
Di Vatikan, kami pertama kali bertemu pada tahun 2024. Dia persis duduk di sebelah kiri saya di setiap menghadiri acara di Vatikan. Demikian juga saat kami mengikuti Misa Kudus di Basilika Santo Petrus, Vatikan. Tempat duduk kami diurutkan berdasarkan saat penyerahan kredensial. Tidak didasarkan pada urutan abjad atau negara besar.
Jadi, duta besar negara besar, tidak selalu duduk di depan, tapi bisa duduk di belakang, karena penyerahan kredensial belakangan. Begitulah, seturut perjalanan waktu, pelan-pelan tempat duduk kami bergeser ke depan, sebab pasti ada duta besar yang duduk di depan, masa tugasnya berakhir dan penggantinya, akan duduk di belakang.
Sebagaimana biasanya, Minggu 29 Juli 2025, saat mengikuti Misa Suci “Santo Pietro e Paolo, Apostoli,” pesta Rasul Santo Petrus dan Paulus yang dipimpin Paus Leo XIV, kami–Dubes Iran untuk Takhta Suci, Mohammad Hossein Mokhtari dan saya-duduk berdampingan.
Ketika kami bertemu di Basilika Santo Petrus, Vatikan, biasanya tidak bicara tentang politik. Kami bicara soal cuaca, suhu Roma yang begitu panas, soal rencana liburan musim panas. Suatu ketika, dalam suatu perjumpaan, dia bercerita tentang Indonesia yang sangat dikenalnya karena pernah bertugas di Jakarta, tentang durian yang sangat digemarinya. Saya cerita tentang kota-kota di Iran yang pernah saya kunjungi. Ketika saya katakan, saya sudah ke Qom, ke rumah Ayatollah Khomeini juga ke makamnya, serta ke Masjid Jamkaran di Qom, dia tersenyum lebar lalu menyalami.
***

Tetapi, hari Minggu itu, dia tidak banyak bertanya. Saya juga tidak banyak ngajak bicara. Karena misa segera mulai. Sambil duduk dalam diam, di sampingnya, saya bertanya dalam hati: mengapa Israel dan Iran harus berperang. Mungkin pertanyaan mengada-ada. Tapi, untuk apa berperang?
Pertanyaan itu, hari-hari ini bergema lagi: Mengapa Israel dan Iran berperang dan malah sekarang ditambah AS. Bukankah, Israel dan Iran (apalagi, AS) tidak bertetangga, tidak berbagi perbatasan. Keduanya bukan dua negara yang sedang bersengketa rebutan pulau, misalnya. Tel Aviv dan Teheran, dipisahkan jarak sejauh 1.897 km, hampir dua kali panjang Pulau Jawa. Antara Washington dan Teheran terbentang jarak 10.199 km.
Ini beda dengan Ukraina dan Rusia, misalnya. Keduanya, bertetangga–jarak antara Moskwa dan Kiev, 983 km; berbagi garis perbatasan. Bahkan keduanya pernah dalam “satu rumah” Uni Soviet, 1922 – 1991. Dalam bahasa Presiden Rusia, “Rusia dan Ukraina adalah satu bangsa, satu kesatuan.” Tentu, ini oleh rakyat Ukraina dibaca sebagai usaha pembenaran invasinya. Walau memang ada hubungan sejarah keduanya.
India dan Pakistan, negara bertetangga yang berulang-kali perang. India dan Pakistan pernah bersatu sampai muncul akibat Indian Partition, Pemisahan India oleh Inggris pada tahun 1947. Pemisahan tersebut melahirkan Pakistan yang mayoritas penduduknya Muslim dan India yang mayoritas penduduknya Hindu; dan menyisakan Kashmir yang menjadi rebutan kedua negara dan perang.
***

Mengapa AS dan Israel berkoalisi menyerang Iran? Mengapa harus berperang? Bila bertemu dengan pertanyaan itu, saya selalu ingat perkataan Paus Fransiskus: “War itself is a crime against humanity. People need peace. The world needs peace,…but weapons have continued to kill and destroy.”
Bahkan secara tegas, Paus Leo XIV mengatakan, “Perang kembali menjadi tren, dan semangat untuk berperang semakin meluas. Prinsip yang ditetapkan setelah Perang Dunia Kedua, yang melarang negara-negara menggunakan kekerasan untuk melanggar perbatasan negara lain, telah sepenuhnya dirusak.”
