TENTANG ZAMAN KITA

 

Paus Leo XIV bersama para Duta Besar yang terakreditasi di Takhta Suci berfoto di Kapel Sistina, setelah menyampaikan pidato awal tahunnya, Jumat (9/1). Kapel Sistina adalah kapel tempat konklaf dilaksanakan (Vatican Media).

Ini kali yang ketiga, bersama para Duta Besar yang terakreditasi di Takhta Suci, mengikuti  pidato awal tahun  Paus, di Hall of Benedictions, Aula Berkat. Yang pertama, 8 Januari 2024, dan yang kedua, 9 Januari 2025, mendengarkan pidato Paus Fransiskus dan yang ketiga, 9 Januari 2026, mendengarkan pidato Paus Leo XIV.

Yang sangat membedakan dari para pendahulunya, pidato awal tahun yang disebut “State of World” itu disampaikan Paus Leo XIV dalam bahasa Inggris. Biasanya–secara tradisi–paus berpidato dalam bahasa Italia. Maka, ada media yang menulis, hal itu melanggar tradisi.

Sebenarnya, tidahlah salah. Sebab, toh teks pidato yang tersedia dan dibagikan kepada para diplomat, berbahasa Inggris, Italia, Perancis, dan Spanyol. Dan, Paus Leo XIV memilih membacakan yang berbahasa Inggris. Kata Msgr. Lins Bruno Bastos, Deputy Head of Protocol, Vatikan, agar mudah dipahami oleh para duta besar yang tidak semua memahami bahasa Italia.

Begitulah. Maka Paus kelahiran Chicago (AS), 14 September 1955, yang  mengawali masa kepausannya pada, 8 Mei 2025 itu, berpidato dalam bahasa Inggris.

***

Paus Leo XIV menyampaikan pidato “State of World”, pidato awal tahun di hadapan Korps Diplomatik yang terakreditasi Takhta Suci, di “Hall of Benedictions”, Vatikan (Foto: Trias Kuncahyono)

Dari “Hall of Benedictions“, Aula Berkat, Paus Leo XIV seperti para pendahulunya menyampaikan pidato  “State of World.”  Aula ini berada di atas bagian depan Basilika St. Petrus.  Bagian depan aula ini, menghadap ke Lapangan St. Petrus. Di bagian luarnya ada balkon. Inilah Loggia delle Benedizioni  atau Loggia of Blessings, atau Balkon Berkat.

Balkon yang berada di bagian tengah facadeBasilika St. Petrus ini disebut Balkon Berkat, karena di balkon ini, biasanya, Paus memberikan berkat Urbi et Orbi (bagi Kota dan Dunia), pada Hari Raya Natal dan Paskah, serta pada acara-acara (peristiwa-peristiwa) tertentu.

Berkat itu, tidak hanya bagi kota Roma (Urbi yang berarti “bagi Kota”) di mana Paus adalah uskupnya, tetapi juga bagi seluruh dunia Katolik (Orbi, “bagi Dunia”). Ini menunjukkan posisi, bahwa Paus tidak sebatas uskup Roma, melainkan juga pemimpin umat Katolik seluruh dunia.

Dari balkon ini pula, seorang kardinal setelah konklaf (pemilihan paus selesai) akan mengumumkan siapa paus baru yang  baru saja terpilih. “Habemus Papam“, Kita telah memiliki seorang Paus. Adalah Paus Pius XI (bertakhta, 1922 – 1939), yang pertama kali memberikan berkat Urbi et Orbi dari balkon ini.

Pemberian berkat oleh Paus Pius XI dari balkon ini, menjadi peristiwa pertama sejak tahun 1870 di zaman Paus Pius IX (bertakhta, 1846 – 1878), saat berakhirnya Negara Kepausan. Pada 20 September  1870 pasukan Kerajaan Italia menguasai Roma dan Negara Kepausan. Ini menandai, bersatunya seluruh Italia dan berakhirnya Negara Kepausan, yang berdiri sejak tahun 754, menurut Catholic Encyclopedia.

Maka, ketika Paus Pius XI memberikan berkat Urbi et Orbi, dibaca sebagai isyarat yang memiliki nilai simbolis sangat besar. Ia menegaskan lagi, bahwa Paus adalah pemimpin Dunia Katolik, tidak sebatas Uskup Roma.

