
Minggu Palma, Dominica Palmarum, bagi umat Katolik adalah perayaan penting: untuk merayakan Yesus memasuki kota Yerusalem dengan jaya! Selain itu, Minggu Palma menjadi tanda dimulainya Pekan Suci. Yaitu pekan yang penuh dengan kesengsaraan, penderitaan, dan penyaliban Yesus sampai mati. Namun, kematian itu, dimusnahkan oleh kebangkitan. Kejayaan.
Para paus sebelumnya, menggunakan kesempatan ini, Minggu Palma, untuk menyoroti antara lain penderitaan global. Paus Fransiskus, misalnya, menyoroti nasib para pengungsi, korban perdagangan manusia, juga umat Kristen di wilayah yang dilanda perang. Ia meminta mereka untuk menulis renungan.
Pilihan Paus Leo XIV membingkai kesaksian Gereja di tengah konflik saat ini, sangat tepat. Ia mengecam keras perang dan penggunaan agama untuk membenarkan kekerasan, untuk menjadi dalih membunuh dengan mengatakan bahwa Tuhan “tidak mendengarkan doa-doa orang-orang yang berperang.”
Khotbah Paus tersebut kontras dengan retorika dari para pejabat pemerintahan Trump yang menggunakan agama untuk mempromosikan perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Menteri Perang Pete Hegseth menyerukan kepada rakyat Amerika untuk berdoa memohon kemenangan dalam perang “dalam nama Yesus Kristus.”
Secara khusus, Hegseth berdoa meminta Tuhan untuk memberikan kepada tentara AS “kebijaksanaan dalam setiap keputusan, ketahanan untuk menghadapi cobaan di depan, persatuan yang tak tergoyahkan, dan kekuatan tindakan yang luar biasa terhadap mereka yang tidak pantas mendapat belas kasihan.”
Kata Hegseth dalam doanya, “Kami meminta hal-hal ini dengan keyakinan yang teguh dalam nama Yesus Kristus yang perkasa dan berkuasa” (commondreams.org)
Gereja Ortodoks Rusia juga membenarkan invasi Rusia ke Ukraina sebagai “perang suci” melawan dunia Barat yang dianggap telah jatuh ke dalam kejahatan (npr.org)
***

Paus Leo XIV bukanlah satu-satunya pemimpin Katolik yang secara jelas dan tegas menentang penggunaan iman Kristen untuk membenarkan perang agresi. Sebelumnya, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, patriark Latin Yerusalem, mengatakan “penyalahgunaan dan manipulasi nama Tuhan untuk membenarkan perang ini dan perang lainnya adalah dosa terberat yang dapat kita lakukan saat ini.”
“Perang pada dasarnya bersifat politis dan memiliki kepentingan material yang sangat besar, seperti kebanyakan perang,” tambah Kardinal Pizzaballa.
Awal Maret lalu, Paus Leo XIV menyatakan bahwa dunia “dihadapkan pada kemungkinan tragedi yang sangat besar.”
“Saya menyampaikan kepada pihak-pihak yang terlibat sebuah seruan tulus untuk memikul tanggung jawab moral dalam menghentikan spiral kekerasan sebelum menjadi jurang yang tak dapat diperbaiki,” kata Paus.
“Stabilitas dan perdamaian tidak dibangun dengan ancaman timbal balik atau dengan senjata yang menabur kehancuran, penderitaan, dan kematian,” kata Paus Leo, “tetapi hanya melalui dialog yang masuk akal, otentik, dan bertanggung jawab.”
***

Tetapi, dengan sangat tegas dan keras, Paus Leo XIV menolak setiap upaya untuk menggunakan nama Tuhan sebagai dukungan terhadap konflik bersenjata. Paus menegaskan bahwa Tuhan adalah “Raja Damai” yang menolak kekerasan dan menghibur mereka yang tertindas.
“Saudara-saudari, inilah Tuhan kita: Yesus, Raja Damai, yang menolak perang, yang tidak dapat digunakan oleh siapa pun untuk membenarkan perang,” kata Paus Leo XIV dalam khotbahnya.