Dan tragisnya, “Perdamaian tidak lagi dicari sebagai hadiah dan kebaikan yang diinginkan. Sebaliknya, perdamaian dicari melalui senjata sebagai syarat untuk menegaskan kekuasaan sendiri. Ini sangat mengancam supremasi hukum, yang merupakan fondasi dari semua kehidupan sipil yang damai,” kata Paus Leo XIV.
Paus dari AS ini mengingatkan bahwa kekerasan tidak akan pernah mengarah pada keadilan, stabilitas, dan perdamaian yang dinantikan rakyat. Karena itu, senjata dapat dan harus dibungkam. Senjata tidak menyelesaikan masalah tetapi hanya menambah masalah.”
Kata Paus Leo XIV, “Mereka yang membuat sejarah adalah para pembawa perdamaian, bukan mereka yang menabur benih penderitaan.”
***

Kata Paus Fransiskus, dengan perang, segalanya hilang, semuanya! Tidak ada kemenangan dalam perang: semuanya dikalahkan. Perang adalah kekalahan bagi umat manusia.
Itu berarti, setiap perang adalah kegagalan: kepemimpinan, akal sehat, kebijakan, konsep keberanian, juga patriotisme, imajinasi. Setiap perang adalah kegagalan empati, kemenangan dehumanisasi, kekalahan kemanusiaan.
Setiap perang mewakili kegagalan spesies manusia, untuk membebaskan diri dari belenggu ekspansionisme, keserakahan, penjajahan, eksploitasi, ketidaktahuan, dan kekerasan. Setiap perang adalah kegagalan umat manusia.
Kata John Steinbeck (1902 – 1968) penulis dan novelis AS: Semua perang adalah gejala kegagalan manusia sebagai makhluk berpikir.
Apakah manusia memiliki kecenderungan untuk membunuh anggota kelompok lain? Pembunuhan pertama di dunia ini, seperti dikisahkan dalam Kitab Genesis (Kitab Kejadian), Perjanjian Lama dilakukan oleh Kain terhadap Abil (Habel). Paus Fransiskus, pernah memperingatkan, dunia telah “memilih jalan Kain” melalui konflik yang sedang berlangsung. Ia secara khusus menyamakan konflik di Ukraina dengan drama ini, di mana “kekerasan yang menghancurkan kehidupan” dilepaskan, dan darah orang-orang tak berdosa “berseru kepada Tuhan dari tanah”.
***

Pembunuhan pertama di dunia ini memang dilakukan Kain. Tetapi, kata R Brian Ferguson (2018), orang-orang bertarung dan membunuh karena alasan pribadi, Pembunuhan itu, bukanlah perang. Meskipun, seperti kata Paus Fransiskus, pembunuhan itu tetaplah “kekerasan yang menghancurkan kehidupan.” Harus dicegah.
Kata Ferguson, perang bersifat sosial, dengan kelompok-kelompok yang terorganisir untuk membunuh orang-orang dari kelompok lain. Maka, kata kuncinya adalah “kolektif.”
Saat ini, menurut Ferguson, kontroversi mengenai akar sejarah peperangan berputar di sekitar dua posisi yang berlawanan. Pada satu posisi, perang adalah kecenderungan yang berevolusi untuk menghilangkan pesaing potensial. Dalam skenario ini, manusia sejak nenek moyang kita bersama dengan simpanse selalu berperang. Posisi lain menyatakan bahwa konflik bersenjata baru muncul dalam beberapa milenium terakhir, karena perubahan kondisi sosial memberikan motivasi dan organisasi untuk membunuh secara kolektif.
Kedua pihak terpisah menjadi apa yang disebut oleh antropolog Keith Otterbein sebagai elang dan merpati. Para antropolog dan arkeolog yang mendukung perdamaian berpendapat bahwa manusia memiliki kemampuan yang jelas untuk terlibat dalam peperangan, tetapi otak mereka tidak dirancang untuk mengidentifikasi dan membunuh pihak luar yang terlibat dalam konflik kolektif.
Serangan kelompok yang mematikan, menurut argumen ini, baru muncul ketika masyarakat pemburu-pengumpul tumbuh dalam ukuran dan kompleksitas, dan kemudian dengan lahirnya pertanian.
