Lebih dari 2.000 tahun silam, 15 Maret 44 SM, Gaius Julius Caesar, seorang jenderal Romawi yang prestasinya gemilang di medan perang, negarawan yang kemudian menjadi Panglima Tertinggi Republik Romawi, Pontifex Maximus (Imam Agung), dibunuh. Caesar dibunuh di sebuah aula pertemuan yang bersebelahan dengan Teater Pompey, oleh sekelompok Senator, dan disaksikan 200 Senator lainnya, 10 tribunes, para budak, dan sekretatis.
Inilah pembunuhan seorang tokoh besar politik zaman Romawi yang bisa dikatakan sebagai episode paling besar dalam sejarah politik. Pembunuhan Caesar (100 – 44 SM) mengakhiri Republik Romawi; dan menjadi pintu masuk lahir dan berdirinya Kekaisaran Romawi, yang tidak diinginkan para pembunuh.
Meskipun pembunuhan itu sudah terjadi lebih 2.000 tahun silam, tetapi, hingga kini tetap menjadi bahan studi, diskusi, dan perdebatan para sejarawan dan ahli politik. Pertanyaan utamanya: Apakah pembunuhan itu murni karena alasan politik? Atau, ada alasan lainnya: dendam pribadi, vested interest, misalnya? Sebab, dendam pribadi, vested interest bila sudah bertemu dan berkongsi dengan kepentingan politik, biasanya, membahayakan.
Itulah sebabnya, muncul berbagai teori, beragam pendapat dari para sejarawan. Pembunuhan itu adalah sebuah konspirasi politik. Begitu salah satu pendapat. Lalu, disebutlah para konspirator yang berjumlah 60-an orang Senator. Para sejarawan juga menyebut tokoh besarnya: Marcus Junius Brutus, Gaius Cassius Longinus, Gaius Trebonius, seorang praetorian yang berperang bersama Caesar di Spanyol; Decimus Junius Brutus Albinus, gubernur Gaul.
***

Buku-buku tentang Julius Caesar mengisahkan peristiwa itu demikian: Pada tanggal 15 Maret 44 SM, di sebuah aula pertemuan yang bersebelahan dengan Teater Pompey, Senat Romawi menantikan kedatangan Panglima Tertinggi Republik, Julius Caesar. Ini sidang penting. Meskipun sebagian besar belum tahu apa yang akan disampaikan Panglima Tertinggi. Tetapi, sejumlah Senator, sepenuhnya menyadari apa yang akan terjadi.
Para Senator yang sudah tahu apa yang akan terjadi, berdiri di ruangan sambil terus berusaha mempertahankan sikap tenang dan santai, agar tidak menimbulkan kecurigaan. Di balik toga mereka terselip belati.
Akhirnya, yang ditunggu datang. Julius Caesar memasuki ruangan. Jenderal dan negarawan ini sangat berwibawa dan mengesankan. Aura kepemimpinan yang datang dari puncak kekuasaannya, sangat terasa. Ia melangkah cepat menuju tempat duduk kehormatan yang disediakan untuknya.
Begitu duduk, menurut sejarawan Romawi, penulis biografi sekaligus imam di Kuil Apollo di Delphi, Plutarch (hidup sebelum tahun 50 – 120 M), seorang senator mendekati Caesar: Lucius Tillius Cimber. Ia berpura-pura mengajukan permohonan pribadi atas nama seorang kerabat. Tak lama kemudian datang sekelompok orang lain yang berkerumun di sekitar kursi Caesar.
Tetapi, tiba-tiba Lucius meraih toga ungu Caesar dan menariknya. Ia berusaha menusuk leher Caesar, namun Sang Pemimpin berhasil menghindar. Lalu ada yang memberi isyarat untuk menyerangnya. Publius Servilius Casca menjadi orang pertama yang berhasil menusuknya.
Dan kawan-kawannya–yang akhirnya diketahui berjumlah 60 Senator–mengeroyok Caesar. Menurut sejarawan Yunani, Appianus Alexandrinus; 95 – 165 M), saat itu Caesar terkepung. Para penyerang seperti binatang buas. Meskipun mereka itu “orang-orang sangat terhormat”: Senator. Ini membenarkan ujar-ujaran kuno: demi kekuasaan orang bisa menjadi buas melebihi binatang.
