
Masa puasa tahun ini, istimewa. Dua agama Abrahamik atau agama samawi/Ibrahimiah–Kristen Katolik dan Islam–memulai masa puasa pada hari yang hampir bersamaan–umat Muhammadiyah dan umat Katolik malah bersamaan. Masa puasa pra-Paskah, yang berlangsung selama 40 hari bagi umat Katolik dimulai pada tanggal 18 Februari 2026, hari Rabu Abu, dan akan berakhir pada hari Jumat, tanggal 3 April 2026.
Sementara umat Islam Indonesia, sebagaimana ditetapkan oleh pemerintah melalui sidang Itsbat di Jakarta pada Selasa (17/2/2026), memulai puasa Ramadhan 1447 H, pada hari Kamis, 19 Februari 2026 hingga 20 Maret 2026. Namun, berdasarkan fatwa Muhammadiyah dan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) 2026, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada 18 Februari-19 Maret 2026.
Barangkali, di waktu sebelumnya, pernah pula–atau malahan berkali-kali–dua agama samawi ini, memulai puasa pada saat yang hampir bersamaan atau malahan bersamaan. Ada yang berpendapat hal itu biasa saja. Tetapi, kalau dimaknai sebagai suatu yang “istimewa” juga bisa saja.
Sekurang-kurangnya, jatuhnya masa puasa (hampir) bersamaan ini memberikan pesan kepada umat dua agama Ibrahimiah ini untuk bersama-sama merenungkan dan sekaligus memahami bahwa memiliki hulu yang sama, yakni dari Ibrahim atau Abraham. Keduanya (sebenarnya ada tiga, yakni dengan Yahudi) agama ini masing-masing sebagai agama penerus dari tradisi Ibrahimiah, Abrahamic religion, atau millah Ibrahim.
Maka Paus Fransiskus mengatakan, “Fratelli Tutti”, Semua Bersaudara. Fratelli Tutti adalah ensiklik (surat edaran) Paus Fransiskus yang ditandatangani pada 3 Oktober 2020. Tema sentral Fratelli Tutti ialah persaudaraan dan persahabatan antara manusia di dunia.
Ensiklik Fratelli Tutti ini mengungkapkan dengan terang makna kasih persaudaraan yang dihayati Fransiskus Assisi: kita semua anak-anak dari satu Bapa Pencipta. Selain itu, Fratelli Tutti mengedepankan seruan untuk keluar dari segala bentuk eksklusivisme: dari tingkat individu sampai organisasi internasional. Semua manusia, saudari dan saudara, dipanggil untuk saling mengasihi, sebab kita memang diciptakan untuk saling mengasihi. Corak dasar kasih (caritas) ialah memberi yang baik kepada sesama.
Ensiklik Fratelli Tutti didahului dokumen Human Fraternity for World Peace and Living Together yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Sheik Ahmad Al-Tayyeb di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 4 Februari 2019, menandatangani. Dokumen ini merupakan tonggak penting dalam perjalanan dialog antaragama. Tetapi, tonggak penting itu hanyalah sebuah titik di sepanjang jalan, bukan awal maupun akhir.
Kardinal Miguel Ángel Ayuso Guixot, MCCJ (2019) mengatakan, “Janganlah kita lupa bahwa di dasar setiap kolaborasi atau dialog terdapat akar kemanusiaan kita yang sama. Ini berarti bahwa kita tidak memulai dari nol dalam dialog: selalu ada kemanusiaan kita bersama, dengan semua aspek eksistensial dan praktisnya, yang menyediakan landasan pertemuan yang dibutuhkan.”
“Tetapi,” kata Paus Fransiskus, “persaudaraan juga mencakup keragaman dan perbedaan antara saudara laki-laki dan perempuan, meskipun mereka terhubung oleh kelahiran dan memiliki sifat dan martabat yang sama.” (Pesan Bapa Suci Fransiskus untuk perayaan Hari Perdamaian Dunia ke-38: Bukan lagi budak tetapi saudara, 1 Januari 2015).
***

Sebagai sesama saudara, sudah pantas dan selayaknya untuk saling peduli, saling mengasihi, dan mendengarkan. Maka, kata Paus Leo XIV, dalam pesan khususnya untuk Masa Puasa 2026 ini: “Kemauan untuk mendengarkan adalah cara pertama kita menunjukkan keinginan untuk menjalin hubungan dengan seseorang.” Mendengarkan adalah penentu terjadi dialog.