Ilmuwan politik Francis Fukuyama menulis bahwa akar perang dan genosida bermula puluhan atau ratusan ribu tahun yang lalu di antara nenek moyang kita yang berburu dan mengumpulkan makanan, bahkan hingga nenek moyang kita yang sama dengan simpanse.
Hal hampir sama dikatakan Bradley Thayer, seorang sarjana hubungan internasional. Ia berpendapat bahwa teori evolusi menjelaskan mengapa kecenderungan naluriah untuk melindungi suku seseorang berubah seiring waktu menjadi kecenderungan kelompok terhadap xenofobia dan etnosentrisme dalam hubungan internasional.
Dahulu, negarawan dan filsof Romawi Cicero (106 SM – 43 SM) mendefinisikan perang secara luas sebagai “pertentangan dengan kekerasan.” Hugo Grotius (1583 – 1645) seorang humanis, diplomat, teolog, penyair Belanda menambahkan bahwa “perang adalah keadaan pihak-pihak yang bertikai, yang dipandang sebagai demikian.”
Lalu, filsof Perancis Denis Diderot (1713 – 1784) mengatakan, perang adalah “penyakit kejang dan keras pada tubuh politik.” Sementara bagi ahli perang dari Prusia, Karl von Clausewitz (1780 – 1831), “perang adalah kelanjutan politik dengan cara lain.”
Ada banyak definisi tentang perang. Setiap definisi memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Tetapi, pada ujungnya adalah seperti dikatakan Paus Fransiskus: perang adalah kekalahan kemanusiaan.
Lalu, apa penyebab perang?” Jawaban pertanyaan itu sebagian besar bergantung pada pandangan filsuf tentang determinisme dan kehendak bebas. Jika tindakan manusia berada di luar kendalinya, maka penyebab perang tidak relevan dan tidak dapat dihindari.
Di sisi lain, jika perang adalah produk pilihan manusia, maka tiga pengelompokan umum penyebab dapat diidentifikasi: biologis, budaya, dan akal (The Philosophy of War).
***
Sambil berbisik, saya ingin bertanya, “Ambassador, mengapa Iran dan Israel berperang?” Lebih tepatnya, “Mengapa AS dan Israel berkoalisi menyerang Iran?” Saya membayangkan dia akan penuh semangat menjelaskan alasannya. Tentu dari sudut pandangnya, yang beda dengan sudut pandang Israel dan AS kalau ditanya.
Namun, pertanyaan tersebut tidak keluar dari mulut saya. Tetap tersimpan dalam hati. Saya tidak mengajukan pertanyaan itu kepada Duta Besar Mohammad Hossein Mokhtari. Kami sedang mengikuti Misa Suci di Basilika Santo Petrus, Vatikan. Waktunya tidak tepat untuk menanyakan hal itu.
Kata Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz serangan terhadap Iran sebagai tindakan “pencegahan” untuk “menghilangkan ancaman terhadap negara Israel.” Tetapi, ia tidak menjelaskan mengapa perlu mengambil tindakan militer saat ini (BBC News, 28/2).
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pada 2 Maret bahwa Washington tahu akan ada tindakan Israel, yang berarti Amerika harus bertindak “pencegahan” dalam menghadapi serangan Iran yang diperkirakan akan terjadi terhadap pasukan AS. Itu jawaban mereka sebagai pembenaran terhadap tindakannya.
Israel dan AS, telah menjadi musuh bebuyutan Iran sejak Revolusi Islam pada tahun 1979. Kepemimpinan Iran secara konsisten menyerukan penghapusan Israel dari peta dunia dan mengecam AS sebagai musuh terbesarnya. Kedua negara telah memimpin oposisi Barat terhadap program nuklir Iran, mengklaim Iran berupaya mengembangkan bom nuklir – sesuatu yang telah dibantah keras oleh Iran.
Maka, mereka menyerang situs nuklir dan militer Iran pada Juni 2025 dalam perang 12 hari. Sejak saat itu, mereka mengklaim Iran telah berupaya membangun kembali program nuklirnya dan mengembangkan rudal yang mampu mengirimkan senjata nuklir. Israel menganggap Iran sebagai ancaman bagi eksistensinya dan menginginkan penghapusan total program nuklir dan rudal Iran, serta perubahan rezim. AS pertama kali secara terbuka berbicara pada bulan Januari tentang kemungkinan menyerang Iran ketika pasukan keamanannya menindak para pengunjuk rasa dengan kekerasan.
