LA REPUBBLICA

Dalam sepucuk surat ucapan selamat, tertanggal 14 Januari 2026, yang dikirim ke koran La Repubblica, yang merayakan ulang tahunnya ke-50, Paus Leo XIV menulis demikian: “Saya berharap Anda terus sukses dalam membangun komunikasi yang bebas dan terbuka dengan dialog, didorong oleh pencarian kebenaran dan tanpa prasangka,” (Aleteia, 15 Januari 2026).

Lewat surat itu, Paus asal Amerika Serikat ini–dari 267 paus yang pernah dipilih, 217 orang di antaranya, berasal dari Italia–menegaskan arti penting freedom of the press, kebebasan pers. Tetapi, kebebasan pers itu harus menawarkan “kesempatan untuk berdialog yang, jika tidak bermusuhan, berkontribusi pada kebaikan bersama dan persatuan keluarga manusia. Dengan cara ini, dialog mengatasi konflik dan membangun perdamaian.”

Meskipun seperti pendapat Reporters Without Borders Editorial Director, Anne Bocandén, “Menjamin kemandirian, dan keberagaman dalam lanskap media saat ini membutuhkan kondisi keuangan yang stabil dan transparan. Tanpa kemandirian ekonomi, tidak akan ada pers yang bebas. Ketika media berita mengalami tekanan finansial, mereka terjerumus ke dalam persaingan untuk menarik pembaca dengan mengorbankan kualitas pelaporan, dan dapat menjadi mangsa para oligarki dan otoritas publik yang berupaya mengeksploitasi mereka.”

“Ketika jurnalis miskin, mereka tidak lagi memiliki sarana untuk melawan musuh-musuh pers—mereka yang mendukung disinformasi dan propaganda. Ekonomi media harus segera dipulihkan ke keadaan yang kondusif bagi jurnalisme dan memastikan produksi informasi yang dapat diandalkan, yang pada dasarnya mahal. Solusi ada dan harus diterapkan dalam skala besar. Kemandirian finansial media adalah syarat yang diperlukan untuk memastikan informasi yang bebas dan dapat dipercaya yang melayani kepentingan publik.”

Tentu, Paus Leo XIV paham akan hal itu. Hanya saja, ia menyoroti dari sisi fungsi, peranan, dan misi media. Paus Leo XIV memandang media sebagai alat yang ampuh untuk perdamaian. Karena itu, komunikasi yang dilakukan media bukan hanya penyampaian informasi, tetapi juga penciptaan budaya, lingkungan manusia dan digital yang menjadi ruang untuk dialog dan diskusi.

Maka, dalam pidato sebelumnya, 12 Mei 2025, Paus mendesak para jurnalis untuk menjadi pembawa perdamaian, menentang kebohongan, dan menggunakan komunikasi untuk menumbuhkan pemahaman, terutama mengenai teknologi baru seperti AI. Paus menyerukan “komunikasi tanpa senjata” yang bebas dari prasangka, mempromosikan kebenaran, martabat manusia, dan dialog, sambil mendukung para jurnalis yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk meliput berita.

Menurut Paus Leo IV, freedom of the press,  kebebasan pers itu penting. “Inilah makna kebebasan pers, yang, terlepas dari keragaman pendapat, sudut pandang, dan budaya, harus selalu bertindak dengan transparan, adil, dan berkontribusi pada kebaikan bersama dan persatuan umat manusia,” tulis Paus Leo XIV meyakinkan para wartawan harian beraliran kiri tengah tersebut.

***

Para paus sebelumnya, juga sudah berbicara tentang freedom of the press . Kebebasan pers sangat penting bagi demokrasi, bertindak sebagai Fourth Estate; memainkan peran vital dalam menginformasikan warga negara tentang urusan publik dan memantau tindakan pemerintah di semua tingkatan (standtogether.org)

Paus Fransiskus dalam pidatonya pada Jubilee of the World of Communications, hari Sabtu, 25 Januari 2025 mengatakan, kebebasan pers dan kebebasan berpikir harus “dipertahankan dan dilindungi bersama dengan hak mendasar untuk mendapatkan informasi.”

Kata Paus Fransiskus, tanpa “informasi yang bebas, bertanggung jawab, dan benar, kita berisiko tidak lagi dapat membedakan kebenaran dari kebohongan; tanpa ini, kita akan terpapar pada prasangka dan polarisasi yang semakin meningkat yang menghancurkan ikatan koeksistensi sipil dan mencegah persaudaraan untuk dibangun kembali.”