Kata Paus, “Tuhan tidak mendengarkan doa orang-orang yang berperang, tetapi menolaknya, dengan berkata: “Anche se moltiplicaste le preghiere, io non ascolterei: le vostre mani grondano sangue.“(Is 1,15). Meskipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan: karena tanganmu berlumuran darah.”
Di hadapan puluhan ribu umat yang mengikuti perayaan Minggu Palma, di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Paus menyebut perang itu “mengerikan.” Karena itu, kata Paus, Yesus tidak dapat digunakan untuk membenarkan perang apa pun.
“Tuhan tidak dapat direkrut oleh kegelapan,” kata Paus Leo XIV dalam khotbahnya beberapa waktu lalu saat Misa di sebuah paroki di pinggiran Roma. Tuhan selalu “datang untuk membawa terang, harapan, dan kedamaian bagi umat manusia, dan kedamaian itulah yang harus dicari oleh mereka yang memanggil-Nya,” kata Paus.
***

Liturgi Minggu Palma, yang membuka Pekan Suci, dimulai dengan prosesi tradisional di Lapangan Santo Petrus dengan para kardinal, uskup, imam, biarawan/biarawati, dan ribuan umat beriman membawa daun palem dan ranting zaitun.
Namanya “Minggu Palma,” Dominica Palmarum. Tetapi, mengapa, yang dibagikan kepada umat yang mengikuti perayaan bukan daun palma (palem) tapi zaitun? Menurut cerita, dua-ribu tahun lalu, Yesus datang dari Bukit Zaitun, ketika masuk ke Yerusalem.
Maka, sangatlah mungkin bahwa orang-orang yang mengelu-elukan Yesus masuk ke Yerusalem membawa ranting-ranting zaitun, juga dedaunan yang lain. Itulah sebabnya, hari Minggu Palma, Minggu Palem biasa juga disebut Dominica Florida, Minggu Bunga-bunga.
Bahkan, di Negara-negara Eropa Utara yang tidak memiliki jenis tumbuhan palma, mereka menggunakan bunga “willow”. Tapi tetap tidak disebut Willow Sunday.
Dalam budaya Timur Tengah, Yunani, Romawi, dan juga dalam Kekristenan, daun palem dan ranting zaitun kaya makna. Keduanya adalah simbol damai, perdamaian, rekonsiliasi. Dalam Kekristenan, misalnya, dikatakan daun palem adalah daun yang dibawa oleh orang-orang yang telah melewati dan mengalahkan segala cobaan dan kesulitan hidup, serta tampil sebagai pemenang.
Menurut cerita dan gambar-gambar yang ada, dahulu para pemenang Olimpiade Yunani Kuno dimahkotai karangan ranting zaitun. Bangsa Romawi juga memasukkan ranting zaitun ke dalam tradisi mereka. Para panglima dan kaisar yang menang perang dimahkotai karangan ranting zaitun.
Karangan ranting zaitun itu melambangkan kemenangan dan pemulihan perdamaian. Ranting zaitun biasanya dibawa oleh utusan kekaisaran Romawi untuk mewartakan damai. Hubungan historis ini meletakkan dasar bagi simbolisme abadi cabang zaitun.
Pohon zaitun ditampilkan dalam beberapa mitos Yunani. Dalam salah satu mitos, dewi Athena menjadi pelindung wilayah Attica setelah menanam pohon zaitun di Attica sebagai simbol perdamaian dan kemakmuran (The Week).
Budaya Mediterania Kuno lainnya menggunakan cabang zaitun sebagai metafora untuk perdamaian. Pax, dewi perdamaian Romawi, sering digambarkan memegang cabang zaitun.
Tetapi, jauh sebelum orang-orang Yunani kuno menggunakan ranting zaitun sebagai simbol perdamaian dan kemenangan, Alkitab menulis bahwa burung merpati membawa ranting zaitun ke bahtera sebagai pesan bahwa Banjir Besar telah berakhir (chabad.org).
Inilah yang terjadi: Setelah Banjir Besar, Nuh melepaskan burung-burung dari bahtera untuk melihat apakah air telah surut. Pertama-tama ia melepaskan seekor burung gagak, tetapi burung itu tidak menemukan tempat untuk beristirahat dan kembali ke bahtera. Kemudian ia melepaskan seekor burung merpati, tetapi burung itu juga kembali. Kemudian, pada hari ke-301 Banjir Besar, Nuh melepaskan burung merpati sekali lagi.
