
Mengapa kereta api ini diberi nama Taksaka? Pertanyaan itu mengusikku ketika keluar dari gerbong nomor empat Kereta Api Taksaka di Stasiun Tugu, Yogyakarta, beberapa hari lalu. Bukankah “taksaka” berarti ular dalam bahasa sansekerta.
Ada banyak cerita, kisah, mitos tentang ular. Dalam bahasa Indonesia ada umpatan, “dasar ular.” Ini adalah sebuah umpatan atau cercaan kiasan yang ditujukan kepada seseorang yang dianggap licik, suka menipu, bermuka dua, atau berbahaya. Ungkapan ini menyamakan sifat buruk manusia dengan karakteristik ular yang mematikan dan suka menyergap secara diam-diam. Dasar ular!!
Dalam Alkitab, misalnya, ada frasa “keturunan ular beludak.” Sebutan ini digunakan sebagai metafora kecaman yang tajam. “Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat.” (Mat. 12:34-35)
Orang jahat itu bagaikan ular berbisa yang sangat menakutkan. Ketika mereka melakukan kejahatan, maka orang-orang akan terluka. Salah satu perbuatan jahat yang mereka lakukan adalah menggunakan mulut mereka untuk menimbulkan kebencian dan perseteruan sehingga semua orang tidak merasakan damai. Mereka membuat dusta, kepalsuan, memutarbalikkan kebenaran, dan menghakimi orang lain dengan niat jahat.
Yang disebut sebagai “keturunan ular beludak” adalah ahli Taurat, orang Farisi, dan orang-orang munafik. Mereka memiliki hati yang jahat, serta menolak kebenaran Allah.
Orang-orang Farisi lebih menekankan aturan luar dan upacara keagamaan secara berlebihan serta demonstratif. Tetapi, mereka mengabaikan kasih, kejujuran, dan keadilan. Mereka merasa paling benar dan paling suci, dibanding orang lain. Kata “Farisi” berasal dari bahasa Ibrani, perushim yang berarti “orang-orang yang terpisah.” (Encyclopaedia Britannica)
Ular beludak adalah jenis ular sangat berbisa dari keluarga Viperidae yang memiliki taring panjang. Jenis ular ini–ular beludak–ada ratusan spesies yang tersebar di berbagai benua. Dikenal karena bisanya yang kuat, taring yang dapat dilipat, dan serangan yang mematikan, keluarga ular viper telah berevolusi untuk dapat bertahan hidup di beragam lingkungan.
Mereka hidup di beragam habitat, mulai dari hutan hujan hingga gurun yang kering. Jenis ular ini beradaptasi dengan baik di lingkungan hutan hujan. Mereka memanfaatkan kemampuan kamuflase untuk membaur dengan hamparan serasah daun sembari menunggu mangsa yang tidak curiga melintas (animals.howstuffworks.com)
Lewat mulutnya, mereka menebar kematian. Secara kiasan, istilah ini sering dipakai untuk menyebut orang jahat, licik, atau munafik, lihai dan penuh tipu muslihat. Orang seperti itu bagaikan ular beludak.
***

Sebagai simbol mitologis, ular merupakan arketipe yang umum dijumpai dalam berbagai budaya di seluruh dunia, yang melambangkan beragam makna mulai dari kebijaksanaan dan kesuburan hingga kejahatan dan kekacauan.
Dalam bahasa Inggris ada kata “snake” dan “serpent”, yang keduanya menunjuk pada reptil yang berbadan panjang dan tak bertulang. Kata “snake” berakar dari bahasa Germanic, sedangkan kata “serpent” dari bahasa Latin yang berarti “ular” atau “makhluk melata.”
Kisah ular mengakar kuat dalam mitologi manusia sejak zaman dahulu. Dalam banyak tradisi, ular melambangkan dualitas. Misalnya, dalam mitologi Mesir, ular dapat melambangkan perlindungan ilahi sekaligus kekacauan, sementara dalam kepercayaan Yahudi-Kristen, ular melambangkan godaan dan dosa, sebagaimana terlihat dalam kisah Kitab Kejadian.