Memang, bagi sebagian orang, Paus adalah kepala negara kecil di jantung kota Roma (44 hektar). Bagi yang lain, Paus adalah tokoh media yang kharismatik, mampu membahas isu-isu spiritual, sosial, politik, dan lingkungan dengan otoritas yang sama. Tetapi bagi umat Katolik di seluruh dunia, Paus jauh lebih dari itu: ia adalah penerus Petrus, fondasi nyata persatuan Gereja, penjaga iman, dan moral.

Sosok Paus telah menjadi pemimpin tertinggi Katolik selama dua ribu tahun, tetapi perannya berkembang selama berabad-abad, mencerminkan tantangan, kebutuhan, dan konflik sejarah manusia. Saat ini, Paus sekaligus merupakan pembimbing spiritual, pemimpin global, dan saksi Injil.

***

“Hall of Benedictions”, Aula Berkat tempat para paus menyampaikan pidato awal tahun (Foto: Trias Kuncahyono)

Timothy A Byrnes (2017) menyebut Paus sebagai “prominent moral megaphone”  yang memiliki akses luar biasa ke berbagai lapisan politik global. Hal ini tentu saja sudah lama berlaku, dan para Paus telah memainkan peran penting dalam berbagai proses politik internasional selama berabad-abad.

Maka pertemuan tahunan antara Paus dan para Duta Besar yang terakreditasi di Takhta Suci dianggap sebagai salah satu momen paling penting dalam kalender diplomatik Vatikan. Bahkan, diamati dengan saksama sebagai indikasi prioritas kebijakan luar negeri utama Vatikan.

Paus Leo XIV di awal pidatonya mengatakan  kesempatan ini,  merupakan “pengalaman baru bagi saya. Oleh karena itu, saya senang menyambut Anda pagi ini, dan saya berterima kasih atas partisipasi Anda yang murah hati…”

Lewat pidatonya sepanjang kurang lebih 5.000 kata yang disampaikan selama sekitar 45 menit, Paus Leo XIV melihat dan membaca secara moral  kehidupan internasional. Pidato tersebut juga berfungsi untuk mengartikulasikan cakrawala moral di mana Takhta Suci memahami diplomasi: sebuah pekerjaan pertemuan yang sabar, pembelaan terhadap yang rentan, dan komitmen terhadap perdamaian yang berakar pada kebenaran.

Pidato ini  adalah sebuah seruan bukan kepada kepentingan, tetapi kepada hati nurani – yang ditawarkan di awal tahun, sebagai seruan untuk tanggung jawab, pengendalian diri, dan pembaharuan. Maka, bila diikuti secara saksama, Bapa Suci menghindari kontroversi spesifik. Pidatonya lebih merupakan seruan umum untuk pengembangan budaya perdamaian, yang diwarnai dengan seringnya merujuk pada konsepsi Santo Agustinus (354 – 430) tentang perdamaian sipil sebagai “tranquility of order”, ketenangan ketertiban.”

Lalu, Paus Leo XIV, segera mengutip karya besar Bapa Gereja, Santo Agustinus, De Civitate Dei, The City of God, “Kota Tuhan”, sebagai kerangka pidatonya. Paus mengamati bahwa dalam buku itu, Santo Agustinus menganalisis “bahaya besar bagi kehidupan politik yang timbul dari representasi sejarah yang salah, nasionalisme yang berlebihan, dan distorsi ideal pemimpin politik.”

Itulah tema utama pidatonya.

***

Kapel Sistina, tempat konklaf biasa dilakukan. Tembok belakang altar dihiasi lukisan dinding “The Judgement”, karya seniman kondang Michelangelo (Foto: Trias Kuncahyono)

Maka, di bagian awal pidatonya, Paus Leo XIV mengatakan: Melalui Anda masing-masing, Duta Besar yang terhormat, saya ingin menyampaikan harapan baik saya kepada negara Anda, dan untuk berbagi refleksi tentang zaman kita, yang begitu terganggu oleh meningkatnya jumlah ketegangan dan konflik.

Kata Paus Leo XIV, “War is back in vogue and a zeal for war is spreading,” perang kembali menjadi tren dan semangat untuk berperang semakin menyebar.

Pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma ini, tidak menyebutkan negara-negara tertentu yang telah menggunakan kekerasan; yang bersemangat berperang. Namun, yang dimaksud jelas. Masing-masing yang mendengarkan pidato itu dapat menangkap dengan jelas maksudnya.