Burung merpati itu terbang sepanjang hari. Namun kemudian, “burung merpati itu datang kepadanya pada waktu petang, dan lihatlah, di mulutnya ada sehelai daun zaitun yang dipetik; dan Nuh tahu bahwa air telah surut dari bumi.”
Maka, ranting zaitun biasanya merupakan simbol kedamaian, keharmonisan, dan harapan (symbolsproject.eu). Merpati dan cabang zaitun digunakan sebagai simbol perdamaian.
***

Menurut cerita, sejak Yunani Kuno dan Mesir Kuno, jika seseorang mengulurkan ranting zaitun, itu berarti menginginkan perdamaian, bukan peperangan. Rekonsiliasi, atau niat baik untuk mengakhiri konflik atau perselisihan. Ini menandakan keinginan untuk memperbaiki kesalahan, meminta maaf, atau memulihkan hubungan yang rusak, sering kali merupakan langkah pertama menuju penyelesaian perselisihan.
Maka ada frasa “extend an olive branch“, ulurkan ranting zaitun. Frasa itu, senapas dengan frasa ” “Put your sword back,” sarungkanlah pedangmu adalah sabda Yesus yang dikutip Paus Leo XIV dalam khotbahnya.
Dikisahkan di Taman Zaitun, ketika Yesus hendak ditangkap oleh para pemimpin agama Yahudi, tentara, dan orang-orang suruhan para pemimpin agama, salah seorang murid-Nya, Petrus, segera bertindak. Ia menghunus pedangnya. Bahkan, Petrus menyabetkan pedangnya serta mengenai telinga hamba Imam Agung.
Dengan memerintahkan agar “pedang disarungkan”, tidak berarti bahwa Yesus mengabaikan bahaya. Tidak! Ia mengetahui ada dalam bahaya. Meski demikian, Ia tidak memilih “jalan pedang”, melainkan “jalan salib.” Kata Yesus seperti dikutip Paus Leo XIV, “..for all who take the sword will perish by the sword” (Mt 26:52).
Ia menantang logika yang menjawab rasa takut dengan rasa takut yang berlebihan dan kekerasan dengan kelerasan yang lebih brutal. Sebab, kekuatan sejati tidak datang dari mendominasi orang lain atau menyerang lebih dulu. Kekuatan sejati datang dari kebebasan—kebebasan untuk tidak dikendalikan oleh rasa takut.
Dengan mengatakan “Sarungkanlah, pedangmu,” Yesus memerintahkan untuk menghentikan kekerasan dan menghindari tindakan pembalasan. Ini berarti memilih perdamaian, mempercayai campur tangan ilahi, dan menghentikan tindakan agresif untuk mencegah kehancuran lebih lanjut.
Dengan mengutip sabda Yesus itu, sikap Paus Leo XIV tentang perang sangat jelas. Ia tidak hanya menolak bahkan menentang perang; dan menyerukan perdamaian. Paus tidak bisa membenarkan siapa pun menggunakan perang untuk mencapai tujuannya.
Maka, Paus Leo XIV mengecam keras perang dan penggunaan agama untuk membenarkan kekerasan, dengan mengatakan selama Misa di Lapangan Santo Petrus bahwa Tuhan “tidak mendengarkan doa-doa orang-orang yang berperang.”
Stabilitas dan perdamaian tidak dapat dicapai melalui ancaman timbal balik, atau melalui penggunaan senjata, yang menabur kehancuran, penderitaan, dan kematian, tetapi hanya melalui dialog yang masuk akal, tulus, dan bertanggung jawab.
Karena itu, Paus Leo XIV berdoa agar “diplomasi dapat kembali memainkan perannya dan mempromosikan kebaikan bagi bangsa-bangsa yang mendambakan hidup berdampingan secara damai yang didasari keadilan.”
Ia mengajak semua umat beriman di seluruh dunia, “marilah kita terus berdoa untuk perdamaian.” ***
Foto-foto lain:







Refleksi Minggu Palma/ Zaitun yang sangat mencerahkan, tulisan mas Dubes Trias K. Luar biasa !