Karena diserang, Iran pun tidak tinggal diam. Iran meluncurkan rudal dan drone bersenjata terhadap Israel dan fasilitas militer AS di keenam negara Dewan Kerja Sama Teluk. Selain itu, Iran juga “mengirim” rudal ke Israel. Dan, dari hari ke hari situasi makin buruk. Iran menutup Selat Hormuz, jalur strategis dan penting yang dilalui tanker-tanker pensuplai 20 persen pasokan minyak dunia.
Korban, terutama rakyat sipil di Iran, terus berjatuhan. Menurut Aljazeera (21 Maret 2026) tercatat 1.444 orang termasuk 204 anak di Iran, tewas. Sementara Kementerian Kesehatan Iran menyatakan, lebih dari 1.500 orang tewas. Kantor berita Reuters, hari Minggu (22/3) memberitakan korban tewas sudah lebih dari 2.000 orang; dan lebih dari 150 siswi sekolah.
***

Padahal, kata Maziar Motamedi (Aljazeera, 2023) Iran adalah negara berpenduduk mayoritas Muslim kedua yang mengakui Israel sebagai negara berdaulat menyusul Turki, setelah berdirinya Negara Israel pada Mei 1948. Ketika itu, Iran di bawah Shah Iran, Mohammad Reza Pahlavi, yang jatuh oleh Revolusi 1979, di bawah pimpinan Ayatollah Khomeini.
Shabnam von Hein (DW, 2025) juga mengatakan hal yang sama. Israel menganggap Iran sebagai sekutu melawan negara-negara Arab, ketika itu. Iran menyambut Israel yang didukung AS sebagai penyeimbang negara-negara Arab di kawasan itu.
Keduanya bekerja sama: Israel melatih para ahli pertanian Iran, menyediakan pengetahuan teknis, dan membantu membangun serta melatih angkatan bersenjata Iran. Shah Iran membayar Israel dengan minyak, karena ekonominya yang sedang berkembang membutuhkan bahan bakar.
Mereka berbagi intelijen, berdagang minyak, dan bahkan bekerja sama dalam proyek militer. Bahkan, sejarah dunia juga mencatat Iran adalah salah satu dari 11 anggota komite khusus PBB yang dibentuk pada tahun 1947 untuk merancang solusi bagi Palestina setelah kendali Inggris atas wilayah tersebut berakhir.
Iran adalah salah satu dari tiga negara yang memberikan suara menentang rencana pembagian Palestina oleh PBB, yang berpusat pada kekhawatiran bahwa rencana tersebut akan meningkatkan kekerasan di wilayah tersebut selama beberapa generasi mendatang.
“Iran, bersama India dan Yugoslavia, mengajukan rencana alternatif, solusi federatif yang bertujuan untuk menjaga Palestina sebagai satu negara dengan satu parlemen tetapi dibagi menjadi kantor Arab dan Yahudi,” kata sejarawan Universitas Oxford Eirik Kvindesland kepada Al Jazeera.
Itu adalah kompromi Iran untuk mencoba mempertahankan hubungan positif dengan negara-negara Barat yang pro-Zionis dan gerakan Zionis itu sendiri, dan juga dengan negara-negara tetangga Arab dan Muslimnya.
Hubungan tersebut dibangun atas pertimbangan praktis dan pragmatis. Kedua negara berbagi perhatian yang sama tentang kekuatan Arab di kawasan tersebut.
Bukankah ini berarti, Iran berjasa bagi Israel; Israel berutang budi pada Iran? Demikian juga sebaliknya, Iran menikmati jasa dari Israel? Hubungan antara Yerusalem dan Teheran, sangat menarik: ada saat ketika kedua negara terlibat dalam kerja sama politik, ekonomi, dan keamanan yang beragam; dan pada ketika lain–seperti sekarang ini–sama-sama ingin menghancurkan.
Begitulah, tidak ada kawan dan lawan abadi, yang ada kepentingan abadi. Bila kepentingan berbeda, maka berpisah jalan. Itulah adigium yang berlaku dalam dunia politik. Kata Marcus Tullius Cicero (106 – 43 SM), filsuf Romawi: Hostis aut amicus non est aeternum, commoda sua sunt in aeternum, lawan atau kawan itu tidak ada yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan.
