THE JUDAS KISS, NOW

 

repro iStock

Ada bagian penting dan menarik dari rangkaian Tri Hari Suci Paskah: Pengkhianatan Yudas Iskariot. Di Taman Gethsemane, peristiwa itu terjadi. Taman ini terletak di Bukit Zaitun, bagian timur Jerusalem. Kota Lama Jerusalem dan Bukit Zaitun, dipisahkan Lembah Kidron.

Tentang pengkhianatan Yudas dikisahkan, misalnya, dalam Injil Mateus, demikian: Kemudian salah seorang dari kedua belas murid—yang bernama Yudas Iskariot—pergi kepada para imam kepala dan bertanya, “Apa yang akan kalian berikan kepadaku jika aku menyerahkan Dia kepadamu?” Maka mereka menghitungkan tiga puluh keping perak untuknya. Sejak saat itu Yudas mencari kesempatan untuk menyerahkan Dia.

Di hampir setiap masyarakat, cerita seperti itu selalu ada. Walaupun pengkhianatan adalah salah satu pelanggaran terburuk yang mungkin terjadi, dan yang tidak akan ditoleransi oleh siapa pun. Tetapi, toh, pengkhianatan demi pengkhianatan terus terjadi dengan berbagai macam dalih dan alasan yang diupayakan pembenarannya, serta beragam cara.

Kata Michael Corleone (Al Pacino) dalam Film The Godfather Part II: “Hal yang paling menyedihkan tentang pengkhianatan adalah bahwa pengkhianatan itu tidak pernah datang dari musuhmu.” Melainkan, “dari orang-orang yang paling kamu percayai.”

Memang, sangat menyakitkan kalau dikhianati kawan, orang dalam, atau bahkan anggota keluarganya. Maka, Michael Corleono dengan menutup mata dan hatinya memerintahkan orang-orangnya untuk membunuh kakaknya, Frederico “Fredo” Corleone (John Cazale) karena bersekongkol dengan musuhnya, Hyman Roth and Johnny Ola.

Kisah pengkhianatan Brutus terhadap Julius Caesar, tak jauh berbeda. Bersama Gaius Cassius Longinus, Marcus Junius Brutus memimpin lebih dari 50 senator membunuh Julius Caesar. Padahal, Caesar adalah ayah angkatnya. Caesar “menikahi” Servilia, ibu Brutus. Caesar ditusuk–23 kali tusukan–dengan belati sampai mati di dekat Teater Pompey.

Melihat Brutus ikut menusuk, dengan penuh keheranan Caesar berkata: “Tu quoque, Brute, fili mi. Engkau juga, Brutus, anakku.” Meskipun Caesar seorang politikus ulung yang sangat akrab dengan dunia pengkhianatan, tetap tidak bisa paham bahwa Brutus yang “anak didik politiknya”, anak angkatnya, juga menusuknya. Bahkan, dia pemimpin konspirasi penyingkiran Caesar itu.

Sekitar 70 tahun kemudian, cerita serupa terjadi lagi. Di Taman Gethsemane. Jerusalem, Yudas Iskariot, mengkhianati Sang Guru: Yesus.

***

Repro: dreamstime.c

Dalam sejarah Barat, Yudas digambarkan sebagai karikatur kejahatan, sebagai monster yang hampir tidak manusiawi. Maka sejak itu, Yudas menjadi lambang pengkhianatan. Bahkan, Dante Alighieri (1265 – 1321) penyair dan filsuf kondang abad pertengahan dari Italia dalam salah satu karyanya, Inferno, bagian pertama dari puisi naratifnya, The Divine Comedia, menulis, Yudas, bersama Cassius dan Brutus, berada di pusat Neraka. Di sana, Setan berkepala tiga berada dan melahap mereka selamanya.

Dante Alighieri menggambarkan Yudas sebagai lambang dosa: Seorang pria yang mengkhianati sahabat ilahinya, terjebak selamanya di mulut Setan yang melahap. Tapi, Luke Dimyan, yang memerankan Yudas dalam The Chosen, berkata, “Saya harap orang-orang menyadari bahwa dia bukanlah penjahat tetapi dia adalah sebuah tragedi.”

Yudas, Cassius, dan Brutus adalah tiga serangkai pengkhianat. Pengkhianatan mereka tidak dapat dibantah. Brutus dan Cassius memimpin pembunuhan Caesar. Yudas menyerahkan Sang Guru kepada pihak berwenang–para pemimpin agama Yahudi–yang membencinya, demi 30 kepeng uang perak. Mereka semua mengkhianati para pemimpin pada zaman mereka, yang satu sekuler, yang lain spiritual. Brutus dan Yudas sama-sama mengkhianati seorang teman dekat.