Menurut Paus Fransiskus, dan juga para pendahulunya, kebebasan pers dan kebebasan berpikir harus dipertahankan dan dilindungi bersama dengan hak mendasar untuk memperoleh informasi. Informasi yang bebas, bertanggung jawab, dan benar adalah warisan pengetahuan, pengalaman, dan kebajikan yang harus dilestarikan dan dipromosikan.

Mengapa demikian? Karena jurnalisme lebih dari sekadar profesi. Jurnalisme adalah panggilan (vocatio) dan misi. Maka, para komunikator, memiliki peran mendasar bagi masyarakat saat ini, dalam melaporkan fakta dan dalam cara melaporkannya. Bahasa, sikap, dan nada dapat menentukan dan membuat perbedaan antara komunikasi yang membangkitkan harapan, membangun jembatan, dan membuka pintu, dan komunikasi yang justru meningkatkan perpecahan, polarisasi, dan penyederhanaan realitas.

Maka, dalam suratnya kepada pemimpin La Repubblica, Mario Orfeo, Paus Leo XIV menulis, “Bahkan di tengah keragaman pendapat, sudut pandang, dan budaya, pers harus selalu bertindak dengan transparansi dan integritas.”

***

Koran La Repubblica, memang bukan tertua di Italia; dan sekarang pun bukan koran terbesar. Koran tertua di Italia adalah La Gazzetta di Mantova, yang pertama kali diterbitkan tahun 1664 di Mantua, Lombardia dan hingga kini masih terbit dengan oplah sekitar 9.852 eksemplar per hari; terbit tujuh kali seminggu.

Dibandingkan dengan Corriere della Sera pun, La Repubblica kalah tua. Koran dalam format broadsheet ini, Corriere della Sera, mulai terbit di Milan tahun 1876. Sementara La Repubblica, berformat tabloid baru terbit 14 Januari 1976!

Tetapi, mengapa Paus Leo XIV mengirim surat ucapan selamat ulang tahun kepada La Repubblica, koran berhaluan kiri-tengah reformis itu? Karena koran ini, selama 50 tahun tanpa kenal lelah memainkan peran dalam debat publik dan dialog.

Kata Paus Leo XIV, dialog mengatasi konflik dan membangun perdamaian.” Maka, pemimpin umat Katolik sedunia itu mendorong hendaknya koran La Repubblica “selalu membangun komunikasi yang bebas dan dialogis, yang dijiwai oleh pencarian kebenaran dan tanpa prasangka.”

Ketika didirikan, tahun 1976, oleh Eugenio Scalfari bersama Andrea Barbato, koran La Repubblica menekankan kemandirian dari partai politik. Sikap itu diambil karena pada pertengahan 1970-an, Italia dijerat krisis berat–instabilitas politik, stagnasi ekonomi, dan terorisme–maka sering digambarkan sebagai “sick man of Europe.”

Dalam Italy in the 1970s The Year of Lead, periode 1960 -1970-an, disebut sebagai era Opposti Estremismi, (kurusuhan yang dilakukan baik oleh ekstremis left-wing maupun right-wing), kemudian disebut anni di piombo  (years of lead), karena terjadi gelombang pengeboman dan penembakan. Tahun ini dicirikan dengan banyaknya pemogokan sosial, aliansi (politik) yang berubah-ubah, dan kerusuhan ekstrem baik dari faksi far-left maupun far-right.

Di masa sulit ini, Italia antara lain diperintah partai sayap kiri-tengah (centre-left wing) Demokrat Kristen di bawah pimpinan PM Aldo Moro dan Presiden Giovanni Leone. Aldo Moro menjadi perdana menteri dari Desember 1963 – Juni 1968; lalu November 1974 – Juli 1976. Ia diculik Brigade Merah (1978), dan dibunuh.

Pemerintah menguasai dua channel televisi negara, sebagai kanal informasi mereka. Sementara, ketika Silvio Berlusconi dan stasiun kabelnya, Telemilano, sudah mulai muncul. Sedangkan pasar pers, pemain utamanya adalah: harian Corriere della Sera (Milan), La Stampa (Turin), l’Unita (berhaluan komunis, Roma), dan mingguan  L’Espresso (Roma).

