“LA PACE SIA CON TUTTI VOI”

“La pace sia con tutti voi,” kata Paus Leo XIV, saat pertama kali muncul di balkon utama Basilika St. Petrus, Vatikan, pada 8 Mei 2025. ( Foto:  OSV News photo/Reuters/Catholic Review)

Itulah kalimat pertama yang dikatakan Paus Leo XIV, dari balkon utama Basilika St. Petrus, Vatikan. Hari itu, 8 Mei 2025, Paus Leo XIV mengawali masa kepausannya. “La pace sia con tutti voi.” Damai sejahtera sertamu.

Kalimat itu pula, yang ditegaskan lagi dalam tiga kesempatan:  Misa Malam Natal, Misa Natal pagi, dan sebelum memberikan berkat “Urbi et Orbi” (untuk Kota [Roma] dan Dunia) dari balkon utama. Dan juga, dalam Pesan Perdamaian 2026.

Di hadapan ribuan umat yang  bahagia setelah paus baru terpilih, Paus Leo XVI  mengatakan, “Saudara-saudari terkasih, inilah kata-kata pertama yang diucapkan oleh Kristus yang telah bangkit, Gembala yang Baik yang telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kawanan domba Allah. Saya ingin salam damai ini bergema di hati Anda, di keluarga Anda, di antara semua orang, di mana pun mereka berada, di setiap bangsa dan di seluruh dunia.”

Perdamaian adalah tema sentral dalam doktrin Katolik: sudah ada dalam Alkitab dan dalam tradisi Kristen, tema ini secara bertahap diintegrasikan ke dalam teks-teks resmi Gereja Katolik Roma, dan secara perlahan membentuk dasar wacana Takhta Suci.

Ensiklik Pacem in Terris yang disampaikan di Roma pada tanggal 11 April 1963 oleh Paus Yohanes XXIII bertujuan untuk “menetapkan perdamaian universal dalam kebenaran, keadilan, kasih sayang, dan kebebasan.” Keempat pilar ini merupakan akar terdalam dari wacana Takhta Suci tentang perdamaian di Zaman Modern (Grégoire Deren, 2021

Hanya beberapa bulan setelah krisis Kuba, Gereja, melalui suara Wakil Kristus – yaitu Paus –menyatakan dirinya sebagai promotor utama perdamaian antar bangsa dan rakyat. Yohanes XXIII, Paus ke-261, menyampaikan ensikliknya, Pacem in Terris pada saat terpanas dari zaman  “Perang Dingin”, untuk mencegah dunia jatuh ke dalam konflik internasional baru dan mematian.

Tugas mempromosikan dan menjaga perdamaian ini tetap menjadi prioritas Gereja sejak diterbitkannya teks ini: para penerus Yohanes XXIII, yaitu Paulus VI, Yohanes Paulus I, Yohanes Paulus II, Benediktus XVI,  Fransiskus, dan sekarang Paus Leo XIV semuanya  berusaha mengikuti jalan yang telah diungkapkan oleh Paus Yohanes XXIII.

Tindakan para paus dari Paus  Yohanes XXIII hingga Paus Fransiskus–sangat banyak, berhasil atau tidak–dan semuanya dipimpin oleh keinginan untuk mencegah munculnya perang baru. Dengan ensiklik Pacem in Terris , Paus Yohanes XXIII menjadikan promosi perdamaian sebagai prioritas kepausan.

Paus Yohanes XXIII adalah paus pertama yang menganjurkan “pelucutan senjata integral,” yang hanya dapat dicapai melalui pembaharuan hati dan pikiran. Pidato tahunan para penerus Petrus pun  mengidentifikasi beberapa ancaman terhadap perdamaian, pertama dan terutama perang, tetapi juga totalitarianisme, ketidakadilan sosial dan ketidakadilan ekonomi, serta kurangnya persaudaraan dan kepedulian terhadap alam.

Pada hari Kamis (25/12) di hadapan 26.000 umat beriman di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Paus Leo XIV menyerukan hal yang sama: perdamaian.