Kata Hunter Myers (2022 dari University of Alabama School of Law), kisah pengkhianatan setua waktu manusia sendiri. Dalam Kitab Kejadian, Kain membunuh saudaranya sendiri, Habel, yang merupakan pembunuhan pertama dan pengkhianatan pertama dalam tradisi Abraham. Ketika orang Sparta menahan orang Persia di “gerbang panas” Thermopylae, mereka kehilangan nyawa karena pengkhianatan Ephialtes.

***

Fresko Giotto di Bondone di Kapel Santa Maria dell’Arena, di Padua (repro)

Cara Yudas dalam mengkhianati Sang Guru “begitu sempurna.” Ia menggunakan ungkapan kasih dan hormat untuk mengkhianati. Dalam budaya Israel abad pertama, ciuman tidak selalu merupakan ungkapan cinta yang romantis; sebaliknya, ciuman di pipi adalah salam umum, tanda rasa hormat yang mendalam, penghargaan, dan kasih persaudaraan. Hingga saat ini, hal itu masih dilakukan di negara-negara Timur Tengah, juga di kita.

Paulus dalam suratnya kepada umatnya di Korintus, misalnya, mengatakan, “Bersalam-salamlah seorang kepada yang lain dengan ciuman kudus.” Maka, bagi seorang murid yang sangat menghormati gurunya, ciuman merupakan ungkapan penghormatan yang sehat.

Namun, Yudas menggunakan ciuman pipi sebagai cara pengkhianatan. Ia adalah seorang pengkhianat dan pengecut; berkhianat di balik ciuman. Yudas berkhianat bertopeng ciuman. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa tindakan Yudas sangat munafik. Dengan mencium pipi Sang Guru, Yudas mengatakan, “Guru, aku menghormati dan memuliakan-Mu.”

Tetapi, pada saat yang sama, Yudas mengkhianatinya dengan menyerahkan Sang Guru kepada para pemimpin agama Yahudi yang sudah lama ingin menyingkirkan Guru dari Nazareth itu. Raja Salomo menulis, “Seorang kawan melukai dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlebihan” (Ams. 27:6). Seringkali, musuh menyamar sebagai teman. Kejahatan seringkali memakai topeng untuk menyembunyikan tujuan sebenarnya.

Bahkan jauh tahun sebelumnya, apa yang dilakukan Yudas sudah digambarkan oleh pemazmur. “Jika musuh menghina aku, aku dapat menanggungnya; jika musuh bangkit melawan aku, aku dapat bersembunyi. Tetapi Engkau, seorang seperti aku, sahabatku, teman dekatku, yang dengannya aku pernah menikmati persekutuan yang manis di rumah Allah, ketika kami berjalan di antara orang-orang yang beribadah” (Mazmur 55:12-14).

Lalu, kata Ayub, “Orang-orang yang Kukasihi telah berbalik melawan Aku” (Ayub 19:19). Di Kapel Santa Maria dell’Arena, Padua, adegan itu digambar secara indah oleh Giotto di Bondone (1267–1337), dalam freskonya: The Kiss of Judas.

Fresko (lukisan dinding) The Kiss of Judas adalah salah satu lukisan dinding yang paling terkenal. Lukisan itu menggambarkan momen ketika Yudas mengkhianati Yesus. Kedua pria itu berdiri di tengah lukisan. Yudas mengulurkan tangan kepada Yesus dan memeluknya dengan mesra sambil mata mereka bertemu. Orang-orang yang berdiri di sekitarnya adalah pengikut dan musuh Yesus. Giotto dengan indah menangkap kepasrahan Yesus terhadap Kehendak Bapa dalam postur dan ekspresi yang tenang. Sementara semua orang lain dalam lukisan itu terlibat dalam berbagai tindakan dramatis.

***

Foto: Trias Kuncahyono

Dalam Kekristenan, ciuman Yudas adalah tindakan pengkhianatan. Dengan tindakan itu, Yudas memberikan isyarat kepada para pemimpin agama, “Inilah Yesus.” Isyarat itu sesuai rencana: menandai Yesus untuk ditangkap.

Kata Lee M. Jefferson, seorang profesor agama dari Centre College in Danville, Kentucky, ciuman Yudas itu melambangkan pengkhianatan dan tipu daya, karena itu adalah tampilan kasih sayang palsu yang digunakan untuk mengkhianati Yesus. Tetapi, Yudas pasti memiliki alasan lain untuk mengkhianati seorang teman dekat dan mentor yang dihormati.

Yudas adalah bendahara kelompok–murid-murid yang mengikuti Yesus–namun ia mengkhianati Yesus dengan imbalan tiga puluh kepeng perak. Mungkinkah itu untuk menutupi korupsi yang telah dilakukan? Apakah pengkhianatan itu untuk menutupi pengeluaran yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan?