Sebagai pemain baru, La Repubblica menargetkan pembaca muda dan terpelajar yang kecewa terhadap kondisi negara, dan keributan politik yang mentradisi antara Demokrat Kristen dan Komunis. Dalam situasi serperti itu, La Repubblica berjuang membangun reputasinya. Target Scalfari—yang mengaku ateis tapi berkawan baik dengan Paus Fransiskus– pada kaun muda kampus, berhasil. Komentar politik yang blak-blakan, terutama terhadap Benedetto “Bettino” Craxi, pemimpin partai PSI (Partai Sosialis Italia, 1976 – 1993; dan menjadi perdana menteri, 1983 -1987) mendapat sambutan baik dari mahasiswa, yang mendukung surat kabar tersebut.

Bettino Craxi (1934–2000) adalah tokoh penting, namun juga sangat kontroversial, dalam politik Italia, selama tahun 1980-an. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri dari tahun 1983 hingga 1987, pemerintahan terlama dalam Republik Pertama.

Craxi berperan sebagai protagonis kunci dari sistem partitocrazia (partai-okrasi). Partitocrazia merujuk pada dominasi partai politik atas lembaga negara dan masyarakat sipil di Italia pasca-perang, yang menyebabkan fragmentasi politik, patronase, dan korupsi.

Menurut Alberto Vannucci (Bulletin of Italian Politics, Vol. 1, No. 2, 2009), meluasnya korupsi politik dan administratif di Italia menjadi isu politik utama – dan untuk periode tertentu menjadi isu utama – selama tahun 1990-an. Ini yang mendorong Jaksa Wilayah Milan, pada Februari 1992 mulai melakukan penyelidikan yudisial yang disebut Mani Pulite (‘Tangan Bersih’).

Saat skandal Tangentopoli (Korupsi Sistemik) terungkap, gerakan anti-korupsi akar rumput yang dikenal sebagai Mani Pulite mendapatkan momentum. Jaksa, hakim, dan jurnalis investigatif bekerja tanpa lelah untuk mengungkap jaringan korupsi dan menyeret para pelaku ke pengadilan (understandingitaly.com)

Investigasi Mani Pulite , mengungkap sistem nasional yang sangat korup, yang selama beberapa dekade menjadikan suap dan sogokan berperan besar dalam dunia politik dan bisnis. Hal itu menunjukkan bahwa haus akan uang dan kekuasaan para politisi tidak memiliki pedoman moral. Kesejahteraan rakyat tidak berperan dalam keputusan mereka. Tidak ada aturan yang tidak bisa dilanggar; tidak ada pengendali yang tidak bisa dibeli. Selipkan amplop berisi uang tunai ke saku orang yang tepat dan Anda dapat mencapai hal yang mustahil: membangun blok apartemen di lahan yang rawan longsor; menjual pasokan darah yang terkontaminasi ke rumah sakit; membayar hakim untuk menutup mata (thevonversation.com, 8 oktober 2016)

Terbongkarnya skandal  Tangentopoli, menggoncang tidak hanya jagad perpolitikan dan bisnis di Milan, tapi juga di seluruh Italia. Ini suatu hal yang belum pernah terjadi (terungkap) sebelumnya. Salah satu akibatnya, fondasi lembaga politik Italia (sebagian besar) hancur menjadi puing-puing, dan harus dibangun kembali dari awal. Ibarat kata, lebih hancur dibanding situs-situs peninggalan masa Romawi.

Diawali dengan penangkapan Mario Chiesa, seorang sosialis yang menjadi manajer sebuah rumah sakit umum, penyelidikan diperluas ke seluruh negeri menyasar kalangan politisi, birokrat, dan pengusaha yang terlibat. Dalam beberapa tahun, enam mantan perdana menteri, lebih dari 500 anggota parlemen, dan beberapa ribu administrator lokal dan publik diperiksa. Skandal ini menyebabkan krisis dramatis dalam sistem politik: dalam beberapa bulan, sebagian besar tokoh politik terkemuka terpaksa mengundurkan diri atau mengasingkan diri; partai-partai besar menghilang atau mengalami transformasi radikal; partai-partai baru muncul untuk mengisi kekosongan politik yang ditinggalkan oleh partai-partai lama.

Antonio Acconcia dan Claudia Cantabene (A Big Push to Deter Corruption: Evidence from Italy, 2006) menjelaskan, investigasi Mani Pulite awalnya terbatas di kota Milan, tapi dengan cepat meluas ke seluruh negeri. Selama periode 1992-1994, 70 jaksa wilayah Italia menyelidiki sekitar 12.000 orang; sekitar 5.000 orang ditangkap.

Penyelidikan tersebut mengungkapkan sistem praktik korupsi yang sudah lama ada yang melibatkan pengusaha, birokrat, hakim, dan perwakilan dari semua partai politik. Menurut salah satu jaksa penuntut umum pada saat itu, membayar suap sudah menjadi kebiasaan di Italia. Tanpa suap, tidak jalan.