Pidatonya itu disampaikan tidak lama setelah AS mengggunakan kekuatan militer di Venezuela untuk menggulingkan Presiden Nicolás Maduro dari kekuasaan; di tengah perang di Ukraina  yang terus berkecamuk karena gempuran Rusia, perang di Yaman yang terus bergelora, dan konflik menembus zaman antara Israel dan Palestina yang kapan entah berakhir, serta konflik senjata di berbagai sudut-sudut dunia lainnya.

Menurut Paus Leo XIV, kecenderungan itu menunjukkan, “Diplomasi yang mendorong dialog dan mencari konsensus di antara semua pihak sedang digantikan oleh diplomasi berbasis kekerasan, baik oleh individu maupun kelompok sekutu.”

Prinsip yang ditetapkan setelah PD II, yang melarang negara-negara menggunakan kekerasan untuk melanggar perbatasan negara lain, telah sepenuhnya dirusak. Sebaliknya, perdamaian dicari melalui senjata sebagai syarat untuk menegaskan kekuasaan sendiri.

“Ini sangat mengancam supremasi hukum, yang merupakan fondasi dari semua kehidupan sipil yang damai,” katanya.

Di bagian lain, Paus Leo XIV jelas mengatakan, “Kita tidak dapat mengabaikan bahwa penghancuran rumah sakit, infrastruktur energi, rumah, dan tempat-tempat yang penting untuk kehidupan sehari-hari merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional.”

Dengan mengatakan seperti itu, Paus Leo XIV memberikan gambaran apa yang terjadi di Palestina, yang disebutnya sebagai, “krisis kemanusiaan yang serius.” Maka Paus Leo XIV terus mendorong  pada inisiatif yang bertujuan untuk menjamin  “masa depan perdamaian dan keadilan yang langgeng” bagi warga Palestina di Gaza.

Ia menegaskan kembali bahwa solusi dua negara tetap menjadi perspektif kelembagaan untuk memenuhi aspirasi Palestina dan Israel. Ia mengatakan Vatikan sangat memperhatikan setiap inisiatif diplomatik yang berupaya menjamin bagi warga Palestina di Jalur Gaza “masa depan perdamaian dan keadilan yang langgeng di tanah mereka sendiri, serta bagi seluruh rakyat Palestina dan seluruh rakyat Israel.”

***

Para Duta Besar ASEAN, Asia Timur, Mongolia, dan Australia berfoto bersama di Kapel Sistina.

Mengapa semua itu  terjadi? Kata Paus Leo XIV, “Kesombongan mengaburkan realitas itu sendiri dan empati kita terhadap orang lain. Bukan kebetulan bahwa kesombongan selalu menjadi akar dari setiap konflik. Akibatnya, seperti yang saya ingatkan dalam Message for the World Day of Peace (8 Desember 2025), kita kehilangan rasa realisme dan menyerah pada pandangan dunia yang parsial dan terdistorsi, yang dinodai oleh kegelapan dan ketakutan, dengan demikian membuka jalan bagi mentalitas konfrontasi, yang merupakan cikal bakal setiap perang.”

Lalu, Paus Leo XIV, memberikan gambaran tentang situasi lapangan di Ukraina yang semakin tragis. Pertumpahan darah terus berlangsung. Rakyat lah yang menjadi korban, tidak hanya materiil maupun non-materiil.

Karena itu, Takhta Suci kembali mendesak segera diadakan gencatan senjata. “Lalu diikuti dialog yang tulus dan jujur untuk mencari jalan bagi terciptanya perdamaian,” kata Paus.

Paus Leo XIV  menyerukan kepada komunitas internasional untuk tidak goyah, dan menegaskan kembali kesediaan Takhta Suci untuk “mendukung setiap inisiatif yang mempromosikan perdamaian dan harmoni.”

Di Vatikan, terjadi peningkatan hubungan dengan Kiev. Ini antara lain ditunjukkan oleh dua audiensi Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada Paus,  Juli dan Desember 2025. Sebaliknya, kontak dengan Rusia tetap sangat terbatas dalam beberapa bulan terakhir, dengan beberapa pihak menyebutnya sebagai “angin dingin dari Moskow yang bertiup di atas Roma.”

Setelah menyoroti Ukraina, Paus Leo XIV mengarahkan perhatiannya ke meningkatnya ketegangan di Laut Karibia dan di sepanjang pantai Pasifik Amerika, yang dikatakan  sangat memprihatinkan. “Saya ingin mengulangi permohonan mendesak saya, bahwa solusi politik yang damai untuk situasi saat ini agar diupayakan, dengan tetap memperhatikan kepentingan bersama seluruh rakyat dan bukan pembelaan kepentingan partisan,” desak Paus.