Tetapi, tidak semua orang, memang, bisa menjadi pendengar yang baik. Pada umumnya, orang ingin didengarkan ketimbang mendengarkan. Hal sangat penting dari mendengarkan orang adalah melatih kita untuk peduli pada orang lain dengan tidak mementingkan diri sendiri dalam pembicaraan tersebut.
Yang dikatakan Paus Leo XIV itu mengingatkan pesan Paus Fransiskus tentang arti penting “listening“, mendengarkan. Dalam pesannya pada “50th World Communication Day”, 8 Mei 2016, Paus Fransiskus mengatakan, “Pertama-tama kita harus mendengarkan. Berkomunikasi berarti berbagi, dan berbagi menuntut mendengarkan dan menerima. Mendengarkan jauh lebih dari sekadar mendengar. Mendengar adalah tentang menerima informasi, sedangkan mendengarkan adalah tentang komunikasi, dan membutuhkan kedekatan.”
Paus dari “ujung dunia ini” melanjutkan, “Mendengarkan memungkinkan kita untuk melakukan hal yang benar, dan bukan hanya menjadi pengamat pasif, pengguna, atau konsumen. Mendengarkan juga berarti mampu berbagi pertanyaan dan keraguan, untuk berjalan berdampingan, untuk menyingkirkan semua klaim atas kekuasaan absolut dan untuk menempatkan kemampuan dan bakat kita untuk melayani kebaikan bersama.”
Tetapi, Paus Fransiskus mengakui bahwa mendengarkan tidak pernah mudah. Seringkali lebih mudah untuk berpura-pura tuli. Sebab, mendengarkan berarti memperhatikan, ingin memahami, menghargai, menghormati, dan merenungkan apa yang dikatakan orang lain. “Ini melibatkan semacam pengorbanan diri,” katanya.
Menurut Paus yang September 2024 lalu berkunjung ke Indonesia ini, mengetahui cara mendengarkan adalah anugerah yang sangat besar. “Itu (mendengarkan) adalah karunia yang perlu kita minta dan kemudian berusaha keras untuk mempraktikkannya,” kata Paus Fransiskus.
Tetapi, di mana-mana banyak orang yang memilih untuk tidak tahu cara mendengarkan atau pura-pura tidak tahu, daripada harus mendengarkan omongan orang lain; yang mungkin tidak mengenakkan, yang mungkin menyakitkan hati, yang mungkin berupa kritikan yang sangat keras dan tajam atau bahkan kasar, sarkas, dan yang mungkin bernada merasa paling tahu, paling pintar. Begitulah.
***

Karena itu, Paus Leo XIV untuk masa puasa Pra-Paskah ini mengangkat tema, “Listening and Fasting: Lent as a Time of Conversion.” Menurut Paus Leo XIV, masa Pra-Paskah adalah waktu untuk mendengarkan; mendengarkan Sabda Tuhan menyentuh hati kita dan menerimanya dengan roh yang taat. Sebab, setiap jalan menuju pertobatan dimulai dengan mendengarkan.
Kata pemimpin umat Katolik Roma sedunia ini, ada hubungan antara sabda, penerimaan manusia terhadapnya, dan transformasi yang ditimbulkannya. “Karena alasan ini, perjalanan Paskah merupakan kesempatan yang baik untuk mendengarkan suara Tuhan dan memperbarui komitmen kita untuk mengikuti Kristus, menyertai-Nya di jalan menuju Yerusalem, di mana misteri penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya akan digenapi,” kata Paus.
Jika masa Prapaskah adalah waktu untuk mendengarkan, maka puasa adalah cara konkret untuk mempersiapkan diri menerima sabda Tuhan, sabda Allah.
***

Sebenarnya, prinsip mendengarkan “kehendak Ilahi” dengan berpuasa, sudah dipraktikkan tidak hanya oleh umat agama samawi. Berpuasa, menahan diri dari makanan adalah praktik asketis kuno yang sangat penting dalam jalan pertobatan; dan dipraktikkan oleh semua umat beriman sejak dari dulu kala.
Puasa bagi masyarakat Jawa, misalnya, sebetulnya sudah lama ditekuni sebagaimana ajaran Sri Pakubuwono IV (bertakhta, 1788 – 1820) dalam tembang Kinanthi Serat Wulang Reh.