Pada akhirnya, menurut Antonio Acconcia dan Claudia Cantabene, skandal tersebut berperan penting dalam membentuk kembali peta elektoral dari utara ke selatan. Partai-partai yang selama setengah abad memainkan peran yang sangat dominan dalam politik Italia musnah. Partai Demokrat Kristen dan Partai Sosialis Italia (PSI) adalah korban yang paling menonjol. Keduanya masing-masing berada di urutan pertama dan ketiga dalam pemilihan umum April 1992 (di antara mereka hanya ada Partai Komunis). Tetapi dua tahun kemudian, ketika pemilihan umum baru diadakan, Partai Demokrat Kristen menghilang dan PSI, menjadi tidak relevan.

Bagi banyak orang, tahun 1992 menandai berakhirnya sebuah era. Itu adalah momen penting. Masa lalu yang agak gemilang – yang telah menyaksikan negara itu meninggalkan fasisme, melepaskan monarki, merangkul demokrasi, dan dengan cepat mengubah puing-puing pasca-PD II menjadi keajaiban sosial dan ekonomi– telah berakhir.

Para hakim di Milan telah membuka kotak Pandora politik Italia: hanya untuk menemukan bahwa di dalamnya terdapat kejahatan yang lebih buruk daripada yang dibayangkan kebanyakan orang, dan tidak ada jejak harapan yang terlihat.

***

Koran La Repubblica yang menjadikan korupsi sebagai musuh utamanya, “mendapat panggung”. Koran ini mendukung investigasi Mani Pulite , untuk membongkar Tangentopoli yang antara lain masuk ke dalam sistem pendanaan partai secara ilegal dan penyuapan yang melibatkan Bettino Craxi dan PSI.

Craxi tidak menyangkal bahwa partainya, PSI, menerima dana ilegal. Pada Februari 1993, berbagai tuduhan korupsi politik memaksa Craxi untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua partai. Ia tidak pernah menyangkal telah secara ilegal meminta uang untuk PSI, tetapi menyatakan bahwa semua partai politik melakukan hal yang sama dan bahwa PSI menjadi sasaran karena alasan politik. Yang dilakukan PSI, juga dilakukan partai-partai lain (britannica.com).

Karir Craxi sebagai politisi kondang, moncer berakhir tragis pun dramatik. Pada 30 April 1993, Craxi dilempari koin oleh massa di luar Hotel Raphael di Roma. “Kau juga mau ini, Bettino, kau juga mau ini?” teriak kerumunan massa di luar hotel , sambil melemparkan koin 500 lire. Ini menandai akhir simbolis kariernya. Dan, tragis bagi seorang politisi kampiun, yang pernah berada di puncak tertinggi piramida kekuasaan politik di Italia.

Craxi meninggalkan Italia. Ia mengasingkan diri ke Tunisia pada akhir tahun itu, tepat sebelum dinyatakan bersalah atas beberapa tuduhan tersebut. Ia tidak pernah kembali ke Italia. Craxi meninggal di Hammamet, Tunisia, 19 Januari 2000.

Semua itu, menurut La Repubblica, yang secara tradisional berpihak pada perspektif sekuler, berhaluan kiri, dan anti-korupsi, sebagai gambaran kegagalan moral “kelas politik.” Di sinilah media harus berperan sebagaimana dikatakan Paus Leo XIV, memperjuangkan kebenaran, keadilan, dan martabat manusia.

Dan, koran La Repubblica pun menjalankan tugas panggilannya sebagaimana namanya: Repubblica berarti republik, suatu bentuk pemerintahan di mana kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat atau perwakilan mereka yang terpilih, bukan seorang raja.

Kata repubblica berasal dari bahasa Latin res publica yang berarti “urusan publik” atau “urusan rakyat”. Berarti, suatu negara di mana kekuasaan bersifat publik, bukan privat, maka para pemimpin harus bertanggung jawab kepada warga negara. Bila tidak, harus diingatkan dengan berbagai cara. Itulah peran yang dijalankan koran La Repubblica, yang menjalankan misinya untuk peduli pada urusan rakyat, kepentingan rakyat.

Kepada mereka, La Repubblica, Paus Leo XIV mengirim surat ucapan selamat, sembari terus berharap koran itu membangun komunikasi yang bebas dan terbuka dengan dialog, didorong oleh pencarian kebenaran dan tanpa prasangka….***

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
12
+1
2
Kredensial