***

Paus Leo XIV, pada Misa Malam Natal, 24 Desember 2025, di Basilika St. Petrus, Vatikan. Ini Misa Natal pertamanya sebagai paus (Foto: Trias Kuncahyono)

Ada “evolusi teologi perdamaian” dari masa kepausan Paus Pius IX (bertakhta, 1846 – 1878) hingga Paus Fransiskus. Paus Pius IX secara aktif mempromosikan budaya perdamaian, yang juga memberikan dorongan bagi dialog ekumenis. Paus Leo XIII (bertakhta, 1878 – 1903), penerus Pius IX, menyampaikan pesan tersebut ketika ia ikut serta dalam konferensi tentang perlucutan senjata di Den Haag pada tanggal 18 Mei 1899 (Francesco Occhetta,  CNA 2013).

Di konferensi itu, Paus Leo XIII mengajukan proposal untuk “perdamaian politik.” Beberapa dari 26 negara yang ikut serta dalam konferensi tersebut mengakui Paus sebagai mediator konflik karena “kebapakan universalnya.” (universal paternity).

Lalu, Paus Benediktus XV yang naik takhta Petrus (3 September 1914), kurang dari sebulan setelah PD I pecah (20 Agustus 1914) dikenal sebagai “peacemaker.” Paus Benediktus XV (bertakhta hinga 1922), sangat gigih menentang perang dan mengusahakan perdamaian. Ia menyebut PD I sebagai  “bunuh diri Eropa yang beradab” dan “useless massacre.”

Pada tanggal 7 Desember 1914, Paus meminta kepada pihak-pihak yang berperang untuk gencatan senjata Natal:  “agar senjata-senjata dapat berhenti berbunyi setidaknya pada malam ketika para malaikat bernyanyi.”

Seruan serupa juga disampaikan Paus Leo XIV, pada 23 Desember 2025. Kata Paus Leo XIV di Castel Gondolfo, “Sekali lagi saya menyampaikan seruan ini kepada semua orang yang berkehendak baik: agar, setidaknya pada hari raya kelahiran Sang Juru Selamat, satu hari perdamaian dapat dihormati.”

Permohonan Paus Benediktus XV,  secara resmi diabaikan, tetapi ada gencatan senjata informal, sembarangan, dan tidak resmi di beberapa bagian front Barat. Paus Benediktus XV lantas menyatakan netralitas Takhta Suci. Dari sikap dan posisi ini,  Takhta Suci mendesak pihak-pihak yang berperang untuk damai. Tapi, Jerman yang Protestan menolak prakarsa damai paus itu dan Perancis yang Katolik menganggap Takhta Suci sebagai anti-Perancis.

Gagal mengupayakan perdamaian, Takhta Suci mengalihkan usahanya ke karya kemanusiaan korban perang. Selain itu, tetap mengupayakan perdamaian lewat jalur diplomatik.

Maka, Kardinal Giovanni Pacelli yang terpilih sebagai paus pada 2 Maret 1939–memilih nama Paus Pius XII–enam bulan sebelum PD II pecah (1 September 1939), juga gigih mengupayakan perdamaian. Dalam pernyataannya sebelum perang pecah, Paus Pius XII mengatakan, “Tidak ada yang dirugikan dengan perdamaian. Segala hal dapat hilang karena perang.” Tapi, pernyataan dianggap sepi oleh Hitler pemimpin Jerman Nazi yang menyerbu Polandia. Serbuan ini mengawali PDI II.

Meski demikian Paus Pius XII, tak berhenti berseru, mendorong perdamaian. Seruannya itu dipancar-luaskan lewat pidato radio (hampir 200 kali pidato) dalam berbagai bahasa. Ia juga menulis sejumlah dokmentasi, termasuk 41  ensiklik (Vatican News, 2024).

***

Ribuan umat di Lapangan Santo Petrus pada tanggal 20 April 2025, Minggu Paskah. Hari itu, Paus Fransiskus memberikan berkat “Urbi et Orbi” terakhirnya. Hari Senin, 21 April 2025, Paus berpulang. (Foto: Trias Kuncahyono)

Para paus selanjutnya juga fokus pada perdamaian dunia. Misalnya, Paus Santo Yohanes XXIII, seperti diuraikan di atas. “Never war again, never again war!” kata Paus Paulus VI tegas dalam pidatonya di markas besar PBB,1965 (Vatican News, 2025).

Paus Santo Paulus VI lalu mengatakan, “Inilah kata-kata yang ingin Anda dengar dari kami, dan kata-kata yang tidak dapat kami ucapkan tanpa menyadari keseriusan dan kekhidmatannya: jangan pernah lagi saling bermusuhan, jangan pernah, jangan pernah lagi! Bukankah ini tujuan utama berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa: untuk menentang perang dan mendukung perdamaian?”

