
Malam itu, menjelang pergantian tahun–dari tahun 2025 ke 2026–kami berada di plaza Colosseum. Bersama demikian banyak warga Roma dan wisatawan, kami ingin merayakan peristiwa bersejarah: pergantian tahun.
Peristiwa bersejarah itu kami rayakan di tempat bersejarah: Colosseum. Colosseum itu jejak sejarah. Colosseo, tracce di storia. Jejak sejarah yang masih tebal. Semua orang yang berada di tempat itu, sedang membuat sejarah; sekurang-kurangnya sejarah hidupnya masing-masing.
Begitulah. Colosseum yang kita potret, dipotret jutaan orang, adalah jejak sejarah yang tidak menipu. Colosseum tidak bisa dipalsukan. Kisahnya, mungkin, bisa dipalsukan. Tapi, tidak demikian dengan ujudnya. David Rawlings (2019) dalam bukunya The Camera Never Lies, menulis, “No matter what you think you might see, the camera never lies.”
Colosseum, jejak sejarah bangsa Romawi: Dinasti Flavian. Nama ini, Colosseum, digunakan sejak Abad Pertengahan untuk menyebut Amphitheatrum Flavium atau Flavian’s Amphitheatre. Disebut Amphiteater Flavian, karena yang membangun adalah keluarga Wangsa Flavian.
Keith Hopkins dan Mary Beard (2005) menulis, Colosseum, amfiteater raksasa di Roma, mulai dibangun pada tahun 72 M. Yang mengawali adalah Kaisar Vespasian (berkuasa, 69 – 79), pendiri Dinasti Flavian. Dan diselesaikan serta diresmikan putranya, Kaisar Titus (berkuasa, 79 – 81), pada tahun 80 M. Lalu, Kaisar Domitian menambah empat tingkat.
Tujuan pembangunan Colosseum adalah untuk kepentingan politik: untuk memulihkan kepercayaan rakyat kepada penguasa! Karena, ketika itu terjadi krisis kepercayaan rakyat pada penguasa Roma.
***

Adalah Kaisar Nero (Nero Claudius Caesar Augustus Germanicus) yang mula-mula mengkhianati kepercayaan rakyat. Nero, kaisar kelima dari dinasti pertama Roma, Julio-Claudians, yang didirikan oleh Augustus (anak angkat Julius Caesar). Ia mulai berkuasa ketika berusia 16 tahun, mulai 54 – 68 dan dikenal sebagai kaisar yang kejam, pembunuh, dan mementingkan diri sendiri, megalomania.
Dalam britishmuseum.org (juga The Collector, EBSCO Research) ditulis, Nero membunuh saudara tirinya Britannicus; membunuh ibunya, Agrippina “the Younger”. Menurut sejarawan Romawi Suetonius, Tacitus, dan Cassius Dio, Nero membunuh istri keduanya, Poppea Sabina yang saat itu tengah mengandung dengan menendang perutnya.
Nero membawa Roma ke ambang kehancuran, karena, ia mengejar kesenangan pribadi. Nero juga menganiaya orang Kristen dengan sangat kejam sehingga ia dijuluki dengan nama lain yang lebih dibenci, yaitu Antikristus.
Masa pemerintahan Nero ditandai dengan berbagai bencana dan pergolakan. Di antaranya adalah Konspirasi Piso, yang bertujuan untuk membunuh Nero. Konspirasi ini, gagal. Setidaknya 19 senator dan pemimpin lainnya terlibat dalam konspirasi ini. Kegagalan itu berujung pada eksekusi 41 orang. Setelah itu, Nero menjadi paranoid dan tidak mempercayai orang lain.
Muncul pula pemberontakan Boudicca di Britania. Pemberontakan ini, gagal. Selain itu, juga terjadi banyak pemberontakan di provinsi-provinsi terdekat termasuk di Gaul–sekarang adalah Perancis, Belgia, Luksembourg, dan bagian wilayah Swiss, Jerman, dan Italia Utara– dan Yudea–wilayah Israel dan Tepi Barat (rome.us).
Setelah kebakaran Roma (64), Nero justru membangun Domus Aurea (Istana Emas) di Bukit Palatine, tidak membangun permukiman bagi rakyatnya yang rumahnya jadi abu. Ia mementingkan dirinya sendiri: membangun istana emas besar dan membuat danau yang luas. Nero mengambil tanah dari publik untuk pembangunan itu.
