HAPPY SALMA: CULTURE OF ENCOUNTER

Happy Salma (Foto: Trias Kuncahyono)

Di Casina Pio IV, peringatan satu tahun wafat Paus Fransiskus, diselenggarakan. Di tempat itu pula, seorang perempuan seniman Indonesia, Happy Salma, sharing,  berbagi pengalaman hidupnya berinteraksi secara tidak langsung dengan Paus Fransiskus.

Ia memulai sharing-nya dengan mengatakan: “Nama saya Happy. Saya telah 30 tahun berkarya sebagai seorang seniman di Indonesia, sebuah negeri dengan lebih dari 17.000 pulau, lebih dari 700 bahasa, dan lebih dari 300 suku bangsa.”

Happy mengatakan dalam bahasa Indonesia. Tetapi, lebih dari 100 orang dari lima benua, yang mengikuti acara yang diselenggarakan Scholas Occurrentes dapat memahaminya. Karena apa yang dikatakan Happy itu langsung diterjemahkan ke bahasa Inggris, Spanyol, dan Italia.

Saat itu pula, orang-orang di Casina Pio IV mengenal negeri yang bernama Indonesia; negeri yang memiliki ribuan pulau, ratusan bahasa, dan juga ratusan suku bangsa. Inilah negeri yang dikagumi Paus Fransiskus karena “Bhinneka Tunggal Ika” dan “Pancasila”-nya. Dua hal itu, yang antara lain menjadi daya tarik bagi Paus Fransiskus sehingga September 2024 mengunjungi Indonesia.

Happy adalah satu dari sejumlah orang yang membagikan pengalaman hidupnya berkomunikasi, berinteraksi, terinspirasi oleh gagasan-gagasan serta karya nyata Paus Fransiskus; dan yang bekerja sama dengan Paus Fransiskus lewat Scholas Occurrentes

***

Sebagian peserta seminar mengenang satahun wafat Paus Fransiskus, di Casina Pio IV, Vatikan.

Scholas Occurrentes adalah organisasi internasional yang hadir di lima benua melalui jaringan pendidikannya yang luas. Misinya adalah menciptakan “Culture of Encounter”, Budaya Pertemuan; dengan menyatukan generasi muda dari berbagai latar belakang dalam pengalaman pendidikan yang menghasilkan pemahaman di seluruh dunia.

Organisasi ini didirikan pada tahun 2021 di Buenos Aires, Argentina oleh Uskup Agung Jorge Mario Bergoglio (sejak 13 Maret 2013 dipilih menjadi paus dan memilih nama Fransiskus; wafat 21 April 2025). Proyek ini menyatukan siswa dari sekolah negeri dan swasta, dari semua agama, untuk mendidik kaum muda dalam komitmen mereka terhadap kebaikan bersama.

Sejak awal, Paus Fransiskus membayangkan Scholas sebagai kemungkinan untuk menawarkan jawaban konkret terhadap panggilan zaman ini, mempercayakannya tugas pengajaran berdasarkan keterbukaan kepada orang lain, mendengarkan dan mengumpulkan kepingan-kepingan dunia yang terpecah dan tanpa makna, untuk menciptakan budaya baru, “Culture of Encounter”.

Kata Angeli Francis S. Rivera (Loyola Papers Vol. 1 Number 1 2020), gaya politik Paus Fransiskus sederhana, karismatik, dan berorientasi pada orang lain. Gerakan dan ekspresinya menunjukkan pengaruh unik dari “budaya perjumpaan,” yang membawa semangat inklusivitas dan, pada saat yang sama, memberikan tekanan signifikan pada aktor negara dan non-negara.

Anjuran apostolik “Evangelii Gaudium” (Sukacita Injil), menunjuk pada budaya perjumpaan sebagai upaya membangun “umat damai.” Kata Permanent Observer to the United Nations Uskup Agung Bernardito Auza (2017), budaya perjumpaan adalah “inspirasi pemersatu” Paus untuk semua gerakan dan ekspresinya. Hal ini juga bertujuan untuk menghasilkan pengetahuan dan rasa hormat timbal balik, yang merupakan nilai-nilai yang terkadang diabaikan di arena politik.

Menurut Gnana Patrick (Studi Teologi 2023, Vol. 84.2) Paus Fransiskus mampu mengkomunikasikan nilai-nilai bersama lintas batas agama, wilayah, dan sistem sosial-politik. Ajaran sosial Katolik tentang kebaikan bersama, khususnya sebagaimana diartikulasikan dan dipromosikan olehnya sebagai bagian dari “culture of encounter”, budaya perjumpaan, menyampaikan pesan yang relevan untuk zaman kita.