Tetapi, ular juga muncul sebagai sosok ilahi dalam budaya seperti Hindu. Ular besar, “naga” dipuja sebagai makhluk suci, dan dalam mitologi Tiongkok, naga melambangkan kebijaksanaan serta perlindungan. Yang menarik, ouroboros—sosok ular yang memakan ekornya sendiri—melambangkan siklus abadi kehidupan dan kematian. Dalam mitologi Nordik, ular dunia Jörmungandr melingkari Bumi dan diramalkan akan memainkan peran krusial dalam peristiwa kiamat Ragnarök.
***

Dalam The Power of Snakes diceritakan, di daerah pedesaan Jerman, misalnya, terdapat kepercayaan bahwa ular tercipta dari rambut wanita yang sedang haid yang dikubur di tanah. Suku Tchokwe di Angola percaya bahwa menempatkan ular kayu di ranjang pengantin dapat menjamin kesuburan istri. Sementara suku Tupi-Guarani di Brasil memukulkan kulit ular ke bokong istri mereka untuk kesuburan.
Karena itu, ular dianggap sebagai hewan sakral dalam banyak budaya. Ular menjadi simbol kefanaan karena pembaruan kulit (mrungsungi–Jawa) mereka yang bersifat siklis. Mereka juga dianggap sebagai entitas perantara antara makhluk-makhluk dunia bawah dan makhluk-makhluk surgawi.
Dalam budaya China, ular disebut sebagai naga surgawi yang melambangkan asal-usul ilahi sang kaisar. Sementara di Mesir, menurut Book of the Dead, ular adalah dewa Atum yang turun ke dunia bawah.
Kata Richard Sheposh (2021), Atum adalah dewa pencipta primordial dalam mitologi Mesir kuno yang diyakini menciptakan dirinya sendiri dari kekacauan air. Kata “Atum” berarti “yang lengkap” atau “yang selesai”. Dia sering kali digambarkan sebagai pria yang mengenakan mahkota ganda Mesir dan merupakan dewa matahari terbenam
***
Pendek kata, ular adalah binatang yang istimewa: memiliki kemampuan untuk illecebrosus et terrificus, memikat sekaligus menakutkan. Oleh karena itu, muncul banyak cerita dan mitos tentang ular, baik yang positif maupun negatif.
Maka, ular memiliki peranan penting dalam berbagai agama dan kepercayaan, termasuk tradisi Yahudi-Kristen, Hindu, mitologi Mesir dan Yunani, serta kepercayaan penduduk asli Amerika. Keberadaan ular yang menonjol dalam begitu banyak agama mungkin karena ular dapat dengan mudah menarik perhatian dan memicu rasa takut bawah sadar, bahkan pada orang yang biasanya tidak takut terhadap ular.
Rasa takut terhadap ular ini telah melahirkan berbagai mitos yang masih bertahan hingga kini. Ular juga sangat melekat dalam budaya dan mitologi Nusantara. Misalnya penjaga tempat suci seperti Ular Suci Tanah Lot. Ular suci ini dipercaya melindungi daerah tersebut dan orang-orangnya dari kejahatan – dan sebagai imbalannya orang menghormati, melindungi dan membiarkan ular-ular itu ada di habitat aslinya.
Ada ular simbol dewa bawah tanah Antaboga dalam cerita pewayangan. Antaboga adalah penguasa Saptapratala, yakni bumi lapis ketujuh, atau ‘dunia bawah’,” Dalam cerita wayang kulit, Sang Hyang Antaboga (Anantaboga) berwujud naga bermahkota dan mengenakan kalung emas. Antaboga sangat sakti dan bisa menjelma menjadi wujud manusia.
Bahkan, menurut dongeng, gempa bumi adalah peristiwa alam yang diakibatkan oleh polah Sang Hyang Antaboga yang marah dan menggerakkan ekornya. Antaboga bukanlah dewa yang jahat. Dia bahkan menyelamatkan para ksatria Pandawa Lima dari kebakaran bikinan Sengkuni dan Kurawa. Ini adalah kisah pewayangan lakon ‘Bale Sigala-gala’.