Dalam tembang Kinanthi Serat Wulang Reh, Pupuh II, 01 dan 02 dikatakan demikian:
Padha gulangen ing kalbu, ing sasmita amrih lantip, aja pijer mangan nendra, kaprawiran den kaesthi pesunen sariranira, sudanen dhahar lan guling.
Kalian biasakanlah mengasah kalbu, agar (pikiranmu) tajam menangkap isyarat, jangan hanya selalu makan dan tidur, jangkaulah sikap kepahlawanan, latihlah dirimu dengan mengurangi makan dan minum.
Dadiya lakunireku, cegah dhahar lawan guling, lawan aja asukan-sukan, anganggoa sawatawis, ala watake wong suka, suda prayitnaning batin.
Jadikan sebagai lelakon, kurangi makan dan tidur, jangan gemar berpesta pora, gunakan seperlunya (karena) tabiat orang yang gemar berpesta pora adalah berkurangnya kepekaan batin.
Dalam tradisi masyarakat Jawa dikenal beberapa ritual berpuasa selain berpuasa di bulan suci Ramadhan. Ada puasa mutih, puasa ngrowot, puasa pati geni, puasa ngebleng, dan lain sebagainya. Dalam hal ini puasa sudah menjadi tradisi sosial dan laku prihatin orang Jawa dalam upaya mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, untuk mendengarkan “wisik”, bisikan batin dari Hyang Ilahi, agar cita-cita hidup mereka dikabulkan oleh-Nya.
Maka itu, kata Paus Leo XIV, “Justru karena melibatkan tubuh, puasa memudahkan kita untuk mengenali apa yang kita ‘rindukan’ dan apa yang kita anggap perlu untuk kebutuhan hidup kita. Selain itu, puasa membantu kita mengidentifikasi dan mengatur ‘nafsu’ kita, menjaga rasa lapar dan haus akan keadilan tetap hidup dan membebaskan kita dari rasa puas diri.”
Bersamaan dengan itu, di saat berpuasa perlu mempraktikkan seni mendengarkan, yang lebih dari sekadar mendengar. Sebab, mendengar itu adalah proses fisik pasif, tidak disengaja, dan otomatis dalam merasakan gelombang suara dengan telinga, tanpa memerlukan usaha sadar.
Sebaliknya, mendengarkan adalah proses aktif, sukarela, dan disengaja yang membutuhkan konsentrasi untuk memahami, menafsirkan, dan memproses makna dari suara-suara tersebut. Karena itu, mendengarkan, dalam komunikasi, adalah keterbukaan hati yang memungkinkan kedekatan yang tanpanya perjumpaan spiritual sejati tidak dapat terjadi.
Maka itu, Paus Leo XIV mengangkat tema “Listening and Fasting: Lent as a Time of Conversion.” Dan, dengan demikian siapa pun yang berpuasa secara sungguh-sungguh, sepenuh hati, pikiran, dan jiwa-raga akan mengalami conversion (conversio). Yakni, perubahan radikal. Ini bukan sekadar peristiwa sekali waktu atau perubahan intelektual, tetapi perjalanan transformatif sehari-hari berupa pertobatan, pendalaman iman, dan penyelarasan spiritual, moral, dan intelektual (bagi umat Kristen dengan Kristus).
Bila demikian, maka Fratelli Tutti, semua saudara–meski beda suku, agama, ras, etnis, golongan, kelompok, bahkan partai–akan benar-benar menjadi kenyataan. Tidak sekadar semboyan belaka. ***
Sebagian orang jika perutnya kosong (entah puasa atau tidak) yang terdengar suara keroncongan perut . . .
Semoga kebersamaan masa berpuasa benar benar dapat mendengarkan suara hati nurani dengan baik bahwa kita semua manusia adalah bersaudara . . . Tidak satupun yang merasa unggul daripada yang lain . . .
Suci toh politik ke sucian.” mendengarkan dan puaaa serta beeobat” ha ha ha
Sugeng menjalankan puasa/pantang kagem dik Kelik sekeluarga 🙏🏻
Sembah Nuwun.
Sangat mencerahkan
Tuhan memberkati Yang Mulia Bapak Duta Besar sekeluarga.
Berkah Dalem.
Jk
Salam Pandito. Mencerahkan asupan gizi pengetahuan yang disampaikan. Tks dan sangat bermanfaat. Gizi ilmu yg mencerahkan dan bermanfaat. Salam Pandito.