Paus Fransiskus mengidentifikasi, serta mempromosikan, “culture of encounter”, dalam konteks globalisasi masa kini yang penuh dengan keberagaman dan saling ketergantungan yang tinggi dalam hubungan budaya, ekonomi, politik, dan sosial. Hubungan-hubungan ini sangat memengaruhi kita semua, bahkan di tengah konflik, konfrontasi, dan fragmentasi.

Mengutip Vinicius de Moraes, seorang penyair Brasil, Paus menyatakan bahwa “kehidupan, dengan segala konfrontasinya, adalah seni perjumpaan” (Fratelli Tutti). Dan ruang yang diciptakan oleh perjumpaan ini, bagi Paus, adalah “ruang bercahaya yang dibuka oleh kasih Tuhan bagi semua ciptaan-Nya.” (Francis, Veritatis Gaudium, January 29, 2018, §4.a).

Berbagi pengalaman hidup yang disampaikan Happy Salma, bisa dikatakan sebagai contoh bahwa Paus Fransiskus mampu mengkomunikasikan nilai-nilai bersama lintas batas agama, wilayah, dan sistem sosial-politik. Kata Happy Salma, “Sejak kecil, kami terbiasa untuk hidup dalam keberagaman dan perbedaan. Leluhur kami mengajarkan konsep yang memungkinkan kami menghidupi perbedaan itu. Seperti Bhinneka Tunggal Ika, ajaran untuk harmonis dalam perbedaan, juga Tri Hita Karana, yaitu ajaran untuk terus-menerus menjalin hubungan dengan manusia, dengan alam, dan dengan Sang Ilahi.”

Konsep-konsep tersebut—dalam rumusan Paus Fransiskus sebagai “culture of encounter”–menurut Happy, diturunkan dalam cara hidup, doa, dan upacara-upacara adat sehari-hari. “Karena itu, saya, dan mungkin orang Asia pada umumnya, akan merasa dekat dengan gagasan Paus Fransiskus dalam ensiklik ‘Laudato Si’, agar kita merawat bumi. Bahwa merawat bumi berarti juga merawat relasi kita dengan manusia, dengan alam, dan Tuhan, seperti juga amalan Tri Hita Karana,” katanya.

Kata Paus Fransiskus, “budaya perjumpaan berarti bahwa kita, sebagai suatu bangsa, harus bersemangat untuk bertemu dengan orang lain, mencari titik temu, membangun jembatan, merencanakan proyek yang mencakup semua orang” (Fratelli Tutti, §216).

Dalam nasihat Evangelii Gaudium (24 November 2013, §239) Paus Fransiskus menyatakan, “culture of encounter” adalah “budaya yang mengutamakan dialog sebagai bentuk perjumpaan.” Dialog ini bukan hanya metode untuk mencapai konsensus bagi Paus Fransiskus, tetapi juga cara hidup. Ini mencakup perjumpaan seseorang dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dan dengan orang lain yang berbeda, terutama dengan kaum miskin dan yang terpinggirkan dalam hubungan sosial, serta dialog antara budaya, agama, ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral, ideologi, dan sistem politik yang berbeda. Semua orang senantiasa terlibat dalam perjumpaan abadi melalui berbagai bentuk dialog.

***

Jakarta Concert Orchestra pimpinan Avip Priatna tampil pada malam mengenang setahun wafat Paus Fransiskus, di Gedung Concilizione, Roma, di depan Basilika Santo Petrus (Foto: Trias Kuncahyono)

Dialog sebagai cara utama untuk hidup di dunia pluralitas dan budaya perjumpaan. Kata Paus Fransiskus (2011), “Dialog lahir dari sikap menghormati orang lain, dari keyakinan bahwa orang lain memiliki sesuatu yang baik untuk dikatakan. Dialog mengasumsikan bahwa ada ruang di hati untuk sudut pandang, pendapat, dan usulan orang tersebut.”

Karena itu, berdialog berarti menerima dengan ramah, bukan menghakimi terlebih dahulu. Untuk berdialog, perlu mengetahui cara menurunkan pertahanan, membuka pintu rumah, dan menawarkan kehangatan manusiawi.

Kata Paus Fransiskus, diperlukan dialog dan pertemuan untuk membangun budaya dialog dan budaya perjumpaan di dunia. Sepanjang jalan ini, dunia keagamaan semakin mendekat. Meskipun area dan situasi fundamentalisme masih ada, yang mengkhawatirkan, di abad ke-21, telah terjadi perubahan mendalam dalam hubungan antara penganut agama yang berbeda, yang mulai menganggap dialog sebagai hal yang menentukan (Vatican News, 2024).

Penanda-tanganan “A Document on Human Fraternity for World Peace and Living Together,” 4 Februari 2019 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab oleh Paus Fransiskus dan Sheik Ahmad Al-Tayyeb, Imam Besar Al-Azhar, Kairo, merupakan buah dialog yang jujur, dari hati ke hati dan terbuka. Demikian juga penandatanganan Deklarasi Istiqlal, 5 September 2024 oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, Nasaruddin Umar.