Dalam salah satu khotbahnya saat Misa pagi di Domus Sanctae Marthae, Vatikan (2020), Paus Fransiskus, mengatakan: Mereka yang terlalu mencintai uang akan berkhianat demi mendapatkan lebih banyak lagi, selalu: ini adalah aturan, ini adalah fakta.

Kata Jan Kordys (2008), pengkhianatan membuat apa yang tidak mungkin menjadi mungkin; hal itu merupakan faktor pembuka narasi yang sangat penting. Apakah korupsi salah satunya. Ya. Korupsi bukan sekadar kejahatan, tapi pengkhianatan. Pengkhianatan terhadap kepercayaan rakyat, amanah rakyat, negara, dan konstitusi.

Akibat pengkhianatan itu Yesus disalib. Tetapi, kematian di salib itu yang menebus umat manusia dari perbudakan dosa. Ini sebuah ironi? Pengkhianatan Yudas membawa keselamatan manusia ke jalan yang benar. Tanpa membenarkan kesalahan yang dilakukannya, ciuman Yudas yang sebenarnya merupakan pengkhianatan itu justru membawa penebusan bagi manusia, seperti yang diyakini oleh orang Kristen.

***

Lukisan Frans Hermani

Kata Paus Fransiskus, ciuman Yudas sebagai momen tragis dan mendalam dari pengkhianatan terbesar yang dihadapi Yesus dengan kasih dan kemanusiaan yang luar biasa. Walau demikian, Yesus tidak pernah menyebut Yudas sebagai “pengkhianat” tetapi malah menyebutnya “sahabat.” Dan, melihat ciuman itu sebagai isyarat kasih terakhir dan putus asa dalam menghadapi pengkhianatan manusia (La Stampa, 18 Giugno 2016).

Bahkan, Yesus juga tidak mengusir Yudas si Pengkhianat. Ia tidak pernah berkata: “Pergilah, pengkhianat!” Tidak pernah! Sebaliknya, Ia menyebutnya “sahabat”, dan menciumnya. Mengapa demikian? Misteri.

Apakah ini berarti Yudas berada di Neraka? Kata Paus Fransiskus, “Saya tidak tahu. Saya melihat tiang pancang itu. Dan saya mendengar kata-kata Yesus: ‘sahabat'”.

Lalu, Paus Fransiskus mengutip sebuah khotbah tentang “Yudas, si pengkhianat”, yang disampaikan oleh seorang pelopor Konsili Vatikan Kedua, Don Primo Mazzolari, pastor paroki Bozzolo (Italia utara), pada Kamis Putih, 1958.

Kata Don Primo, “Yudas yang malang. Saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam jiwanya. Dia adalah salah satu tokoh paling misterius dalam Sengsara Tuhan. Saya bahkan tidak akan mencoba menjelaskannya kepada Anda, yang saya minta hanyalah agar Anda berbelas kasihan kepada saudara kita Yudas yang malang. Jangan merasa malu karena Anda memiliki hubungan keluarga dengannya. Saya pribadi tidak, karena saya sadar betapa seringnya saya telah mengkhianati Tuhan; dan saya rasa tidak seorang pun dari Anda yang seharusnya malu padanya.”

Lalu, “Dengan menyebutnya saudara, kita menggunakan bahasa Tuhan. Ketika Yudas memberikan ciuman pengkhianatan di Gethsemani, Tuhan menjawabnya dengan kata-kata yang tidak boleh kita lupakan: ‘Sahabat, dengan satu ciuman engkau mengkhianati Anak Manusia!’”

Yudas adalah sahabat Yesus. Ia termasuk inner-circle Yesus. Bahkan ketika ia menyempurnakan pengkhianatannya dengan sebuah ciuman, tetaplah disebut sahabat. Kata Paus Leo XIV, ketika kejahatan dikenali, Tuhan tidak membalas dendam tetapi berduka.

Ungkapan “lebih baik jika dia tidak pernah dilahirkan,” tambahnya, bukanlah kecaman sembarangan melainkan kebenaran yang sungguh-sungguh: dengan berpaling dari kasih yang menciptakan kita, kita berisiko memisahkan diri dari makna keberadaan kita dan mengecualikan diri kita dari keselamatan.

***

Foto: Trias Kuncahyono

Ciuman adalah ‘tanda’ untuk mengungkapkan cinta, kesetiaan; ungkapan penghormatan. Tetapi, Yudas Iskariot mengubah tindakan itu menjadi ‘tanda’ ‘ketidaksetiaan’, menjual diri kepada musuh, esensi pengkhianatan….. Kiss of Judas

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
18
+1
11
Kredensial