Ketika ia melihat bahwa Brutus juga menghunus belatinya, Plutarch menceritakan bahwa Caesar hanya menutupi kepalanya dengan toganya dan jatuh ke tanah. Meskipun Gaius Suetonius Tranquillus (69 – 122 M), seorang sejarawan Romawi mencatat bahwa Caesar meninggal “tanpa mengucapkan sepatah kata pun,” tetapi kata Suetonius beberapa orang, menulis Caesar kepada Brutus mengatakan dalam bahasa Yunani: Kai su, teknon, “Kau juga, anakku?”
Ucapan, “Kai su, teknon,” inilah yang kemudian akan disajikan Shakespeare dalam bahasa Latin sebagai Et tu, Brute, Engkau juga Brutus. Caesar tewas karena 23 kali tusukan. Ia mati berlumuran darah, tergeletak di bawah kaki patung Pompey–sahabat yang lalu menjadi musuhnya.
Dari dahulu sudah terjadi bahwa dalam politik, dalam soal kekuasaan, berlaku dalil tidak ada kawan atau lawan yang abadi. Yang kemarin musuh sekarang kawan, yang kemarin kawan menjadi lawan. Begitulah watak politik kekuasaan, tidak ada kawan dan lawan yang abadi. Ini beda dengan politik kemanusiaan yang lebih menekankan pada bonum commune, kemaslahatan bersama.
Kisah perjalanan Caesar meniti tangga kekuasaan juga menegaskan watak politik kekuasaan itu. Sebelum menjadi penguasa tunggal, Julius Caesar, bersama Gnaeus Pompeius (Pompey) Magnus, dan Marcus Licinius Crassus, membangun koalisi. Inilah Triumvirat Pertama (akhir 60 – 53 SM). Secara literer triumvirate berarti pemerintahan tiga orang atau tres viri.
Vendran Bileta (The Collector, 5 Mei 2024) menjelaskan, Triumvirat Pertama adalah aliansi politik informal namun berpengaruh selama dekade terakhir Republik Romawi. Tujuan utamanya adalah untuk membantu anggotanya mengatasi oposisi di Senat dan berbagi kekuasaan di antara mereka sendiri. Tapi sejarawan Romawi, Titus Livy (59 SM – 17 M) menggambarkan Triumvirat Pertama sebagai “sebuah konspirasi melawan negara oleh tiga warganegaranya yang terkemuka.”
Padahal menurut Ivana Tucak dalam From Compromise to Envy: The Rise and Fall of the First Triumvirate (2021), ketiga tokoh itu tidak memiliki keyakinan dan nilai politik yang sama. Mereka semua bergabung dalam aliansi demi kepentingan pribadi masing-masing. Meskipun Caesar, Pompeius, dan Crassus memiliki keyakinan yang berbeda, mereka memiliki tujuan bersama – untuk menghentikan dominasi politik Senat. Mereka saling mendukung, dan dukungan itulah yang menjadi pilar terkuat kekuasaan mereka.
Tapi kata Marcus Terentius Varro (116 SM – 27 SM)–-Varro adalah cendekiawan terbesar Roma, seorang satiris terkemuka, berpengetahuan luas, dan penulis yang produktif (Encyclopaedia Britannica)–-Caesar, Pompeius, dan Crassus adalah Tricaranus atau “monster berkepala tiga”.
Caesar canggih, pandai dalam berpolitik dan sangat populer, dicintai rakyat Roma; kekuatan politik Pompey didasarkan pada popularitasnya sebagai komandan militer; dan Crassus memiliki kekayaan. Jadi kekuatan dukungan rakyat, militer, dan kekayaan menjadi satu.
Ketiga orang itu menggunakan pengaruh dan sumber daya gabungan mereka untuk saling mendukung agenda politik masing-masing, secara efektif melewati hambatan konstitusional. Misalnya, Senat yang dipimpin oleh tokoh- tokoh konservatif seperti “Cato the Younger” (Cato Muda) memblokir usulan-usulan penting dari ketiga tokoh tersebut. Hal itu mendorong mereka untuk bersatu guna mencapai tujuan mereka. Meskipun Triumvirat Pertama bukanlah lembaga resmi, aliansi ini secara signifikan memengaruhi politik Romawi hingga pembubarannya setelah kematian Crassus pada tahun 53 SM.
Namun, pada akhirnya nafsu akan kekuasaan menghancurkan “kebersatuan” mereka. Sebab kebersatuan mereka adalah semu. Masing- masing ingin menjadi yang paling (berkuasa dan dominan). Maka jalan satu-satunya adalah berusaha saling menyingkirkan, apa pun cara dan jalannya. Mereka angkat senjata; saling berperang. Dan, Caesar menjadi pemenang.
Sementara, Brutus anak gundiknya, adalah salah satu pengikut Pompey. Namun, diampuni Caesar. Walau pada akhirnya berkomplot dengan para Senator lain, menyingkirkan Caesar. Demikian juga Gaius Cassius Longinus, sebelumnya adalah pendukung Pompey, yang setelah Pompey kalah dan mati, diampuni Caesar. Begitulah politik.
***

Tetapi, mengapa mereka–para Senator yang tergabung dalam kelompok “Liberators” – membunuh Julius Caesar? Bukankah Caesar, seperti ditulis oleh Michael Parenti (The Assassination of Julius Caesar, A People’s History of Ancient Rome, 2023), seorang popularis. Julius Caesar memperkenalkan “hukum untuk memperbaiki kondisi kaum miskin”, misalnya. Selama masa jabatan konsul terakhirnya, 46–44 SM, Caesar membangun pemukiman baru untuk para veteran tentaranya dan untuk 80.000 rakyat jelata Rom.
Caesar juga membagikan beberapa bidang tanah terbaik di sekitar Capua dan tempat lain kepada 20.000 keluarga miskin yang memiliki tiga anak atau lebih. Plutarch menulis bahwa hukum reformasi Caesar “menetapkan bahwa hampir seluruh Campania dibagi di antara kaum miskin dan yang membutuhkan.”
Caesar meningkatkan bea masuk impor barang mewah untuk mendorong produksi dalam negeri Italia dan membuat orang kaya membayar ke kas negara untuk gaya hidup mewah mereka. Caesar memberikan kewarganegaraan kepada semua tenaga medis dan profesor ilmu pengetahuan humaniora agar mereka tinggal di Roma. Ia berupaya menyediakan “perpustakaan umum sebaik mungkin.”
Tetapi, menurut para sejarawan kuno dan moderen, para pembunuh bermaksud untuk memulihkan kebebasan republik dengan menyingkirkan seorang perampas kekuasaan yang despotik. Menurut Michael Parenti pendapat tersebut membenarkan alasan para pembunuh yang menganggap Caesar ingin menjadi raja daripada pejabat publik; melanggar dan memanipulasi hukum; dan menentang rakyat mereka sendiri. Maka, muncul sekelompok senator yang menyebut diri mereka “Liberators” dan mulai mengajukan resolusi bayangan.
Apakah Caesar ingin jadi raja? Kata sejarawan Romawi Suetonius, yang menulis 150 tahun setelah Caesar dibunuh, kekhawatiran para Senator mungkin keliru. Sebab, ketika hari pembunuhan itu makin dekat, kerumunan orang meneriakkan kepadanya, rex (“raja”), yang dijawab Caesar, “Saya Caesar, bukan rex.”
Kata “Caesar” semula adalah nama keluarga dari Wangsa Julian di Roma, yang diangkat menjadi gelar setelah Caius Julius Caesar (100 SM-44 SM) menjadi diktator. Gelar ini, Caesar, digunakan sebagai gelar kaisar hingga Hadrian (138 M). Dalam perkembangannya kata “caesar” berarti kaisar, penguasa, diktator, kaiser (Jerman), dan tzar (Rusia).
Sementara para aristokrat Senat mendukung pembunuhan itu karena mereka menganggap Caesar sebagai pemimpin populer yang mengancam kepentingan istimewa mereka. Ini merupakan ungkapan pertarungan antara kaum konservatif yang kaya dan para reformis yang didukung rakyat, yang masih terjadi hingga saat ini di banyak negara.
Pendapat para aristokrat itu dibenarkan oleh Jeffrey Allen Thompson dalam “Sic Semper Tyrannis: Justification of Caesar’s Assassination” (2009). Kata Jeffrey Allen, Caesar melanggar aturan utama politik Romawi: tidak boleh terlihat ingin memerintah dan tidak ingin memerintah sendirian. Pelanggaran terhadap cita-cita Romawi ini berarti bahwa– terlepas dari motif para konspirator seperti Brutus dan Cassius–pembunuhan Caesar dapat dibenarkan.
Sementara menurut Michael Parenti, pembunuhan Caesar tidak dibenarkan karena para konspirator hanya berusaha untuk mempertahankan kekuasaan kaum Patrician. Parenti meneliti pembunuhan Caesar dalam konteks sejarah sosial, atau sejarah rakyat. Ia berpendapat bahwa Senat terdiri dari kaum aristokrat yang haus kekuasaan yang akan melakukan apa pun untuk mencegah kelas bawah mendapatkan kekuasaan.
Kata Parenti, dalam ucapan dan tindakan, orang-orang Romawi yang kaya terang-terangan membenci rakyat jelata dan siapa pun yang melanggar hak istimewa kelas mereka. Para oligarki Roma terbenam dalam kemewahan dan kekayaan. Mereka tidak ramah terhadap unsur demokrasi Roma. Mereka menghargai Republik hanya selama Republik melayani cara hidup mereka. Mereka menganggap para pemimpin yang berdedikasi, yang memperjuangkan kepentingan rakyat sebagai “demagog” dan “perebut kekuasaan”.
***

Apakah pembunuhan itu benar-benar dilatari kepentingan politik semata? Andrew Glass (Politico, 2016) berpendapat, kecemburuan pribadi juga ikut berperan. Epstein, D. F., Caesar’s Personal Enemies on the Ides of March (1987) pun berpendapat serupa. Katanya, ada juga bukti yang menunjukkan bahwa beberapa konspirator memiliki dendam pribadi terhadap Julius Caesar. Brutus, misalnya, memiliki alasan untuk membenci Caesar karena Caesar tidur dengan ibunya, Servilia, yang menyebabkan rumor yang terus beredar bahwa Brutus adalah putra Caesar.
Menurut Suetonius, Brutus memukul selangkangan Caesar. Mungkin sebagai ungkapan kebenciannya pada Caesar yang menjadikan ibunya Servilia Caepionis (100 – 42 SM) sebagai gundiknya. Kata Plutarch, Brutus adalah anak hasil hubungan tak sahnya dengan Servilia, perempuan dari keluarga bangsawan. Ketika menjalin affairs dengan Servilia, Caesar baru berusia 15 tahun. Banyak sejarawan yang sependapat dengan Plutarch: Brutus anak ideologis Caesar
Cassius Longinus, tokoh konspirator lainnya, menurut cerita pernah dihina Caesar. Ia sakit hati. Ada banyak kisah lain tentang perlakuan buruk pribadi, bersama dengan banyak kisah lain yang pada akhirnya menunjukkan bahwa pembunuhan Julius Caesar juga dapat dianggap sebagai urusan pribadi maupun publik.
Oleh karena itu, kata Ella Wakefield (penelope.uchicago.edu) tidak hanya ada satu alasan yang memicu konspirasi senatorial untuk membunuh Julius Caesar, tetapi banyak faktor yang saling terkait untuk menghasilkan badai kebencian yang sempurna. Aspirasi Caesar yang dianggap sebagai raja memanfaatkan ketakutan mendalam orang Romawi terhadap monarki dan memberikan dasar moral yang cukup serta alasan publik untuk pembunuhan tersebut.