***

Sepanjang masa kepausannya, Paus Fransiskus terus mendorong umat Kristen—dan semua orang yang berkehendak baik—untuk berupaya mewujudkan budaya perjumpaan ini. Dalam ensikliknya tahun 2020, Fratelli tutti, ia menggambarkan dialog sebagai unsur penting dalam budaya perjumpaan.

“Jika kita ingin bertemu dan saling membantu, kita harus berdialog,” tulisnya dalam Fretelli Tutti. “Tidak seperti perselisihan dan konflik, dialog yang gigih dan berani tidak menjadi berita utama, tetapi diam-diam membantu dunia untuk hidup jauh lebih baik daripada yang kita bayangkan.”

Kata Paus Fransiskus (2013), ada kebutuhan akan dialog yang terbuka, jujur, dan terus-menerus. Agama-agama tahu bahwa “dialog dan doa tumbuh atau layu bersama. Hubungan manusia dengan Tuhan adalah sekolah dan sumber kehidupan bagi dialog dengan sesama manusia.”

Menurut Paus Fransiskus, “culture of encounter” mewajibkan kita untuk menghormati “asal usul budaya setiap orang,” yang mengarah pada keterbukaan terhadap semua bangsa dan budaya sepanjang masa, karena Kristus lahir, mati, dan bangkit kembali untuk semua orang” (Vatican News, 2021)

Itulah sebabnya, kata Happy dalam sharing-nya, Paus Fransiskus mendorong setiap orang untuk berakar dan berbangga pada budaya dan pada tradisinya. Membawa nilai-nilai baik dari adat dan tradisi bangsa untuk bertemu dengan nilai-nilai baik dari adat dan tradisi bangsa lain.

Tradisi, menurut Paus Fransiskus (Crux, 2022) adalah “ingatan hidup orang-orang beriman, atau kehidupan mereka yang telah mendahului kita dan yang terus hidup,” sedangkan tradisionalisme adalah “kehidupan mati orang-orang beriman kita atau ingatan mati mereka.”

Dengan demikian, kata Paus Fransiskus dalam pesan tahunannya untuk Hari Migran dan Pengungsi Sedunia ke-107 tahun 2021 (vatican.va), “masyarakat kita akan memiliki masa depan yang ‘berwarna-warni’, diperkaya oleh keragaman dan pertukaran budaya,” menekankan perlunya belajar hidup bersama, dalam harmoni dan perdamaian.

Maka, menurut Happy, Paus Fransiskus mendorong agar seniman: “…bertemu dengan orang lain, mencari titik-titik pertemuan, membangun jembatan, dan merancang proyek yang melibatkan semua orang.” Dengan demikian, kebudayaan bisa menjadi jembatan yang menyatukan segala bangsa.

Sebab, kata Paus kepada para penggiat seni (L’osservatore Romano, 10 November 2023), seni, dan seni religius khususnya, dapat membawa pesan belas kasih, welas asih, dan dorongan semangat bukan hanya kepada orang-orang beriman, tetapi juga kepada mereka yang ragu, yang merasa tersesat, tidak yakin, atau mungkin sendirian. Karena seni selalu berbicara kepada jiwa.

Seni memiliki kekuatan untuk menumbuhkan pengakuan akan kemanusiaan kita bersama, untuk membangun jembatan antar budaya dan bangsa, dan untuk menciptakan rasa solidaritas yang sangat dibutuhkan di dunia kita yang terpecah belah dan dilanda perang ini. Seni menyegarkan jiwa manusia, seperti air yang mengisi kembali gurun yang kering dan tandus. Seni selalu berbicara kepada jiwa, memiliki kekuatan untuk membangun jembatan antar budaya dan manusia, dan menciptakan rasa solidaritas.

Kata Happy, itu hal yang menenangkan untuk didengarkan, memberikan harapan bahwa bahasa seni dan kebudayaan bisa menjadi jembatan yang menyatukan segala bangsa.

Memang, seni mungkin tidak selalu bisa menyelesaikan perbedaan. Seni tidak bisa langsung menghentikan rudal, tidak bisa langsung membuka selat-selat yang ditutup. Tetapi, kata Happy, seni memungkinkan manusia untuk membangun jembatan, merawat hubungan, dan bertemu di dalam satu bahasa yang sama: Bahasa kemanusiaan.

Dan untuk pelajaran abadi bahwa bahasa bukan hanya tentang kata-kata—tetapi tentang kehadiran, empati, dan kemauan untuk menjadi saksi.***

Foto-foto lain:

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
12
+1
16
Kredensial