Untuk membiayai pembangunan itu, Nero menaikkan pajak. Memang, setelah pembangunan selesai, Roma jadi lebih indah, jalan-jalan lebih lebar, muncul bangunan-bangunan baru yang menggunakan bata merah, dan bangunan-bangunan indah dengan tiang-tiang bulat (colonnades). Tapi, semua diwujudkan dengan menindas rakyatnya karena pajak tinggi dan tanah mereka diambil. Maka, sekutu-sekutunya pun, meninggalkannya.
Melihat semua itu, terbayang di benaknya akan kehilangan kekuasaan, dan nasibnya pun bisa sangat buruk: dibunuh. Maka, Kaisar yang sama sekali tidak siap untuk tugas berat memerintah Kekaisaran Romawi itu, memilih bunuh diri, dari pada mempertanggung-jawabkan apa yang sudah ia lakukan.
***

Kematian Nero menimbulkan pergolakan politik di Roma; terjadi perebutan kekuasaan antar-penguasa dan Senat memainkan peran penting. Empat jenderal berebut kursi kekuasaan: Servio Galba Cesare Augusto (jenderal yang jadi gubernur di Spanyol), Marcus Salvius Otho (jenderal, gubernur Lusitania), Aulus Vitellius (jenderal di Jerman), dan Vaspian (jenderal, gubernur Yudea).
Masa ini yang disebut “Year of the Four Emperors.” Sebutan ini merujuk pada periode penuh gejolak pada tahun 69 M, setelah kematian Kaisar Nero, yang ditandai dengan perubahan kepemimpinan yang cepat di tengah perselisihan sipil di Kekaisaran Romawi.
Galba yang pertama berkuasa. Tapi, ia hanya berkuasa 7 bulan ( 8 Juni 68 hingga 15 Januari 69). Galba dibunuh Marcus Salvius Otho. Namun, Otho hanya berkuasa tiga bulan (15 Januari – 16 April 69), disingkirkan Aulus Vitellius. Nasib Vitellius tidak berbeda dengan dua pendahulunya. Ia hanya mampu bertahan di kursi kekuasaanya selama delapan bulan (19 April – 20 Desember 69). Karena, disingkirkan Vaspasian yang mendapat dukungan legiun Romawi di wilayah Timur.
Akibat perang saudara itu, rakyat semakin sengsara. Di mana-mana dari dulu hingga kini, kalau terjadi krisis politik, perebutan kekuasaan, rakyat lah yang jadi korban, sengsara. Pada masa itu, kepercayaan rakyat pada penguasa makin hilang, yang sudah dimulai sejak Nero.
Rakyat berharap penguasa baru, setelah Nero akan memperhatikan kepentingan rakyat, peduli pada rakyat, kembali pada rakyat. Tapi, kenyataannya, tidak. Mereka malah berebut kekuasaan dan tidak mempedulikan rakyat sama sekali.
Vespasian lah yang mengakhiri krisis itu.
***

Naiknya Vaspasian menjadi kaisar menandai awal babak baru. Target utamanya: memulihkan stabilitas kekuasaan dan merebut kembali kepercayaan rakyat, mengambil hati rakyat.
Vespasian lalu membangun kembali pusat upacara Roma, untuk menorehkan identitasnya sendiri pada kota itu dan menghapus ingatan akan Nero. Zaman Nero sudah berlalu. Ia membangun kembali Kuil Yupiter dan membangun Kuil ‘Perdamaian’ baru yang luas, sebuah perayaan atas keberhasilan militer Roma sekaligus misi peradabannya.
Lalu, Vespasian mengubah taman dan danau buatan Nero, di sebelah Timur istana, menjadi tempat hiburan publik. Di tempat bekas danau itu dibangun Amphitheatrum yang nantinya disebut Colosseum. Vespasian membangun Colosseum untuk menghapus ingatan akan Nero, sekaligus merebut kesetiaan rakyat dan membangun popularitas diri. Dengan membangun Colosseum, Vespasian ingin menunjukkan bahwa peduli pada rakyat, tidak mengumbar kesenangan diri sendiri. Dan, dengan cara ini, ia menegakkan kembali kejayaan Roma.
Colosseum berada tepat di sebelah timur Bukit Palatine, tempa Domus Aurea berdiri. Untuk membangum Colosseum itu (panjang, 189 meter, lebar 156 meter, dan tinggi, 50 meter) Vespasian mempekerjakan sekitar 60.000 budak Yahudi yang dibawa dari Yerusalem setelah perang Yahudi-Romawi pertama (66 – 73 M).
Para budak itu ditugaskan untuk menyeret batu-batu travertin dari Tivoli, 30 km timur Roma, ke Roma. Pekerjaan lanjutannya dilakukan oleh para pekerja terampil Romawi yang profesional yang terdiri dari seniman, insinyur, arsitek, dan dekorator.