Secara khusus Paus bicara tentang situasi di Venezuela. “Hal ini khususnya berkaitan dengan Venezuela, mengingat perkembangan terkini. Dalam hal ini, saya kembali menyerukan untuk menghormati kehendak rakyat Venezuela, dan untuk melindungi hak asasi manusia dan hak sipil semua orang, serta memastikan masa depan yang stabil dan harmonis,” kata Paus.

Masalah hak asasi manusia dan hak sipil seperti kebebasan beragama juga disoroti. Paus Leo XIV melihat di banyak bagian dunia–Bangladesh, wilayah Sahel dan Nigeria, Suriah, serta Mozambik, misalnya–terjadi pelanggaran kebebasan beragama.

Masih dalam kaitan dengan pembelaan terhadap nilai-nilai dan martabat kemanusiaan, Paus Leo XIV mengatakan bahwa Takhta Suci secara konsisten mengambil sikap membela martabat setiap orang, seperti para migran dan pengungsi. Takhta Suci juga berharap ada tindakan tegas terhadap kejahatan dan perdagangan manusia.

Kata Paus Leo XIV, kehidupan adalah anugerah Allah, maka harus dihargai. Dan, keluarga sebagai penjaga yang bertanggung jawab. Maka, Takhta Suci menolak setiap praktik yang menyangkal dan mengeksploitasi asal-usul kehidupan dan perkembangannya. Contohnya, aborsi.

Pidato Paus Leo XIV sangat lengkap, menyoroti banyak hal yang menyangkut kehidupan manusia. Masalah  peredaran narkoba yang menyasar kaum muda pun mendapat sorotan. Ini suatu hal yang sangat memprihatinkan karena akan mengancam masa depan.

Tentang Kecerdasan Buatan (AI), seperti pendahulunya, Paus Fransiskus, Paus Leo XIV menegaskan bahwa kecerdasan buatan adalah alat yang membutuhkan pengelolaan yang tepat dan etis, bersama debgsn kerangka peraturan yang berfokus pada perlindungan kebebasan dan tanggung jawab manusia.

***

Paus Leo XIV berjalan memasuki Kapel Sistina (Foto: Trias Kuncahyono)

Bahwa perdamaian menjadi fokusnya, sudah ditunjukkan sejak pidato pertamanya di balkon Basilika St. Petrus, 8 Mei 2025, Paus Leo XIV, menempatkan perdamaian di jantung kepausannya. Katanya, waktu itu, “La pace sia con tutti voi!”, Damai sejahtera bersamamu…

Tetapi, perdamaian sepertinya terus berlari menjauh…Karena, sekarang  perdamaian tidak lagi dicari sebagai anugerah dan tujuan mulia yang diinginkan, atau dalam upaya “membangun alam semesta yang teratur sesuai kehendak Tuhan, dengan bentuk keadilan yang lebih sempurna di antara pria dan wanita.”

“Sebaliknya, perdamaian dicari melalui senjata sebagai syarat untuk menegaskan kekuasaan sendiri. Hal ini sangat mengancam supremasi hukum, yang merupakan fondasi dari semua kehidupan sipil yang damai,”

Meski demikian, Paus Leo XIV mengingatkan, “Terlepas dari situasi tragis yang ada di depan mata kita, perdamaian tetap merupakan kebaikan yang sulit namun realistis. Upaya perdamaian membutuhkan kerendahan hati dan keberanian.”

Bukankah, “Tidak ada seorang pun yang tidak menginginkan perdamaian. Karena bahkan mereka yang berperang pun tidak menginginkan apa pun selain kemenangan; mereka menginginkan, dengan kata lain, untuk mencapai perdamaian dengan kemuliaan. Karena apa lagi kemenangan selain penaklukan atas mereka yang melawan kita? Dan ketika ini dilakukan, maka terciptalah perdamaian…” kata Paus Leo XIV mengutip Santo Agustinus.

“Sebab,” lanjut Paus Leo XIV, “bahkan mereka yang sengaja mengganggu kedamaian yang mereka nikmati pun, tidak membenci kedamaian, melainkan hanya ingin kedamaian itu diubah menjadi kedamaian yang lebih sesuai dengan keinginan mereka. Oleh karena itu, mereka tidak ingin kehilangan kedamaian sama sekali, melainkan hanya menginginkan kedamaian yang mereka dambakan.” ***

 

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
12
+1
9
Kredensial