Unsur dendam pribadi bagi beberapa senator, mengingat ketidakpedulian Caesar yang agak gegabah terhadap harta benda atau reputasi pribadi, juga mengipasi api konspirasi. Secara lebih praktis, pengabaian Caesar yang semakin meningkat terhadap sistem politik Republik dalam posisinya sebagai dictator in perpetuum,
diktator abadi dan perubahan konstitusional seperti perluasan kekuasaan hakim melemahkan kekuasaan dan identitas aristokrasi dan kemungkinan besar menjadi penyebab utama kemarahan mereka yang berujung pada pembunuhan.
Republik Romawi adalah sebuah oligarki semu yang didominasi oleh orang kaya dan berpengaruh. Caesar memang mengancam basis kekuasaan tradisional ini dengan harapannya untuk mendominasinya. Ia dianggap melanggar cita-cita Romawi tentang Republik, meskipun cita-cita tersebut bukanlah seperti yang diyakini oleh sejarawan modern. Oleh karena itu, Caesar harus dihabisi.
Meskipun, pembunuhan Caesar mengakhiri tidak hanya hidup Julius Caesar, tetapi juga mengakhiri Republik Romawi. Pembunuhan itu juga menandai titik balik dalam sejarah Roma; memicu perang saudara, mengakhiri demokrasi yang pernah ada, dan mengantarkan pemerintahan absolut yang akan berkuasa di Eropa Barat selama berabad-abad mendatang.
***

Terlepas dari perspektif yang diambil oleh para sejarawan, isu pembunuhan Caesar telah diselimuti kabut sebagian karena pentingnya peristiwa tersebut dalam budaya dan sejarah Barat. Drama Julius Caesar karya Shakespeare menggambarkan Julius Caesar dan ahli waris angkatnya, Octavius, sebagai pemimpin mulia dalam perjuangan melawan Brutus dan Cassius yang jahat.
Brutus dalam karya Shakespeare adalah seorang pria dengan dilematis, terpecah antara persahabatannya dengan Caesar dan kecintaannya pada Republik. “Tetapi Brutus yang sebenarnya bukanlah teman baik Caesar,” kata Barry Strauss penulis The Death of Caesar. “Dia memang mencintai Republik, tetapi dia juga mencintai dirinya sendiri dan kariernya. Dia melihat hal itu terhambat oleh Caesar, dan itulah salah satu hal yang memotivasinya.”
Kisah Caesar memberikan pelajaran yang informatif, meskipun mengerikan, untuk zaman modern. Pertanyaan akhirnya, dari kisah pembunuhan Julius Caesar, adalah bagaimana menjadi seorang reformis tanpa menjadi seorang tiran….***


Matur nuwun Dab Trias . . . . .
Deskripsi awal Masehi yang obyektif . . . . opini dari berbagai pihak . . . . sungguh ulasan yang kaya dan menambah kekayaan pengetahuan bagi pembaca . . .
Makasih mas Trias atas tulisan yang apik dan cerdas… mengantar kita pada permenungan peristiwa dan tokoh nyata yang ada saat ini. Juga berkaca diri….
Mas Trias, tulisan yang amat informatif dan menarik. Terbunuhnya Caesar ternyata tersembunyi berbagai intrik politik, kepentingan kelompok oligarki, haus kekuasaan dan juga dendam pribadi. Pertanyaan pada bagian penutup merupakan salah satu wisdom yang penting, bagaimana menjadi seorang reformis tanpa menjadi seorang tiran.
Menurut filsuf kssil Yunani, Platp, pemimpin adalah pemikir. Dengan pemikirannya itulah ia memimpin bangsanya. Jadi samasekali bukan pemikir adalah penguasa. Jika demikian, ia akan cenderung menggunakan kekuasaannya, jabatannya, tentaranya untuk memerangi rakyatnya sendiri
Akibatnya, timbul pemberontakan, konflik yang diselesaikan dengan krkerasan militer, pengkhianatan serta pembunuhan
Itulah nasehat lama yang terus berulang jika pemimpin adalah penguasa.
Tulisan dan analisis yang tajam — sangat mencerahkan dari tulisan Pandito ias. Mencerahkan dan berguna utk mempertajam wawasan berfikir kritis dan radikal. Tks salam.