Setelah jadi, Colosseum yang mampu menampung 80.0000 orang itu menjadi pusat hiburan rakyat. Di tempat ini, rakyat menonton pertarungan para gladiator, kontes antara manusia dan hewan, dan banyak pertempuran yang lebih besar, termasuk simulasi pertempuran laut. Menurut cerita di suatu masa, di tempat itu, orang Kristen diadu dengan binatang buas.
***
Pembangunan Colosseum ini adalah sebuah keputusan yang bersifat simbolis sekaligus praktis. Koloseum tidak sekadar tempat olahraga. Tapi, teater politik di mana setiap lapisan masyarakat Romawi memainkan perannya masing-masing.
Kaisar paling menyadari bahwa dirinya adalah kaisar ketika disambut dengan sorak sorai meriah dari kerumunan rakyat yang antusias, yang tergoda oleh prospek kematian yang kejam—baik hewan maupun manusia—oleh hadiah-hadiah yang kadang-kadang diberikan kaisar kepada para penonton, dan oleh kegembiraan semata karena berada di sana.
Para elite Romawi di kursi depan akan memamerkan status mereka, mengangguk kepada teman-teman mereka: ini pastilah tempat di mana kontrak bisnis, promosi, aliansi, dan pernikahan pertama kali disebutkan atau ditindaklanjuti. Kerumunan massa rakyat, yang biasanya bersyukur dan patuh, terkadang berteriak-teriak agar pertarungan diakhiri atau pertunjukan dilanjutkan.
Menurut Keith Hopkins & Mary Beard, berada di sana atau terlihat berada di sana, di Colosseum dan mengamati orang lain merupakan bagian penting dari kehidupan politik Romawi. Oleh karena itu, bangunan ini memiliki status ikonik bagi orang Romawi
Dengan cara itu, Vespasian, merancang pembangunan Colosseum sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap pemerintahan Roma dan meningkatkan popularitas dinastinya.
Colosseum adalah sebuah gestur politik yang megah. Pendek kata Colosseum adalah wujud dari propaganda politik, pusat hiburan rakyat, penegasan legitimasi dinasti, pendorong semangat publik, dan simbol kekuatan Romawi. Maka, pada akhirnya dibangun 250 amphiteater (Colosseum) di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi.
Dari sinilah, seorang penyair Romawi Decimus Junius Juvenal (55 – 127 M), menulis Give them bread and circuses (Panem et circences) and they will never revolt. Juvenal berpendapat bahwa warga Roma merasa puas membiarkan orang lain memerintah mereka selama mereka diberi makanan gratis (Annona, atau “pembagian gandum”) dan hiburan publik (seperti balap kereta kuda dan pertarungan gladiator). Rakyat yang tenang dan teralihkan perhatiannya jauh lebih mudah dikendalikan—dan lebih kecil kemungkinannya untuk memberontak.
Kata Joseph P Adam (2025) “Program Annona” ini sudah dilakukan bahkan sejak Kaisar Augustus (63 SM – 14 M) yang mulai berkuasa sejak Julius Caesar dibunuh (44 SM) hingga Kaisar Trajan (berkuasa, 98 – 117), sehingga terciptalah Pax Romana (Perdamaian Roma). Yakni, terciptanya keadaan aman tentram, stabil di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi. Kaisar Tiberius mengartikan Annona sebagai tanggung jawab kaisar—suatu tugas yang, jika diabaikan, “akan menjerumuskan negara ke dalam kehancuran total.”
Tentu saja, saat ini, frasa “Panem et circences”, “roti dan sirkus” tidak lagi diartikan atau diwujudkan seharfiah itu. Zaman sudah berubah. Ada banyak cara untuk mengalihkan perhatian, atau menenangkan rakyat agar tidak fokus pada masalah yang lebih besar. Dan, panem et circences pun bentuknya macam-macam, tidak seperti zaman Romawi lagi.
Ketika malam itu, berada sekitar Colosseum, cerita panem et circences itu, hidup lagi. Suasana di sekitar Colosseum ramai, riuh-rendah, sorak-sorai, terdengar ledakan mercon beragam ukuran yang benar-benar menendang-nendang gendang telinga, sementara langit berwarna-warni karena kembang api. Semua itu panem et circences.
Di tengah gemerlap, pijaran sinar kembang api dan ledakan mercon, Colosseum tetap diam, menyimpan cerita lamanya tentang panem et circences.…Colosseo, Tracce di Storia. ***
Foto-foto lain:











