
Bersama Anak Lanang, Abishai Sahadeva, kami menikmati Gua Natal dalam beragam kreasi karya para perupa dari berbagai negara yang dipajang di antara Tiang-tiang Bernini, di sebelah kiri Lapangan Santo Petrus, Vatikan. Bernini (1598 – 1680) dicatat sebagai pematung terbesar abad ke-17; dan arsitek kondang.
Tiang-tiang itu–yang seluruhnya berjumlah 284 buah dengan posisi berjajar empat, tinggi 16 meter, menyangga 140 patung di atasnya sangat kokoh dan andaikan bisa berbicara, niscaya akan menceritakan perjalanan panjang semua peristiwa yang terjadi di sekitar Lapangan St. Petrus. Mungkin, malah cerita tentang perjalanan sejarah Vatikan.
Di tengah lapangan, beberapa meter ke depan sebelah kanan obeliks, berdiri tegak pohon natal. Pohon natal setinggi 25 meter itu berasal dari wilayah Val d’Ultimo, Propinsi Bolzano, Italia Utara. Tradisi memasang pohon natal di tengah Lapangan St. Petrus dimulai sejak tahun 1982 oleh Paus Santo Yohanes Paulus II.
***

Melihat gua-gua natal karya para perupa dari berbagai kota dan negara–termasuk karya Riapapermoon dari Yogyakarta–mengingatkan eksebisi Nativity of Bethlehem 2024. Eksebisi ini dibuka Paus Fransiskus pada tanggal 24 Desember 2024, dan “membuat heboh.”
Kehebohan itu “berasal” dari patung bayi Yesus, yang dibaringkan di palungan. Patung natal terbuat dari kayu zaitun karya Johny Andonia dan Faten Nastas Mitwasi, dua seniman Palestina dari Betlehem, sebenarnya biasa saja.
Tetapi, yang tidak biasa: bayi Yesus yang dibaringkan di palungan dibungkus kaffiyeh. Selendang hitam-putih itu melambangkan warisan dan ketahanan Palestina. Maka, menghebohkan karena lantas dimaknai secara politik. Apa pun, kalau dimaknai secara politik, bisa menjadi heboh. Walau sebenarnya biasa saja.
Bayi Yesus itu berbaring di bawah lingkaran mutiara berbentuk bintang yang melambangkan Bintang Betlehem, yang bertuliskan kata-kata “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang tertinggi, dan di bumi damai sejahtera, kebaikan bagi semua orang” dalam bahasa Latin dan Arab.
***

Gua Natal mengingatkan peristiwa besar dua-ribu tahun silam di Bethlehem. Suatu peristiwa, yang langsung membuat penguasa di sana, gusar, khawatir, dan menjadi kejam. Maka diceritakan, sejak dahulu, kota kecil–menurut worldometers.info 2025, berpenduduk 29.019 jiwa–selalu membuat kejutan.
Dari Bethlehem, lahir Daud anak gembala yang mengalahkan Goliath, orang Filistin, dan menjadi raja besar. Kelahiran Yesus pun, membuat kehebohan. Paling tidak Raja Herodes merasa terancam kekuasaannya dengan kelahiran “Sang Raja Damai” itu. Lalu, ia memerintahkan untuk membunuh semua bayi laki-laki berusia dua tahun dan di bawah dua tahun (Mat. 2:16). Peristiwa ini biasa disebut massacre of the innocents.
Sejarawan mengatakan bahwa Raja Herodes (atau Herodes Agung, seperti yang ia sukai disebut) adalah penguasa yang kejam dan haus kekuasaan yang menghancurkan siapa pun yang ia rasakan mencoba menggulingkannya dari takhta. Ia bahkan membunuh beberapa anggota keluarganya sendiri karena ia mengira mereka bersekongkol melawannya.
Kekuasaan, memang, membutakan tidak hanya mata tetapi bahkan hati: bagi yang mengejar maupun yang mempertahankan. Paling tidak hal itu ditunjukkan oleh Herodes. Maka, filsuf Romawi kuno Lucius Annaeus Seneca (4 SM – 65 M) dan Marcus Aurelius (121 – 180) kaisar Romawi menasihatkan, perlunya kebajikan, refleksi diri, dan ketenangan untuk menghindari jerat kekuasaan yang merusak moral dan akal sehat. Sebab, kekuasaan tanpa etika bisa mengarah pada keserakahan, kesewenang-wenangan, dan kebutaan moral.
***

Secara historis Bethlehem kota kecil yang menarik banyak penguasa. Bethlehem (bahasa Ibrani) berarti “House of Bread“, merujuk pada kelimpahan hasil pertaniannya di masa lalu. Tapi bila dikaitkan dengan tempat kelahiran Yesus, Bethlehem berarti “Bread of Life” sebagai gelar yang sangat simbolis: Yesus Roti Kehidupan.
Bethlehem juga dapat berarti “House of War”, karena banyak pertempuran di kota ini dan untuk memperebutkannya. Kota yang terletak 10 km selatan Jerusalem itu telah ditaklukkan dan diperintah oleh orang Romawi (132-135), Muslim (c.637); Ksatria Salib (1096-1099); Sultan Mesir (1187) dan lagi dari tahun 1813-1841, kemudian Utsmaniyah (1500) yang memerintah selama 400 tahun. Dalam sejarah modern, Inggris merebut kota ini pada masa PD I dan menguasai kota ini dari tahun 1920 sampai 1948.
Dalam Perang Arab-Israel pada tahun 1948, Yordania merebut Bethlehem dan tetap berkuasa sampai Perang Enam Hari pada tahun 1967. Perang Enam Hari membawa Israel pada kemenangan lalu mendorong kembali perbatasan Yordania dan menguasai Bethlehem dan bagian lain di Tepi Barat.
Mulai 2 Mei 2002, tentara dan para penembak jitu Israel mengepung Bethlehem dan menjagai dengan tank kompleks Gereja Kelahiran, tempat sekitar 200 orang berlindung. Sebagian besar dari mereka adalah warga sipil, polisi, sejumlah romo Palestina juga biarawati, dan beberapa pejuang dari milisi Fatah. Maka itu, kepada tentara yang mengepung hanya diberi satu tugas: tembak siapa pun yang keluar gereja!
Salah satu korbannya adalah Samir Ibrahim Salman. Sehari-hari Samir bertugas membunyikan lonceng gereja. Tujuh orang Palestina lainnya, tewas ditembak; 40 orang luka-luka. Lebih sebulan gereja itu dikepung Israel (Middle East Monitor)
Sejarah juga mencatat, rakyat Bethlehem memberontak melawan penguasa Mesir, Ibrahim Pasha tahun 1834. Pemberontakan ini dikenal sebagai Pemberontakan Petani melawan kebijakan wajib militer dan pajak. Lalu, antara 1930-an dan 1940-an, penduduk Bethlehem terlibat dalam Pemberontakan Arab, menentang Mandat Inggris.
Ketika pecah Intifada Pertama (1987-1993), peduduk Bethlehem juga terlibat. Demikian pula saat Intifada Kedua (2000-2005): mereka terlibat, dan akibatnya antara lain pengepungan Gereja Kelahiran.
Setelah tragedi 7 Oktober 2023–penyerangan Hamas terhadap Israel yang dibalas dengan serangan membabi-buta oleh Israel yang menewaskan 401 orang Palestina (The Guardian, 20/12/2025)–selama dua tahun tidak ada perayaan Natal di Bethlehem. Baru, beberapa hari silam, Bethlehem hidup lagi: ada perayaan Natal sebagaimana biasanya. Ada sukacita.
Nanti, saat malam Natal, paduan suara akan menyanyikan himne tradisional “The Night of Christmas” yang syairnya antara lain berbunyi: “On the night of Christmas, war is buried, On the night of Christmas, love is born.”
Sebenarnya, Bethlehem selalu mengingatkan akan perdamaian, suasana damai. Karena, dari Betlehem lah, asal mula pesan perdamaian dibangkitkan ke dunia.
***

Maka, melihat eksebisi gua-gua natal itu, mengingatkan khotbah Paus Fransiskus pada Natal 2024. Kata Paus Fransiskus untuk menemukan kembali makna Natal, kita perlu melihat palungan, tempat makan ternak. Namun mengapa palungan begitu penting?
Karena palungan adalah tanda, dan bukan kebetulan. Kedatangan Kristus ke dunia ini adalah tanda kasih Allah. Dan palungan, menyatakan bahwa “Pencipta alam semesta merendahkan diri-Nya untuk menanggung kehinaan kita.” Adegan itu melibatkan indra dan imajinasi, membantu orang “untuk ‘merasakan’ dan ‘menyentuh’ kemiskinan yang ditanggung Putra Allah dalam Inkarnasi.”
Kata Paus Fransiskus, itulah cara Dia mengumumkan kedatangan-Nya. Itulah cara Allah dilahirkan dalam sejarah, sejarah umat manusia, sehingga sejarah itu sendiri dapat dilahirkan kembali. Setidaknya lewat empat hal: kedekatan, kemiskinan, kesederhanaan dan kekonkretan.
Palungan dapat melambangkan satu aspek kemanusiaan kita: keserakahan kita akan konsumsi. Sementara hewan-hewan makan di kandang mereka, pria dan wanita di dunia kita, dalam keserakahan mereka akan kekayaan dan kekuasaan, bahkan mengonsumsi tetangga mereka, kawan-kawan dan kolega, bahkan saudara-saudari mereka.
Korban utama dari keserakahan manusia ini adalah yang lemah dan rentan. Dunia yang rakus akan uang, kekuasaan, dan kesenangan tidak memberi ruang bagi yang lemah, tak punya daya dan kuasa; yang miskin, kecil, yang tak berdaya dilupakan.
Memang, kata Paus Fransiskus, secara manusiawi kita semua cenderung mencari kebesaran, tetapi merupakan anugerah untuk mengetahui bagaimana cara benar-benar menemukannya: mengetahui bagaimana menemukan kebesaran dalam hal-hal kecil yang sangat dicintai Tuhan. Kata St. Ignatius dari Loyola: Non coerceri a maximo, sed contineri a minimo, divinum est (Tidak dabatasi oleh hal-hal terbesar, namun terkandung dalam hal-hal terkecil–inilah yang ilahi). Pendek kata, orang semestinya tidak takut akan hal-hal besar; orang semestinya tetap melangkah maju dan tetap peduli pada hal-hal kecil (Pope Francis, Christmas at the Nativity, 2023)
Maka palungan adalah tanda. Simbol: kedekatan (dengan manusia yang papa), kemiskinan, kesederhanaan, dan realitas kehidupan manusia. Palungan ada di sekitar kita, dalam hidup keseharian. Palungan ada di daerah-daerah bencana. Di tempat seperti lah, Yesus datang dan dibaringkan di palungan. ***
Foto-foto lain:


















