kunjungan mereka ke Britania Raya.
Konsili Vatikan II membawa angin segar. Dekrit Konsili Vatikan II, Unitatis Redintegratio, Pemulihan Kesatuan yakni Dekrit tentang Ekumenisme (21 November 1964) mengajarkan bahwa “di antara persekutuan-persekutuan yang di dalamnya tradisi dan institusi Katolik sebagian masih eksis, Persekutuan Anglikan menempati tempat khusus” (Bab III. #13).
Ketika Uskup Agung Michael Ramsey dan Paus Paulus VI bertemu pada 23 Maret 1966, Deklarasi Bersama mereka berbicara tentang “tahap baru dalam pengembangan hubungan persaudaraan, yang didasarkan pada kasih Kristiani, dan upaya tulus untuk menghilangkan akar konflik dan membangun kembali persatuan”.
Pada tahun 1970, saat kanonisasi empat puluh martir Inggris dan Wales dari era Reformasi, Paus Paulus VI berbicara tentang harapannya akan datangnya hari ketika Gereja Katolik Roma “mampu merangkul Saudara perempuannya yang terkasih dalam satu persekutuan sejati keluarga Kristus”.
***

Pada akhirnya, setelah perjalanan panjang, sejarah itu ditulis. Bersejarah. Yang bersejarah bukan hanya kunjungan Raja Charles III ke Vatikan dan bertemu Paus Leo XIV. Sejarah tercipta di Kapel Sistina—kapel tempat pemilihan para paus—pada hari Kamis. Di kapel bersejarah yang atap dan dindingnya dihiasai fresko begitu indah, Paus Leo XIV dan Raja Charles III berdoa berdampingan. Berdiri berdampingan di depan altar Kapel Sistina.
Doa bersama ini bersejarah. Sebab, baru kali ini sejak 500 tahun silam—setelah pisahnya Gereja Inggris—seorang raja Inggris yang sedang berkuasa dan seorang paus berdoa bersama. Doa bersama itu dilakukan saat raja Inggris melakukan kunjungan kenegaraan ke Vatikan.
Dikelilingi oleh mahakarya Renaisans, pertemuan ini berlangsung di salah satu tempat lahirnya peradaban Barat. Sebagai pencinta seni, musik, dan agama, pertemuan ini pasti menjadi momen penting bagi Raja Charles. Paus Leo XIV memimpin doa siang Ibadat Harian, berdiri di bawah fresko Michelangelo “Penghakiman Terakhir” dan diapit oleh Uskup Agung Anglikan York, Stephen Cottrell, Raja Charles, dan Ratu Camilla. Ibadah ekumenis ini menampilkan Paduan Suara Kapel Sistina bersama dengan paduan suara dari Kapel St. George di Kastil Windsor dan Kapel Kerajaan Inggris.
Menurut Istana Buckingham, ini adalah pertama kalinya sejak Reformasi di awal abad ke-16, Paus dan seorang raja Inggris berdoa bersama dalam sebuah kebaktian ekumenis di Vatikan.
“Salah satu hal yang paling penting adalah bahwa seorang Raja Inggris tidak pernah berdoa di tempat yang sama dengan seorang Paus sejak sebelum Reformasi, bahkan jauh sebelum pemisahan Gereja Inggris dari Gereja Roma,” kata Pastor Browne.
Maka ketika paduan suara menyanyikan “Come, Holy Ghost, Who Ever One,” sebuah himne karya St. Ambrosius yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh St. John Henry Newman, suasana menjadi historis. Bait pertama lagu ini demikian:
Come, Holy Ghost, Who ever One
Art with the Father and the Son;
Come, Holy Ghost, our souls possess
With Thy full flood of holiness.
Tidak hanya di Kapel Sistina, sejarah itu ditulis. Di Gereja St. Paulus di Luar Tembok, Raja dan Ratu Inggris, menuruni beberapa anak tangga menuju makam St. Paulus salah satu rasul Kristus. Rasanya mereka seperti berjalan menuju akar Kekristenan. Akar Kekristenan yang sama. Mereka menunggu di sana sejenak dan beberapa doa dipanjatkan.
***

Memang,Raja Charles sudah mengunjungi Vatikan beberapa kali sebagai Pangeran Wales, termasuk untuk menghadiri pemakaman Paus Yohanes Paulus II (2005) dan kanonisasi Newman (2019). Audiensi kepausan terakhirnya adalah dengan Paus Fransiskus pada bulan April, tak lama sebelum wafatnya, meskipun kunjungan tersebut bukan kunjungan kenegaraan resmi. Dari sinilah, sejarah baru mulai ditulis.
Bahkan, Ratu Elizabeth II, ibu Charles, bertemu dengan lima paus selama 70 tahun pemerintahannya. Tetapi tidak pernah berpartisipasi dalam doa publik bersama, seperti yang dilakukan Raja Charles bersama Paus Leo XIV.
Karena itu, tidak berlebihan kalau dikatakan, kunjungan Raja Charles III ke Vatikan dan pertemuannya dengan Paus Leo XIV, menandai langkah penting dalam upaya rekonsiliasi antara dua Gereja yang sejarahnya penuh dengan ketegangan, tetapi yang perlahan-lahan telah mengambil langkah-langkah pemulihan hubungan dalam beberapa dekade terakhir.
Ketika dua pemimpin tertinggi dua agama itu bertemu dan berdoa bersama, jarak 500 tahun yang sudah dilalui terasa pendek. Ut unum sint – “Agar mereka menjadi satu.”
foto-foto lain:






Catatan sejarah sangat diperlukan untuk memahami situasi saat ini ya…
Semoga kedepan selalu berlimpah berkah dan kebahagiaan di ruang2 suci di muka bumi ini…
🤲🌹🍁🌷🤲
Sepertinya Raja Charles III rindu “pulang kembali” ke Gereja Katolik. Tahun ini saja sudah 2x ke Vatican. Bahkan waktu kanonisasi Kardinal John Henry Newman, Charles III (waktu itu Pangeran Wales) menulis dan mengakui akar iman Katolik sejati Newman, “..his faith was truly Catholic..”. Koq tau ya Katolik sejati itu seperti apa.
Mas Trias, terima kasih tulisannya yang senantiasa bernas..🙏👍 semoga penyatuan dua gereja Roma dan Anglikan segera terwujud berkat kasih Kristiani dan bimbingan Roh Kudus dan tekad yang tulus para umatnya. 🙏👍
Terima kasih Mas Trias. Ut omnes unum sint…
Matur nuwun Dab Trias atas pengambaran berita yang sangat membahagiakan ini, lengkap dengan sejarahnya . . .
Nuwun . . .
Matur nuwun . . .
Mas Trias, indah sekali. Peristiwa Raja Charles dan Paus Leo berdoa ini juga lompatan besar yang sungguh bersejarah. Semoga ada lompatan-lompatan lain yang mendatangkan perdamaian, persaudaraan sejati lintas batas, dan keadilan.
Istimewa