Kita bersyukur sebagai umat Katolik mempunyai pemimpin yang punya nurani dan tegas dalam menyikapi kekacauan dan carut marutnya situasi dunia yang semakin menghawatirkan karena tampilnya pemimpin politik yang sakit nuraninya, psikopat dan arogan, baik di dalam negri maupun di luar negri.
Yesus adalah raja damai dan penebar kasih, seperti diutarakan dalam kotbahnya Bapa Suci Leo XIV dalam misa Minggu Palma di Vatican.
Namun demikian kita juga wajib prihatin, melihat kiprah pemimpin dunia yang sembrono, arogan, totaliter dan terkesan tak punya nurani dan moral positif.
Merka terang-terangan melegalisir pembunuhan, saling memusnahkan demi ambisi politik dan ekonomi, menghalakan perang.
Mereka tidak ingat bahwa perintah ke 5 dari 10 Perintah Allah ” JANGAN MEMBUNUH ” itu pelanggaran berat yang hukumannya adalah tidak layak ikut dalam warisan kerajaan Allah, alias pantas dihukum masuk api neraka.
Lebih konyol lagi mereka melegalkan perang dengan dalih perintah agama.
Semoga tulisan yang bernas mas Dubes Trias ini, gaungnya sampai ke pemimpin² negara yang sedabg lupa diri. Hidup itu hanya ” mampir ngombe” selayaknya diisi dengan sikap hidup yang sesuai dengan ajaranbkasih Kristus.
Ngaten nggih Mgr.Dubes Trias…
Si vis pacem para bellum sudah tidak pas dengan ajaran Junjungan kita.
Syaloom jumpa Mas Dubes yg baik hati. Opini & Refleksi indah dan menyentuh. Khotbah Sri Paus Leo XIV itu sungguh menantang iman utk dan demi pendamaian. Menggunakan agama utk membunuh. Ngeri! Tpi… Trumh, Netanyahu, termasuk Putin bbrapa waktu lalu pd warga Ukraina, mungkin meniru senior2 mrka abad2 lalu, saat perang salib. In hoc signo, dalam tanda ini engkau menang. Sambil pastor/ pendeta membubuhkan tanda salib di ujung bayonet/ laras bedil serdadu. Mungkin situasi beda, tpi tindakan hampir senada. Tapi jangan salah.. kaum muslim pengagum fundamental spt Iran, Suriah, dll justru sdh jauh menormalisasi ideologi kematian, atas nama agama. Maka lalu, khotbah Paus itu menantang nurani yg mempertaruhkan pertumbuhan, harmoni, kesuburan, kedamaian dan “bersaudara” dgn alam, yg nampak dari makna hijaunya daun Palem klu di Ind, atau ranting Zaitun dll. Bagi kita, peristiwa Yesus masuk Yerusalem, ibarat masuk ke pusat kancah kebencian bahkan perang. Sebab Yesus tahu, di minggu Palem semua berteriak “hosana” bagi sang Raja, dari mulut yg sama (walau tdk semua dan tdk atas pilihan mandiri ttpi takut intimidasi pemimpin agama radikalis), mrka juga yg berteriak “salibkan Dia!” Antara Trumph, Netanyahu pun Mojtaba Khamenei punya balada yg sama ttg halalnya darah yg tertumpah olh mesiu dan drone, walau dgn alasan berbeda. Benarlah Sri Paus Leo XIV bhw lambaian palma/ zaitun yg memadahkan rendah hati, sederhana (ibarat keledai), harmoni, damai & ekologik harus dilawankan dgn kebanggaan atas kehancuran olh serpihan mesiu anti kemanusiaan!! Matur nuwun Mas Dubes..Berkah Dalem… Salam dr Ruteng-Flores..
Matur nuwun Dab Trias . . .
Marilah kita terus (selalu) berdoa untuk mereka yang berperang agar dianugerahi keterbukaan hati untuk berdialog, untuk perdamaian . . .
Mari kita panjatkan doa agar para pemimpin dan rakyat yang sedang berkonflik disadarkan akan tindakannya keliru dan menyimpang dari ajaran agama dan segera bertobat dalam Pekan Suci ini sehingga kedamaian dapat secepatnya diwujudkan berkat pengendalian diri dari semua pihak, teriring doa kami.🙏🙏