Lalu, ia mengutip pernyataan yang pernah diucapkan John Kennedy, “… Umat manusia harus mengakhiri perang, atau perang akan mengakhiri umat manusia.” Tapi, hingga sekarang, perang masih terus berkobar, tak peduli peringatan tersebut.

Paus Santo Yohanes Paulus II melakukan pendekatan lain dalam  mengusahakan perdamaian. Selain menyerukan doa dan puasa untuk perdamaian, Paus Yohanes Paulus II, mengundang para pemimpin agama dunia bertemu di Asisi, 27 Oktober 1986.

Kata Paus Santo Yohanes Paulus II, “Kita melakukan ziarah ke Assisi karena kita semua yakin bahwa berbagai agama dapat dan harus berkontribusi pada perdamaian. Sebagian besar agama mengajarkan penghormatan terhadap hati nurani, kasih sayang terhadap sesama, keadilan, pengampunan, pengendalian diri, pelepasan dari makhluk ciptaan, doa, dan meditasi (Dicastery of Interreligious Dialogue, 26 Oktober 1986).

Pertemuan para pemimpin agama diulang lagi pada 10 Januari 1993 dan 21 Januari 1994, saat pecah perang di Bosnia Herzegovina. Boleh dikata, Paus Santo Yohanes tidak pernah henti dan tak kenal lelah mengupayakan perdamaian. Ia dikenang sebagai pembela besar kehidupan, martabat manusia, dan kebebasan beragama. Terutama ketegasannya menentang komunisme (Vatican News, 2025)

Dengan memilih nama Paus Benediktus XVI, Kardinal Ratzinger, seperti ditulisnya dalam pesan pertamanya untuk Hari Perdamaian Dunia ke-39 pada tahun 2006, ingin menghormati Santo Benediktus, yang meletakkan dasar bagi peradaban perdamaian (civilization of peace) dan Paus Benediktus XV, yang terus mengupayakan perdamaian selama pembantaian tanpa akhir PD I.

Bagi Paus Benediktus XVI, mengutip Santo Agustinus, perdamaian adalah  “ketenangan tatanan” (tranquility of order) Perdamaian adalah “buah dari tatanan yang telah ditanamkan dalam masyarakat manusia oleh Pendiri ilahinya, tatanan yang harus diwujudkan oleh umat manusia dalam dahaganya akan keadilan yang semakin sempurna” (“In Truth, Peace,” Jan. 1, 2006, paragraph 3).

Dengan kata lain, perdamaian menemukan sumbernya dalam hubungan yang tertata dengan benar — yaitu, hubungan yang “adil” — di antaranya, hubungan antara Tuhan dan manusia, hubungan antara manusia itu sendiri dan masyarakat, hubungan antar bangsa, dan hubungan umat manusia dengan tatanan ciptaan. Hubungan dengan sesama ciptaan, misalnya alam, kini semakin tidak baik. Manusia cenderung tidak mempedulikan kelestarian alam; tidak melindungi dan merawatnya tapi merusaknya.

Sementara Paus Fransiskus menekankan bahwa kita semua adalah saudara (fratelli tutti); termasuk alam ciptaan sebagaimana diajarkan St. Fransiskus dari Asisi. Maka, bersama Imam Besar Al-Azhar Kairo, Mesir Ahmad Al-Tayyeb, Paus Fransiskus menandatangani “A Document on a Fraternity, for World Peace and Living   Together. Dokumen ini sering disebut Dokumen Abu Dhabi, karena ditandatangani di Abu Dhabi, 4 Februari 2019.

Penandatangan dokumen ini menjadi tonggak (milestone) bersejarah bagi jalan dialog antar-agama. Tonggak sejarah itu hanyalah sebuah titik di sepanjang jalan, bukan awal maupun akhir. Paus Fransiskus menggemakan poin ini ketika  mengatakan selama konferensi pers dalam penerbangan pulang dari Abu Dhabi: “dari sudut pandang Katolik, dokumen itu tidak melampaui Konsili Vatikan Kedua sedikit pun. Sama sekali tidak. Dokumen itu muncul dari semangat Vatikan II”.