Dalam masyarakat Jawa, juga ada mitos ular weling yang dianggap sebagai jelmaan nakhluk gaib sebagai pertanda kematian. Sementara masyarakat di Lombok, mengenal cerita tentang ular Silong. Cerita tentang ular ini telah menjadi kisah turun-temurun dari generasi ke generasi.
Konon, ular ini memiliki warna hitam dan putih (seperti ular weling), serta diyakini sebagai ular berbisa sangat kuat. Dalam beberapa cerita rakyat, dikisahkan bahwa jumlah belang pada tubuhnya bahkan disebut dapat menjadi penanda berapa lama seseorang dapat bertahan hidup apabila tergigit. Kepercayaan ini telah melekat kuat di tengah masyarakat, menjadikannya bagian dari folklore setempat yang terus hidup dari waktu ke waktu.
***

Mitos-mitos ini umumnya menggambarkan ular sebagai makhluk berbahaya. Beda dengan Taksaka. Dalam kisah Mahabharata, diceritakan Taksaka adalah nama lain dari seekor ular besar atau naga yang baik hati dan berjiwa pengayom.
Dalam mitologi Hindu, menurut Mimansa Sharma (2024), ular (naga) dihormati sebagai makhluk perkasa yang memiliki sifat kedewaan, yang melambangkan waktu, kelahiran kembali, dan energi kosmis. Mereka menjaga alam bawah tanah, mengendalikan kesuburan serta air, dan memiliki keterkaitan erat dengan dewa-dewa utama, seperti Dewa Siwa yang melilitkan ular Vasuki di lehernya, dan Dewa Wisnu yang berbaring di atas Shesha.
Tentang Taksaka, Mimansa Sharma menjelaskan demikian: Takshaka (Taksaka) adalah salah satu raja ular paling terkemuka dalam mitologi Hindu, yang dikenal karena kemunculannya dalam kisah Mahabharata maupun Bhagavata Purana. Ia berasal dari dinasti Ikshvaku—keturunan Dewa Rama—dan putranya, Brihadbala.
Takshaka juga dikaitkan dengan kutukan terhadap Parikshit, anak Abimanyu, cucu Arjuna; Takshaka ditakdirkan untuk membunuh Parikshit. Peristiwa ini memicu serangkaian kejadian yang berujung pada pembacaan kisah Bhagavata Purana.
Menurut Mimansa Sharma, Takshaka melambangkan dualitas kompleks sosok ular dalam mitologi Hindu—baik sebagai pelindung maupun sebagai pelaksana takdir. Perannya dalam kematian Parikshit menyoroti keniscayaan takdir, sementara kaitannya dengan dinasti Ikshvaku menghubungkannya dengan garis keturunan kerajaan dan tatanan ilahi.
Takshaka dipuja di berbagai kuil di seluruh India, dengan Kuil Tarakeshwar di Mandsaur, Madhya Pradesh, sebagai salah satu yang paling terkemuka. Para pemuja memohon berkahnya demi perlindungan dan penyelesaian utang karma. Kisahnya juga menjadi pengingat akan keterkaitan antara takdir, karma, dan kehendak ilahi dalam filosofi Hindu.
Pendek kata, Takshaka (atau Taksaka) adalah salah satu raja ular (Nagaraja) utama dalam mitologi Hindu, yang tampil paling menonjol sebagai antagonis utama dalam wiracarita Mahabharata. Ia dihormati sekaligus ditakuti sebagai simbol pembalasan dendam, racun, dan karma kosmis; kisah-kisahnya menjadi penggerak titik balik krusial dalam berbagai zaman (Yuga).
***

Taksaka bukan “ular beludak” yang suka menggunakan mulutnya untuk menimbulkan kebencian dan perseteruan sehingga semua orang tidak merasakan damai. “Ular beludak” membuat dusta, kepalsuan, memutarbalikkan kebenaran, dan menghakimi orang lain dengan niat jahat.
Seringkali “ular beludak” menggunakan hal yang nampaknya benar untuk memutarbalikkan kebenaran, dan banyak orang yang langsung mempercayai perkataan dusta mereka tanpa memeriksa kembali kebenarannya…Begitulah ular beludak. Dasar ular!!!