Tapi beda lagi kata Paus Frasiskus dalam ensiklik Fratelli Tutti, “Saudara Sekalian: Marilah kita bermimpi sebagai satu umat manusia, sebagai sesama pengembara yang memiliki raga manusiawi yang sama, sebagai anak-anak dari bumi yang sama yang menjadi tempat tinggal kita semua, masing-masing dengan kekayaan iman dan keyakinannya, masing-masing dengan suaranya sendiri, semuanya saudara dan saudari.
“Perang tidak menyelesaikan masalah,” kata Paus. “Sebaliknya, perang memperbesar masalah dan menyebabkan luka yang dalam. Dalam sejarah masyarakat—luka yang membutuhkan waktu beberapa generasi untuk disembuhkan. Tidak ada kemenangan militer yang dapat menggantikan rasa sakit seorang ibu, ketakutan seorang anak, atau masa depan yang dicuri.”
***

Satu setengah jam kemudian, saya berpisah dengan Duta Besar Iran Mohammad Hossein Mokhtari yang selalu mengenakan sorban atau “dastar” dalam bahasa Persia dan berjubah coklat. Saya memakai setelan teluk belanga hitam dan berkopiah.
Misa telah selesai. “Ite, missa est”, pergilah, misa telah selesai. Kami bersalaman sambil tersenyum. “Sampai ketemu lagi di kesempatan lain,” katanya; dan saya jawab, “Sampai jumpa.”
Beberapa kali kami bertemu di acara resepsi diplomatik, termasuk resepsi diplomatik yang diselenggarakan Kedutaan Iran untuk Takhta Suci, memperingati Revolusi Islam 1979. Tetapi, kami juga tidak ngobrol soal perang. Terakhir saya ngontak Ambassador Mohammad Hossein Mokhtari, setelah Perang 28 Februari 2026, pecah dan tersiar berita bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Hosseini Khamenei, salah satu korban tewas serangan koalisi AS dan Iran.
Perang terus berlanjut. Berkobar. Korban pun terus berjatuhan. Nyawa manusia juga terus melayang…manusia semakin kalah…. Seperti semua perang: perang itu tragis dan bengis. Tetapi, perang juga mencerminkan sesuatu yang lebih dalam tentang siapa kita sebagai manusia. Perang juga memaksa kita untuk menghadapi kebenaran yang tidak nyaman: perang bukanlah penyimpangan sejarah, melainkan ekspresi berulang dari kegagalan manusia ….menjadi manusia seturut ciptaan Allah…

Seandainya mas Dubes bertanya pertanyaan itu ke Dubes Iran. Semakin banyak berandai-andai memang sekarang ini.
Matur nuwun Dab Trias . . .
Gelontoran kata-kata bijak dari berbagai pihak . . .perang adalah kegagalan, kekalahan manusia dan kemanusiaan . . .
Penemuan nuklir yang dijadikan senjata ternyata membuat rasa khawatir manusia dan bangsa. Rasa khawatir itu memicu ancaman kedamaian dan satu bangsa mulai melakukan agresi terhadap yang lain dengan segala kamuflase alasan dan motif yang sebenarnya.Betul sekali ucapan Paus, perang adalah kekalahan humanisme manusia. Semoga para pemimpin bangsa senantiasa mengupayakan kedamaian. Matur nuwun mas Trias atas pencerahannya…salam damai🙏🙏
Mas Trias, Terima kasih sharing nya..
Usul mas…
Bikin buku tentang perang AS+Israel lawan Iran ini…
Pasti jadi pembelajaran bagi generasi yang akan datang…
Salam. Sangat mencerahkan dan menyegarkan gizi pengetahuannya. salam sehat.
Mas Trias, terima kasih.
Trump dan Netanyahu, yang menyerang Iran dan membunuh para pemimpin, lebih-lebih anak-anak dan warga sipil, tampaknya pemimpin yang sedang sakit mental.
Situasi tidak menjadi lebih baik sebaliknya. Hal ini sungguh mengkhawatirkan. Suara paus dan Vatikan juga seperti tidak mereka dengarkan.
Saya makin khawatir pada dampak kehancuran kemanusiaannya terutama warga sipil.
Terima kasih pa Dubes