Menurut Mgr Miguel Angel Ayuso Guixot (2019) Paus Santo Paus Paulus VI dalam ensiklik Ecclesiam suam (6 Agustus 1964), yang menguraikan program kepausannya, menulis bahwa misi Gereja saat ini disebut dialog. Terbuka kepada orang lain, menemukan nilai-nilai yang mereka anut, berjalan bersama dan bekerja sama untuk keadilan dan perdamaian: inilah cara untuk memberi kesaksian tentang kepenuhan kebenaran dan kehidupan yang, sebagai orang Kristen, kita renungkan dan terima dari Yesus Kristus.

Dengan Konsili Vatikan II, tembok-tembok pemisah antaragama mulai retak sedikit demi sedikit, akhirnya hancur sehingga sungai dialog dapat mengalir. Deklarasi Konsili Nostra Aetate tentang hubungan antara Gereja dan umat beragama lain dan Dignitatis Humanae tentang kebebasan beragama, menyajikan tema-tema serupa dan sebagai dokumen saling terkait erat. Hal ini membuka jalan bagi Santo Yohanes Paulus II untuk memulai pertemuan-pertemuan seperti Hari Doa Sedunia untuk Perdamaian di Assisi pada tanggal 27 Oktober 1986 dan bagi Benediktus XVI, dua puluh lima tahun kemudian, untuk melanjutkan di kota Santo Fransiskus refleksi, dialog, dan doa untuk perdamaian dan keadilan, yang dimulai oleh Yohanes Paulus, pada Hari Doa untuk dunia, “Para peziarah kebenaran, para peziarah perdamaian.”

Lalu, September 2024, bersama Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, Nasaruddin Umar, Paus Fransiskus menandatangani Joint Declaration of Istiqlal 2024, Fostering Religious Harmony for the Sake of Humanity.

Bahkan, sehari sebelum berpulang, saat akan memberikan berkat Urbi et Orbi  Paskah,  Paus Fransiskus menyerukan lagi–entah sudah berapa kali diserukan selama 12 tahun masa kepausannya– untuk mendesak para pemimpin dunia meletakkan senjata dan beralih ke dialog. Saat itu, suara begitu lemah, namun semangat perdamaian tak perbah padam.

Sejak hari-hari pertama masa kepausannya, Paus Fransiskus memimpin gerakan Katolik global untuk advokasi perdamaian. Melalui kata-kata, tindakan, dan perbuatan, ia menunjukkan keyakinannya yang tak tergoyahkan pada kekuatan rekonsiliasi, pentingnya dialog, dan urgensi untuk mengakhiri kekerasan dalam segala bentuknya.

***

Paus Leo homili pada Misa Malam Natal, Rabu (24/12) di Basilika St. Petrus, Vatikan, yang diikuti 6.000 umat di dalam basilika dan 5.000 di Lapangan St. Petrus. (Foto: Trias Kuncahyono)

Kini, Paus Leo XIV, meneruskan tradisi itu. Sebab, span akar perdamaian Kristen terletak pada kasih Allah: ‘Allah adalah kasih; barangsiapa tinggal dalam kasih, ia tinggal dalam Allah dan Allah tinggal dalam dia’ (1 Yoh 4:16).

Maka, perdamaian, kemudian, bukanlah sekadar ketiadaan konflik, tetapi kepenuhan hubungan yang didamaikan, persekutuan, dan penghormatan terhadap martabat setiap orang. Ini adalah anugerah yang harus disambut dan tugas yang harus dibangun setiap hari.

Kata Paus Leo XIV dalam Pesan Perdamaian 2026, perdamaian adalah anugerah yang harus dijaga, … dan  bahwa perdamaian itu mungkin, bukan utopia, dan bahwa dialog ekumenis dan antaragama adalah cara-cara istimewa untuk mencapainya. Kita juga tidak boleh lupa untuk menempuh “jalan diplomasi, mediasi, dan hukum internasional yang melucuti senjata,” yang membutuhkan kepercayaan timbal balik, loyalitas, dan tanggung jawab dalam komitmen yang kita buat.

Maka, Paus Leo XIV mengawali masa kepausannya dengan menegaskan “La pace sia con tutti voi.”Namun, perdamaian harus dilindungi dan dipupuk, kata Paus Leo XIV. “Bahkan ketika perdamaian terancam di dalam diri kita dan di sekitar kita, seperti nyala api kecil yang terancam badai, kita harus melindunginya. ***
***

 

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
5
+1
5
Kredensial